Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 46 - Permainan Ranjang Zara


__ADS_3

...༻◐༺...


Gamal baru selesai berganti pakaian. Dia segera bergabung untuk makan malam. Hidangan yang khusus dibuat oleh Zara sudah siap.


"Aku penasaran dengan masakanmu," ucap Gamal sembari mengambil oseng kentang balado buatan Zara. Dia mencicipi makanan itu.


"Makanan Bunda enak banget kok Om. Jangan khawatir," sahut Zafran. Dia merekahkan senyuman yang menampakkan deretan gigi atasnya.


"Kamu bisa aja..." Zara mengusap pucuk kepala Zafran. Dia memperhatikan ekspresi Gamal. Tidak sabar dengan tanggapan lelaki itu.


Sadar akan perhatian Zara, Gamal terpikir untuk berbuat jahil. Dia sengaja membulatkan mata. Ia meringiskan wajah. Membuat Zara sontak khawatir.


"Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Zara.


"Makanannya enak kok." Zafran mengedipkan matanya dengan polos.


Gamal menggeleng. "Asin banget," komentarnya berkilah.


"Yang bener? Tadi pas aku cobain, nggak keasinan kok." Zara membantah. Dia segera mencicipi masakannya sekali lagi.


Saat Zara memasukkan makanan ke dalam mulut, Gamal tiba-tiba memberikan kecupan ke pipi. Lelaki tersebut juga tidak lupa melewatkan pipi Zafran.


"Gamal!" Zara berseru kaget. Dia menghukum Gamal dengan pukulan di bokong.


"Bercanda, makanannya enak banget kok!" ucap Gamal. Dia dan Zara tergelak kecil bersama.


Sementara Zafran, dia terpaku melihat hubungan di antara ibunya dan Gamal. Anak itu memang menyukai Gamal. Tetapi bukan berarti dirinya bisa langsung terbiasa dengan keadaan yang tiba-tiba berubah. Semuanya terasa aneh bagi Zafran. Jujur saja, ada sepercik rindu yang dia rasakan kepada Anton.


Kini Zafran menundukkan kepala dan hanya fokus menikmati makanan. Membiarkan sang ibu bercanda gurau bersama Gamal.


"Besok hari minggu. Bagaimana kalau besok kita pergi ke taman bermain? Zafran pernah pergi ke sana nggak?" ujar Gamal penuh semangat.


"Taman bermain?" Zafran mengernyitkan kening.


"Zafran nggak pernah pergi ke tempat begituan," ucap Zara memberitahu.


"Bagus dong kalau gitu. Nanti aku akan ajak Raffi dan Elsa, biar mereka ngajak Ramanda juga." Gamal tersenyum senang. Dia sudah tidak sabar menanti hari esok.


"Ramanda? anak yang pernah main sama aku pas di taman itu ya?" tebak Zafran. Raut wajahnya seketika berubah. Dia terlihat antusias. Kebetulan Zafran memang sempat berteman dengan Ramanda, saat Elsa dan Zara tidak sengaja bertemu.

__ADS_1


Malam itu, Gamal menginap di apartemen Zara. Dia juga diperbolehkan untuk tidur bersama di kamar Zafran.


...***...


Matahari bersinar dari ufuk timur. Seolah mendukung rencana Gamal.


Zara dan Zafran sedang bersiap-siap. Keduanya mengenakan pakaian terbaik mereka. Sedangkan Gamal baru selesai mandi. Pria itu tiba-tiba menerima panggilan telepon.


Gamal mendapat pemberitahuan kalau surat gugatan cerai telah jadi. Hanya tinggal diberikan kepada pihak yang bersangkutan. Gamal langsung memberitahu Zara kabar tersebut.


"Aku harus berikan surat itu kepada Anton kan?" Zara memastikan.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya. Biar aku saja yang memberikannya. Aku akan pastikan dia untuk menandatangani surat itu." Gamal tidak terima Zara pergi menemui Anton. Mengingat kejadian kurang mengenakkan pernah terjadi beberapa hari lalu.


"Nggak! Kalau begitu aku akan ikut denganmu!" Zara bersikeras. Dia cemas Anton akan berbuat sesuatu kepada Gamal. Lelaki itu dikenal tidak bisa mengendalikan emosi.


"Ra, kau dan Zafran sebaiknya menunggu di sini. Aku akan secepatnya kembali. Setelah itu, barulah kita pergi ke taman bermain." Gamal meyakinkan Zara.


"Kalau kau tidak mau aku ikut, setidaknya kau ajak seseorang untuk menemanimu ya."


"Aku akan ajak Arya untuk ikut." Gamal mengangguk setuju. Dia akan mengajak pengacaranya untuk menemui Anton.


"Loh, Om Gamal kemana? Katanya mau pergi ke taman bermain?" Zafran yang baru buang air kecil, heran atas kepergian Gamal.


"Om Gamal mau ngurus sesuatu dulu. Kita tetap pergi ke taman bermain kok. Lagian tempatnya dibuka sampai malam," ujar Zara. Zafran lantas mengangguk.


Zara duduk dengan perasaan gelisah. Entah kenapa, hatinya tidak tenang saat melihat Gamal beranjak pergi.


Waktu berlalu cukup lama. Bel pintu terdengar berbunyi. Zara langsung berlari untuk membukakan pintu. Dia mengira kalau orang yang datang adalah Gamal.


Ternyata dugaan Zara salah, sebab orang yang datang tidak lain adalah Raffi, Elsa, dan Ramanda. Ketiganya memang berjanji akan mendatangi kediaman Gamal terlebih dahulu.


"Ya ampun, Zara. Aku senang banget bisa ketemu kau lagi." Elsa segera memeluk Zara.


"Sama!" Zara tersenyum simpul. Dia benar-benar senang bisa bertemu teman lama. Apalagi dalam keadaan yang sepenuhnya berubah. Karena Elsa dan Raffi sudah mengetahui bagaimana hubungannya dan Gamal.


Di sisi lain, Gamal baru saja mendatangi kantor pengadilan. Di sana dirinya bertemu dengan Arya selaku pengacaranya. Gamal tidak lupa untuk mengajak Arya ikut pergi menemui Anton. Ia hanya mengikuti saran Zara sebisanya.


"Maafkan aku, Tuan Gamal. Aku tidak bisa pergi sekarang. Aku ada janji dengan klienku lima belas menit lagi." Arya menolak baik-baik.

__ADS_1


"Ah begitu, ya sudah. Aku akan pergi sendiri saja." Gamal sama sekali tidak masalah pergi sendiri. Dia langsung pergi ke rumah Anton.


Mobil Gamal berhenti dengan pelan. Sosok Anton terlihat duduk termangu di teras. Lelaki itu langsung berdiri saat menyaksikan kehadiran Gamal.


"Bagaimana kabarmu?" Gamal berjalan kian mendekat. Dia memasang ekspresi datar.


"Apa aku tampak baik-baik saja? Aku akan membaik jika Zara dan Zafran kembali ke sini. Beritahu aku, dimana mereka sekarang?" tanya Anton.


"Yang jelas hidup mereka lebih baik tanpamu." Gamal menduduki kursi yang ada di sebelah Anton.


Melihat Gamal duduk, Anton otomatis kembali duduk. Hening terjadi selang beberapa saat. Sampai Gamal menyodorkan surat dan pulpen kepada Anton.


"Zara ingin meminta cerai. Aku mohon bekerjasamalah. Apalagi jika kau benar-benar ingin membuat Zara dan Zafran bahagia," ujar Gamal tulus. Tetapi tidak untuk Anton. Kata-kata Gamal bagaikan hujaman pisau yang menusuk hatinya.


Anton mengepalkan tinju di kedua tangan. Tubuhnya bergetar penuh amarah. Meskipun begitu, dia memilih bungkam.


"Ayolah, Anton. Aku tidak punya banyak waktu," desak Gamal. Akan tetapi Anton masih saja membisu.


"Aku akan memberimu waktu. Tapi izinkan aku masuk ke rumahmu. Zara juga menyuruhku untuk mengambilkan sesuatu." Tanpa persetujuan Anton, Gamal masuk ke rumah. Dia berniat mencari kalung yang tidak sengaja di tinggalkan Zara.


Karena sudah tahu tempatnya ada di lemari, Gamal tidak perlu waktu lama untuk mencari. Kalung berlian pemberiannya itu sudah dia ambil. Kini Gamal memindai pandangannya ke sekitar. Menilik rumah yang pernah ditinggali Zara selama tujuh tahun.


"Lumayan. Tapi ini jelas bukan gaya Zara," komentar Gamal. Dia segera pergi. Dirinya tak mau berlama-lama.


Gamal kembali menghampiri Anton. Lelaki itu masih di posisi seperti sebelumnya.


"Anton? Aku mohon... ini semua demi Zara dan Zafran... ini adalah pilihan mereka. Tolong hargailah." Gamal kembali membujuk.


"Aku mau menanyakan sesuatu." Anton akhirnya angkat suara.


"Ya?" dahi Gamal berkerut.


"Apa kau dan Zara sering melakukannya? Apa dia menikmatinya?" tanya Anton yang sepertinya menanyakan tentang hubungan intim.


Gamal menarik sudut bibirnya ke atas. "Kau ingin aku jujur?" ujarnya. Anton hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Sebelum bicara, Gamal membasuh bibirnya dengan lidah. Dia berucap, "Yang aku tahu Zara cukup hebat. Tidak! Bukan cukup, tapi sangat hebat. Terkadang dia yang mendominasi."


"Cih! Kau pasti berbohong! Zara jelas wanita lemah. Dia sama sekali tidak punya keahlian itu!" tanggap Anton tak percaya.

__ADS_1


"Dia akan begitu jika dipaksa. Yang aku tahu permainan ranjang Zara selalu luar biasa." Gamal bertukar tatapan serius dengan Anton. "Dan satu hal lagi, Zara hanya begitu kepada orang yang dia cintai," tambahnya. Membuat sakit hati Anton semakin membuncah.


__ADS_2