
...༻◐༺...
Gamal merasa senang dengan penerimaan Afrijal. Dia tidak bisa membendung kebahagiaannya dengan senyuman.
"Aku ingin kita melawan keluarga Baskara bersama-sama. Karena mereka, semua saham perusahaan keluarga Laksana jadi berantakan!" ucap Afrijal. Satu tangannya membentuk bogem.
"Ya, Selia memang sudah keterlaluan. Aku juga sudah tidak tahan dengannya," sahut Gamal. Dia mengajak Afrijal untuk menemui Zara ke rumah. Namun ayahnya menolak. Afrijal beralasan kalau ada pekerjaan mendesak.
"Aku sebenarnya sudah dari kemarin mengamatimu. Jadi aku terlalu lama meninggalkan perusahaan. Lagi pula aku sudah bertemu dengan Zara tadi. Kalau tidak percaya, kau bisa tanyakan kepadanya sendiri. Aku pulang dulu, cepat berkemaslah dan kembali." Afrijal menepuk pundak Gamal. Sebelum pergi, dia memberikan Gamal sebuah kartu atm.
Gamal melambaikan tangan sambil tersenyum. Selepas Afrijal pergi, dia bergegas pulang. Memberitahu kepada Zara mengenai semua tawaran Afrijal.
"Kita harus berkemas!" seru Gamal kegirangan. Dia terlihat mengambil beberapa pakaian dari dalam lemari.
"Kau yakin ayahmu tidak bermaksud apa-apa?" Zara yang masih ragu mencoba memastikan.
"Percayalah, sayang. Ayahku terlihat bersungguh-sungguh. Aku yakin itu!" Gamal memegangi pundak Zara. Dia ingin istrinya mempercayai Afrijal.
Zara akhirnya menurut saja. Dia yang sejak tadi belum berkemas, mulai bergerak untuk memilih barang yang ingin dibawa.
"Kita tinggalkan saja semua perabotannya di sini. Kalau perlu aku akan membeli rumah yang lebih baik. Lalu memindahkannya ke sana," gumam Gamal. Dia sepertinya sangat antusias. Mengingat segala fasilitas miliknya akan dikembalikan oleh Afrijal.
Zara tersenyum menyaksikan kebahagiaan Gamal. Dia segera memeluk lelaki itu dari belakang.
"Nah gitu dong. Akhirnya kamu bisa tersenyum lebar," ujar Zara sembari menenggerkan dagu ke bahu Gamal.
"Kau juga harus gitu. Kita nggak perlu mikirin masalah ekonomi lagi." Gamal berbalik menghadap Zara. Dia berseringai dan berbisik, "Kita juga bisa kuda-kudaan di tempat yang enak."
"Astaga, sempat aja kamu mikir gitu ya." Zara menepuk pelan dada Gamal. Keduanya kembali berkemas.
Setelah semuanya rampung, Gamal dan Zara menjemput Zafran. Keduanya langsung pergi mendatangi kediaman Afrijal.
"Kok kita pindah lagi? Bunda sama Ayah nggak capek?" imbuh Zafran seraya menyandar malas ke pundak Zara.
"Ayah pastikan ini yang terakhir." Gamal mengusap puncak kepala Zafran. Akan tetapi raut wajah anak itu masih tampak biasa saja.
"Kita akan tinggal di tempat yang lebih nyaman kali ini," Zara berucap pelan ke telinga Zafran.
__ADS_1
"Benarkah? Apa rumahnya besar?" Zafran langsung bersemangat.
"Zafran lihat aja sendiri ya," jawab Zara.
Tidak lama kemudian, Gamal dan keluarganya tiba di tempat tujuan. Yaitu rumah besar Afrijal yang terasa tidak pernah berubah. Di tempat itu juga banyak sekali kenangan yang pernah dilakukan oleh Gamal dan Zara. Termasuk insiden di ruang bioskop.
Tania berlari keluar untuk menyambut kedatangan Gamal dan Zara. Dia langsung memeluk Gamal dalam keadaan terisak.
"Kenapa kau tidak pernah membalas pesan Mamah. Kau tidak tahu betapa cemasnya aku kepadamu," ungkap Tania. Air matanya perlahan berderai di pipi.
Gamal hanya tersenyum canggung. Tetapi dia merasa cukup merindukan ibunya tersebut.
Puas memeluk Gamal. Tania beralih mendekap Zara. Dia merasa bersalah sekaligus bersyukur kepada wanita yang sudah menjadi istri putranya itu.
"Aku minta maaf atas nama suamiku. Dan terima kasih sudah bersedia ke sini..." tutur Tania. Dia perlahan melepas pelukan. Lalu menghapus air mata.
"Aku tidak pernah membenci Om dan Tante. Kami..."
"Jangan panggil aku dan suamiku begitu. Anggaplah kami seperti orang tuamu ya?" Tania memotong perkataan Zara baik-baik.
Gamal dan Zara saling bertukar pandang. Keduanya masuk ke rumah bersama-sama.
Tania memaksa Gamal dan Zara makan terlebih dahulu. Sedangkan dirinya memutuskan untuk membawa Zafran ke halaman belakang. Tania nampaknya ingin membina hubungan lebih dekat dengan Zafran.
"Kau duluan saja ke meja makan. Aku mau ke toilet," ujar Gamal.
Zara lantas mengangguk dan beranjak lebih dulu ke meja makan. Saat tiba di sana, dia bertemu dengan Bi Nur. Zara tersenyum dan langsung menyapa.
"Bi Nur!" panggil Zara sembari melebarkan kelopak mata. Dia mengembangkan senyuman simpul.
"Mbak Zara!" Dia membalas senyuman Zara. "Bibi sangat senang mendengar kabar pernikahanmu dengan Gamal. Jujur saja, Bibi sejak dulu selalu berdoa agar kalian berjodoh," sambungnya. Membuat Zara mengingat masa-masa gaya pacarannya yang bebas bersama Gamal.
"Aku berterima kasih banget loh. Biar Bibi tahu kelakuan nakal aku dan Gamal, Bibi tetap rahasiakan semuanya sampai sekarang..." tutur Zara tulus.
"Itu aib kalian yang harus Bibi jaga. Karena itulah Bibi mendoakan kalian berjodoh. Dan lihat sekarang, doanya terkabul kan?" Bi Nur tersenyum lembut. Dia segera mempersilahkan Zara untuk makan.
"Makannya pelan-pelan ya, Mbak Zara. Jangan kayak dulu lagi," ujar Bi Nur. Dia sangat ingat, dulu Zara pernah makan seperti orang kelaparan. Hal itu karena efek obat-obatan yang dia konsumsi bersama Gamal.
__ADS_1
Selesai makan, Zara bermaksud memeriksa Zafran. Namun saat dalam perjalanan menuju halaman belakang, atensinya terfokus ke ruang bioskop.
Zara berhenti di depan pintu ruangan bioskop. Dia perlahan membuka pintu tersebut. Kemudian melangkah masuk lebih dalam.
Nuansa remang dengan balutan cat dan tirai merah menyambut. Keadaan di ruang bioskop masih tetap sama seperti tujuh tahun lalu.
Dari arah belakang, Gamal diam-diam masuk. Ia berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan Zara. Niat jahil pria itu sepertinya dalam mode aktif.
"Ciee... yang lagi ingat-ingat masa dulu!" cetus Gamal. Dia bicara tepat ke salah satu telinga Zara. Menyebabkan sang istri berjengit kaget.
"Ih! Bikin kaget aja!" protes Zara sembari melayangkan pukulan ke pantat Gamal. Jantungnya serasa mau copot.
Gamal terkekeh. Dia justru balas menepuk bokong Zara. Meski sudah memberi tepukan, tangannya tetap menempel di sana. Meremmas hingga mendorong Zara lebih dekat ke hadapan.
Kini Gamal menggigit bibir bawah Zara. Dia tahu hal itu bisa memacu gairah istrinya meningkat.
Benar saja, perlakuan Gamal berhasil membuat darah disekujur badan Zara berdesir hebat. Sekarang gigitan Gamal berubah menjadi ciuman.
Zara menarik kerah baju Gamal. Keduanya saling bergulat dengan indera pengecap. Perlahan tangan Gamal menyingkap dress Zara. Menelusur lurus menuju pusat tubuh sang istri.
Zara terpaksa melepas tautan bibirnya dari Gamal. Sebab jari-jemari suaminya telah sibuk bermain di sana. Kini Zara mengangakan mulut dan mengeluarkan dessahan pelan.
Gamal segera menyudutkan Zara ke dinding. Satu tangannya yang masih menganggur, bergerak untuk melepas kancing dress Zara. Hingga belahan dada yang berbalut bra berwarna hitam itu terpampang nyata. Gamal langsung memberikan kecupan demi kecupan.
Zara hanya bisa melenguh. Dia begitu terbuai dengan sentuhan Gamal. Sampai akhirnya Zara mengingat satu hal penting. Ia ingat pesan dokter Jihan tempo hari, bahwa kondiri kehamilannya sekarang masih terbilang rawan.
"Sayang..." lirih Zara seraya mencoba menghentikan Gamal. Bukannya berhenti, suaminya itu malah menjadi-jadi. Tangan Gamal mencoba menanggalkan dress yang dikenakan Zara.
Namun Zara sigap menghentikan. "Sayang, kau lupa kalau aku hamil?!" tukasnya mengingatkan.
Gamal berhenti dalam keadaan nafas yang tersengal-sengal. Dia saling bertukar tatapan lekat dengan Zara. Istrinya itu juga terlihat berusaha mengontrol nafas.
"Kalau aku nggak tahan, gimana?" pungkas Gamal.
Zara terdiam sesaat. Hingga sesuatu hal terlintas dalam benak. Dia menarik sudut bibirnya ke atas. "Kau tenang saja. Aku akan memberikan pelayanan khusus untukmu. Kau tahu, dulu aku juga sering melakukannya untukmu," balasnya. Tangan Zara segera melepas ikat pinggang Gamal. Lalu membuka seluruh celana sang suami. Perlahan dia duduk bersimpuh ke lantai.
Gamal tersenyum puas. Dia tentu paham apa yang akan dilakukan Zara selanjutnya.
__ADS_1