Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Sindiran


__ADS_3

Semilir angin senja menerbangkan anak rambut yang menjuntai menghalangi penglihatan Anyelir. Sang Princess mengeratkan selimut bulu yang membalut tubuhnya saat merasakan bulu kuduk nya meremang.


Helaan napas kasarnya terdengar, dia terlihat menerawang, menatap langit senja yang mulai menguning. Sampai akhirnya dia merasakan tubuhnya tersentak, dikala ada dua lengan kelar membelit tubuhnya. Hembusan napas hangat menerpa tengkuk hingga pipi saat pemilik lengan itu menempatkan dagu pada bahunya.


"Kapan kau pulang?" tanya Anyelir pelan.


Sang princess menipiskan bibirnya, mengusap lembut lengan kelar yang memeluk posesif tubuhnya. Walaupun terasa kurang nyaman, tapi Anyelir mencoba tenang dan menetralkan detak jantungnya.


"Emm- dari tadi. Aku membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menemuimu. Apa kau sudah makan malam? Ibu menyuruhku untuk memanggil mu. Karena kata pelayanan sejak tadi siang kau belum memakan apa pun, aku khawatir kau sakit."


Senyuman Anyelir melebar, dia menghirup napas dalam, perlahan melepaskan dekapan tunangannya dan berbalik menghadap langsung pada Erlan.


"Ayo, aku juga menunggu mu sejak tadi, Yang Mulia!"


Erlan terkekeh kecil, Sang Putra Mahkota menurut saat calon istrinya menariknya menjauh dari balkon. Keduanya berjalan berdampingan saling bergandeng tangan, sesekali Anyelir tertawa kecil mendengar candaan yang Erlan lontarkan.


Bahkan beberapa pelayan terlihat saling berbisik merdu melihat interaksi sepasang kekasih itu. Mereka berdua terlihat begitu sempurna di kedua mata para pelayan istana Al Faruq, memuja pasangan muda itu dan berharap keduanya akan segera melangsungkan pernikahan akbar sebagai putra Mahkota dan putri Mahkota.

__ADS_1


"Yang Mulia Putra Mahkota memang sangat beruntung mendapatkan Putri Anyelir. Beruntung sekali, karena menurut kabar yang aku dengar banyak pengeran yang menginginkan putri dari keluarga Albarack itu, tapi putri Anyelir menolaknya, alasannya masih belum menjalin hubungan dengan pria mana pun, sampai akhirnya Putra Mahkota yang di pilih,"


Rekan pelayan itu mengangguk anggukan kepalanya, lalu dia kembali menjalankan tugasnya yang belum sepenuhnya selesai. Tanpa mereka sadari tidak jauh dari keduanya ada seseorang yang mendengar obrolan antusias mereka, raut wajahnya sulit diutarakan dan memilih untuk melanjutkan langkahnya menjauh dari tempat itu.


πŸ’ž


πŸ’ž


πŸ’ž


"Selamat menikmati makanannya!"


"Pangeran Kedua ikut makan malam bersama kami, wah perubahan yang luar biasa bukan," cetus salah satu anggota Al Faruq yang sedari tadi gatal ingin mengeluarkan suaranya saat melihat sesuatu yang tidak biasa menurutnya.


Gerakan tangan pria bertubuh atletis itu terhenti, dia mengangkat pandangannya, menatap datar pada orang yang sedari dulu sering membandingkan dirinya dengan Putra Mahkota.


"Aku hanya ingin memastikan kalau sesuatu yang harusnya menjadi milikiku dalam keadaan baik, bukan begitu Yang Mulia?"

__ADS_1


"Pangeran Erlan!" Permaisuri segera memberikan intruksi agar putranya tidak menanggapi ocehan saudara iparnya.


Tuan Al Faruq yang merasa dirinya tersindir hanya melirik pada Putra keduanya. Dia tidak menanggapi, dan memilih untuk melanjutkan makan malamnya setelah memberikan peringatan pada saudaranya yang tadi memancing Pangeran Kedua hingga mengeluarkan suaranya.


"Lanjutkan makan malam kalian, aku tidak ingin ada pertengkaran bodoh di sini!" tegasnya dengan suara yang berat, khas seorang pemimpin keluarga.


Anyelir yang sedari tadi menyimak hanya bisa menatap satu persatu orang yang saat ini kembali fokus menikmati makanannya, ekor matanya tertuju pada satu titik saat bola mata biru miliknya terlalu gatal untuk menghindar dari sepasang mata hitam yang terlihat mengintimidasinya.


"Habiskan makanan mu, dan kembalilah ke kamar. Aku tidak dapat mengantarmu, karena aku harus menyelesaikan sesuatu," bisiknya.


Anyelir yang tadinya terfokus pada satu titik, sontak menoleh kala menoleh saat mendengar bisikan lembut di salah satu telinganya. Kedua mata indahnya mengerjap pelan, membuat pria yang tengah menatapnya terkekeh kecil karena gemas dan mengusap pucuk kepala Sang Princess lembut.


Interaksi keduanya tidak lepas dari anggota keluarga Al Faruq lainnya, mereka terlihat mengulum senyum termasuk Permaisuri dan Tuan Al Faruq. Tapi sepertinya ada seseorang yang tidak ikut tersenyum dibuatnya, dia tidak tertarik untuk memberikan senyuman tampannya pada mereka. Bahkan saat ini tanpa di ketahuilah oleh siapa pun, dia terlihat menggenggam erat garpu serta sendok yang ada di tangannya sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Ada sesuatu yang terbakar hebat didalam dirinya!


__ADS_1


ademin aja bang🀣🀣🀣


__ADS_2