
Anyelir menipiskan bibi, tangannya terus saja mengusap lembut kepala seseorang yang tengah berbaring di pahanya. Setelah pembahasan yang berhasil membuatnya tercengang, pada akhirnya Ethan terlelap dengan sendirinya tanpa banyak bicara lagi, padahal Anyelir belum memberikan jawaban apapun.
Mengajaknya menikah?
Astaga bisa- bisanya pria bertubuh besar itu tidur begitu saja setelah melamarnya secara dadakan, apakah Ethan tidak tahu kalau dirinya sedang merasakan jantungnya memompa lebih kencang. Rona bahagia terpancar di pipi sang Princess, siapa yang tidak bahagia kalau pria yang dicintainya sejak belia itu mengajaknya menikah. Tapi sayang waktunya tidak tepat, masalah yang saat ini tengah membelenggunya belum usai, jadi masih ada pertimbangan untuk menerima lamaran sang pangeran.
"Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Putra Mahkota terlebih dahulu, bersabarlah." Bisiknya.
Usapan lembut Anyelir kian membuat Ethan terlelap, bahkan pria itu semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang princess, menenggelamkan wajah di perut rasanya membuat bulu kuduk Anyelir meremang hebat. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya saat ini tapi Anyelir berusaha menahannya dan membiarkan kedua matanya ikut terpejam.
Disaat Anyelir mulai memasuki alam mimpi, kedua mata Ethan perlahan terbuka, sudut bibirnya terangkat tipis netra tajam menatap lembut pada Anyelir yang sedang tidur bersandar dikepala ranjang.
"Kita akan segera menikah, tunggu saja Sayang." Gumamnya penuh keseriusan.
🪞
🪞
__ADS_1
🪞
"Dari mana kau?"
Langkah Margareta terhenti mendengar suara seseorang yang sangat di kenalnya, suara pria yang begitu dalam yang sering dia dengar saat mereka bercinta.
Senyuman wanita ber lipstik merah merekah itu mengembangkan, matanya berkedip genit pada pria gagah yang saat ini tengah menatap tajam kearahnya. Tapi sepertinya Margareta tidak terganggu dengan tatapan itu, dia kian mendekat pada salah satu pria pujaannya dengan senyuman mautnya.
"Ada apa Yang Mulia? Apa kau merindukanku hm?" Suaranya terdengar mendayu, bahkan Margareta begitu berani meraba dada bidang pria yang menjadi calon suami dari wanita lain itu di hadapan para pelayan istana Al- Faruq.
"Jaga sikapmu!" Desis Erlan yang terlihat waspada melirik sekeliling, memastikan kalau disana tidak ada pelayan yang berani menatap ke arah mereka berdua dan menjadi telinga serta mata untuk Anyelir.
Kepergian keduanya ternyata tidak luput dari mata seorang gadis remaja, dahi remaja itu mengerut dalam, sudut bibirnya sedikit . Dia tahu apa yang sedang terjadi saat ini, Kakaknya sedang menggali liang kuburannya sendiri rupanya.
"Kak Erlan tetap saja bodoh, wanita ular itu akan menghancurkanmu. Sudah mendapatkan seorang putri dari keluarga Albarack, malah menyimpan wanita bangkai tidak tahu malu, dasar gila!" Desis nya tajam.
Helena bergegas pergi dari sana, dia harus mengamankan diri agar tidak ketahuan oleh sang kakak dan wanita sialan itu. Helena memang tidak menyukai Anyelir sejak sang Kakak mengumumkan kalau gadis itu akan menjadi bagian dari keluarga Al-Faruq, tapi dia lebih tidak suka dengan Margareta.
__ADS_1
Wanita berhati busuk yang pintar menyembunyikan wajah keduanya dibalik sikap serta senyuman manis yang sering ditunjukkan. Lalu bagaimana kalau Helena tahu ternyata Margareta juga menjalin hubungan terlarang dengan Ayahnya? Entah apa yang akan dilakukan gadis itu pada Margareta, mungkin menghajarnya.
Disisi lain Erlan membawa Margareta ketempat yang cukup sepi, masih di area istana tapi jarang sekali ada orang yang menginjakkan kakinya disana.
"Yang Mulia, anda akan membawa aku kema-,"
Greepp!
Napas Margareta tersendat saat merasakan cekikan di batang lehernya. Kedua matanya membelik hebat menatap tajam pada Erlan yang saat ini sedang mencekiknya tanpa ampun.
"Apa yang sedang kau rencanakan dengan Ayahku?" Desisnya.
Rahang Erlan mengetat, dia kian mendekat pada Margareta yang sudah terpojok dan tidak bisa berbuat apapun untuk sekedar berteriak meminta pertolongan.
"E-Er-lan," Panggilnya.
"Katakan, atau aku tidak segan-segan untuk mematahkan lehermu. Jangan pernah berniat untuk menusukku dari belakang, Margareta!" Imbuhnya lagi dengan tajam.
__ADS_1
BERSAMBUNG...