
Tawa Anyelir terdengar di taman samping istana. Gadis bergaun sutra panjang itu kembali tertawa kecil saat melihat Putra Mahkota kembali gagal melemparkan anak panah ke arah sasaran, padahal sebelumnya pria itu terlihat sangat percaya diri akan mampu mencapai nilai yang sempurna.
"Kau jangan tertawa Princess, aku pasti akan mendapatkan nilai sempurna, lihat saja nanti!" ucapnya penuh percaya diri.
Anyelir menahan senyuman, dia hanya mengangguk mengiyakan ucapan tunangannya sembari menikmati jus jeruk yang di bawakan oleh pelayan.
"Ya ya, aku percaya padamu Yang Mulia," ucapnya penuh ledekan.
Erlan berdecak mendengarnya, dia berbalik dan berjalan cepat menuju Anyelir yang sudah bersiap untuk lari namun sayang Erlan terlebih dahulu menggapai tubuhnya.
"Mau kemana hm?"
Anyelir memekik saat Putra Mahkota meraih tubuhnya. Dia melayang beberapa centi di atas tanah saat Erlan menggendongnya, keduanya terlihat sangat serasi. Bahkan tawa Anyelir dapat di dengar oleh para penghuni istana lainnya termasuk Pelayan dan seorang pria yang sedari tadi mengawasi keduanya sembari menikmati win di gelasnya.
Pria itu menarik sudut bibirnya, dia menegakkan habis minuman beralkohol tersebut. Berjalan pelan mendekat ke arah sejoli yang masih sibuk dengan dunianya tanpa menyadari seseorang sedang mengintai, hingga-
Tak!
Sreeett!
Sebuah anak panas melesat kencang, membelah anak panah lainnya milik Putra Mahkota. Menancap hingga menembus papan sasaran.
Tak
Sreet
Tak
Sreeet
__ADS_1
Tak
Sreet
Bukan hanya satu anak panah yang dia lesatkan, melainkan beberapa anak panah dan itu mengenai anak panah milik Putra Mahkota yang sudah lebih dahulu tertancap di sana.
Anyelir dan Erlan menatap ke arah pelaku, keduanya membatu melihat begitu banyak anak panah milik Putra Mahkota yang sudah terbelah di papan sasaran.
Anyelir menjauh dari Erlan, dia merasa terintimidasi saat melihat tatapan datar namun tajam yang sedang di tujukan padanya sekarang.
'Kenapa dia melihatku seperti itu? Memangnya ada yang salah denganku?' batin Anyelir.
Entah mengapa Anyelir melihat kalau kedua mata hitam sekelompok malam itu terlihat sangat tidak menyukai saat dirinya dan Erlan terlihat mesra seperti tadi.
Ada apa dengan pria ini? Kenapa dia?
"Kau menghancurkan anak panah milikku!"
Namun sayang pria bermata tajam itu sama sekali tidak menggubris, dia memilih untuk meletakan busur panah pada tempatnya semula, lalu melenggang pergi meninggalkan Putra Mahkota dan tunangannya, yang artinya adalah calon kakak iparnya.
Kedua tangan Ethan terkepal, dia meremas udara, rahangnya mengetahui dan berjalan cepat menjauh dari lokasi itu tanpa sepatah kata pun.
Disana Erlan tengah menahan kesal karena diabaikan tapi tidak bisa berbuat banyak, tadi pagi saja dirinya diabaikan sama seperti sekarang oleh Ethan saat dia menemui pria itu secara langsung. Hingga tidak ada penjelasan yang Erlan dapatkan dari Pangeran keras kepala itu. Sang Putra Mahkota menghirup napas dalam, dia menoleh pada Anyelir yang masih terdiam di tempatnya.
"Ayo kembali ke kamarmu, aku lupa harus mengerjakan sesuatu dengan Ayah." ajak Erlan.
Sang Princess tidak menolak dan banyak tanya, dia menurut saat Erlan meraih tangannya dan membawanya masuk kedalam istana. Keduanya berjalan berdampingan, sesekali menipiskan bibir saat netral mereka bertemu. Terasa sedikit canggung, namun berusaha untuk menutupinya.
"Naiklah!" titahnya.
__ADS_1
Anyelir segera melepaskan tautan tangan mereka, lalu bergegas naik menuju lantai atas istana dimana kamarnya berada. Dia berusaha mengatur napas serta degup jantungnya yang menggila, namun sayang bukannya meredup degupan itu justru kian menggila saat dia merasakan seseorang menarik tubuhnya secara tiba tiba dan cepat.
Bahkan dia sama sekali tidak bisa bersuara karena mulutnya terbungkam. Kedua matanya membulat saat melihat siapa yang membawanya, membawa dirinya ke sebuah ruangan yang terlihat seperti perpustakaan.
"Maksudmu apa huh?!" murka Anyelir. Dia berusaha menahan pekikan dan amarahnya saat ini agar tidak di ketahui oleh orang lain.
"Kenapa kau membawaku kesini? Apa mau mu?!" imbuhnya lagi saat orang itu tidak kunjung membuka suaranya. Dia hanya menatap lekat pada wajah Anyelir, menyelami netra sebiru lautan yang entah sejak kapan berhasil menenggelamkannya hingga palung terdalam.
"Astaga, aku bicara dengan batu! Awas, kau menghalangi jalan-,"
"Aku tidak suka kau tertawa dengannya," bisiknya rendah, tepat di depan wajah Anyelir, membuat sang princess membatu.
Ada apa dengan orang ini?
Hembusan napas hangat berbau mint dan coklat itu sangat terasa di hidung Sang princess, membuat gadis itu sedikit ngelag seakan tersihir. Ini baru baunya Anyelir, lalu bagaimana dengan isi dala*mannnya?
"Berkedip!"
Huh!
Bukannya berkedip, Anyelir malam semakin membuka kedua bola matanya yang indah itu, hingga kembali menenggelamkan orang yang saat ini tengah mendukungnya di daun pintu.
Sadar Anye sadar, dia itu pria sialan yang sudah mematahkan hatimu! Sugesti nya.
ETDAH BANGπ₯·
__ADS_1
HHHMMM πππ