Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Bukan Gadis Lemah


__ADS_3

"Sedang apa kau disini, Putri Anyelir?"


Anyelir tersentak hebat saat mendengar suara berat yang berasal dari belakang tubuhnya. Dia menoleh dengan kaku, menarik sudut bibir nya agar membentuk senyuman tipis namun terkesan kaku.


"Yang Mulia Putra Mahkota," gumamnya.


Sang Princess masih mempertahankan senyumannya. Bahkan sekarang kedua matanya terlihat berkedip pelan, menatap wajah tampan pria yang sudah menjadi tunangannya beberapa waktu yang lalu.


"Apa kau tidak kepanasan? Kau bisa sakit kepala kalau terlalu lama di luar dan terkena panas seperti ini." Putra Mahkota menarik lengan Anyelir, menuntun gadis itu agar keluar dari taman. Walaupun jelas terlihat Anyelir begitu enggan beranjak dari sana, ekor matanya terus saja terarah pada satu titik yang tadi membuatnya sempat tidak sejalan dengan otak serta hatinya. Lebih tepatnya otak serta hatinya yang tidak sejalan, begitu pula raganya.


Anyelir menurut, dia mengikuti langkah Erlan dengan wajah tertekuk. Bahkan saat pelayan memakaikan alas kakinya sangat princess seakan tidak sadar. Jujur dia tidak suka di perlakukan seperti ini, seakan dirinya ini adalah putri lemah dan tidak bisa melakukan apa pun. Seakan hidupnya akan terus bergantung pada pelayan dan sang putra mahkota, dia tidak selemah itu.


Putra Mahkota membawa Anyelir masuk kedalam area istana yang lebih redup, meninggalkan taman bunga yang begitu luas di belakang mereka, dan juga seseorang yang sedari tadi menatap kepergian keduanya dari jarak yang cukup jauh. Tatapannya minim ekspresi, tangannya masih memegang tali yang terikat di pinggangnya sembari menggelantungkan diri di tembok tinggi itu.


πŸ’


πŸ’


πŸ’

__ADS_1


"Seharusnya kau tidak datang ke tempat itu," Putra Mahkota kembali bersuara saat mereka sudah sampai di dalam istana, lebih tepatnya di ruang pertemuan keluarga Al Faruq. Dan saat ini disana tidak hanya ada Anyelir dan Putra Mahkota Erlan saja, melainkan ada anggota keluarga Al Faruq lainnya termasuk calon adik ipar Sang Princess.


"Sepertinya calon istrimu belum tahu apa saja aturan keluarga kita, makanya dia bisa berbuat seenaknya disini. Apa karena di keluarga Albarack tidak memiliki aturan, jadi calon kakak ipar bisa seenaknya disini?" gadis yang berusia 17 tahun itu menyunggingkan senyuman sinisnya pada Anyelir, sindiran yang dia layangkan tepat mengenai targetnya.


"Helena!" tegur Sang permaisuri.


Wanita tua bermahkota kecil itu memperingati putri bungsu nya, ekor matanya melirik pada Anyelir dan Putra Mahkota.


"Lebih baik kau pergi ke kamarmu, Helen! Ini adalah urusanku dengan calon istriku, jangan pernah mengeluarkan suara mu tanpa aku suruh!" ucapan Putra Mahkota terdengar seperti peringatan di telinga gadis berwajah khas Timur Tengah itu. Putri keluarga Al Faruq itu mendengus tidak suka, lalu bangkit dan pergi meninggalkan mereka dengan raut wajah tidak bersahabat.


"Yang Mulia, lebih baik anda membawa Putri Anye ke kamarnya. Tidak perlu di besarkan, mungkin dia sedang bosan maka dari itu pergi ke taman belakang, bukan begitu Putri?" Sang Permaisuri kembali bersuara, suaranya terdengar lembut dan bijaksana. Bahkan Anyelir dapat melihat senyuman calon ibu mertuanya itu, seakan tengah menangkannya.


"Ayo, aku akan mengantar ke kamarmu!"


Tanpa di perintah dua kali Anyelir bangkit, dia membungkukan sedikit tubuhnya pada anggota keluarga Al Faruq sebelum berbalik dan berjalan mendahului Erlan, Sang Putra Mahkota. Bahkan selama langkah lebar yang dia ambil tidak ada satu kata yang tercetus dari bibirnya. Gadis itu membisu, membiarkan keheningan menyelimuti kebersamaan mereka kali ini.


"Kau baik baik saja, Princess?" tanyanya.


Anyelir reflek menghentikan langkahnya, dia memutar tubuhnya dan menghadap pada Erlan secara langsung.

__ADS_1


"Kau marah hanya karena aku pergi ke taman itu?" bukannya menjawab, Anyelir malah membalikan pertanyaan.


"Memang nya ada apa disana hingga kau dan adikmu seakan menganggapku seperti pencuri, bahkan adikmu membawa nama keluargaku, kau tahu aku tidak suka!" imbuhnya lagi, terdengar begitu serius.


Bola mata sebiru lautan itu begitu menenggelamkan Sang Putra Mahkota, pria itu berdehem lalu meraih satu tangan Anyelir dan menggenggamnya erat.


"Tidak ada apa apa, sorry karena sudah membuatmu merasa seperti itu. Dan tolong maafkan Helena, kau tahu kan anak remaja memang sedikit sulit untuk di kendalikan."


Suara lembut Sang Putra Mahkota membuat Anyelir mendengus dalam hati. Pria ini memang sulit untuk dia tebak, kadang keras kadang lembut, entah apa yang dia inginkan sebenarnya.


"Aku lelah, aku ingin istirahat." cetus Anyelir datar.


"Baiklah, ayo!" Erlan kembali menuntun Sang Princess menuju kamarnya. Keduanya berjalan beriringan, Anyelir terlihat fokus menatap ke arah depan, dia tidak peduli dengan keadaan sekitar bahkan saat seseorang terlihat mendekat ke arah mereka berdua, gadis itu belum menyadarinya. Hanya Erlan yang tahu, dan kini kedua pasang netral itu tengah saling berpaut namun terkesan dingin dan penuh perhitungan.



AJAKIN NENG TERBANG DONG BANG


__ADS_1


YAKIN ENTE KUAT LIATNYA BANG ETHANπŸ€£πŸ€£πŸ™ˆπŸ™ˆ


__ADS_2