Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Sandiwara Dibalas Sandiwara


__ADS_3

"Kurang lebih 4 minggu lagi kalian akan menikah,"


Anyelir menaikan pandangannya, kedua mata biru lautnya menatap pada pria paruh baya yang tengah menumpukan kedua tangannya di dagu. Pandangan pria itu tertuju ke arahnya dan pria yang duduk tidak jauh darinya.


Susah payah Anyelir menelan salivanya, kedua tangannya yang ada di atas lutut mencengkeram gaun yang dipakainya. Ternyata firasatnya benar, pertemuan ini pasti akan membicarakan tentang pernikahannya dengan Erlan, si Putra Mahkota abal abal itu.


Anyelir mendesis dalam hati, dia berusaha menyimpan raut wajah tidak suka serta muaknya di hadapan mereka. Mungkin sebelum dirinya mengetahui bagaimana brengseknya pria itu, dia akan suka cita membicarakan rencana indah tersebut. Tapi sekarang, jangankan menikah melihat wajah pria itu saja Anyelir sudah muak.


Kalau saja Ethan tidak melarangnya untuk memberikan serangan, mungkin saja sejak kemarin dirinya sudah mengamuk di istana ini.


Sialan memang!


"Kalau bisa dipercepat juga boleh Ayah, iya kan, Sayang?"


Belum hilang kegusaran dihati Sang Princess, kini ditambah lagi oleh pernyataan pria yang tengah dia sumpah serapahi saat ini. Kedua mata Anyelir bergulir, menatap pada Erlan yang terlihat mengembangkan senyuman lebar saat melihat tunangan cantiknya itu salah tingkah.


Mungkin terlihat salah tingkah di mata sang putra mahkota tapi justru bukan salah tingkah yang tengah Anyelir tunjukan sekarang, melainkan rasa kesal luar bias.


"Sesuai jadwal saja Yang Mulia. Aku tidak ingin membuat rencana yang sudah tersusun rapi menjadi berantakan, aku juga tidak yakin kalau Daddy akan menyetujuinya, karena saat pertunangan kita dulu dia sudah mengatur waktu agar tidak bentrok dengan tugasnya." kilah Anyelir.


Dia sepintar mungkin memberikan alasan yang masuk di akal untuk menolak ajakan gila Putra Mahkota. Gila saja mengajaknya menikah dalam waktu dekat, waktu 4 minggu ini saja sudah membuatnya gelisah setengah mati.


Ekor mata Anyelir melirik pada Permaisuri, entah apa yang sedang mereka katakan lewat lirikkan itu yang jelas Anyelir berharap kali ini calon ibu mertuanya akan membantu.

__ADS_1


Bukankah Permaisuri sudah tahu kedekatannya dengan pangeran kedua? Anyelir yakin wanita paruh baya itu pasti akan melakukan sesuatu agar pernikahan ini ditunda lebih lama.


"Iya, kau benar Putri Anye. Tidak usah terburu buru Putra Mahkota, kau malah membuat calon menantu ku takut," Tuan Al Faruq terkekeh. Dia kembali menyandarkan tubuhnya dengan santai, menepuk bahu putranya cukup keras. Terlihat sekali kalau pria paruh baya itu mencoba menghibur Putra Mahkota atas penolakan yang dilakukan Putri Anyelir secara terang terangan.


"Tentu Ayah, aku hanya bercanda tadi." cetus nya pelan.


Senyuman memaksakan jelas terlihat, kedua mata Erlan menatap dalam pada calon istrinya. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan sekarang, tatapan dalam dan sarat akan arti itu membuat sedikit Anyelir risih.


"Oh iya, bagaimana dengan rencana anda yang kita bicarakan waktu itu Yang Mulia Putra Mahkota. Apakah kita bisa membahasnya sekarang? Sepertinya Putri Anyelir tidak keberatan kalau aku meminjam calon suami mu sebentar,"


Anyelir kembali tersentak, dia memutuskan tatapannya dengan Erlan dan bergulir menuju pada wanita bergaun hitam diatas lutut yang tengah tersenyum tipis ke arahnya.


Kutu babi betina, mau apa dia?


"Tentu saja, silahkan. Aku tidak keberatan sama sekali, aku tahu kalau Yang Mulia pasti sedang sibuk sekarang selain mempersiapkan pernikahan kami tentunya. Kalau begitu aku permisi, ada sesuatu yang harus aku kerjakan."


Anyelir bangkit, dia memperlihatkan wajah lesunya. Berpura pura merajuk dan menunjukan wajah kesal dan tidak suka pada Margareta, hingga membuat orang orang disana berpikir kalau gadis itu sedang terbakar cemburu saat ini.


Dia bersikap seperti itu agar Erlan maupun Margareta dan para pengikutnya tidak curiga dan bertanya tanya kalau dirinya bersikap biasa saja tadi.


"Merepotkan- Aakkhh!"


Anyelir terpekik pelan saat merasakan tubuhnya terhuyung kesamping saat ada sebuah tangan menyeretnya. Anyelir terhuyung, beruntung masih ada tangan besar yang sigap meraih pinggangnya.

__ADS_1


Kedua mata sang princess membeli akan saat melihat siapa yang sudah membuatnya hampir terjungkal itu.


"Sstt- tahan dulu ocehan mu kalau kau tidak ingin orang yang ada di luar sana mengetahui keberadaan kita berdua disini," bisiknya pelan.


Bibir semerah cherry itu terjatuh lagi, namun matanya masih menatap awas pada orang yang tengah menempelkan tubuhnya pada pintu.


"Siapa?" tanya Anyelir berbisik.


Bukan menjawab, orang itu malah menarik Anyelir kedalam dekapannya dan mendekap erat tubuhnya hingga sang princess tidak dapat bergerak.


"Kau kenapa? Lepaskan aku! Memangnya siapa diluar-,"


"Sengkuni dan tuannya. Sudah ayo, aku harus membawamu jauh dari mereka!"


Tanpa bisa menolak Anyelir terpaksa mengikuti langkah lebar orang yang menariknya. Dia berdecak kesal, padahal baru tadi dirinya di peringati untuk tidak terlalu dekat dengan manusia satu ini oleh Permaisuri, tapi sekarang apa?!


Benar benar pemaksa! Dan sialnya dia tidak bisa menolak.



KANG MAKSA EMANG 😌😌


__ADS_1


PASRAH AJA LAH🀭


__ADS_2