
Anyelir berdecak kesal, bahkan berulang kali gadis berwajah bakal boneka hidup itu menghentakkan kedua kakinya yang berbalut heels tinggi ke lantai. Wajahnya begitu masam, bibirnya terus saja mengerucut, sesekali bergerak terlihat sedang mengumpat seseorang. Bagaimana tidak mengumpat, orang yang berani menyeret tubuhnya beberapa saat yang lalu sudah berani mencium bibirnya untuk kesekian kali di lorong istana yang sepi, setelah mendapatkan ciuman itu tanpa persetujuan dirinya si sialan itu kembali mendekapnya lalu menyuruhnya kembali kedalam istana.
Memang Pangeran breng...
Brugh!
"Aaww...!"
Tubuh Anyelir terhuyung kebelakang saat dia tidak sengaja menabrak seseorang. Orang yang dia tabrak pun mengalami hal yang sama, bahkan terlihat memegangi lengannya kirinya.
"Astaga Putri Anye, kamu tidak apa apa?"
Anyelir mengangkat wajahnya sembari meringis, dia semakin meringis saat melihat siapa yang bertabrakan dengannya saat ini.
"I- Ibu Permai-,"
"Apa ada yang luka? Sini Ibu lihat! Ya Tuhan, Ibu pasti akan kena omel kalau sampai kamu terluka. Ayo, Ibu akan obati luka-,"
"Tidak ada luka apa pun, Ibu. Aku yang salah karena tidak fokus, justru aku takut Ibu Permaisuri yang terluka, nanti Ayah mertua khawatir." Anyelir segera menyangkal, dia menyela cepat ucapan calon ibu mertuanya, terlebih saat melihat wajah khawatir yang ditujukan oleh wanita paruh baya tersebut.
Tapi dahi Anyelir mengerut dalam saat melihat senyuman kecut yang di perlihatkan sang permaisuri Al Faruq. Wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik dan menawan di isinya yang tidak lagi muda itu terlihat menghela napas kasar.
"Ayo, Ibu akan membawa mu menjauh dari tempat ini. Ibu harap kamu tidak pergi kesana, karena Ibu tidak ingin menantu Ibu yang cantik ini terluka." senyuman Permaisuri kembali terbit, bahkan tangannya mengusap lembut salah satu pipi mulus milik sang princess.
__ADS_1
Kemudian tanpa berkata apa apa lagi Permaisuri membawa Anyelir menjauh dari sana, bahkan Sang Princess terlihat menurut mengikuti langkah calon ibu mertuanya. Selama kaki berjalan tidak ada percakapan diantara keduanya, hanya suara heels yang menghentak lantai, walaupun dapat terlihat saat ini Permaisuri tengah menggenggam erat tangan Anyelir dengan pandangan lurus kedepan, seakan tidak ingin kehilangan gadis Albarack itu.
"Ibu, boleh aku membawa putri Anyelir sebentar?"
Langkah Permaisuri terhenti seketika, begitu pula dengan Anyelir saat mendengar dan melihat seseorang datang secara tiba tiba entah dari mana. Orang berkemeja maroon itu menipiskan bibirnya, memberikan senyuman lembut dan penuh dengan kehangatan. Siapa pun yang melihat senyuman itu pasti tidak akan berkedip apa lagi melupakannya, begitu pun dengan Anyelir. Tapi sayangnya dulu, untuk sekarang senyuman yang di perlihatkan oleh orang itu justru membuatnya takut dan jijik.
"Dia calon istriku, Ibu. Anda jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apa pun padanya apa lagi sampai menyakitinya," imbuhnya lagi saat sang Permaisuri tidak berkomentar apa pun. Wanita paruh baya itu hanya melirik pada Anyelir, menatap kedua mata sang calon menantu.
Permaisuri mencari ketenangan dari sorot mata Anyelir, tapi justru rasa takut dan khawatir yang muncul disana.
"Putri Anye harus beristirahat. Nanti saja ya Putra-,"
"Tidak apa apa, Ibu. Aku akan ikut dengan Putra Mahkota, nanti obrolan kita mengenai butik di salah satu pusat perbelanjaan baru itu bisa kita bahas lagi." Anyelir menyela, dia mengusap punggung tangan permaisuri dengan lembut, mengedipkan mata sebagai tanda kalau dirinya baik baik saja.
"Aku harus mencari Ethan. Bocah nakal itu harus mengikuti Anyelir dan Erlan!" gumamnya.
Permaisuri segera mengambil langkah walaupun rasanya tidak rela untuk kehilangan Anyelir yang sudah tidak ada lagi disana. Sekarang Anyelir tengah dibawa oleh Erlan ke taman belakang, gadis itu terlihat pasrah saat pria itu menariknya cukup cepat. Bahkan Anyelir sedikit kesulitan saat mengimbangi langkah sang putra mahkota.
"Kau tahu bukan kalau pernikahan kita akan terjadi sekitar empat pekan lagi, sekarang aku hanya ingin bertanya padamu Princess, apakah ada sesuatu yang ingin kau lakukan sebelum kita tiba di hari pernikahan?" cetus sang putra mahkota cepat.
"Apa kau ingin liburan? Eropa, Inggris, Aussie atau-," imbuhnya, namun terpotong oleh Sang Princess.
"Aku ingin pulang kekediaman Alabarack, apa kau akan mengizinkan ku pulang sebentar, Yang Mulia?" Anyelir melirik, dia menatap penuh harap pada Erlan.
__ADS_1
Walaupun sebenarnya itu bukan tatapan penuh harap, melainkan tatapan kekecewaan dan rasa benci. Anyelir berusaha menekan semua emosi yang selama ini bersarang di dalam hati serta otaknya.
Tidak, belum saatnya!
"Tentu, Sayang. Aku akan mengizinkan dan mengan-,"
"Aku pulang sendiri, tidak apa kan?" kali ini Anyelir memandang Erlan penuh harap, dia berharap kalau pria sialan itu mengiyakan keinginannya.
Cukup lama Erlan berpikir, Anyelir resah sendiri dibuatnya saat tidak kunjung mendapat respon dari sang putra mahkota.
"Baiklah, tiga hari. Aku memberimu waktu tiga hari, jadi manfaatkan lah sebaik mungkin oke!"
Senyuman Anyelir terbit. Tiga hari? Memang sangat singkat, tapi tidak masalah yang penting dia bisa pulang. Dan kepulangannya kali ini akan dia pergunakan dengan baik.
Tentu saja.
Bahkan saking bersemangat, dia membiarkan Erlan mengusap lembut pucuk kepalanya dan mengecupnya, membuat orang yang sedari tadi memperhatikan keduanya mengepal erat.
PULANG HORE
__ADS_1
AWAS SAJA KAU PUTRI NAKAL