
Traaaangg!
Hingga akhirnya sebuah sendok tidak sengaja jatuh membuat ekor mata mereka mengarah pada seseorang, terkecuali kedua orang yang tadi malam berhasil membuat taringnya keluar. Anyelir terdiam, sebagai pelaku dia hanya bisa menampilkan wajah polos dan permintaan maaf tanpa suara. Perlahan gadis itu menunduk, tangannya berusaha meraih sendok yang tadi di jatuhkan nya, tapi sedikit kesulitan karena tidak dapat melihat dimana posisi benda itu sekarang. Dengan susah payah dia menyibakkan taplak meja mewah yang sedari tadi menyusahkannya, hingga akhirnya dia bisa melihat benda yang dicarinya sejak tadi dan sebuah pemandangan tak terduga.
Wow, sebuah tangan lentik berkuku panjang dan bercat merah tengah mengusap paha seseorang dibawah meja sana.
Sudut bibir Anyelir terangkat, dia cukup tahu siapa itu. Tanpa banyak bicara dia kembali bangkit dan bersikap biasa saja, walaupun begitu ekor matanya terlihat terarah pada dua orang manusia yang sudah menyelesaikan sarapannya dan tengah berbincang serta tertawa kecil.
"Oh iya, Princess Anye perkenalkan ini Margareta keponakan ku."
Atensi Anyelir terarah pada sumber suara, raut wajahnya masih seperti tadi, tidak menampilkan keterkejutan atau pun rasa penasaran.
"Salam kenal Margareta, aku Anyelir Albarack!" tanpa berkenalan secara formal Anyelir memperkenalkan siapa dirinya dan menekan nama Albarack yang ada di belakang namanya.
"Salam kenal, Oh iya sepertinya kita sudah bertemu tadi malam saat-,"
"Iya, aku masih ingat!" sela Anyelir cepat.
Dia tidak ingin memperpanjang pembicaraannya dengan wanita itu, dengan cepat Anyelir mengalihkan pandangannya dan tertuju pada seseorang yang tengah menyeruput kopinya dengan mata terus saja menatap lekat ke arahnya.
"Margaret akan tinggal disini, semoga kalian bisa dekat ya."
__ADS_1
Bola mata biru milik Anyelir bergulir terarah pada pria yang duduk tidak jauh Tuan Besar Al Faruq, tepat bersisian dengan wanita yang bernama Margareta.
Bodoh sekali, kenapa mereka terlihat terang terangan seperti tengah berselingkuh darinya. Bukakah biasanya Erlan akan duduk di sisinya seperti biasa? Apa yang sedang mereka rencanakan sebenarnya? Kedua orang itu tidak bodohkan kalau berencana mengumbar perselingkuhan didepan semua orang.
"Tentu, Yang Mulia. Aku akan senang hati bisa dekat dengan Sepupu anda," sahut Anyelir terdengar antusias, namun nyatanya kalau di dengarkan lebih dalam itu hanyalah sebuah cibiran dan basa basi semata.
'Dengan begitu aku bisa melempar wajah kekasihmu dengan sepatuku, lihat saja kau juga akan dapat giliran nanti!' geramnya dalam hati.
Ekpresi yang Anyelir tunjukan saat ini tidak lepas dari mata hitam milik seseorang di depannya, pemilik netra itu terus saja menatap lekat, ujung bibirnya terlihat tertarik di balik cangkir kopi yang tengah menempel di bibirnya.
"Lempar saja, kenapa kau tahan Sayang," gumamnya pelan.
"Fokus saja pada hidupmu!" cetus Ethan dingin. Jujur saja dia tidak suka dengan pria yang menjadi sengkuni di dunia nyata ini.
Si penjilat licik!
"Aku sudah selesai, kalau begitu aku permisi. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan di perpustakaan,"
Anyelir bangkit, dia menggeser sedikit kursi yang didudukkinya dan segera melangkah tanpa menunggu persetujuan siapa pun, hingga-
"Putri Anyelir apa yang kau pakai?!"
__ADS_1
Suara seruan keras berhasil menghentikan langkahnya, gadis itu menoleh, alisnya terangkat satu saat melihat wajah merah padam yang tengah di tunjukkan oleh Erlan dan juga pria berkaos tanpa lengan yang tadi duduk di depannya.
"Gaun," sahutnya ringan.
Setelah itu dia kembali melangkah lebar, bahkan belahan gaun yang sengaja dia robek itu tersingkap kala dirinya melangkah membuat penampilannya terlihat semakin menantang dan berhasil membuat Ethan mengetatkan rahangnya.
'Berani dia merobek gaun pilihanku!' geram bercampur gemas yang Ethan rasakan saat ini.
"Putra Mahkota, tolong ajari calon istrimu itu. Kenapa dia-,"
"Aku akan menyusulnya!" Erlan bangkit, dia bergegas menyusul Anyelir. Dia baru sadar kalau gaun panjang semata kaki yang di pakai tunangan itu memiliki robekan yang cukup tinggi, siapa yang melakukannya.
Perlahan sudut bibir Erlan tertarik, seringai kecilnya timbul. Entah mengapa ada rasa penasaran saat melihat paha mulus tunangannya terekspos padahal selama ini selalu tertutup.
Soalnya dia tidak tahu siapa orang yang sudah memberikan perintah sialan itu, memakai gaun panjang semata kaki. Padahal setahunya yang tidak ada peraturan itu di buku keluarga Al Faruq, tapi kenapa Permaisuri memberikan perintah tersebut.
Sialan!
ADUH ADUH BANGπππ
__ADS_1