Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Turuti Kata Hatimu


__ADS_3

Anyelir berjalan terseok keluar dari toilet, dia menghela napas berulang kali. Kepalanya mendadak berdenyut, tubuhnya beberapa kali hampir terjungkal saat gaun panjang yang di pakainya tidak sengaja terinjak heels tinggi yang melekat indah di kakinya.


Perkataan Ethan terus saja terngiang-ngiang di otaknya. Sang Princess menekan dada sebelah kirinya saat merasakan denyutan yang tidak biasa setiap teringat kata kata yang dilontarkan pria sialan itu.


Kembalilah padaku!


Cih, memangnya sejak kapan dirinya pergi dari pria itu. Bukannya mereka memang tidak memiliki hubungan apa pun sejak awal bertemu bahkan di masa lalu, lalu kenapa Ethan bersikap seolah dirinya telah di curi oleh seseorang?


"Kalau kamu nerima cinta aku dulu, gak mungkin aku mau nerima pernyataan Putra Mahkota." lirihnya.


Brukk!


Tanpa sengaja Anyelir menabrak tubuh seseorang, untung saja dia masih bisa mengontrol diri hingga tidak sampai terjungkal kebelakang.


"Maaf, aku tidak sengaja. Apa kau baik baik saja?"


Anyelir menatap tidak enak pada wanita yang tengah memungut ponselnya yang jatuh. Wanita bergaun maroon itu mendongak, sudut bibirnya perlahan terangkat dan menggeleng pelan.


"Tidak apa apa. Aku juga salah, tadi aku sedang menelpon dan terburu buru tidak melihat kedepan dengan baik."


Hembusan napas Anyelir kembali terdengar. Dia membalas senyuman wanita cantik yang mungkin usianya sama dengannya, karena kalau dilihat dari penampilan dan wajah, wanita ini masih muda.


"Sekali lagi aku minta maaf, kalau begitu aku permisi. Maaf sudah membuat ponsel mu jatuh," ringis Anyelir lagi.


Dia masih tidak enak hati, terlebih saat melihat ponsel mahal milik wanita yang tengah tersenyum dihadapannya ini sedikit lecet.

__ADS_1


"It's oke. Aku juga minta maaf," setelah mengatakan itu si wanita asing segera berlalu, dia kembali mengatakan atik ponselnya lalu terdengar berbicara dengan seseorang tapi sayang Anyelir tidak dapat mendengarnya dengan baik.


"Sepertinya aku belum pernah melihat dia di pesta mana pun, apa dia salah satu putri bangsawan yang datang?" gumamnya.


Anyelir menyedikkan bahunya, dia kembali berjalan cepat dengan mengangkat gaun yang di pakainya agar memudahkannya melangkah. Sang princess berbelok, dia kembali berjalan menuju ballroom, tatapannya lurus dan terkesan kosong hingga dia tidak menyadari kalau sedari tadi ada mata yang memperhatikannya dengan senyuman miring terus saja tersungging.


"Aku akan menemuimu!"


Tut


Orang itu mematikan sambungan teleponnya, dia kembali berjalan dengan santai, bahkan senyuman di bibirnya tidak luntur sedikit pun, walau tidak ada orang yang tersenyum padanya.


💔


💔


💔


Anyelir menoleh saat Yasmine berbisik kecil tepat di telinganya. Sang Princess tersenyum tipis, dia meraih salah satu tangan Jiddahnya dan menggenggamnya erat.


"Anye enggak apa apa Jiddah," sahutnya pelan.


Tapi bukan Yasmine namanya kalau dia langsung percaya. Kedua mata tuanya menatap cucu perempuan satu satunya, cucu perempuan yang dulu terlihat sangat ceria, ceriwis, bahkan menyukai berbagai warna hingga membuat suaminya sakit mata, tapi entah mengapa selama beberapa tahun kebelakang cucu cantiknya ini sedikit berbeda, ada apa?


"Jiddah yakin kamu enggak lagi baik sekarang. Coba cerita, jangan kamu pendam sendiri,"

__ADS_1


Yasmine menatap lembut pada Anyelir, dia mengusap punggung tangan cucunya dengan sayang. Wanita tua itu berusaha menenangkan, dia berusaha untuk membuat Anyelir rileks dan bisa bercerita dengan tenang.


Terdengar hembusan napas kasar keluar dari mulut Sang princess, kedua matanya bahkan terpejam sekejap sebelum dia menatap ke arah Yasmine dengan tatapan ragu.


"Apa yang bakalan Jiddah lakukan kalau ada seseorang tiba tiba-,"


Anyelir menghentikan ucapannya, dia menggigit bibir bawahnya. Ragu, satu kata yang kini tengah menguasai otak serta hatinya. Dia belum siap untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, Anyelir butuh waktu yang tepat.


"Tiba tiba apa?" tanya Yasmine penasaran.


Tapi saat melihat Anyelir menggeleng dia hanya menyunggingkan senyuman tipis. Yasmine kembali mengusap punggung tangan Anyelir dan membelai salah satu pipi mulus seputih pualam milik cucunya.


"Enggak apa apa kalo kamu memang belum mau cerita sama Jiddah. Jiddah cuma mau berpesan, ambil keputusan apa pun yang menurut kamu benar dan baik. Jiddah yakin Anye sudah dewasa sekarang, sudah bisa mengambil keputusan yang benar. Ingat pesan Jiddah, jangan menyakiti sesuatu yang enggak pernah nyakitin kita, tapi kalau memang sebaliknya balas saja jangan takut, oke!" Yasmine mengedipkan sebelah matanya pada Anyelir membuat Sang princess tergelak kecil.


Gadis berparas bak dewi itu segera memeluk wanita tua yang sedari dulu sangat dekat dengan nya. Kemanapun Sang Jiddah pergi Anyelir tidak pernah ketinggalan, walaupun kadang Jiddinya yang tampan itu sering merasa tersaingi saat bersama Jiddahnya, terlebih saat Tiger lahir pastinya Sang tuan besar Albarack tersisihkan lagi.


Pesta para bangsawan telah usai, para tamu kehormatan kembali ke kediaman masing masing begitu pula dengan keluarga Albarack. Tadinya Tuan Al Faruq meminta mereka untuk menginap di istananya, tapi Erkan menolak dengan alasan besok pagi dia ada rapat.


Anyelir sempat ingin ikut, tapi dia sadar harus menyelesaikan sesuatu disini. Kalau di biarkan terlalu lama dia yakin akan semakin sulit, dirinya harus segera memberikan keputusan.


Semilir angin malam menerbangkan anak rambut milik Anyelir. Gadis bergaun malam panjang dengan kimono tidur senada itu terlihat melamun di balkon, sudah hampir tengah malam tapi dirinya belum juga merasa ngantuk.



KEBANYAKAN NGEMIL KOPI SI PRINCESS 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2