
Ekor mata Anyelir terus saja tertuju pada undakan tangga yang tidak jauh darinya. Entah mengapa dirinya menjadi tidak tenang wanita asing berambut blonde itu tidak kunjung turun lagi ke lantai bawah setelah Pangeran Kedua menyeretnya dan membawanya pergi ke lantai atas.
Sudah hampir tiga puluh menit lamanya, entah apa yang sedang mereka lakukan lantai atas, Anyelir bahkan tidak mau menebaknya. Sang Princess mengunyah potongan buah alpukat dengan kasar, sepertinya rasa lapar kembali menyerang setelah otaknya dia pergunakan untuk berpikir. Terlebih lagi hatinya, dia berusaha masa bodo tapi tetap saja perasaan murahan yang selama ini terkubur dalam tiba tiba menyeruak begitu saja.
Sialan memang!
Desa*han napas kasarnya kembali terdengar, hawa panas terasa kian menjalar keseluruhan area tubuhnya. Rasanya Anyelir ingin sekali membuka gaun sialan yang selalu membuatnya kerepotan seperti ini, bahkan rasanya dia ingin membenamkan kan diri didalam bak mandi yang berisikan air es agar hawa panas ini hilang dari tubuhnya.
Sang Princess bangkit, dia memutuskan akan berdiam diri di dalam kamarnya dan berendam sampai Putra Mahkota kembali ke istana. Gadis berambut hitam itu sedikit kesulitan saat gaun semata kaki yang di pakainya tersangkut di manik manik heels yang dia pakai.
Sepatu sialan! Kalau bisa memilih dirinya akan dengan senang hati memakai sandal jepit kemana pun. Persetan dengan julukan Putri Mahkota yang mengharuskannya seperti ini. Tapi Anyelir tidak bisa merealisasikan semua itu, karena ini memang sudah peraturan yang harus dia jalani. Terlebih dirinya sendiri yang sudah memilihnya, dan tidak mungkin lagi untuk mundur, kecuali kalau mau melihat kedua keluarga bangsawan yang berpengaruh di Dubai ini bersitegang dan berujung kericuhan karena ulahnya.
Sekali lagi Anyelir menghempaskan ujung gaunnya yang berhasil dia lepaskan. Dia kembali melangkah, meninggalkan area santai yang tadi di tempatinya. Namun belum sepenuhnya Anyelir sampai, suara hentakan sepatu heels yang sedang menuruni tangga kembali mengalihkan atensinya.
Tatapan Anyelir tertuju pada wanita yang terlihat cukup berantakan namun senyuman di bibirnya tidak luntur sedikit pun. Dahi Anyelir mengernyit kala langkah wanita itu berhenti tepat di dekatnya, senyuman lebarnya tidak luntur sedikit pun dan itu sungguh membuat dirinya tidak nyaman.
"Kau tahu, dia sangat nikmat dan panas." cetus nya tanpa basa basi.
__ADS_1
Ekspresi yang Anyelir berikan tidak dapat dideskripsikan lagi. Kali ini raut jijik mendominasi wajah cantiknya, bahkan Sang princess reflek mundur saat wanita asing berambut blonde itu mencondongkan diri padanya.
"Jangan ganggu dia! Pulanglah!" suara berat yang berasal dari tangga membuat kedua wanita itu mengalihkan pandangannya.
Salah satu dari mereka terus saja tersenyum lebar sembari memberikan kecupan centil dari jarak jauh sebelum kembali melanjutkan langkahnya. Sedangkan wanita muda yang di tinggalkan itu hanya diam, menatap tak berekspresi pada pria tinggi tegap berkulit Tan yang saat ini tidak memakai pakaian atasnya. Bahkan Anyelir dapat melihat rambut pria itu basah, karena air masih menetes di pundak kokoh dan lebarnya.
Sial, pikiran kotor yang ada didalam kepalanya saat ini tidak dapat lagi disingkirkan. Dia memang belum berpengalaman, tapi dirinya tidak sebodoh itu.
Apa mereka habis bercinta tadi?
"Apa yang akan terjadi kalau Putra Mahkota dan Tuan Al Faruq sampai tahu, kalau istana nya di jadikan tempat mesum oleh Pangeran Kedua?"
Ucapan yang dilontarkan Anyelir berhasil membuat langkah pria itu terhenti. Kedua matanya menatap lurus ke arah cermin yang tengah memantulkan bayangan keduanya. Ethan dapat melihat ekspresi ketidaknyamanannya di raut wajah Anyelir kala netral keduanya bertemu di cermin.
"Urus saja urusan mu!" tukasnya.
"Ya, ini adalah urusanku. Karena aku akan turut andil didalam istana ini sebagai putri mahko-,"
__ADS_1
"Apa kau senang?" tanyanya cepat memutuskan ucapan Sang Princess. Ethan berbalik, dia menatap tajam pada gadis yang 5 tahun yang lalu sudah berani mengungkapkan cinta padanya, tapi sayang dia menolaknya tanpa basa basi.
Bukan hanya sekali melainkan berulang kali, dan 5 tahun yang lalu adalah yang terakhir kalinya. Karena setelah hari itu berlalu, Ethan tidak lagi melihat Sang Princess mendekati dan mengejarnya.
Dia sudah menyerah!
"Apa maksudmu, aku tidak pa-,"
"Apa kau senang akan menjadi Putri Mahkota Al Faruq?" tanya kembali. Suara Ethan memberat, tatapan tajamnya terus saja terarah pada Anyelir. Hingga netral berbeda warna itu bertemu, bertaut dalam dan penuh misteri.
Tatapan tajam yang Ethan layangkan begitu menusuk, tapi entah mengapa yang Anyelir lihat bukan tatapan yang seperti itu, melainkan tatapan sendu yang terlihat frustasi.
"Tentu, tentu saja aku senang. Karena Putra Mahkota memilihku tanpa harus aku yang merendahkan diri padanya." cetus nya tanpa ragu, dan berlalu pergi meninggalkan Ethan yang masih terus saja menatap ke arah punggung kecil Sang Princess, hingga akhirnya gadis itu tidak lagi terlihat saat sampai di undakan terakhir anak tangga yang menuju lantai dua.
__ADS_1