
Alunan nada yang di ciptakan oleh Anyelir melalui gesekan dawai biolanya membuat semua orang terpukau, terlebih saat gadis berdarah Albarack itu menampilkan senyuman manisnya pada semua orang tanpa menghentikan gerakan tangannya.
Kedua matanya perlahan terpejam kala nada yang dia ciptakan begitu menyentuh kalbu. Gaun berbahan sifon mahal dan mewah itu bergoyang tertiup angin yang entah datang dari mana, membuat pesona sangat princess kian menguar hebat.
Bukan hanya para tamu kehormatan di acara ini yang begitu terpukau melihat penampilan Anyelir yang jarang bahkan tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Diantara para bangsawan itu bahkan baru mengetahui kalau princess Anyelir sangat berbakat dalam memainkan biola hingga menciptakan sebuah nada yang indah.
Putra Mahkota yang berdiri tepat di depan panggung utama, berhadapan langsung dengan Anyelir, terlihat menyunggingkan senyumannya. Terlebih saat kedua telinganya mendengar kasak kusuk beberapa bangsawan memuji calon istrinya secara terang terangan. Ada rasa bangga yang menyeruak dari dalam dirinya saat ini, perlahan Erlan mengangkat gelas berisikan minuman yang belum sepenuhnya dia habiskan. Meneguknya perlahan dengan mata terus saja tertuju pada gadis cantik bak dewi yang terlihat sudah menyelesaikan permainan memukaunya.
Di sudut ruangan, seorang pria masih terdiam, kedua mata hitam legam dan tajamnya memindai setiap sudut ruangannya. Dia berusaha mengalihkan pandangannya dari panggung utama, dia merasa ada sesuatu yang membakar jiwa kala menatap kearah sangat gadis biola dan pria yang tengah menatap tak berkedip pada gadis tersebut.
Ingin rasanya dia melemparkan gelas kosongnya ke arah wajah sangat pria, namun sepertinya otaknya masih waras untuk diajak berkompromi.
Suara tepukan tangan para tamu mengakhiri penampilan Anyelir. Gadis bergaun panjang itu membungkukkan tubuhnya ke arah para tamu sebelum dia turun dari atas panggung.
Senyuman Anyelir melebar saat melihat Putra Mahkota mengulurkan tangannya, membantu dirinya turun dengan cara yang romantis.
"Terimakasih," ucap Anyelir.
"Apa pun untukmu, Princess," sahut Erlan
__ADS_1
Keduanya berjalan berdampingan mendekat pada keluarga Albarack. Setiap langkah yang mereka berdua ambil tidak luput dari mata semua orang yang ada disana, termasuk seseorang yang masih betah berlama-lama di pojok ruangan besar ini.
Anyelir merentangkan kedua tangannya saat melihat anggota keluarganya sudah hadir di acara ini. Senyumannya semakin lebar saat sang mommy bangkit dan juga ikut merentangkan kedua tangannya, meminta Anyelir untuk segera memeluknya.
"Aku kangen Mommy," bisiknya.
Permaisuri Sheena hanya menipiskan bibirnya, dia mendekap putri semata wayangnya dan memberikan banyak kecupan di seluruh permukaan wajah cantiknya.
"Mommy juga sangat merindukanmu, Princess."
Keduanya meregang, senyuman yang terpatri di bibir Anyelir tidak surut sedikit pun. Terlebih saat dia memeluk satu persatu anggota keluarganya, hatinya terasa sangat bahagia, karena setelah beberapa pekan tidak dapat bertatap muka bersama orang orang tersayangnya, akhirnya hari ini Anyelir bisa menumpahkan semua rasa rindu yang selama ini membelenggu dirinya.
"Jiidi apa kabar, Jiddi sehatkan? Aku kangen sama Jiddi, kangen jajannya maksudnya hehe,"
Setelah puas menggoda Elvier dan juga Yasmine sangat Nenek, kini matanya terarah pada Sangat Daddy yang masih terdiam namun terus saja memperhatikan gerak gerik putrinya.
"Daddy enggak mau meluk aku?" ucap Anyelir dengan aksen bahasa Indonesiannya.
Dia memperlihatkan raut wajah cemberut saat Lord Erkan tidak kunjung mendekat lalu memeluknya. Namun wajah tidak enak di pandang itu berubah seketika saat melihat sangat Daddy mendekat dan segera mendekapnya erat, lalu tidak lupa memberikan banyak kecupan sayang di pucuk kepala Anyelir.
__ADS_1
"Apa Daddy kangen sama Anye?" tanyanya jahil.
"Hu'um," Lord Erkan hanya bergumam, namun dekapannya kian mengerat seakan enggak melepaskannya lagi.
"Daddy harap kamu selalu hati hati, jangan pernah lengah sedikit pun." bisiknya lagi.
Dahi Anyelir mengernyit, dia tidak paham dengan apa yang di ucapkan oleh Daddy nya. Namun Anyelir tidak ingin membuat Sangat Daddy kembali bersuara dan mengeluarkan kata kata ambigu yang mengharuskan dirinya untuk kembali berpikir keras.
Erkan melepaskan dekapannya, dan menyematkan kecupan dipucuk kepala Anyelir sebelum gadis itu menjauh darinya dan mendekat pada Dahliara serta keluarga kecilnya.
"Aku kira kau tidak akan pulang," sindir Anyelir pada pria muda yang terlihat tidak berselera berada di pesta ini.
Setelah menyapa dan memeluk Dahliara dan Lionel, Anyelir segera mendekat pada adik sepupunya yang terlihat tampan malam ini dengan stelan jas mahal yang membalut tubuh tingginya. Dia yakin itu bukan kemauan adik sepupunya, pasti sang aunty yang memaksa.
Anyelir terkekeh sendiri dibuatnya membuat pria muda itu melirik dan berdecak pelan.
"Kalo onty gak nyeret dia, gak mungkin dia pulang. Kerjaannya ngelayap mulu, dasar anak singa." cibir Dahliara.
Anyelir kembali tertawa di buatnya, dia menepuk keras pundak Tiger. Kedua wanita beda usia ini memang sangat senang mengganggu ketentraman baby singa yang satu ini.
__ADS_1
ADA YANG FANAS🤣🤣🤣