Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Ambisi


__ADS_3

"Kenapa kau bicara seperti itu di depan Anyelir?! Apa kau mau kalau dia tahu apa yang sedang terjadi, huh?" Erlan mendelik tajam pada wanita berpakaian sexy yang tengah bersandar nyaman di sofa bulu.


Sudut bibir wanita itu naik, dia terlihat biasa saja melihat kemarahan yang terpancar di mata Sang Putra Mahkota. Bahkan dengan anggun dan menggoda dia bangkit, kedua kaki jenjang indah berbalut heels tinggi berwarna merah itu kian mengikis jarak dengan Erlan.


"Apa yang kau khawatirkan, hm? Bukanlah kau tahu kalau gadis itu dungu dan bodoh, kau tidak perlu khawatir Sayang." sang wanita membelai dada bidang itu dengan lembut, bahkan gerakannya terlihat begitu sensual dan menggoda.


Senyuman di bibirnya kian melebar kala melihat Sang putra mahkota mendengus, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bahkan pria itu membiarkan wanita yang menjadi teman ranjangnya selama satu tahun ini terus saja menggodanya.


"Jangan kau ulangi lagi! Bisa saja calon istriku tidak sebodoh yang kau kira Margaret!" cetusnya.


Margaret mencebik kasar, usapan di dada Erlan terhenti. Dia menatap nyalang pada pria yang sudah berada dibawah kendalinya ini, Margaret tidak suka saat mendengar Erlan menyebut Anyelir sebagai calon istrinya.


"Aku tidak suka saat kau menyebutnya calon istri." desisnya.


Wanita berwajah cantik itu menjauh dari Erlan, mendorong dada pria itu dengan telunjuk lentik berkuku panjang serta bercat merah darah. Tanpa ada pembicaraan lagi diantara keduanya, Margaret segera keluar dari ruangan itu. Sudut bibirnya masih terangkat, senyuman licik terpatri disana tanpa di ketahui oleh siapa pun termasuk Putra Mahkota.


Sementara di dalam sana Erlan terlihat mengusap wajahnya kasar, dia menjambak rambutnya cukup keras saat merasakan otaknya hendaklah mendidih dan rasanya akan pecah sebentar lagi.

__ADS_1


Disaat Erlan merasakan kegalauan yang mampu membuat dia ingin sekali memecahkan kepalanya sendiri, Margaret justru tengah menemui seseorang. Senyuman wanita cantik itu kian mengembang saat melihat punggung lebar yang sudah sering kali dia dekap, walaupun hanya sekedar kepuasan tanpa perasaan yang dia dapatkan.


"Jangan melewati batas, Margaretha!"


Kedua tangan Margaret melayang di udara saat suara dingin itu menginstruksinya tidak mendekat dan melakukan hal yang lebih lagi.


"Tuanku, aku sangat merindukanmu. Apa kau sudah tidak merindukan-,"


"Kau sudah berhasil membuat anak itu dalam kendalimu?" tanyanya memotong ucapan Margareta.


Pria berjubah emas itu berbalik, kedua mata yang sama persis dengan Putra Mahkota itu menatap dalam, datar dan dingin pada Margaretha. Bahkan terlihat begitu mengintimidasi hingga membuat wanita cantik itu berdehem pelan sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Tentu, apa yang tidak bisa aku lakukan selama ini, Tuanku. Putramu sudah dalam kendalimu, dan gadis dungu itu akan selalu ada didalam kendali putramu." ucapnya dengan senyuman lebarnya.


Bahkan kini dia berani mendekat, tatapan menggoda yang tadi ditunjukan pada Erlan sekarang tertuju pada pria matang yang begitu menantang di matanya.


"Jangan kau panggil gadis itu dengan sebutan yang tak pantas! Dia tetap menantuku, bahkan dia jauh lebih terhormat dari pada dirimu Margaretha!" sinisnya.

__ADS_1


Margaretha bungkam, dia mengumpat keras didalam hatinya mendengar sindiran serta hinaan secara langsung pria yang beberapa kali menjadi partner ranjangnya tersebut.


Ya, sebut saja dirinya serahkan karena menyukai Ayah serta putranya sekaligus tanpa di ketahui Erlan tentunya. Banyak keuntungan yang dia dapatkan, termasuk kekuasaannya di istana ini.


"Ayolah Tuanku, dia hanya boneka bukan untuk menjadi menantu kebangganmu. Aku yakin setelah Erlan mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan segera menyingkirkan gadis dungu itu," Margaretha terkekeh. Bahkan terlihat tidak takut dengan delikan tajam yang di tunjukan oleh pria didekatnya.


"Sama seperti dirimu yang pernah menyingkirkan istrimu serta Kakakmu, benarkan" imbuhnya.


Senyuman Margaretha kian melebar, bahkan tertawa kecil kala melihat wajah tegang sang Tuan. Pria itu bungkam, dan itu semakin membuat Margaretha merasa berada di atas angin.


'Semua sudah ada dalam kendaliku, sekarang tinggal memikirkan cara untuk menyingkirkan para makhluk tidak berguna dari istana ini, termasuk permaisuri dan Pangeran kedua.' desisnya dalam hati.


Sorot mata Margaretha menajam, begitu jelas terlihat bara apa memancar dari netral coklat tua tersebut. Penuh ambisi, amarah dan dendam, entah apa yang akan dia lakukan pada targernya nanti. Yang jelas Margaretha sangat tidak tahu siapa Anyelir dan Ethan yang sebenarnya, yang dia tahu kalau Anyelir hanya gadis bodoh idiot dungu dan mudah di bohongi, sama seperti Ethan dan Permaisuri.


Margaretha menggali kuburannya sendiri rupanya.


__ADS_1


KAYAK GINI DI BILANG IDIOT BODOH DUNGU, DASAR KUTU BABI BETINA🤣🤣🤣


__ADS_2