
Selepas acara sakral dilaksanakan, pernikahan Anyelir dan Ethan yang dilakukan secara mendadak dan tersembunyi itu kini disambut oleh acara makan bersama yang di cetuskan oleh ketiga wanita yang memang sangat memiliki kuasa di istana Albarack.
Jiddah Yasmine, Dahliara serta Oceana terlihat sibuk bersama para pelayan mempersiapkan sajian spesial untuk merayakan pernikahan sang princess. Walaupun terlihat sederhana tapi semua itu mampu membuat kedua mata indah Anyelir berkaca-kaca.
Gadis bergaun pengantin itu menutup mulutnya saat melihat sebuah kue pengantin yang tidak terlalu besar sudah tersedia diatas meja. Buru-buru Anyelir menyeka air matanya, dia mempercepat langkahnya meninggalkan Ethan yang hanya bisa menggelengkan kepala.
Tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Pria ber tuxedo berwarna senada dengan gaun pengantin yang Anyelir pakai itu berjalan santai mengikuti langkah istrinya.
Istri?
Senyuman Ethan kian melebar, dia masih tidak menyangka pada akhirnya dirinya bisa mempersunting gadis yang dulu dipisahkan darinya. Mati matian berusaha memendam perasaannya, namun nyatanya Ethan tidak sepintar itu untuk menyembunyikannya. Hatinya memberontak saat melihat Erlan memasangkan cincin berlian ke jari manis Anyelir, dadanya bergemuruh ingin menghajar pria bajingan itu sekaligus pria yang menjadi ayah tirinya.
Berusaha baik baik saja nyatanya selama 6 tahun ini dia sakit. Sakit dalam arti hatinya bukan fisiknya, sakit melihat gadis yang dulu mengejarnya, mengatakan cinta padanya berulang kali lalu dirinya menolaknya mentah-mentah bahkan mempermalukannya, membuat air matanya terjatuh, ternyata sudah melupakannya dan memilih sepupu sekaligus saudara tirinya.
Tapi sekarang...
__ADS_1
"Ethan!" Panggilan itu membuat lamunan Ethan pecah. Pria bertubuh sempurna itu mengerjap, dia tertegun saat melihat senyuman bahagia Anyelir, tangan lentiknya melambai kearahnya sembari menyodorkan sepotong kue yang ada di tangan kanannya.
Ethan tertular senyuman itu, kedua kakinya bergegas mendekat, merengkuh pinggang kecil istrinya dan menerima suapan pertama yang di berikan Anyelir untuknya.
"Terimakasih, istriku." Bisiknya lembut.
Disisi lain, disaat Ethan dan Anyelir tengah menikmati hari bahagia mereka, Erlan justru terlihat gelisah. Dia berulang kali melihat ponselnya, kedua kaki panjang serta kokohnya bolak balik layaknya setrikaan.
Dahinya semakin berkerut seakan tengah memikirkan sesuatu yang sangat berat. Helaan napasnya terdengar, dia menekan sebuah nama kontak di ponselnya.
Cukup sabar dan tenang, sebelum ada dua buah tangan melingkar pada pinggang dan perutnya dari arah belakang. Gerakan Erlan terhenti, dia terlihat menggeram pelan sebelum meraih salah satu tangan lancang itu dan meremas nya erat.
Erlan menghempaskan kasar, dia menatap datar namun tajam pada wanita cantik yang saat ini sedang meringis memegangi pergelangan tangannya. Tapi suara ringisan itu hanya sekejap terdengar berganti dengan senyuman nakal, bahkan gestur tubuh wanita itu pun sama nakalnya.
"Kau kelelahan Yang Mulai?" Dia mendekat, tangannya yang berkuku panjang dan bercat merah terulur meraba dada bidang sang Putra Mahkota memberikan sentuhan lembut dan menggoda. Netra berlensa abu-abu itu menatap sayu pada Erlan, memberikan tatapan penuh hasrat yang membara.
__ADS_1
"Menjauhlah Margaret, aku sedang tidak ingin melihat siapa pun termasuk dirimu!"
Erlan menjauhkan tangan nakal Margareta, dia berjalan menuju balkon berusaha menjaga jarak dengan wanita yang selama ini sudah berulang kali menghangatkan ranjangnya. Jujur semakin kesini Erlan semakin merasa bersalah pada calon istrinya, dia merasa berdosa karena sudah mengkhianati Anyelir dan menipunya dengan ikatan ini.
Bagaimana kalau gadis itu sampai tahu apa yang terjadi selama ini?
Erlan mengusap wajahnya kasar, dia mengumpat keras, sepertinya dirinya sudah terjebak dengan permainannya sendiri dan perasaan yang selama ini dijadikan senjata menyerang balik kearahnya.
Erlan jatuh cinta pada Anyelir, kali ini tidak ada kebohongan didalamnya.
"Kau tidak lupa rencana kita bukan? Aku harap kau tidak ingkar Yang Mulia, kau tahu kan apa yang akan aku lakukan kalau kau memulai untuk mengkhianatiku. Apa jadinya kalau tuan putri mu yang bodoh itu tahu kalau pria yang akan dinikahinya bukan pria baik seperti yang dilihatnya selama ini, jadi pikirkan itu Sayang. Aku akan menunggumu di kamarku, jangan terlalu lelah oke."
Margareta menepuk pundak Erlan setelah dia memberikan kecupan pada rahang tegas berbulu milik pria itu. Margareta melenggang pergi meninggalkan kamar Sang Putra Mahkota, senyuman samarnya tercipta, dia seolah memiliki senjata ampuh untuk mengendalikan Erlan dan Tuan Al-Faruq tentunya.
Sementara Erlan sendiri terlihat tegang dengan raut wajah datar, tangannya mencengkram erat pembatas balkon. Bola matanya bergulir menatap kearah balkon kamar yang sering ditempati oleh Anyelir, ekspresinya berubah sendu sebelum dia berbalik masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
UHUIII🤣🤣🤣🤣