
Anyelir merasa ragu untuk keluar dari dalam mobil. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi, memejamkan kedua matanya sembari menghirup udara sebanyak mungkin. Sang Princess enggan untuk menatap ke arah luar sekarang, disana tepatnya didepan pintu utama istana Al-Faruq para pelayan dan juga Erlan sang Putra Mahkota sudah bersiap menyambutnya.
Tidak ketinggalan juga Permaisuri Al-Faruq dan Tuan Besarnya. Diantara mereka juga ada dua orang wanita yang sangat Anyelir kenal, Helena dan Margareta. Keduanya terlihat memasang wajah malas, bahkan Helena sudah memalingkan wajah kearah lain saat melihat mobil yang di naikin Anyelir masuk kedalam pelataran Istana.
Cukup lama Anyelir berdiam diri, dia pun tidak mungkin berada di dalam mobil terus menerus. Orang-orang itu pasti akan penasaran dan bertanya-tanya, bahkan bisa saja menghampirinya lalu memaksanya masuk.
Dengan tekad bulat Anyelir meraih handel pintu mobil, dia bergerak sendiri tidak mengandalkan sopir keluarga Albarack yang ikut bersamanya.
"Tetap disini Paman!" Titahnya tegas.
Sang sopir mengangguk patuh, dia membiarkan anak majikannya keluar tidak bisa mencegah hanya mampu mengawasi princess Anyelir dari jarak yang cukup jauh. Ditangannya sudah ada senjata dan alat komunikasi yang canggih, dengan sekali tekan mampu mengirimkan pesan dan lokasinya saat ini.
Anyelir melangkah dengan anggun, kaki jenjang berbalut heels lima centimeter itu terlihat begitu mantap memyusuri setiap jengkal lantai istana Al-Faruq. Dengan susah payah dia mengembangkan senyum, bersikap baik baik saja dan menunjukkan rasa bahagia saat matanya melihat area yang akan menjadi lokasi pernikahannya.
Berada di luar saja sudah terlihat luar biasa, lalu bagaimana dengan keadaan didalam istana?
"Selamat pulang kembali, Princess. Ibu sangat merindukanmu, bagaimana kabar mu?" Permaisuri memeluk menantunya penuh rindu, mengusap lembut pucuk kepala Anyelir.
__ADS_1
"Baik, aku sangat baik. Ini indah sekali, Ibu permaisuri, apa tidak terlalu berlebihan?" Anyelir merendah, dia berusaha mengambil hati orang-orang yang ada disana, termasuk Erlan. Ya walaupun tanpa berkamuflase seperti ini saja pria itu sudah terlanjur tenggelam dalam pesona seorang Anyelir.
"Oh tidak masalah, Erlan sudah mengaturnya sedemikian rupa. Ayo kita masuk, Ibu yakin kau lelah. Beristirahatlah, setelah itu kita akan makan siang bersama. Tapi kalian berdua tidak boleh terlalu dekat, dan untuk kau Putra Mahkota jangan menemui Princess Anyelir sampai nanti malam, barulah besok pagi kalian berdua boleh bertemu." Permaisuri menjelaskan panjang lebar, dia tidak mengindahkan raut wajah tidak senang milik Erlan.
Sang Permaisuri tahu kalau anak tirinya tersebut ingin menemui Anyelir sejak kemarin, bahkan sejak gadis itu keluar dari istana ini. Tapi sayangnya Permaisuri menjujung tinggi kemauan Princess Anyelir yang meminta untuk tidak dipertemukan terlebih dahulu dengan Putra Mahkota, bahkan untuk sekedar bertukar pesan saja tidak diwujudkan oleh Ibu kandung Pangeran Ethan tersebut.
"Sudahlah, apa yang dikatakan Permaisuri benar. Kau juga harus istirahat Boy, jangan sampai besok pagi kau malah terlihat lemas saat bersanding dengan pengantinmu." Tuan Besar Al-Faruq terkekeh sembari menepuk pundak putranya, dia membawa Erlan masuk kedalam istana lewat jalan lain.
Erlan benar-benar tidak di berikan kesempatan untuk sekedar menyapa atau hanya say hai sebagai basa basi menyambut kedatangan calon istri. Respon yang Anyelir berikan pun terkesan dingin, bahkan enggan menatap kearahnya, senyuman manis yang sering Erlan lihat berubah hambar.
Putra Mahkota Al-Faruq hanya mengangguk patuh, dia mengikuti langkah Sang Ayah. Dia tidak lagi protes, mungkin untuk sekarang dirinya akan melepaskan Anyelir, tapi tidak untuk besok. Erlan berjanji akan mengurung gadis itu didalam kamar dan tidak akan mengeluarkannya hingga besok.
Sudut bibir Erlan terangkat, ada seringai mesum yang tercipta di sana dan berhasil tertangkap oleh Margareta yang berjalan tepat di dekatnya.
Apa yang sedang Erlan rencanakan? Dia pasti sedang membayangkan gadis idiot itu, sialan!
Tangan Margareta terkepal, dia melirik tajam pada kekasih gelapnya tersebut. Hatinya benar-benar tidak rela kalau sampai Erlan menikahi Anyelir besok dan menjadikan gadis itu sebagai permaisuri.
__ADS_1
Aku tidak rela! Aku tidak akan membiarkannya! Semua milikku, Erlan , Tuan Besar Al -Faruq semua harus ada dalam kendaliku. Aku tidak akan membiarkan Anyelir atau siapapun mengambilnya dariku, termasuk Permaisuri. Wanita tua itu harus segera aku singkirkan!
💐
💐
💐
Anyelir menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur, dia lelah sekarang. Tapi sepertinya bukan hanya lelah saja yang dirasakannya, melainkan ada benci, marah, jijik serta muak. Jujur ingin rasanya Anyelir melakukan sesuatu pada manusia-manusia munafik yang tadi ditemuinya.
Tapi sayang itu bukan waktu yang tepat, untuk beberapa jam kedepan dirinya harus pandai berakting, memasang wajah bahagia serta antusias menyambut pernikahan ini. Pernikahan yang dulu diinginkannya, tapi untuk sekarang dia mengutuknya. Bahkan kalau pun dirinya tidak bisa bersatu dengan Ethan, Anyelir akan memilih membatalkannya.
"Aku harap Ethan sampai malam ini." Gumamnya.
Anyelir gelisah, dia tidak tahu kenapa perasaannya tiba-tiba saja kacau. Dia merasakan akan ada sesuatu yang terjadi, entah pada siapa yang jelas dirinya harus tetap waspada.
"Aku akan makan malam di kamar saja nanti. Aku tidak ingin bertemu dengan wanita ulat bulu itu dan dua pria menjijikkan yang sok suci!" Imbuhnya lagi, kali ini sorot mata Anyelir menajam bahkan terlihat membara penuh dengan kobaran api.
__ADS_1
Dia mengutuk kedua pria sialan dan wanita menjijikkan yang ada di istana ini!