
Lord Erkan melirik orang yang berada di sisinya dengan datar, mata tajamnya menelisik penampilan pria yang berseragam kan pakaian khas bodyguard. Sudut bibir Sang Lord terangkat, membentuk senyuman tipis yang mencibir.
"Untuk apa kau mengikuti putriku sampai ke rumahnya?" Tanyanya tanpa basa basi.
Lord Erkan tahu apa yang terjadi pada Anyelir, tapi dia pura pura tidak mengetahui apa pun. Karena Erkan yakin kalau sampai Anyelir mengetahui dirinya tahu segala apa yang terjadi dimasa lalu sang princess, Anyelir akan menjauh darinya.
Anyelir bukan gadis lemah yang tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, Lord Erkan percaya itu. Dan benar saja, Anyelir berhasil melewati masa masa itu tapi sayang seseorang yang membuat masalah itu malah kembali.
"Bukankah dulu kau menolak serta mempermalukan putriku di hadapan semua orang, Pangeran Ethan? Jangan kira karena aku diam, aku tidak mengetahui apa pun. Bahkan saat putri kesayanganku ditertawakan dimalam sialan itu aku tahu semuanya. Jadi, untuk apa kau kemari dan mengikuti calon istri dari kakakmu sendiri?" Erkan tidak membiarkan Pria yang tengah menundukkan kepalanya itu berbicara. Kali ini sang Lord menatap penuh intimidasi pada pria yang lima tahun yang lalu berhasil membuat putri kesayangannya yang ceria, centil, periang, penyuka warna warna terang nanti indah, banyak bicara, berubah total.
Anyelir menjadi pemurung, dia membuang semua mainan bahkan gaun serta barang barang yang berwarna-warni indah lalu membakarnya tanpa sisa dengan ekspresi datar.
"Dia tidak menyukai gadis yang centil, penyuka warna terang serta banyak bicara sepertiku," itulah yang Erkan dengar saat Anyelir berbicara dengan Oceana Mommynya.
Lima tahun yang lalu, bahkan hingga sekarang gadis cantiknya tidak kembali lagi, Anyelir masih memendam lukanya sendiri. Dan penyebab luka yang dimiliki oleh sang princess kini ada dihadapannya.
"Pergilah!" titahnya tanpa ampun.
"Tuan-,"
"Putriku sudah cukup merasakan luka yang dia sembunyikan selamat lima tahun ini. Walaupun kakakmu datang menawarkan cinta padanya, tapi aku yakin Putriku tidak semudah itu untuk sembuh, terlebih orang yang menawarkan cinta merupakan saudara dari pria yang sudah membuatnya terluka, soalnya ternyata kau malah kembali dan aku yakin-,"
__ADS_1
"Aku terpaksa melakukannya! Aku tidak punya pilihan, aku tidak memiliki dukungan dan perlindungan saat itu dari mereka yang memaksaku untuk menyakiti Anyelir, kau pikir hanya putri mu yang terluka. Aku lebih dari itu, aku mencintainya tapi-,"
"Ternyata gelar Pangeran yang kau sandang tidak pantas untukmu, kau tidak lebih dari seorang pengecut dan pecundang. Jangan harap kau bisa dengan mudah mendekati putriku setelah apa yang terjadi!" desis Erkan.
Sang Lord menyela cepat dengan nada dingin. Dia masih enggak mendengarkan penjelasan pria yang tengah menatap penuh harap padanya, perubahan signifikan yang terjadi pada putri semata wayangnya membuat Erkan tidak bisa mengendalikan emosinya.
Erkan berlalu pergi dengan rasa marah yang siap meledak, tapi dia berusaha menekannya bertindak waras agar para penghuni istana tidak melihat amukannya.
"Dad...,"
Langkah Erkan terhenti, pria paruh baya itu menoleh, tubuhnya sempat menegang kedua matanya membola saat melihat siapa orang yang memanggilnya.
Putri kesayangannya, Anyelir.
"Sayang, kenapa disini? Bukannya kamu tadi ingin beristirahat dengan Mommy, lalu kenapa malah disini, hm?" raut wajah Erkan berubah drastis. Pria itu terlihat begitu manis dan lembut saat mendekat pada putri kesayangannya, bahkan merentangkan kedua tangannya meminta dekapan Anyelir.
"Daddy tahu semuanya? Jadi, Daddy tahu kalau-,"
"It's okey, tidak apa apa. Semuanya akan baik baik saja, Daddy percaya kalau Princess cantiknya Daddy bisa melewatinya dengan baik. Dan buktinya sekarang, Princess Daddy sudah kembali kesini."
Anyelir masih belum merespon, dia hanya menatap sendu pada Erkan, ekor matanya melirik diam diam pada pria yang masih termenung sembari menunduk di sisi taman.
__ADS_1
"Ethan tidak salah Dad. Saat itu Ethan tidam punya pilihan lain, karena-,"
"Sudah tidak perlu dilanjutkan. Lebih baik kita masuk, kamu harus istirahat Sayang, Daddy tidak mau kamu sakit." Erkan berucap dengan lembut. Tangannya merangkul pundak putrinya dan menyematkan kecupan ringan di pucuk kepala sang princess.
"Kita harus bicara Dad. Aku, Daddy, Ethan, pokoknya semuanya, aku mau Daddy, Jiddi juga Mommy dan Jiddah mendengar semua penjelasan aku dan Ethan." Anyelir menolak ajakan Erkan. Dia malah melepaskan rangkulan Daddy nya dan mendekat pada pria yang saat ini sudah menatap kearahnya.
Walaupun penampilan pria itu benar benar berubah, tapi Anyelir masih bisa menyadarinya dari sorot mata yang sudah dia kenalin sejak belia.
Tanpa ragu Anyelir mendekap pria itu, lalu menangis lirih. Dia tidak peduli kalau dianggap sebagai gadis lemah, bodoh, budak cinta atau apalah itu namanya, yang jelas Anyelir tidak mau lagi kehilangan cintanya lagi kali ini.
"Aku tidak akan membiarkan Daddy mengusir mu dari sini. Kalau Daddy tetap mengusir mu, aku akan ikut." ucapnya dengan pelan dan terkesan manja, tentu saja masih terdengar jelas oleh Erkan.
Pria paruh baya itu mengusap wajahnya, dia tidak bisa berkutik. Mungkin ucapan Anyelir ada benarnya, dia dan yang lainnya harus mendengarkan penjelasan Ethan terlebih dahulu.
"Baiklah, ayo kita bicara!" putus sang Lord.
ASYEEK ADA YANG BELAIN🤣🤣🤣
__ADS_1
ADEK IKUT BWAANGG😘😘