
Anyelir menggeliat pelan, tubuhnya terasa sangat lelah pagi ini bahkan seperti habis tertimpa sesuatu yang berat. Kedua matanya perlahan terbuka, sedikit menyipit saat matahari pagi menerobos masuk kedalam kamar yang ditempatinya. Helaan napasnya terdengar, kedua sudut bibirnya tertarik keatas, mata indah sang princess kembali terpejam kala membayangkan apa yang dialaminya sore kemarin.
Tapi ada rasa tidak nyaman saat ingatannya tertuju pada Ethan. Karena dirinya ketiduran bahkan sampai tidak makan malam, mereka berdua tidak melakukan hal yang lebih lagi setelah berendam bersama.
Anyelir menyibakkan selimutnya, tempat tidur disisinya sudah kosong dan dingin menandakan kalau orang yang menempatinya sudah terbangun sejak tadi. Dengan hanya memakai kemeja kebesaran yang hanya sebatas paha dan Anyelir yakin ini adalah milik Ethan bahkan Anyelir tidak tahu kapan pria itu memakainya, dia berjalan cepat menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah serta menggosok gigi.
Selang beberapa menit Anyelir kembali dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Masih menggunakan pakaian yang sama Anyelir berjalan keluar, dia bergegas mencari Ethan yang tidak tahu sedang berada dimana.
Apartemen ini sangat luas, bahkan ada kolam renang didalamnya, tidak lupa taman bunga buatan yang terlihat sangat cantik saat bermekaran. Langkah kaki telanjang Anyelir membawanya menuju dapur, perutnya meronta minta diisi. Dari semalam dia tidak memakan apapun, alhasil saat bangun pagi ini rasa lapar langsung menyerang.
Cukup lama Anyelir mencari dimana dapur milik Ethan berada. Sebelumnya dia tidak pernah datang ke tempat ini hingga Anyelir belum tahu dimana saja letak tempat yang akan sering didatangi nya nanti, seperti dapur contohnya.
Sayang sepertinya apartemen mewah ini tidak dilengkapi dengan pelayan hingga dirinya tidak tahu harus bertanya pada siapa, mungkin kalau ada pelayan atau sebuah robot yang menjaga tempat ini Anyelir tidak perlu susah menyusuri setiap tempat. Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya rasa lelah pun terasa. Beruntung disaat dirinya didera rasa lelah tempat yang dicari sudah tampak oleh mata, lengkap dengan seseorang yang memang sejak tadi Anyelir cari.
Punggung lebar berotot, berkulit Tan gelap, menyapa kedua matanya. Anyelir tidak dapat mengalihkan pandangannya sedikit pun dari tubuh kokoh seseorang yang saat ini tengah berkutat didepan kompor.
Terlihat sangat sexy
__ADS_1
Apron yang membungkus tubuh setengah telanjang itu kian menambah kesan sexy, Anyelir terlihat tidak sabar untuk bisa segera melihat orang itu dari arah depan.
Tanpa izin dari siapapun kedua tangan Anyelir melingkari tubuh tinggi tegap berotot didepannya, menyandarkan kepalanya dipunggung kokoh itu, menghirup wangi maskulin yang menguar menggelitik area penciumannya. Jari jemari lentiknya perlahan menyusuri tubuh bagian depan yang terbungkus oleh apron.
"Kau sudah bangun?"
Suara serak sengau dan berat itu semakin menenggelamkan kesadaran Anyelir. Bibirnya kian mengembang, tersenyum sangat lebar dengan mata terpejam bahkan sekarang bibir tipis semerah cherry miliknya mulai memberikan kecupan ringan disana.
"Aku sedang membuat sarapan untukmu, Sayang. Aku yakin kau sudah lapar bukan? Jangan menggodaku kalau tidak ingin kita berakhir didalam kamar dan kembali melewatkan sarapan pagi ini." Terdengar sebuah peringatan untuk Anyelir, tapi begitu lembut dan penuh cinta didalam pendengarannya.
"Kau tidak membangunkan ku," Rajuknya dengan bibir mengerucut.
Anyelir mendongak, wajahnya terlihat kesal dengan bibir yang terus mencebik hingga membuat Ethan tidak tahan untuk melahapnya. Pertahanan pria itu runtuh, Ethan melepaskan pisau yang ada ditangannya lalu merengkuh tubuh Anyelir agar semakin merapat, memagut bibir yang sedari tadi terus saja menggodanya. Hanya beberapa menit mereka melakukan morning kiss pagi ini, setelah Anyelir terengah Ethan baru melepaskannya.
"Tunggu aku di tepi kolam renang, sebentar lagi sarapannya siap." Bisiknya lembut. Tangannya terulur menyeka bibir merah istrinya yang basah dan sedikit membengkak karena ulahnya.
Tanpa membantah Sang Princess menurut, dia memberikan satu kecupan di pipi Ethan sebelum keluar dari kukungan suaminya. Dengan hati bahagia gadis berdarah Albarack itu kembali menuju kolam renang yang dilewatinya tadi.
__ADS_1
Sedangkan Ethan masih berkutat dengan alat dapur. Hanya membuat sarapan sederhana, cukup salad untuk dirinya, roti isi daging untuk Anyelir dan satu mangkuk sereal tinggi serat serta protein.
Gerakan tangan Ethan begitu cekatan. Hidup mandiri bertahun-tahun di negara orang membuatnya tidak kesulitan saat berkutat didapur, ini bukan kegiatan baru untuknya. Senyuman Ethan mengembang, terlebih setelah dirinya mendapatkan asupan gizi pagi ini. Tapi senyuman itu perlahan pudar saat ponsel miliknya berdering, alisnya terlihat berkerut, ingin sekali mengabaikan karena merasa terganggu tapi rasa penasaran terus saja mendominasi.
Dahi Ethan kian berkerut saat melihat nomor asing masuk dan mengirimkan pesan padanya. Ethan membuka apron nya, meletakkan benda itu didekat kompor sebelum mengotak atik layar ponselnya.
'Bukti sudah cukup, tinggal menunggu eksekusi! '
Tidak ada reaksi yang Ethan tunjukkan setelah membacanya. Dia meletakkan benda pipih itu kembali, tangannya meraih menampan yang tidak jauh dari nya. Dengan hati-hati Ethan meletakkan makanan yang sudah dia siapkan untuk Sang Princess, pagi ini Ethan akan menciptakan sarapan paling romantis untuk Anyelir.
Ditempat lain Erlan Sang Putera Mahkota Al-Faruq terlihat gelisah. Sedari tadi malam dirinya tidak tenang, hati serta otaknya mengatakan kalau akan ada hal yang tidak baik terjadi sebentar lagi. Tapi Erlan selalu menepis nya, dia berusaha berpikir positif dan tidak akan pernah terjadi apapun terlebih pada hubungannya bersama Anyelir.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Anyelir dariku, tidak akan. Bila perlu aku akan melenyapkannya tanpa jejak!" Desisnya penuh rencana busuk.
BEGITU LAH KIRA KIRA🤭🤭🤭
__ADS_1