Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Berbeda Dengan Yang Dulu


__ADS_3

Suara heels menghentak lantai, Permaisuri Al Faruq terlihat berjalan tergesa menyusuri lorong istana. Bahkan wanita yang masih terlihat cantik padahal usianya sudah hampir menyentuh angka 50 itu sedikit cemas.


Langkahnya terhenti kala melihat hamparan bunga yang jauh didepannya. Kedua matanya memindai ke setiap penjuru taman, namun sayang apa yang dia cari tidak ada disana.


"Kemana mereka? Jangan sampai ada orang yang melihat kebersamaan kedua anak itu di istana ini," lirihnya cemas.


Sementara cukup jauh dari istana Al Faruq, Anyelir terlihat begitu terpanah dengan pemandangan yang tengah memanjakan kedua matanya. Dari atas rumah pohon yang disinggahinya saat ini dia dapat melihat daratan Al Faruq dalam sekali pandang.


Astaga, rasanya sungguh tidak biasa. Baru kali ini dia menginjakan kedua kakinya di tempat yang tidak pernah dibayangkan nya.


Rumah pohon yang cukup tinggi, bahkan dia harus merelakan pinggangnya terlilit tapi agar bisa sampai keatas sini.


"Kau suka?" bisik seseorang.


Anyelir tidak menyahut, dia hanya mengangguk tanpa ingin melihat pada orang yang sudah duduk didekatnya saat ini. Kedua mata sangat princess terpejam erat saat merasakan hembusan angin Menyejukkan wajah serta tubuhnya.


"Kau bisa kesini kapan pun kau mau, Sayang," lanjutnya.


Kali ini Anyelir membuka kedua matanya. Dia bahkan menatap pada pria yang tengah memandangnya tanpa berkedi, bahkan tatapan itu terlihat begitu dalam dan sarat akan sesuatu.

__ADS_1


"Aku tidak bisa. Erlan pasti akan curiga kalau aku selalu menghilang, dia juga pasti akan-,"


"Bukankah sudah aku katakan kalau aku akan melindungi mu disini sekarang. Aku tidak akan membiarkan para bajingan itu menyentuhmu apa lagi menyakitimu. Kau bebas melakukan apa pun, mereka tidak akan-,"


"Kau akan berakhir di tiang gantungan kalau sampai mereka tahu, Ethan. Sudahlah, semuanya sudah terlanjur, aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa untuk membatalkan pernikahan ini. Mungkin dulu aku memang sangat berharap dengan pernikahan yang Erlan janjikan, mungkin itu adalah satu satunya cara agar aku bisa melupakan semua tentang mu. Tapi untuk saat ini rasanya itu tidak mungkin, aku tidak mau menikah dengan pria yang ternyata hanya ingin memanfaatkan ku saja dan memiliki wanita idaman lain dihatinya." Anyelir tersenyum miris.


Dia tidak mengerti kenapa Tuhan memberikan jalan yang sulit dan terasa pahit untuk kisah cintanya. Dulu dirinya di tolak secara menta mentah, dan sekarang malah di tipu secara mentah mentah.


"Dan sayangnya aku belum bisa mendapatkan bukti kuat agar bisa membatalkan pernikahan yang akan terjadi beberapa pekan lagi." sambungnya.


Anyelir tertunduk, dia menatap ke arah jari manis miliknya yang masih tersemat sebuah cincin yang dulu dipakai oleh Erlan saat mereka bertunangan. Pandangannya beralih pada benda cantik yang menggantung di lehernya, sebuah liontin berbentuk huruf E yang dia yakini kalau benda itu pun berasal dari Sang Putra Mahkota abal abal.


Sialan memang! Anyelir memang belum mencintai Erlan, dia masih sedang berusaha selama ini karena ternyata melupakan seseorang itu cukup sulit walaupun orang itu sudah beberapa kali menolaknya dan menoreh luka di hatinya.


Nyatanya semua sikap baik yang Erlan tunjukkan selama ini hanyalah bagian dari sandiwaranya bersama si kutu babi betina itu.


"Aku rela mati tergantung asalkan pernikahan sialan itu tidak akan pernah terjadi. Hei dengar-,"


Ethan menatap lekat pada Anyelir, dia menggenggam kedua tangan gadis itu, meremas nya pelan seakan tengah menyalurkan perasaan yang ada didalam hatinya saat ini.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakannya bukan, sekarang aku bisa melindungi mu. Maaf, karena aku dulu lemah hingga kau terjebak didalam hubungan toxic bersama bajingan itu. Andai saja aku memiliki keberanian melawan dan menerima cintamu mungkin kita-,"


"Sssttt- it's okey. Sekarang kau kuat kan?" Anyelir memotong cepat.


Ethan mengangguk, dia menatap manik mata biru indah milik Anyelir. Bahkan Ethan membiarkan Anyelir menangkup kedua pipinya, mengusap lembut rahangnya dengan senyuman tipis yang sangat manis.


"Sekarang aku bisa melindungi mu dari apa pun." lirihnya.


Anyelir mengangguk, senyumannya kian melebar bahkan tanpa ragu dia segera memeluk tubuh besar tegap berotot yang ada didekatnya. Kedua tangannya melingkar sempurna di tubuh Ethan, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik sang pangeran.


"Kalau begitu lakukan, tetaplah didekatku dan jangan biarkan si kutu babi jantan itu mendekati bahkan berani menyentuhku!"


Dekapan keduanya kian mengerat, Ethan mengangguk menyanggupi. Kecupan demi kecupan dia butuhkan pada pucuk kepala sang princess sembari memejamkan kedua matanya.


"Tentu, aku bahkan akan membawamu jauh dari bajingan itu. Kau tunggu saja, bersikaplah baik selama bersama mereka agar tidak ada yang curiga, apa kau bisa?"


Anyelir yang masih menikmati dekapan Ethan hanya mengangguk pelan, dia enggan untuk menjauh dari sang pangeran kedua.


"Gadis pintar," puji nya.

__ADS_1




__ADS_2