Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Ada Apa Dengan Al Faruq


__ADS_3

Anyelir menatap penampilannya di cermin, senyuman manisnya terus saja mengembangkan saat bola mata biru itu mengarahkan pada kalung cantik yang terpasang di lehernya.


Dia berulang kali menyentuh benda itu, mengusapnya lembut lalu kembali memasukannya kedalam gaun indah berbahan sutra yang dipakainya hari ini.


Tok


Tok


Tok


"Tuan Putri, Yang Mulia Putra Mahkota sudah menunggu anda di bawah. Beliau meminta anda agar segera turun dan sarapan bersama,"


Suara seseorang dari luar kamarnya membuat Anyelir menoleh, gadis itu menyudahi kekagumannya saat melihat benda yang tergantung di lehernya. Tanpa menyahut dia segera beranjak, berjalan tenang menuju pintu kamar yang masih tertutup.


Gemercik suara gelang kaki yang terpasang di salah satu kakinya membuat orang orang secara sadar mengetahui kalau Anyelir mendekat. Gelang kaki indah pemberian Sang Daddy, bentuknya memang tidak terlalu mencolok, malah terkesan murahan namun tanpa orang tahu kalau ada sesuatu didalamnya.


"Mari Tuan Putri,"


Anyelir sedikit terkejut saat melihat pelayan yang memanggilnya tadi ternyata masih ada di depan pintu. Dia terperanjat, namun berhasil menguasai diri walaupun detak jantungnya menggila karena terkejut.


Sang princess hanya menipiskan bibir dan mendahului pelayan itu, dia berjalan pelan, terkesan anggun yang begitu memukau dimata orang yang melihatnya, termasuk seseorang yang ternyata baru keluar dari ruang pribadinya. Kedua mata tajam nan hitam itu terus saja mengikuti gerakan tubuh Anyelir.


Dia berjalan pelan tanpa suara di belakang Anyelir saat Sang princess sudah berada jauh di depannya, tidak berniat untuk menyapa atau sekedar mengeluarkan suara sedikit pun.


Bahkan saat Anyelir sampai di tangga, dia memilih untuk menunggu hingga Sang Princess sampai di lantai bawah, barulah setelah itu kedua kaki kokohnya melangkah menyusuri setiap undakan anak tangga.


"Selamat pagi, Tuan-,"


"Ayah! Panggil Ayah saja!" Sang Permaisuri menyela dan membenarkan ucapan calon menantunya.

__ADS_1


"Selamat pagi Ayah, Ibu, Putra Mahkota, putri Helena, bibi, paman, dan kalian semua. Maaf aku terlambat dan membuat kalian menunggu lama,"


Anyelir mengembangkan senyuman tidak enaknya pada setiap orang yang ada di meja makan. Tapi hanya, Tuan Al Faruq, Permaisuri, dan Putra Mahkota saja yang terlihat menyambut kedatangannya. Sementara yang lain terlihat acuh bahkan terkesan cuek dan sini, terlebih Helena yang memang tidak menyukainya dan menunjukkan secara terang terangan.


"Duduklah, kau pasti sudah la-,"


Ucapan Putra Mahkota terhenti saat tiba tiba Pangeran Ethan duduk disalah satu kursi tepat di hadapan Anyelir tanpa permisi dan ucapan selamat pagi. Pria berkaos abu abu itu mulai melahap sarapannya yang sudah di siapkan oleh pelayan, tanpa peduli dengan tatapan orang orang di sekitarnya.


"Apa boleh Ibu yang-,"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" selanya cepat.


Sang Permaisuri memaksakan senyumannya mendengar ucapan dingin Putranya. Ada rasa yang sangat tidak nyaman menyeruak di dalam hatinya saat ini. Terus diabaikan oleh Putranya membuat dirinya merasa tidak pernah ada selama ini, dia tahu dan sangat paham apa yang membuat Putranya bersikap seperti itu padanya, bahkan pada seluruh anggota keluarga Al Faruq sepertinya.


"Bersikaplah sedikit lembut pada Ibu mu,, Ethan. Dia selalu mengkhawatirkan mu tanpa kau tahu, jadi-,"


Sraaakk


"Anak itu!" geram Tuan Al Faruq.


Permaisuri menghela napas kasar sembari mengusap punggung lebar suaminya, wanita berwajah cantik khas timur tengah itu mencoba menenangkan pria yang ada di sisiNya. Dia tahu kalau saat ini Tuan Al Faruq tengah menahan emosinya yang bisa meledak kapan saja.


Semua orang terdiam, memilih untuk menikmati makanan yang tersaji dari pada harus ikut campur dengan masalah kedua orang yang merupakan orang penting di istana ini.


Anyelir pun berlaku demikian, walau saat ini didalam hatinya tengah berkecamuk dan menyimpan begitu banyak pertanyaan serta rasa penasaran yang menggila.


Sementara Erlan, Sang Putra Mahkota terlihat mengepalkan satu tangannya yang berada di bawah meja. Rahangnya mengeras, dia menghirup napasnya dalam sebelum bangkit dari duduknya.


"Aku ke toilet dulu," izinnya.

__ADS_1


Anyelir menoleh, belum sempat dia menyahut tunangannya itu sudah berlalu pergi meninggalkan meja makan. Sang Princess masih menatap punggung lebar milik Putra Mahkota, dahinya mengernyit, ingin rasanya dia beranjak dari sana dan mengejar Erlan. Namun instruksi yang di berikan calon Ayah mertuanya membuat bokongnya kembali tertanam.


πŸ’ž


πŸ’ž


πŸ’ž


Ethan menghisap nikotin di tangannya, kedua matanya menatap puluhan bahkan ratusan bunga yang tengah bermekaran di hadapannya. Kepulan asap yang keluar dari mulutnya membuat perasaannya yang berkecamuk sedikit rileks walaupun belum sepenuhnya.


Kedua mata hitam legam itu bergulir, terarah pada segerombolan bunga cantik yang ditanam oleh pelayan beberapa waktu yang lalu sebelum dirinya kembali ke istana ini.


Bunga Anyelir


Bunga yang melambangkan cinta dan daya tarik, sama seperti orang yang memiliki nama bunga itu. Sudut bibir Sang Pangeran terangkat, namun hanya sekilas sebelum suara seseorang membuat wajah dinginnya kembali lagi.


"Bersikaplah lebih sopan dan lembut pada Ibu Hanna. Mau bagaimana pun dia adalah ibu-,"


"Pergilah!" usirnya tanpa basa basi.


Netra keduanya bertemu, saling mengikat dan terlihat menggebu penuh dengan aura persaingan yang kuat.


Apa yang pernah terjadi pada mereka berdua sebenarnya? Atau bahkan mungkin pada keluarga Al Faruq ini?



Masya Allah bang EthanπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™ˆπŸ™ˆ


__ADS_1


ANYELIR PAS MASIH ABG🀣🀣🀣🀣 ORANG YANG SAMA YA😘😘


__ADS_2