
Anyelir menepuk lembut punggung wanita paruh baya yang tengah memeluknya, dia merebahkan kepala di bahunya. Tidak lama dekapan hangat itu terlepas berganti dengan yang lain, Anyelir pun melakukan hal yang sama seperti tadi. Kali ini sedikit keras karena orang yang memeluknya terdengar menggerutu dan kian mengeratkan dekapannya.
Setelah lelah mengomeli anak perjaka nya, wanita dewasa yang memeluk Anyelir itu butuh istirahat sejenak. Bukan, bukan karena putra semata wayangnya melakukan hal yang iya iya pada gadis mungil dan imut yang dibawa sang putra ke istana Albarack, ternyata gadis imut itu tidak sengaja menelan sesuatu yang membuat nyawanya terancam.
Bukan terancam oleh benda tersebut, melainkan orang orang yang menginginkan benda mini yang di buru para konglomerat bahkan sekelas mafia dan yakuza pun menginginkannya. Dan sialnya benda berharga itu tidak dapat dikeluarkan dari tubuhnya kecuali sangat gadis rela di bedah bahkan lebih sadisnya di bunuh tanpa tahu kesalahannya.
Kerena menurut penjelasan Tiger, si pelaku yang tidak sengaja membuat gadis imut yang malang itu menelannya, benda berbentuk chip itu akan langsung mengendap didalam tubuh Sang gadis dan menetap disana selamanya, kecuali bila dikeluarkan dengan paksa. Maka dari itu demi bisa melindungi sang gadis, Tiger membawanya ke istana Albarack. Karena kecerobohannya nyawa seseorang menjadi terancam, walaupun sebenarnya gadis itu menolak saat dia bawa tapi pada akhirnya menyerah setelah Tiger memberikan ancaman.
"Tiger bikin Aunty migrain!" keluhnya.
Anyelir tidak menyahut, dia hanya bisa memberikan tepukan di punggung sang tante, perlahan dia melepaskan dekapannya dan menatap wanita dewasa didepannya dengan lembut.
"Nanti Anye bicara dengan bocah itu, Aunty jangan khawatir okey,"
Dahliara mengangguk, dia memijat dahinya dan perlahan menjauh dari keponakan cantiknya tersebut. Dahliara kian mendekat pada pria bertato yang tengah bersandar didinding sembari melipat kedua tangannya di dada. Tapi saat melihat Dahliara kian mendekat kearahnya, perlahan tubuh tegap tingginya menegak dan merentangkan kedua tangan agar Dahliara masuk kedalam dekapannya.
"Aku sudah berbicara dengan Tiger, kau jangan khawatir lagi okey. Tidak akan terjadi apa pun pada gadis itu, Tiger sudah menjaminnya."
Dahliara mengangguk, dia terlihat sedikit lega mendengarnya. Dahliara memang belum mengenal siapa gadis bertubuh mungil yang malang itu, dirinya berharap tidak akan terjadi apa pun pada si gadis dan putranya.
__ADS_1
Masih di tempat yang sama, Anyelir terlihat memeluk Lord Erkan cukup erat. Gadis cantik bak boneka hidup itu terlihat begitu bermanja pada Daddynya. Keduanya tengah melepas rasa rindu, belum ada pembicaraan yang berarti diantara keduanya atau pun anggota keluarga Albarack lainnya.
Elvier atau pun Erkan tidak ingin terburu buru menanyakan perihal kepulangan sang princess. Mereka membiarkan Anyelir beristirahat terlebih dahulu dan melepas rindu dengan keluargannya.
"Kamu pasti lelah Princess, istirahatlah. Setelah makan malam kita akan berbicara nanti," ucap Lord Erkan dengan lembut.
Sang princess mendongak, dia tersenyum tipis pada sang Daddy. Pria paruh baya ini benar, dirinya butuh istirahat sejenak sebelum mereka berbicara nanti.
"Aku ingin tidur dengan Mommy," rengek nya manja.
Anyelir bangkit, dia mendekat pada Oceana dan memeluk wanita cantik yang sudah melahirkan serta membesarkannya tersebut. Kedua wanita beda usia itu segera bangkit, dan meninggalkan ketiga orang yang masih setia duduk di tempatnya. Jiddah Yasmine hanya menggelengkan kepalanya, dia membiarkan anak dan ibu itu menghabiskan waktu berdua. Yasmine lebih memilih menempel pada Elvier yang sedari tadi merengkuh pinggangnya.
Wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang tidak lagi muda itu merapat pada sang suami, tapi saat ekor matanya melirik kearah lain ada sesuatu yang membuat dahinya mengernyit.
"Ayo, aku akan mengantarkan mu beristirahat. Kau tidak boleh lelah Mine, setelah mengantarmu tidur ada yang harus aku bicarakan dengan Erkan."
Yasmine tersentak, belum sempat dia menyetujui ucapan Elvier, pria itu sudah terlebih dahulu membawanya. Bahkan Yasmine sama sekali tidak bisa menolak, terlebih Elvier sudah merengkuh pinggangnya yang sering encok itu kuat.
Kini tinggallah Lord Erkan sendiri disana. Tidak, Lord Erkan tidak sendiri, tentu saja ada pengawal yang tadi ikut bersama Anyelir ke istana ini. Pengawal yang terlihat kaku, bahkan jambang, kumis serta kacamata hitam yang di pakainya kian menambah kesana sangar di wajahnya.
__ADS_1
Tapi sepertinya itu tidak membuat Lord Erkan terpengaruh, pria paruh baya itu malah terlihat menyunggingkan sudut bibirnya sembari mengecap kopi hitamnya yang sudah lumayan dingin. Pria itu bangkit, Lord Erkan merapihkan sedikit kaos yang dipakainya. Kedua kaki kokohnya mulai melangkah, perlahan mendekat pada pengawal yang masih setia berdiri tegap di tempatnya tanpa suara.
Tiba tiba saja kekehan sang Lord terdengar saat dia sudah berdiri tepat di hadapan pria kaki tersebut. Ekor mata Lord Erkan memicing tajam pada sang pengawal, lalu kian mendekat dan kini jarak di antara keduanya tidak lagi jauh.
"Temui aku di taman belakang kalau kau masih ingin berdekatan dengan putriku!" cetusnya sedikit ketus.
Lord Erkan segera menjauh setelah mengatakan hal itu. Dia tidak lagi menoleh kearah belakang, bahkan saat sang pengawal itu menatap padanya Lord Erkan tetap tidak mau menoleh atau pun sekedar menghentikan laju kakinya.
"Ck, sialan! Dia mengenali ku rupanya!" dengannya kesal. Dan dengan cepat dia menyusul pria paruh baya yang tadi mengancamnya dan pasti akan membuat dirinya kesulitan untuk berdekatan dengan sang princess, lebih parahnya dia ditendang dari istana Albarack hari ini juga.
"Salon amatiran sialan!" umpat nya lagi dengan langkah semakin lebar.
LORD ERKANππππ
JIDDI ELVIERπππ
__ADS_1
SAKIT PALA NGADEPIN PARA PENGAWAL PRINCESS πππ