
Anyelir memasang wajah ramah saat memasuki loby butik. Tampilannya terlihat memukau walaupun hanya memakai gaun berwarna biru selutut, banyak mata terarah padanya terlebih kaum pria yang kebetulan ada disana.
Sepertinya para pria itu sedang menunggu para wanitanya.
Tidak ada lirikan, sapaan atau sekedar senyuman yang Anyelir tunjukkan saat melewati mereka, padahal saat menyapa pelayan butik di loby tadi Anyelir begitu ramah membalas sapaan mereka.
Dibelakangnya ada seorang pria bertubuh besar tinggi dengan pakaian serba hitam, rahang dipenuhi bulu begitu juga bagian atas bibirnya. Sebagian lengannya terlihat bertato, mata tajam yang terbingkai kacamata menatap satu persatu para jantan yang terang-terangan mencari perhatian gadis cantik dihadapannya.
Cih!
Pria itu berdecih saat mengingat kata gadis. Soalnya kemarin siang dan tadi malam dia tidak berhasil mengganti status gadis Anyelir dengan wanita karena gangguan seseorang.
"Apa Yang Mulia permaisuri Al-Faruq sudah sampai?"
Atensi pria itu teralihkan mendengar Anyelir bertanya pada seorang wanita berseragam yang sudah menyambut kedatangannya. Pria itu berdiri tegak dibelakang tubuh Anyelir dengan mata terus saja tertuju pada gadisnya, walaupun sesekali ekor matanya terarah pada titik lain saat menemukan mata nakal.
"Sudah Tuan Putri, anda di tunggu di ruang ganti." Sahut Sang karyawan.
Tanpa bertanya dua kali Anyelir bergegas pergi, dia mengikuti wanita yang saat ini menjadi navigator untuknya. Sesekali Anyelir melirik pada pria yang saat ini tidak jauh darinya, sudut bibirnya terangkat kala melihat penampilan Sang pria yang dia sendiri tidak akan bisa mengenalinya kalau bertemu secara tidak sengaja.
"Aku suka wajah tegang mu, Sayang." Bisik Anyelir saat langka mereka sejajar.
Senyuman gadis itu kian melebar, kedua kaki berbalut heels tinggi itu melangkah cepat mengikuti langkah wanita didepannya. Sementara pria yang saat ini setia mengikuti kemanapun dirinya pergi terlihat mengumpat pelan saat Anyelir menggodanya.
__ADS_1
Tidak lama mereka sampai, dan benar saja Permaisuri Al-Faruq sekaligus ibu mertuanya sudah berada di sana. Wanita yang sudah tidak berumur muda itu terlihat sibuk mengobrol dengan pemilik butik. Mereka cukup akrab rupanya, mungkin kenalan lama atau bahkan teman dekat.
"Ibu permaisuri," Anyelir memberanikan diri memanggil, dia melangkah cepat mendekat pada ibu mertuanya. Senyuman khasnya mengembang, bahkan semakin lebar saat permaisuri menatap penuh binar kearahnya.
"Ah... menantuku sudah tiba. Ayo aku akan perkenalkan menantuku padamu, kau bisa bertanya apa yang diinginkannya nanti." Permaisuri memeluk Anyelir, memberikan kecupan di pipi gadis itu. Sekian detik mereka berpelukan hingga bola mata milik permaisuri terarah pada pria yang sedari tadi ada di belakang Anyelir.
Dahi wanita paruh baya itu mengernyit, matanya menelisik raga sempurna yang seperti tidak asing untuknya. Beberapa detik cukup untuknya, sudut bibir Sang permaisuri terangkat samar sebelum dia melepaskan dekapannya dan membawa Anyelir masuk ke ruang ganti.
Disana sudah banyak contoh gaun pernikahan, Anyelir hanya perlu melihat dan mencari model gaun yang diinginkannya. Tapi apabila memang tidak ada yang cocok, sang princess bisa meminta pada owner untuk membuatkan gaun khusus untuknya limited edition.
Sementara Anyelir dan Permaisuri masuk, pria berpenampilan layaknya seorang pengawal itu di tinggalkan sendiri di ruangan tadi. Tidak ada orang yang mengajaknya, mereka seakan menganggapnya makhluk tak kasat mata.
"Sialan, seharusnya aku bisa melihat bagaimana penampilan istriku saat memakai gaun didalam sana." Gumamnya.
Pria bertubuh tinggi besar dengan penampilan sangar itu mendudukkan diri di sofa tanpa harus izin pada siapapun. Mata tajamnya terus saja terarah pada pintu ruang ganti yang tertutup rapat, ingin sekali dia mendobraknya dan segera menarik Anyelir keluar dari sana lalu membawa gadis itu pergi jauh bahkan jauh dari jangkauan orang-orang yang bisa mengganggu kebersamaan keduanya.
"Aku calon suaminya!" Sentaknya keras membuat karyawan wanita itu menutup mulutnya rapat.
Dia terlihat menunduk, bahkan tidak dapat mencegah saat pria yang tadi memaksa untuk menemui Permaisuri Al-Faruq dan Princess Anyelir didalam ruangan khusus.
Pria yang sedari tadi sedang dilanda kesal itu pun terlihat mengalihkan pandangannya kearah pintu masuk, suara keributan dari arah luar cukup membuatnya terusik. Dia sudah mengira kalau orang yang membuat kekacauan di tempat ini adalah orang yang ingin sekali dia beri pelajaran.
"Apa-apaan ini?! Kau melarang ku masuk tapi disini ada pria!" Sentaknya tajam. Matanya mendelik tidak terima pada Sang pelayan, hidungnya mendengus terdengar kesal.
__ADS_1
"Maaf Yang Mulia, dia adalah pengawal dari Princess Anyelir, beliau sendiri yang meminta pengawalnya untuk ikut masuk dan menunggu disini." jelasnya.
Walaupun masih terlihat takut tapi karyawan wanita itu berusaha menjelaskan kalau itu semua permintaan Sang tuan putri.
"Akun tidak peduli. Kalau dia bisa disini aku juga akan disini menunggu calon istriku selesai memilih gaun pernikahan kami!" Ucapnya lagi terdengar angkuh. Ekor matanya melirik para pria berkacamata hitam dengan tato di lengannya, menelisik penampilan pria itu dari atas hingga bawah.
Terlihat sangar dan cocok untuk di sebut sebagai pengawal.
Sementara pria berkacamata itu hanya terdiam, membalas tatapan orang yang terang-terangan merendahkannya dengan cara memindai dirinya dari ujung rambut hingga kaki.
'Sialan, untuk apa bajingan ini kemari?!' Murkanya dalam hati.
"Tidak perlu melihatku seperti itu, lakukan tugasmu dengan baik sebagai pengawal kalau kau tidak ingin kehilangan pekerjaanmu. Aku bisa melaporkan mu pada Ayah mertua ku kalau kerja mu tidak bagus!" Ucap Erlan sarat akan ancaman dan keangkuhan.
Senyuman sinisnya terbit, dia memutar bola matanya kearah pintu ruang ganti hingga tidak bisa melihat bagaimana reaksi pria yang di ajak bicara olehnya.
'Aku benar-benar akan menendangnya!' Emosinya sudah hampir meledak dan sebisanya dia tahan.
PUSIIIIINGGGGG
__ADS_1
SABAR BANG🤣🤣🤣