Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Sang Manipulatif


__ADS_3

Anyelir menelan salivanya berulang kali, wajahnya terlihat sedikit pucat setelah mengalami hal yang membuat irama jantungnya menggila. Jemari berhiaskan kutek berwarna salem itu meraba permukaan bibirnya, sungguh rasa itu tidak mau hilang, rasanya terus saja melekat padahal dia sudah menggosok gigi dan mencucinya.


Mungkin kalau dulu Anyelir akan merasa bahagia dan meminta lagi pada Ethan saat pria itu menciumnya seperti tadi, terlebih kalau pria itu mau menerima pernyataan cintanya, tapi tidak untuk saat ini. Anyelir merasa berdosa besar, dia mengigit bibir bawahnya cukup keras. Dia merasa sudah mengkhianati Erlan, bagaimana kalau Putra Mahkota tahu dirinya di cium oleh adiknya sendiri?


"Dasar bodoh! Harusnya kamu tonjok aja mukanya, kamu salah Anye kamu salah!" gumamnya dengan aksen bahasa Indonesia.


Disisi lain...


Ethan terlihat tengah menyesap rokoknya dengan santai. Kepalanya mendongak keatas, punggung lebar dan kekarnya itu dia sandarkan di pilar besar dan kokoh istana Al Faruq. Istana megah dan mewah itu hanya indah diluarnya saja menurut Ethan, tapi tidak bagian dalamnya.


Ethan berdecih, dia membuang puntung rokoknya lalu menginjaknya hingga padam. Tidak lama dia kembali memantik api dan menyalakan nikotin itu untuk yang kedua kalinya. Asap mengepul keluar, kedua matanya terpejam, sudut bibirnya terangkat saat bayangan seseorang melihat di pikirannya.

__ADS_1


"Sial!" umpat nya.


Ethan kembali mengumpat, dia melemparkan rokoknya yang masih belum dia nikmati sama sekali saat manisnya bibir seseorang masih dapat dirasakannya. Bibir termanis yang pernah dia rasakan, dirinya memang bukan pria suci, beberapa bibir wanita pernah Ethan cicipi saat di negara buangannya. Tapi tidak pernah ada bibir wanita yang mampu membuat dirinya melayang bahkan candu, hingga bibir gadis cerewet yang dulu selalu mengikuti dirinya kemana pun walaupun sering kali dia tolak.


Ethan menegakan tubuhnya, dia berjalan pelan menjauh dari area sepi di salah satu lorong istana Al Faruq. Sesekali Ethan terlihat terkekeh samar kala ingatan itu kembali melintas di pikirannya. Hingga langkahnya tiba tiba saja terhenti saat mendengar percakapan seseorang entah dari ruangan mana.


Ethan memutar kepalanya, alis tebalnya terangkat, rahang tegasnya menegang, dia yang biasanya tidak suka peduli dengan urusan orang lain, secara perlahan mendekat ke arah pintu besar yang tidak jauh darinya karena hanya ruangan di balik pintu itu satu satunya tempat yang bisa dimasuki.


Ethan diam mendengarkan, dia tahu suara siapa itu tapi Ethan tetap diam dan tidak melakukan apa pun. Pangeran kedua lebih senang mendengarkan dan mendapatkan sesuatu yang bisa membuat senyuman smirk nya tercipta.


"Kau harus bersabar dan percaya padaku. Aku akan menemuimu besok, aku tutup telponnya."

__ADS_1


Pembicaraannya berakhir, orang itu menyegarkan rambutnya kasar dan berbalik. Wajahnya terlihat gelisah, bahkan sesekali dia mengumpat kasar saat otaknya tengah di penuhi beban yang sangat memberatkan untuknya.


Sedangkan diluar, Ethan terlihat menjauh dari pintu dan berjalan santai menuju kearah tangga setelah mendengar semua ucapannya, Ethan hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Setelah Ethan cukup jauh barulah seseorang keluar dari ruangan itu, wajahnya yang tadi terlihat kusut kini sudah berubah seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.


Tubuh tegap kekarnya berjalan menuju arah berlainan dengan Ethan, senyuman ramah dan manisnya tercipta dengan mudah saat ada beberapa pelayan menyapa dan menundukkan kepala padanya.


Tanpa orang lain ketahui selain Ethan tentunya, dibalik senyuman itu mengandung sikap manipulatif yang mampu membuat orang lain percaya apa pun padanya.


Licik, salah satu sifat buruk yang dimiliki oleh para bangsawan dan orang itu juga memilikinya.


__ADS_1


SIINI BANG ETHAN AKU KEPANGIN BULU NYA😘😘🙈🙈


__ADS_2