
Anyelir mendudukkan dirinya diatas tempat tidur, kedua bola mata sebiru lautan miliknya terus saja bergulir menelusuri setiap sudut ruangan yang menjadi kamar pribadi yang ditempati Sang Pangeran kedua. Kamar yang memiliki background khas pria ini memang begitu luas dan juga maskulin, ya sama seperti pemiliknya.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku? Setelah meninggalkan aku sendiri, sekarang kau berani masuk kesini tanpa izin hm? Bagaimana kalau calon suamimu itu tahu, calon istrinya-,"
"Kenapa kau tidak memakai bajumu dengan benar?!" Sentak Anyelir saat melihat penampilan Ethan saat ini. Sentakan yang berhasil menghentikan ocehan menggoda Sang Pangeran padanya, dan yang lebih membuat Anyelir kesal lagi adalah penampilan pria itu.
Ethan hanya menggunakan celana jelas panjang sedikit pudar, tidak memakai atasan hingga tubuh bagian atasnya terekspos bebas. Ditambah sepertinya Ethan sengaja tidak memakai gasper, lihat saja area pinggang bagian celananya terlihat hampir melorot bahkan ekor mata Anyelir terasa gatal untuk tidak melihat V Line dibagian bawah perut Ethan.
Apa pria itu sengaja?
Memang sialan!
"Aku lebih nyaman seperti ini, Sayang. Kau juga akan terbiasa nanti, dan sepertinya selepas makan malam aku akan sedikit berolah fisik, sudah lama aku tidak memanjat." Celotehnya ringan.
Ethan mendekat pada Anyelir, mendudukkan diri didekat gadis itu. Mata tajamnya terus saja menatap raut wajah masam yang saat ini tengah Anyelir perlihatkan, terlihat manis di matanya.
"Aku tidak peduli kau mau memanjat apa, yang penting kau harus tahu dan mendengarkan apa yang akan aku katakan!" Napas Anyelir mulai terengah, dia mencoba menetralkan emosinya saat teringat kembali dengan ucapan Erlan beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Katakan!" Titahnya.
Erlan mengambil posisi santai dengan kedua mata terus saja menatap visual cantik yang ada dihadapannya, bukan kali ini saja dia mengagumi wajah bak boneka yang kini mulai membalas tatapan lembutnya. Satu tangan Ethan terulur, meraih sejumput rambut panjang milik Anyelir, memainkannya dan menciuminya menghirup aroma sampo yang masih tertinggal disana.
"Erlan membahas pernikahan kami, 5 pekan lagi pernikahan itu akan terlaksana." Cetus Anyelir sedikit emosi, tapi tidak lama dia melemas. Anyelir memejamkan kedua matanya lelah, bahkan sadar atau tidak dia mendekat pada Ethan lalu menyandarkan kepalanya dibahu kokoh Sang Pangeran.
Disaat Anyelir dilanda rasa lelah, Ethan justru terlihat menegang. Kedua tangannya terkepal erat, urat di area lehernya terlihat, buku-buku tangannya memutih karena kerasnya dia mengepal. Sudah dapat dilihat seberapa emosi pria berkulit perunggu itu saat ini, tapi Ethan berusaha menahannya.
"Apa yang harus aku lakukan? kenapa waktunya terasa cepat sekali, apa memang aku ditakdirkan untuk menjadi istri-,"
Belum sempat Anyelir menyelesaikan gumaman nya Ethan terlebih dahulu menarik kepala Sang Princess hingga gadis itu mendongak, tanpa banyak bicara Ethan segera melahap bibir merah alami yang sedikit terbuka itu. Memagut nya kasar, namun perlahan melembut memberikan kenyamanan untuk Anyelir hingga gadisnya ikut terlena. Kedua tangan Anyelir meremas pundak kokoh Ethan, menyalurkan rasa yang tengah dia rasakan sekarang. Pagutan lembut yang Ethan berikan benar-benar membuat tubuhnya melemas, lelah dan terlihat pasrah.
"Ayo kita menikah!" Ajaknya dengan suara parau dan serak.
Anyelir yang masih berusaha meraih kewarasannya hanya bisa berkedip, bibirnya yang terlihat memerah terbuka sedikit membuat Ethan ingin kembali melahapnya hingga habis tak tersisa.
"Ayo kita menikah! Tidak masalah kalau harus menikahimu di hadapan Tuhan terlebih dahulu, aku akan mengabari Daddy mu, aku memintanya untuk menikahkan kita berdua dalam waktu dekat sebelum 5 pekan itu berakhir." Imbuhnya penuh keseriusan.
__ADS_1
Ethan tidak ingin mengambil resiko, dia tahu Erlan juga tidak akan lagi mengulur waktu untuk bisa segera memiliki Anyelir seutuhnya. Waktu 5 pekan itu tidaklah lama, banyak hari dan jam yang akan bergulir cepat dan Ethan akan segera mengambil tindakan.
"Tapi, bagaimana-,"
"Serahkan semuanya padaku, bicaralah dengan Permaisuri dan dua pria bajingan itu nanti. Katakan ini pada mereka, selama beberapa pekan ini kau dan dia diharuskan tidak tinggal bersama dalam satu atap. Kau harus meminta pada mereka kalau selama menjelang hari pernikahan kau akan tinggal di istana Albarack. Katakan itu pada mereka terlebih pada kedua kedua bajingan itu."
Anyelir terdiam, dia terlihat berpikir seakan tengah meyakinkan hatinya saat ini. Jujur dirinya memang tidak ingin pernikahannya dengan Erlan terjadi, sangat-sangat tidak ingin. Mungkin kalau disuruh memilih dia lebih menikah dengan Ethan secara sembunyi-sembunyi terlebih dahulu, sesuai dengan ide pria itu.
"Baiklah, ayo kita lakukan!" Putus Anyelir penuh keyakinan.
Ethan tersenyum samar mendengarnya, pria itu segera merengkuh tubuh gadisnya memberikan kecupan di pucuk kepala Anyelir, memberikan keyakinan kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Sekarang bersiaplah, bersikap tenang jangan memperlihatkan kegugupanmu didepan mereka." Bisik Ethan mencoba menangkan.
BANG MATIIN LAPTOPNYA AYO KITA BOBOK
__ADS_1
AYO BANGππππ