Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Sandiwara Yang Sempurna


__ADS_3

Anyelir menatap tempat tidurnya yang 180 derajat sudah berubah. Banyak taburan kelopak bunga berwarna putih dan merah yang tidak dia ketahuilah jenis bunga apa yang berceceran diatas peraduannya itu.


Kedua kaki telanjangnya mendekat, mengikis jarak dengan tempat tidur bahkan Anyelir dapat merasakan sesuatu di bawah telapak kakinya saat dia melangkah perlahan, masih sama taburan kelopak bunga yang sangat banyak.


Bahkan disetiap sudut kamar terdapat rangkaian bunga Anyelir berwarna-warni. Senyuman dibibir Anyelir merekah, dia mempercepat langkahnya dan segera menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur. Memejamkan kedua matanya, menghirup aroma menangkan yang berhasil membuat perasaannya lebih rileks.


Selepas makan bersama Anyelir memutuskan untuk pergi ke kamar, berencana mengganti gaun pengantin yang masih melekat ditubuhnya. Bahkan Ethan saja tidak tahu kalau dirinya meninggalkan ruang jamuan, dia memang sengaja karena kalau Ethan tahu pasti akan lebih lama menggantikan gaunnya.


Anyelir bangkit dengan susah payah, berjalan menuju walk in closet. Tapi belum sempat dirinya melangkah lebih jauh dering ponsel miliknya terdengar, gerakan Anyelir tertenti dahinya terlihat mengernyit, ada rasa malas untuk melihat siapa yang menghubunginya tapi rasa penasaran juga berperan didalamnya. Hingga pada akhirnya Anyelir mendekat dan meraih benda pipih yang terus saja berbunyi.


Ada sebuah nama kontak yang membuat dahi Anyelir mengernyit lebih dalam, nama seseorang yang sedang dia hindari saat ini dan mungkin selamanya.


Putra Mahkota abal-abal


Dengan malas Anyelir menekan ikon hijau, dia berusaha bersikap biasa saja agar pria itu tidak mencurigainya. Walaupun sebenarnya dia malas mendengar suara apa lagi ocehan tak berguna pria itu.


"Halo," Sapanya lembut.


Anyelir menghela napas pelan, tangannya terulur menyibak gorden balkon yang masih tertutup rapat. Matanya sedikit menyipit saat sinar matahari masuk kedalam.


"Hai, kau sedang apa? Maaf kalau aku mengganggu waktu istirahat mu, aku hanya ingin mendengar suaramu, aku merindukanmu,"


Anyelir terdiam, dia tidak tahu harus merespon seperti apa ucapan pria yang benar-benar ingin sekali dia hindari. Gadis yang sudah berganti status menjadi seorang istri itu belum menyiapkan kata-kata untuk membalas ucapan Erlan.


"Aku baik Yang mulia, terimakasih sudah merindukanku. Anda baik baik saja bukan? Sepertinya mulai besok anda mulai sibuk mempersiapkan pernikahan," Anyelir berbicara dengan lembut, tenang, dan tidak menunjukan kalau dirinya tengah menyembunyikan sesuatu, bahkan menanyakan perihal pernikahan agar Erlan percaya kalau dirinya di istana Albarack sedang merencanakan hal yang sama.


"Tentu, kau juga tidak lupa kan kalau besok ada fitting baju pengantin. Ibu akan menemanimu, karena katanya aku tidak boleh bertemu denganmu terlebih dahulu." Erlan terkekeh setelah mengatakan hal itu. Dia terdengar seperti seorang pria yang sangat menginginkan pernikahan ini cepat terjadi. Ya tentu saja Anyelir sangat tahu itu, Erlan pasti sangat mengharapkan pernikahan ini secepatnya terlaksana demi rencana yang sudah tersusun rapih.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menemui Ibu permaisuri di butik nanti. Kirimkan saja alamat butik nya, aku akan pergi ke sana besok." Tentu saja Anyelir akan pergi, tidak mungkin dia menolak ajakan fitting baju pengantin yang direncanakan oleh Erlan dan ibu mertuanya.


Dia harus tetap berpura-pura menjadi wanita polos, terkesan bodoh dimata mereka agar saat kesempatan itu datang dirinya bisa memainkan peran dengan sangat apik.


"Aku akan mengirimkannya padamu nanti. Tapi sebelumnya apa kita boleh melakukan video call, sungguh aku sangat merindukanmu dan ingin melihat wajahmu, Sayang." Erlan kembali merayu, dia tidak ingin menyerah begitu saja karena tidak bisa melihat calon istrinya yang tidak dia ketahui sudah menjadi istri dari saudara sepupu sekaligus menjadi saudara tirinya.


Ini bukan hanya bualan semata, Erlan benar-benar merindukan Anyelir. Dia ingin sekali melihat wajah ayu gadis itu secara langsung, perasaannya gundah gulana terlebih setelah tadi Margareta menemuinya dikamar.


Disaat Erlan tengah berharap Anyelir mau mengabulkan permintaannya, gadis itu sendiri sedang terpaku ditempat saat melihat seseorang di ambang pintu kamar tengah melipat kedua tangan di dada, menatap kearahnya tanpa ekspresi membuat Anyelir tidak fokus.


"Princess, kau masih disana?" Suara Erlan kembali terdengar saat dia tidak kunjung mendengar suara Anyelir.


"Emmm... ya, aku masih disini," Sahutnya tenang.


Gadis itu menghela napasnya, ekor matanya terus saja terarah pada pria ber tuxedo yang saat ini mulai menegakan tubuhnya dan mendekat kearahnya. Anyelir dibuat salah tingkah, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Memilih mematikan sambungan telepon atau-


Anyelir menjauhkan ponselnya, mengantisipasi agar suara orang yang saat ini sedang memeluknya dari belakang tidak sampai terdengar oleh Erlan.


"Kalau begitu apa kita tidak bisa-,"


"Maaf Yang Mulia, sepertinya selama beberapa waktu ini kita tidak diperkenalkan untuk saling bertatap muka terlebih dahulu sebelum hari pernikahan tiba. Aku harap anda bisa mengerti," Pintanya lembut dan masuk akal.


Anyelir menghembuskan napas lega saat mendengar Erlan berdehem, dia tahu pria itu tidak akan memaksanya dan membuat dirinya ilfil. Walaupun sebenarnya sudah terlalu lama Anyelir ilfil pada Erlan, semenjak dia tahu permainan Sang Putra Mahkota dibelakangnya bersama Margareta dan juga Tuan Al-Faruq tentunya.


"Kalau begitu aku akan beristirahat, anda juga harus banyak istirahat agar tidak lelah saat waktunya tiba. Selamat siang Yang Mulia, sampai bertemu saat pernikahan nanti." Setelah mengatakan itu Anyelir mematikan ponselnya, bahkan dia meng nonaktifkan benda itu agar tidak ada lagi Erlan Erlan yang lainnya nanti.


Mengganggu!

__ADS_1


"Sudah?"


Anyelir menoleh mendengarnya, dia hanya menipiskan bibir, tangannya terulur memegang rahang tegas milik pria yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya.


"Dia menyuruhku untuk fitting baju pengantin besok pagi bersama Ibu permaisuri, apa kau bisa menemaniku besok?"


Dahi pria itu mengerut, dia terlihat berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban.


"Aku tidak mau pergi bersama pengawal, aku ingin pergi bersamamu. Soal penampilan kau tenang saja, akan aku pastikan kalau tidak akan ada orang yang mengenalimu."


Ethan tidak menyahut dia hanya mengangguk patuh dan kembali mengeratkan dekapannya. Pria itu sempat terdiam sejenak sebelum kembali bersuara.


"Aku baru saja memberikan laporan pada Al-Faruq kalau aku sedang pergi memanjat sebuah tebing tinggi di negara lain, aku harap mereka percaya dan tidak mengurusiku." Cetus nya.


Kali ini giliran Anyelir yang mengangguk, dia baru terpikir sekarang. Benar juga, mereka akan curiga kalau dirinya dan Ethan pergi secara bersamaan seperti ini. Beruntung Ethan cepat bergerak dan mampu mengantisipasinya.


"Dan sekarang, aku benar-benar harus memanjat sebuah tebing tinggi di kamar ini. Tebing yang harus segera aku takhlukan, agar aku menjadi pemenangnya dan satu satunya." Imbuhnya lagi, Anyelir sampai bergidik sendiri dibuatnya, terlebih saat merasakan terpaan hawa panas yang dia rasakan diarea tengkuk serta telinga bergulir menuju pipi.


"Apa kau sudah siap aku ajak berpetualang, My Princess?" Bisiknya lagi, kali ini semakin membuat kedua tungkai indah Anyelir melemas seperti jely.



MANJAT KAMU BOLEH 💪💪



BOLEH BOLEH BOLEH 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2