
Senyuman Anyelir kian melebar, tangannya melambai pada permaisuri yang masih berdiri tegak di depan istana Al Faruq. Saat ini sang princess sudah berada di dalam mobil keluarga Al Faruq dan bersiap untuk pulang ke rumahnya, walaupun hanya tiga hari tapi itu sudah cukup.
Bibirnya masih saja melengkung indah, kini pandangannya bergulir pada pria muda yang tengah berdiri di samping calon ibu mertuanya. Anyelir pun melambaikan tangannya, berusaha menampilkan wajah ceria dan juga polos.
Erlan, sang putra mahkota ternyata juga mengantarnya ke mobil bahkan dengan gentleman pria itu membukakan pintu untuk sang princess. Tapi sepertinya perhatian yang Erlan berikan saat ini sudah tidak ada mengena di hatinya, semua itu hanya sandiwara belaka namun Anyelir tetap bersikap manis dan polos seakan tidak tahu apa pun.
Bahkan Anyelir juga melihat Margareta tengah menatapnya penuh arti, kutu betina itu melipat kedua tangannya dada, menatap lurus pada Anyelir dan Erlan tadi.
Tapi lagi lagi sang princess masa bodoh, dia tidak peduli apa yang sedang direncanakan oleh Margareta setelah dirinya pergi dari istana ini. Anyelir yakin kalau intensitas antara Erlan dan Margareta akan semakin menjadi setelah kepergiannya.
Mobil mulai bergerak, Anyelir segera menutup kaca dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia termenung, pikirannya tertuju pada seseorang yang belum sempat dia pamiti dan lihat pagi ini.
Kemana dia? Batinnya.
Helaan napas berat sang princess terdengar, dia mengalihkan pandangannya kearah luar saat mobil sudah keluar dari area kekuasaan keluarga Al Faruq. Anyelir terlihat memejamkan kedua matanya, tidak ada suara sedikit pun yang keluar dari mulutnya, bahkan sang sopir dan seorang pengawal yang duduk bersisian dengan sopir hanya menatap lurus kearah jalan.
Permaisuri sengaja menempatkan satu pengawal untuk memastikan kalau Anyelir pulang dengan selamat ke kediaman Albarack. Dan kini mata tajam sang pengawal terlihat bergulir, menatap lekat pada spion dalam yang ada di mobil. Sudut bibirnya terangkat kalau melihat sang princess yang dikawalnya tengah memejamkan mata.
Rahang berbulu itu terlihat sangar dan mempesona dalam satu waktu. Bibir yang tertutup kumis itu pun terlihat menipis lalu pandangannya kembali kearah jalanan setelah melihat kalau Anyelir tertidur nyaman dikursi penumpang.
"Pelan pelan saja bawa mobilnya!" titahnya.
Sang sopir mengangguk, dia menoleh pada pria berjas hitam yang tadi memaksa masuk dan mengeluarkan pengawal dengan tatapan intimidasi serta bungkaman mulut yang sepadan.
"B-baik Pang- ba-ik tuan pengawal!" sahut sang sopir tersendat.
Dia tahu siapa orang yang saat ini tengah duduk berdampingan dengannya tersebut. Seorang pangeran yang sejak dulu dijauhkan dari keluarga Al Faruq dengan alasan yang tidak jelas. Tapi dirinya hanya seorang pekerja, jadi sangat tidak di perbolehkan untuk ikut campur masalah keluarga majikannya.
__ADS_1
Ditempat lain...
"Ibu permaisuri!" panggilnya.
Wanita paruh baya bergaun panjang nanti indah itu menghentikan langkahnya, menoleh pada orang yang terlihat tengah berjalan kearahnya dengan raut wajah yang tidak bisa dia deskripsikan.
Mau apa pria muda itu? Tanyanya dalam hati.
Permaisuri menghirup napas dalam, dia menatap lembut pada sang anak sambung sekaligus keponakan dari mendiang suami pertamanya, Erlan sang putra mahkota Al Faruq.
"Ada apa Putra Mahkota? Apa ada yang bisa aku bantu?"
Erlan berdiri tegap dihadapan Permaisuri, kedua mata yang biasanya menunjukan kelembutan kini terlihat menajam dan penuh intimidasi. Sudut bibir Permaisuri terangkat, dia cukup khatam bagaimana sikap anak tirinya ini saat tidak ada orang disekitar mereka.
Arogan, angkuh dan seenaknya.
"Aku harap kau tetap memegang janjimu. Usahakan agar Anyelir dan aku bisa menikah dalam waktu dekat ini, aku tidak mau tahu!"
Sang permaisuri tidak menyahut, dia hanya memberikan jawaban lewat anggukkan. Lidahnya dia gigit sekeras mungkin agar tidak mengeluarkan sumpah serapah yang selama ini ingin dia keluarkan.
"Dan satu lagi, tolong awasi adik tersayangku. Pastikan dia tetap menjauh dari calon istriku!" imbuhnya lagi lengkap dengan senyuman manis yang sering Erlan perlihatkan pada semua orang. Senyuman manipulatif yang membuat orang lain terperosok masuk kedalamnya, hingga tidak bisa lagi keluar.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Anyelir merentangkan kedua tangannya, dia mengerjap pelan saat merasakan kalau mobil yang di tumpangi nya berhenti.
"Kita sudah sampai, tuan putri."
Anyelir mengangguk, dia bergegas keluar setelah pintu mobil dibuka dari luar. Kedua matanya berbinar kalau melihat istana magah milik keluarganya sudah berada tepat di hadapannya.
Senyuman lebarnya terbit, bahkan gadis itu terlihat berlari kecil melupakan keanggunan yang selama beberapa pelan ini melekat pada dirinya. Bahkan dengan baru baru Anyelir melepas heels tinggi yang dipakainya dan melemparkan benda itu begitu saja.
Para pelayan yang membawakan barang bawaan sang princess hanya menggeleng pelan, sementara pengawal yang tadi ikut mengantarkan Anyelir menyunggingkan senyuman tipis melihatnya.
"DADDYYY... JIDDI... MOMMYYY... JIDDAAAHHH...!" Teriakan Anyelir menggema di istana besar Albarack.
Gadis cantik bak boneka hidup itu terlihat berbinar kalau melihat siluet seseorang dari arah ruang tengah. Kedua kaki telanjangnya berjalan lebih cepat, senyumannya terus saja mengembang, namun senyuman itu surut berganti dengan kernyitan heran.
"KAMU APAIN ANAK GADIS ORANG TIGER?!" suara teriakan sang tante menggema hebat.
Anyelir bahkan dibuat meringis saat melihat adik sepupunya yang tampan itu tengah di jewer dan di pukul bokongnya oleh sang tante.
Hilang sudah martabat seorang putra mahkota apa bila ada orang lain melihat hal ini.
Tapi kenapa Tantenya terlihat begitu marah pada Sang putra mahkota Albarack? Apa ada sesuatu yang terjadi hingga membuat Tiger mendapatkan jeweran serta pukulan maut dari Mamanya?
Bahkan saking fokusnya mereka pada Dahliara dan Tiger serta gadis berambut pendek yang memiliki tubuh hanya sebatas dada Sang Macan itu mereka tidak menyadari keberadaannya.
Siapa gadis mungil dan imut itu?
__ADS_1
MACAN, MACHO DAN TAMPAN RRRRWWWW🐯🐯🐯