
Anyelir menatap dirinya di cermin, petang ini dia tidak keluar kamar untuk makan malam, tadi Anyelir meminta pada Permaisuri untuk mengirimkan makan malamnya ke kamar.
Bersyukur Ibu mertuanya itu setuju dan bergegas memanggil para pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar sang princess. Wanita paruh baya itu seakan tahu apa yang diinginkan olehnya, tanpa protes dan banyak bertanya.
Dan sekarang disinilah Anyelir berada. Didalam kamar mewah dan luas sendirian, menunggu pelayan mengantarkan makan malamnya. Jujur sebenarnya saat ini perutnya sudah amat sangat lapar, demi bisa menghindari Sang Putra Mahkota Anyelir rela tidak menikmati makanan berat selama setengah hari penuh, beruntung didalam kamarnya ada beberapa buah segar yang sudah di siapkan.
Tok...
Tok...
Tok...
Atensi Anyelir tertuju pada pintu yang di ketuk. Wanita cantik berwajah bak boneka hidup itu merapikan gaun tidurnya, menutupi bagian tubuh yang terbuka kalau luaran piyama tidur berbahan sutra itu tidak ter-cover dengan baik.
Dengan langkah tidak sabaran karena tuntutan perut Anyelir mendekat pada pintu, membukanya dengan tergesa-gesa tidak lupa dengan senyuman ramah yang terus saja mengembang.
Tapi saat pintu kamar yang ditempatinya sudah terbuka lebar, senyuman lebar Anyelir meredup seketika. Dia menelan salivanya susah payah saat melihat siapa yang berdiri didepan pintu dengan senyuman lebar yang sangat manis, tapi terlihat mengerikan dimata Anyelir.
"Selamat malam, Princess Anyelir. Maaf aku mengganggu mu, aku hanya ingin mengucapkan selamat malam pada calon istriku. Jangan lupa istirahat, besok adalah hari besar untuk kita."
__ADS_1
Anyelir mematung, dia membiarkan pria yang ingin sekali dia hindari saat ini dan selamanya mengoceh. Ingin sekali rasanya Anyelir memukul wajah bajingan menjijikkan yang sedang tersenyum manis tanpa dosa padanya.
"Aku yakin kau sudah tidak sabar bukan untuk menantikan hari esok. Aku pun sama, aku sudah tidak sabar untuk menjadikan dirimu wanitaku satu satunya." Imbuhnya lagi. Mata Sang Putra Mahkota terlihat meliar menatap Anyelir dari atas hingga bawah, lidahnya terlihat menjilati bibirnya sendiri membuat Anyelir mengernyit jijik.
Wanita itu mencengkram daun pintu kencang, sebisa mungkin Anyelir menahan amarahnya. Jangan sampai meledak sekarang, bisa bisa semua rencana yang sudah tersusun rapi berantakan tanpa hasil.
Anyelir tidak menyahuti, dia hanya tersenyum penuh paksaan. Berdehem pelan, memunduk seakan malu malu dengan ucapan yang Erlan lontarkan, dia berpura-pura menjadi gadis lugu terkesan bodoh untuk para manusia manusia menjijikkan ini.
"Makan malam anda, Princess."
Atensi Anyelir teralihkan, dia mengangkat kepala menatap pada asal suara. Sang Princess menghembuskan napas lega saat seorang pelayan bercadar datang dan terlihat membawakan satu nampan penuh makanan.
"Ah... sepertinya aku tidak bisa berlama-lama menemuimu Yang Mulia. Aku harus makan malam, perutku sudah lapar, kalau dibiarkan pasti bisa mengganggu acara besok. Aku bisa sakit karena terlambat makan, aku harap anda bisa mengerti."
Anyelir berbicara lembut, terdengar penuh penyesalan karena pertemuannya dengan calon suami abal-abalnya itu harus tertunda dan terpisah sampai disini saja. Anyelir menampilkan senyum sendu, dia terlihat tidak rela kalau harus berpisah dengan Erlan. Walaupun dalam hatinya saat ini sangat bertolak belakang dengan mulutnya.
"Baiklah, selamat menikmati makan malammu Calon Istri, dan selamat malam. Aku sangat menantikan hari esok." Balas Erlan penuh puja, tapi sayang terlihat begitu menjijikkan bagi Anyelir.
Sang Princess hanya melambaikan tangannya, senyuman terpaksa terus saja tercipta. Hingga akhirnya lambaian tangan serta senyuman itu berangsur-angsur hilang, dia terlihat menghela napas kasar dan beralih pada pelayan yang masih setia berdiri membawakan makanannya.
__ADS_1
"Masuk!" Titahnya.
Anyelir masuk terlebih dahulu, diikuti oleh sang pelayan dengan patuh. Sang Princess mendudukkan dirinya di tempat tidur, satu kakinya dia naikan pada kaki lainnya tangannya terlipat di dada, matanya menatap tak berkedip pada sang pelayan seakan tengah menyelidiki.
"Baiklah baiklah, aku akan membuka cadarnya!"
Senyuman manis Anyelir terbit, dia bangkit dan segera melompat pada tubuh pelayan yang sedang membuka cadar serta jubah lebar yang dipakainya.
"Kau seperti pencuri," Bisiknya lembut, diiringi dengan kecupan ringan di area bibir.
Matanya menatap penuh cinta pada pelayan gadungan yang dibawanya masuk. Pelayan itu ternyata suaminya sendiri, Ethan menyamar menjadi seorang pelayan demi bisa menemui sang pujaan hati dengan jalan baik baik tanpa harus memanjat tembok.
Pinggangnya masih terasa linu karena pertempuran kemarin malam!
"Ayo habiskan makan malam mu, Sayang. Besok kita akan menghadapi sesuatu yang berat, akan banyak tenaga yang terbuang." Bisiknya, senyuman Ethan mengembang saat melihat binar cinta dikedua mata istrinya.
SIAP SAYANG🥰🥰🥰
__ADS_1