Air Mata Terakhir

Air Mata Terakhir
Bukan kaleng-kaleng


__ADS_3

...****************...


Sore setelah selesai memantau Burhan berjalan kaki ke persimpangan yang jaraknya kurang lebih 2 km. "Yud aku sudah dekat persimpangan kamu nanti jemput disini saja" kata Burhan. " Oke 5 menit lagi aku turun" jawab Yudi. Kak Burhan sudah menunggu di tempat aku turunkan tadi. " Yuk kita jemput dia" ucap Gita. " Iya Kak" jawab Yudi. Pada saat Yudi keluar tampak Wenda memperhatikan Yudi....Yudi hanya bersikap profesional dalm bekerja. Dia hanya menyapa Wenda dengan mengangkat sudut bibir tersenyum tipis.


Burhan masuk dengan cepat ke dalam mobil. "Waah bagaimana pemantauan Pak Intel nih..." tanya Yudi." Untuk saat ini situasi aman" tapi besok kita boleh lengah" ucap Burhan.


"Burhan besok aku jemput seperti tadi yah" kata Gita. "Oh iya kalian mau jenguk Mas Eko ngak" tanya Gita. " Kami ikut Kak Gita" kata Yudi.


"Kita singgah dulu membeli makan malam, sekalian aja kita makan bareng disana" Usul Gita.


Gita berhenti di sebuah restauran Nasi Padang dia memesan 6 bungkus makanan.


Tok...tok..."yah silahkan masuk" suara wanita terdengar dari dalam ruangan.Gita membuka pintu berlahan. Terlihat Eko yang tengah duduk di pembaringan.Wajah sudah tak pucat lagi.


"Burhan.....Yudi kok kalian ada disini" ucap Prasetyo Ayahnya Eko. " Iya Om kemarin 2 lalu kami sudah tiba, hanya saja waktu kami kesini Om sama Tante lagi di Hotel" jelas Burhan.


Keadaan Eko semakin hari semakin menunjukkan perubahan pada kesehatannya, dia tengah menjalani Fisioterapi dengan tekun dan semangat.....cedera pada paha akibat peluru yang melukainya berlahan ada perubahan, akan tetapi Eko perlu bersabar dengan rutin mengikuti Fisioterapi.


"Mas Eko kamu yang sabar ya mengikuti Fisioterapinya, masalah pekerjaan Mas Eko ngak usah kawatir, Burhan dan Yudi akan membantu ku" Kata Gita.


"Iya Ko betul kalau kamu sembuh nanti kita makan gulai kepala kambing sama nasi kebuli, aku baeu tahu tempatnya...disana enak sekali gulainya..." kata Yudi.

__ADS_1


"Beneran Yud kamu janji yah bawah ke sana, aku juga mau ngajak kedua orang tuaku makan disana" jawab Eko."Nah gitu dong Mas, semangat yah" ucap Gita sambil memeluk lengan Eko.


Sementara Burhan yang mengobrol dengan kedua orang tua Eko diluar kamar. "Nak Burhan kalau kami kembali ke kampung, kamu jagalah Eko kalian betiga berteman sejak kecil, Om tahu pertemanan kalian tidak seperti orang lainnya" kata Om Prasetyo. "Iya..... Om .. sama Tante ngak usah merisaukan hal itu, kami akan selalu bersama sampai kapanpun, kami bukan hanya bersahabat, tapi sudah seperti saudara kandung sendiri".jawab Burhan.


Mamanya Eko menitikan air mata dengan senyum bahagia dia memeluk Burhan."Terima kasih nak, kalian sudah seperti anakku sendiri, sekarang aku lebih tenang rasanya Pak" kata Mamanya Eko sambil melirik ke suaminya.


Yudi memberi ruang kepada Gita dan Eko keluar dari ruang rawat inap, melihat Mamanya Eko memeluk Burhan. Kedua tua Eko melihat Yudi keluar pun memanggil Yudi.


"Nak Yudi kemarilah duduk disini, biarkan dulu Gita bersama Eko" kata Mamanya Eko.


Mas sebentar lagi aku mau pulang hari ini kegiatan lumayan padat. Kamu cepat sembuh yah sayang" kata Gita sambil membelai rambut Eko yang berbaring. "Iya sayang,aku senang mereka menjaga mu disaat aku tak ada" jawab Eko.


"Kalau dikasih tahu sekarang, yah ngak suprise lagi dong" jawab Gita terkekeh." Yah sudah kalau ngak mau ngasih tau kata Eko" cemberut Eko. Gita tersenyum geli meilhat tingkah Eko. Gita mencium kening Eki dan Pipinya. "Sayang kamu jangan main nyosor, nanti kalau di lihat mereka berempat, gimana" tanya Eko. "Biarin Mas toh aku ini kekasihmu calon istrimu" jawab Gita tanpa beban. Eko terdiam tak bisa berkata apa apa lagi. Tapi hatinya senang Gita yang selalu menyayanginya.


"Mas aku pamit dulu, kamu baik-baik disini jaga kesehatanmu, ngak boleh males makan dan minum obatnya" kata Gita yang memenggam tangan Eko. "Sayang pengen disuapin" manja Eko. "Kamu pengen makan apa sayang, ini tadi aku ada belikan kamu gado-gado madura" kata Gita.


"Iya sayang aku mau" jawab Eko semangat.Setelah menyuapi bayi besar itu. Gita pamit pulang. Tak.lupa ia berpamitan dengan calon mertuanya itu.


Gita yang duduk di belakang Yudi dan Burhan, tanpa terasa mereka berada dirumahnya Gita. Gita yang tertidur tak tahu mereka sudah tiba 30 menit lalu, Burhan dan Yudi tak berani membangunkannya... "Kak kita sudah sampai" ucap Burhan ketika Gita merasakan mobil yang tak bergerak namun tetap mesin menyala, ia pun membuka matanya berlahan..." Udah nyampe apartemen dari tadi" tanya Gita. "Barusan kok Kak" jawab Yudi


"Baiklah sampai jumpa besok pagi" kata Gita. Burhan dan Yudi memilih naik Taxi. Setelah membayar Taxi merek naik ke apartemen.

__ADS_1


Pagi itu Gita datang lebih awal, Gita membawakan Burhan dan Yudi sarapan pagi. "Wah kebetulan Kak Gita bawah sarapan" kata Buthan. " Kebetulan aku ngak masak hari ini" kata Buthan. "Oh iya stock makanan kalian habis" tanya Gita.


"Kalau kelengkapan bumbu dan lainnya sih masih ada Kak, cuma untuk sayur-sayuran udah ngak ada" jawab Burhan. "Nanti malam aku singgah ke pasar aja Kak" jawab Burhan.


Mereka turun ke parkiran, ketika membuka mobil, mereka bertiga sangat terkejut melihat seseorang duduk dikursi belakang, bahkan Gita sempat berteriak tapi mulutnya di dekap erat tangan besar tubuhnya di tarik ke dalam mobil, tidak keras dan dengan lembut mendarat duduk di samping, gerakkan orang itu sangat cepat.


Terdengar suara berat seorang pria dari dalam mobil "Burhan kalau kalian lengah seperti ini, nyawa kalian dan wanita ini sangatlah mudah musuh membunuh kalian" kata Paman Black dengan tatapan dingin.


"Paman Black, jawab Birhan. Kalian masuklah...cepat" jawab Paman Black. "Apa kalian tidak melihat dan mencurigai mobil di bawah apartemen mengintai dari kemarin sore" tanya Paman Black.


"Maaf kan tindakan saya nona" ucap Paman Black Gita mengerti mengapa Paman Black menariknya ke dalam mobil namun gerakkan itu tak membuat Gita merasakan benturan atau cengkeraman keras pada tangannya, Gita berkesimpulan bahwa orang ini profesional.


"Kalian sebaiknya naik mobil lain" kata Paman Black.Mereka bertiga heran kenapa harus naik mobil lain.


Paman Black memahami apa yang di pikiran mereka bertiga." Burhan mobil nona ini telah di tandai oleh orang-orang itu sebaiknya kalian menggunakan kendaraan lain.


Akhirnya mereka mengerti.Gita mengeluarkan Hpnya. "Mang Ujang tolong jenput saya di Apartemen GTS" kata Gita. " Baik Non Gita" jawab Mang Ujang. Mereka berempat tak turun dari mobil.1 jam kemudian, Mang Ujang tiba di parkiran basemen , Gita mengarahkan Mang Ujang parkir tepat disamping mobilnya."Sebaiknya nona duduk di belakang saja".ucap Paman Black.


...****************...


#Bersambung#

__ADS_1


__ADS_2