
Setelah perdebatannya dengan Mama nya Fikri samakin merasa sakit hati, karena Mamanyq lah sekarang dirinya harus berpisah dengan wanita yang dicintainya. apalagi sekarang Fikri tau Rara di negara orang membesarkan anak seorang diri karena mengira suaminya yang tak berada disi Rara.
Tiba - tiba terlintas pemikiran ingin bisa melindungi Rara dan El. walaupun sampai sekarang Fikri belum tau El itu anak siapa tapi hati kecilnya tidak bisa dibohongi ingin bisa selalu melindungi El dan Fikri juga merasa menyayangi El.
Hari yang ditunggu tiba, semau pemegang saham sedang berada diruang pertemuan begitu juga dengan Fikri
"Sekarang kami merasa perusahaan tidak ada kemajuan dibawah kepemimpinan kamu Fikri, bahkan banyak pemodal yang memilih mencabut modalnya dan beralih keperusahaan lain" ucap pak Teddy salah satu pegang saham perusahaan
"Kami sebagai pemegang saham jujur merasa kawatir dan tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. jlan satu - satu nya untuk kamu bisa mempertahankan kursi yang saat ini kamu duduki hanya jika Mr.Alan mau kembali bekerja sama dengan kita" ucap pak Ahmad saling pandang penuh arti dengan pak Teddy
Fikri hanya diam tak merespon sampai pada akhirnya Mr.Alan datang dan memasuki ruangan pertemuan yang sudah dihadiri semua pemegang saham yang dari awal sudah sepakat akan menggulingkan posisi Fikri sebagai presdir.
Tapi rencana hanya lah rencana karena orang yang tak diguga yaiti Mr. Alan hadir dan mau kembali bekerja sama dengan perusahaan mereka.
Pak Teddy dan pak Ahmad saling pandang seakan tidak percaya karena dari awal sudah mengatur agar Mr. Alan bekerja sama dengan perusahaan PT.Cahaya furniture yang sudah diatur oleh mereka tentu saja sudah mencapai harga kesepakatan yang jauh dibawah perusahaan Fikri.
"Bagaimana bisa malah sekarang Mr.Alan ada disini dan kembali bekerja sama dengan Fikri" Batin pak Teddy dengan sorot mata yang tak lepas dari Fikri dan Fikri yang menyadari dirinya di tatap pak Teddy segera membalsnya dengan senyuman.
Kesepakatan kerjasama antara perusahaan Fikri dan Mr.Alan sudah selesai ditanda tangani.
Mr.Alan yang bersiap meninggalkan ruangan mengurungan niatnya lantara di panggil Fikri untuk diajak makan siang bersama
Mr. Alan dan Fikri serta serkertaris nya makan siang bersama
"Mr. Alan kenapa sekertaris Mr.Alan Nona Nara tidak ikut penandatanganan kontrak kerja in" Fikri mulai membuka suara
"Oh..Nara, dia sedang mengurus tugas kantor jadi tidak ikut luar kota" jawab Mr. Alan
"Oya, Mr.Alan kenal suaminya? katanya orang Indonesia juga suaminya?" Fikri penasaran
"Suami Nara?" ucap Mr. Alan
"Iya suami Nara, apa Mr. tau siapa suaminya?" ucap Fikri berharap kali ini bisa tau siapa suaminya Rara
Dret..dret....
suara panggilan Hape Mr.Alan, belum sempat menjawab Mr.Alan pamit mengangkat telphon dan setelah itu pamit segera pulang karena sudah ditunggu beberapa rekan kerja lainnya.
__ADS_1
"Sial, kenapa susah sekali memcari informasi tentang kamu sih Ra" gumam Fikri setelah Mr.Alan pergi.
"Fikri"
Terdengar suara Dela yang memanggil
"Dela" ucap Fikri
"Kebetulan sekali kita bisa ketemu disini" ucap Dela
"Aku boleh makan disini sepertinya kamu sendiri" ucap Dela
"Iya, tadi selesai makan dengan Mr. Alan tapi sekarang sudah pulang" jawab Fikri santai
"Fikri sudah lama sekali kita tidak ketemu ya" ucap Dela
Fikri hanya senyum tak menjawab
"Aku tau, kamu masih marah sama aku. tapi Fik, saat itu aku masih terlalu muda untuk membedakan yang benar dan yang salah, saat Tante Lina menyuruhku untuk pura - pura tidur disamping kamu dan pura - pura akan melaporkan kamu ke Polisi kalau kamu tidak bertanggung jawab. aku hanya bisa menuruti nya. aku tidak berpikir jauh karena memang saat itu aku memcintai kamu. aku akui aku sangat cemburu dengan Rara. tapi bukankqh itu sudah lama berlalu Fik? apa kamu tidak bisa memaafkan aku?" ucap Dela meyakinkqn Fikri
"Sudah lah, semua sudah berakhir" jawab Fikri
"Baik lah aku maafkan" ucap Fikri melepas tangan yang dipegang Dela
"Kamu benar memafkan aku? apa kamu mau memberi aku kesempatan?" pinta Dela
"Aku mau memafkan kamu, tapi bukan berarti aku mau balikan sama kamu Del" tegas Fikri berdiri
"Mau sampai kapan kamu menunggu Rara Fik? dia tidak akan pernah kembali sama kamu" Teriak Dela membuat Fikri menghentikan langkahnya dan menatap Dela
"Aku tau, Rara tidak akan kembali lagi sama aku. tapi bukan berati juga aku akan mencari yang lain." ucap Fikri
"Kamu akan menyesal Fikri. perusahaanmu akan hancur" kembali Dela berteriak namun kali ini tidak dihiraukan oleh Fikri.
Dela sebenarnya pribadi yang baik dan setia. dulu dela adalah perempuan yang sangat pendiam dan berteman dengan siapa saja, walapun dirinya anak orang kaya tapi tidak pernah membedakan status sosial orang. hanya saja cintanya terhadap Fikri merubahnya menjadi wanita yang ambisius karena ingin bersaing dengan Rara walapun Rara sendiri sebenarnya tidak menyadari hal itu karena mereka masih saudara.
Tok...tok....
__ADS_1
"Masuk"
"Bos, ada info soal Bu Nara? Dika melaporkan pada bosnya
"Katakan" ucap Fikri mulai tegang dengan informasi yang akan disampaikan Dika sekertarisnya
"Ternyata Bu Nara belum pernah menikah." ucap Dika
"Apa? Rara belum pernah menikah??" Fikri kaget
"Tidak ada catatan yang menyatakan Bu Nara pernah atau sudah menikah." ucap Dika
"Tidak mungkin, Rara bukan perempuan seperti itu, lalu El?? bagaimana mungkin Rara punya anak kalau dirinya belum menikah?" ucap Fikri
"Kalau masalah Anak bu Rara juga hanya terdaftar sebagai anak bu Rara tidak ada nama Ayahnya di kartu kelurga bu Rara" tambah Dika
"Lalu El itu anak siapa?" Fikri yang belum menyadari
"Tunggu" Fikri menghentikan ucapannya dan mulai teringat sesuatu
"Mungkinkah.." gumam Fikri lirih
"Mungkin apa Bos?" jawab Dika yang mendengar perkataan Fikri
"Tidak, tidak, aku harus memastikannya sendiri. Dika tolong pesankan aku tiket ke Belanda sekarang" perintah Fikri
"Tapi Boss hari ini ada meeting penting dengan perusahaan singapura yang baru masuk di Indonesia" Dika mengingatkan
"Batalkan" ucap Fikri tak sabar segera ke Belanda
"Tapi Boss, meeting ini sangat penting untuk perusahaan kita" sekali lagi Dika mengingatkan
"Batalkan saya Bilang" Fikri meninggikan suara
"Baik Boss, saya mengerti" ucap Dika meninggalakn ruangan
Setelah mendapatkan tiketnya Sore itu juga Fikri segera terbang menuju Belanda. pikirannya sudah tidak tenang kali ini dia tidak mau menyesali nya lagi. Fikri sempat teringat Rara mengatakan Ayah El seorang pengusaha Furniture di indonesia
__ADS_1
"Mungkinkah?" gumam Fikri
Terimakasih sudah membaca karya saya, mohon dukungannya ya Like, coment dan vote .dukungan kalian sangat berarti buat Autor semangat berkarya.