
Hidup Fikri terasa kelam, tekanan dari Mamanya membuatnya frustasi, kontrak kerja sama gagal didapatkan seluruh pemegang saham mulai berdesas desus dengan kinerja Fikri yang semakin menurun.
"Bos, Pemegang saham sepertinya akan memngadakan Rapat kembali terkait ingin menggantikan Bos sebagai presdir, karena dinilai akhir - akhir ini kinerja Bos menurun" ucap Dika
"Aku tidak perduli lagi, aku sudah tidak perduli dengan semua ini, untuk siapa aku bekerja sekeras ini? awalnya aku bekerja karena suatu saat ingin mendapatkan Rara kembali hingga aku bisa diposisi ini, tapi sekarang Rara sudah bahagia bersama Adi. El anak kandungku sudah tidak membutuhkan kekayaanku karena sudah diberikan Adi yang sekarang menjadi ayahnya. lalu untuk siapa semua harta yang aku punya sekarang?" ucap Fikri senyum getir memutarkan kursi kerjanya dan mengangkat kedua tangannya seolah tidak perduli
"Tapi Bos, perjuangan Bos untuk mendapatkan semua ini tidak lah mudah. percayalah Bos darah lebih kental dari pada air. saat ini mungkin orang lain yang dipanggil Ayah oleh anak Bos, tapi suatu saat nanti jika dia besar dia pasti akan tau ayah kandung yang sebenarnya siapa. jadi Bos harus tetap semangat" Dika menasehati
"Aku tidak ingin El tau, siapa ayah kandung yang sebenarnya. aku malu sebagi seorang ayah aku, tidak bisa melindungi dan memperjuangkannya."ucap Fikri
"Saat semua itu tiba, Bos bisa mengatakan kondisi Bos saat ini seperti apa" Ucap Dika
"Apa semua itu mungkin? aku tidak pantas disebut seorang ayah" ucap Fikri
"Bos, suatu saat anak bos pasti akan mengerti posisi ayahnya saat ini percayalah bos" Dika berusah membujuk
****
"Di, sudah mau tidur" ucap Rara yang baru saja masuk kamar melihat Adi sudah tiduran di ranjangny
"Iya, belum sih, cuma tiduran aja" ucap Adi
"Boleh kita ngobrol sebentar? ucap Rara
"Tentu saja boleh, sini" ucap Adi menepuk kasur disampingnya mengkode Rara agar duduk disampingnya
"Adi aku mau berterimaksih sama kamu, kamu sudah mau menerima dan menyayangi El seperti anak kamu sendiri" ucap Rara menggenggam tangan Rara
"Ra, jangan katakan itu lagi ya, El memang anakku. sudah cukup. itu saja jangan membahas yang tidak perlu dibahas" ucap Adi membalas genggaman tangan Rara
"Kamu suami yang baik dan ayah yang baik. aku beryukur kamu selalu ada untuk kami" ucap Rara menyandarkan kepalanya dibahu Adi
Adi yang terkejut melihat sikap Rara yang sangat berubah merasa bahagia. tidak menyangka Rara bakal secepat ini menerimanya sebagai suami.
Dan malam ini keduanya hanyut dalam suasana romantis, menyatukan cinta mereka. Rara yang sudah siap menerima Adi sebagai suaminya menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. sekarang sepenuhnya diri Rara milik Adi.
Cup...
Ciuman mesra kembali mendarat dibibir Rara setelah keduanya selesai menyatukan cinta mereka.
"Terimaksih sayang, sudah mau menerima aku sebagai suami kamu" ucap Adi mencium kening Rara
__ADS_1
Rara hanya tersenyum, dan menyandarkan kembali kepalanya didada Adi yang bidang.
Rara memang sudah bertekad menerima Adi sebagai suami seutuhnya tapi walaupun demikian ternyata hatinya masih menyimpan cinta untuk Fikri.
"Maafkan aku Adi, karena sampai saat ini walaupun raga ini untukmu tapi hatiku masih untuk Fikri" Batin Rara
***
"Pagi Ma, Pa" ucap Rara dan Adi menyapa Bu Indah dan Pak Dody
"Pagi sayang" jawab Bu Indah
"Sini sarapan dulu" ucap Bu Indah
Adi yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna navy segera duduk di meja makan, Rara menbantu Bu Indah menyiapkan piring dan menuangkan minuman
"Ma, Pa, sebenarnya Adi mau minta ijin membawa Rara dan El tinggal dirumah Adi. karena Mama sendirian dirumah" ucap Adi
"Iya Adi, walaupun sebenarnya Papa senang kalian tinggal disini tapi papa juga tau kalau Rara dan El memang seharusnya ikut kamu. dan papa juga faham Bu Mira pasti kesepian sendiri dirumah. baiklah Papa dab Mama merestui kalau kalian akan tinggal dirumah Mama kamu" ucap Pak Dody
"Terimaskasih ya Pa, Ma sudah memberi ijin Adi untuk membawa Rara dan El pindah dirumah Adi" Adi senang karena sebentar lagi bisa kembali kerumah menemani Bu Mira
"Iya sayang, El mau kan tinggal dirumah Oma?" ucap Adi
"Emm..mau" jawab El mengangguk menyetujuinya
Adi yang senang mengusap lembut rambut El
Rara bahagia melihat kedekatan Adi dan El
***
"Ra, aku berangkat kerja dulu ya" ucap Adi didepan rumah dan mengulurkan tangan
"Iya hati - hati ya" ucap Rara menyambut uluran tangan dan mencium tangan Adi dan Adi mencium kening Rara
"El Papa kerja dulu, El baik - baik sama Mommy janagan nakal ya! ucap Adi mencium pipi El
"Okay Daddy" jawab El memeluk Adi manja
"Anak pinter" Adi kembali mengusap kepala El dan segera melangkahkan kaki nya menuju mobil.
__ADS_1
Dari kejauhan Fikri memperhatiakan dan terasa sakit hatinya.
"Harusnya aku yang disana, harusnya Aku yang dipanggil Daddy" gumam Fikri
Dretn...dret....
Suara panggilan masuk dari Bu Lina
"Hallo Ma"
"Hallo Fik, siang ini kamu kosongkan waktu. temani Dela dan Pak Edo makan siang, kali ini Pak Edo sudah bilang akan memberi kamu kesempatan. tolong jangan kecewakan Mama! atau kamu ingat kan apa yang akan Mama lakukan" ucap Bu Lina mengancam
"Ma, apa Mama tidak capek mengancam Fikri terus? Fikri capek Ma seperti ini terus"ucap Fikri merasa frustasi
"Turuti saja perkatan Mama" ucap Bu Lina
"Baik Ma" jawab Fikri singakat dan mematikan panggilan telphonnya.
Ingin hatinya brontak dengan sikap Mamanya, ingin marah, ingin membantah tapi semua itu hanya sebatas keinginan. Firki yang selalu tidak berdaya setiap kali menerima titah dari sang Mama.
Siang ini dengan rasa malas akhirnya Fikri menemui Dela dan pak Edo untuk makan siang bersama.
"Siang Om" ucap Fikri menyapa pak Edo dan Dela yang sudah datang terlebih dahulu
"Duduk" ucap Pak Edo mempersilahkan duduk dan menunjuk kursi dengan pandangannya
"Fikri langsung saja om katakan, kali ini kalau bukan karena Dela yang memohon untuk memafkan kamu, om tidak akan pernah mau memafkan kamu." ucap Pak Edo
"Terimaksih om" jawab Fikri santai
"Lalu kapan kalian akan mengatur pernikah kalian kembali?" tanya pak Edo
"Menikah?? siapa yang bilang saya akan menikahi Dela kembali?" ucap Fikri santai
"Kamu.." ucap Pak Edo menunjuk muka Fikri dengan jari telunjuknya
"Berani kamu mempermainkan saya lagi? apa kamu mau perusahaan kamu benar - benar hancur?" Ancam pak Edo
"Bukankah Anda sudah pernah mencobanya? saya tau semua pemegang saham di perusahaan saya anda pengarui" ucap Fikri santai dan membetulkan jasnya yang sebenarnya juga tidak betantakan
mohon dukungan dari teman - teman semua dengan cara Like, coment dan Vote jika ada ya. dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author terimakasih
__ADS_1