
Besok hari dimana seharusnya semua pasangan pengantin bahagia, tapi tidak dengan Rara. malam ini pikirannya melayang dadanya serasa sesak memikirkan harus menikah dengan orang yang selama ini hanya dianggap sebagai sahabat tapi dirinya memang tidak bosa egois. kalau dulu mungkin dirinya bisa hidup sendiri tapi sekarang bagaimana bisa? ada El yang pasti membutuhkan keluarga yang lengkap untuk pertumbuhannya.
Rara memandang lekat putranya yang sedang tertidur, tersenyum melihat Putranya.
"Mommy akan melakukan apapun untuk kebahagianmu nak" gumam Rara membelai rambut El yang sedang tidur lalu menyelimutinya
Rara yang merasa kepalanya penat mencoba menghirup udara diluar rumah berjalan ketaman dan duduk diayunan tempat dimana dulu waktu kecil dirinya sering main disini.
Rara memang sering ketaman ini hanya sekedar untuk melepas penat.
"Ra" ucap Fikri yang entah dari mana datangnya tiba - tiba duduk diayunan samping Rara
Rara yang terkejut melihat Fikri tiba - tiba ada disampingnya.
"Kamu" ucapan Rara terhenti hanya mentap Fikri
"Aku Fikir kamu tidak akan kembali ke Indonesia" ucap Fikri
"Aku sudah mendengar kalau kamu akan menikah dengan Adi" ucap Fikri memandang kedepan dengan tatapan kosong
"Iya" jawab Rara singkat
"Apa kamu mencintainya?" tanya Fikri
"Apa cintaku masih penting? bahkan aku tidak bisa memilih jalan hidupku. bagiku kebahagian El yang utama. aku sudah tidak memperdulikan cinta" ucap Rara datar
"Aku minta maaf Ra, aku gagal mempertahanmu dan El lagi" mata Fikri berkaca - kaca namun bibirnya tetap memperlihatkan senyuman
"Untuk apa minta maaf? tidak perlu minta maaf dan tidak perlu ada yang disesali lagi. anggap saja ini jalan hidup yang harus kita jalani. aku tau siapa kamu dan siapa Mama kamu. dari awal kamu kembali lagi dalam hidupku dan El aku pun tidak sedikit pun mengharpkan kamu lebih" ucap Rara membohongi dirinya sendiri tidak ingin terlihat rapuh didepan Fikri
__ADS_1
"Aku memang laki - laki yang tidak berguna Ra, aku yang membuat hidup mu selama ini menderita. aku menghadirkan penderitaan yang tiada ujung untukmu. karena itu, saat aku tau kamu akan menikah dengan Adi, aku merasa lega. Adi laki - laki yang baik dan aku yakin Adi bisa membahagiakan kamu" ucap Fikri berusaha tegar
Tanpa menjawab apa yang dikatakan Fikri Rara hanya tersenyum sinis. hatinya sakit seperti teriris pisau tajam. kata - kata Fikri barusan sangat melukai hatinya
"Kamu tau Ra, sebenarnya saat ini aku marah, aku ingin membawamu dan El lari jauh dari sini. aku ingin memulai kehidupan baru hanya dengan kalian."
Sejenak Fikri diam menarik nafas dalam dan menundukan kepalanya air matanya pecah
"Tapi aku tidak mempunyai kemampuan itu Ra, Mamaku akan bunuh diri jika aku menikahimu. kamu tau didunia ini aku tidak punya siapa - siapa selain Mama ku. Papaku meninggalkan kami saat aku masih kecil. bahkan sampai sekarang aku tidak tau keberadaan Papaku. karena itu aku tidak bisa menyakiti hati Mama." ucap Fikri terisak tangis
"Karena itu lah aku menutuskan menikah dengan Adi, aku tidak ingin El tumbuh dalam bayang - bayang ditinggalkan ayahnya. lebih baik El tumbuh sebagai anak Adi yang bisa memberikan kebahagian dan bisa sosok ayah untuk El. dari pada El harus tumbuh jadi laki - laki seperti kamu" ucap Rara sinis
Ucapan Rara seakan menjadi tamparan untuk Fikri.
Puas melampiaskan kekesalan hatinya pada Fikri Rara segera kembali kerumah memandangi El yang masih tertidur.
****
Di apartemennya Fikri memikirkan apa yang dikatakan Rara
"Semua yang dikatakan Rara benar, tidak ada bedanya apa yang aku lakukan dengan Papa yang telah meninggalkanku. mungkin El selamanya juga tidak akan pernah tau kalau aku adalah ayah kandungnya. Rara pasti tidak akan pernah mengijinkan El sampai tau siapa ayah kandung El yang sebenarnya." gumam Fikri air matanya menetes membasahi bantalnya
***
Semua tamu undang tampak bahagia, semua terlihat cantik dan ganteng rona kebahagian terpancar diwajah para tamu undangan, pun dengan Bu Indah, pak Dody dan Bu Mira mereka semua terlihat tersenyum bahagia. apa lagi El wajahnya selalu dihiasi dengan senyuman.
mungkin disini hanya Rara yang hatinya menangis. bagaimana pun cintanya masih terpaut pada Fikri. namun mungkin benar yang dikatakan pak Dody menikah itu bukan hanya soal cinta.
Mencintai atau dicintai, semua itu pilihan didalam hidup yang harus diambil. dan semua keputusan sudah pasti ada konsekuensi yang harus diambil.
__ADS_1
Saat ini Rara sudah lelah mencintai yang tanpa ujung, mencintai tanpa kepastian. semua itu terlalu menyakitkan.
Dan mungkin dicintai akan menjadi pilihan yang lebih baik, walaupun juga tidak mudah tapi setidaknya dengan menikahi laki - laki yang mencintainya Mama dan Papanya akan bahagia begitu juga dengan El yang akan mendapatkan keluarga yang utuh.
Ditempat lain Fikri menggila diapartemennya botol - botol beralkhol berserakan dimana - mana.
Menangis ditepi tempat tidur dengan kondisi rambut acak - acakan begitu juga bajunya yang nampak lusuh, dirinya sudah hampir kehilangan kesadarannya lantara mabuk.
Bu Lina dan Dela yang hari itu berniat datang mengunjungi Fikri ke apartemen nya dibuat terkejut dengan pemandangan ini.
"Fikri, apa - apaan ini?" ucap Bu Lina marah melihat putranya
Fikri yang setengah sadar menatap tajam Bu Lina dan tersenyum sinis
"Mama puas? Mama bahagia sudah berhasil menghancurkan hidup Fikri? ini kan yang Mama Mau? iya kan Ma? iya kan Ma? ucap Fikri meninggikan suara mendekati Mamanya.
"Semua yang Mama lakukan demi kebahagian kamu" jawab Bu Lina
"Kebahagian apa Ma? kebahagian siapa? apa menurut Mama Fikri akan bahagia setelah satu - satunya wanita yang Fikri cintai menikah dengan laki - laki lain? apa menurut Mama Fikri akan bahagia setelah anak Fikri memangil ayah pada laki - laki lain? apa Mama pikir semua itu akan membuat Fikri bahagia? jawab Ma? apa menurut Mama Fikri masih bisa bahagia?" suara Fikri meninggi
"Fikri sadar, tugas kamu membahagiakan Mama, Mama sudah berjuang membesarkan kamu sendiri. saat kamu masih kecil Papamu pergi meninggalkan kita, Mama berjuang sendiri membesarkan kamu, semua Mama lakukan untuk kamu, sampai kamu bisa jadi seperti ini sekarang" ucap Bu Lina mencoba mengingatkan Fikri
"Jadi seperti sekarang? seperti apa yang Mama maksud? seprti Papa? apa bedanya Fikri sama Papa? yang meninggalkan anaknya dan tidak pernah memberikan kasih sayang untuk anaknya. itulah Fikri yang sekarang, seorang laki - laki yang tega mengabaikan anak kandungnya sendiri." ucap Fikri menundukan kepalanya terisak tangis
Dela bingung mendengar percakapan antara Fikri dan Mamanya
"Anak? apa maksudnya anak?" ucap Dela
Mohon dukungan dari teman - teman semua dengan cara Like, coment dan Vote ya. terimakasih
__ADS_1