Aku Pergi Karena Hasutan Ibumu

Aku Pergi Karena Hasutan Ibumu
POSITIF THINKING


__ADS_3

Belum sampat makan, Fikri yang baru saja menolak Dela secara terang - terangan di depan Pak Edo seolah menabuh gendrang perang yang menyulut emosi Pak Edo.


Putri satu - satu pewaris kekayaan Kurnia Hotel Grub di permalukan seperti itu.


Merasa tidak terima dengan perlakuan Fikri, Pak Edo yang geram menggebrak meja makan hadapannya dan membuat Dela sontak kaget dengan apa yang dilakukan Papa nya


"Laki - laki seperti itu yang ingin kamu nikahi?" Suara Pak Edo meninggi murka


"Lihat saja, kali ini perusahaannya akan benar - benar hancur" geram Pak Edo


"Pa, maafin Fikri Pa, jangan seperti ini. Dela mencintai Fikri" rengek Dela


"Cinta kamu bilang? jangan gila kamu Dela. buka mata kamu, Fikri tidak pernah mencintai kamu!" teriak Pak Edo


"Tapi Fikri cinta pa" ucap Dela


"Lupakan Fikri sudah terlalu lama, kamu menyia - nyiakan hidup untuk orang seperti dia. Papa akan atur perjodohan kamu dengan laki - laki piliham Papa!" ucap Pak Edo


"Pa, Dela gak mau! Dela cuma mau Fikri!" ucap Dela meneteskan air mata


"Jangan bodoh kamu, Berapa sekarang usia kamu? kurang lama apa menunggu laki - laki tidak berguna seperti dia" Pak Edo geram


"Dela cinta sama Fikri, dengan cara apapun Dela harus dapatkan Fikri Pa" ucap Dela dan berlalu pergi meninggalkan Pak Edo


Pak Edo yang merasa gagal mendidik Dela terduduk dikursi makan dan memegang kepalanya.


"Anak bodoh! bagaimana bisa aku mendidik anak sebodoh itu" umpat Pak Edo tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Dela.


Dela dulunya gadis yang baik, manis dan penurut. namun semenjak dirinya mengenal cinta dan menjatuhkan pilihan cintanya pada Fikri yang saat itu sudah memiliki kekaksih, membuat Dela berubah menjadi wanita yang ambisius bahkan seoalah tidak punya belas kasiahan.


Cinta yang membutakan mata hati Dela hingha tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


***

__ADS_1


Fikri yang sudah dikantor menjatuhkan tubuhnya dikursi tersenyum sinis.


Dret...dret....


Suara panggilan masuk dari Bu Lina tapi diabaikan oleh Fikri, dirinya malas kalau harus berdebat dengan Mamanya.


Tok..tok...


"Masuk"


Dika datang memeberikan hapenya


"Telphon dari nyonya besar bos" ucap Dika


Fikri yang sebanarnya malas berdebat dengan Mamanya akhirnya mau berbicara lantara sudah terlanjur tersambung dengan hape Dika


"Hallo Ma, kalau Mama telphone untuk berdebat maaf Ma. Fikri sedang tidak ada waktu" ucap Fikri


"Apa maksud kamu berbicara seperti itu sama Pak Edo, kamu akibat dari ucapan kamu itu apa?" ucap Bu Lina murka dari seberang telphone


"Kamu sadar dengan apa yang barusan kamu ucapkan, kamu benar - benar tidak tau siapa Pak Edo Fikri" ucap Bu Lina


"Tentu saja Fikri tau Ma, sudah pernah kan Pak Edo berusaha merusak bisnis Fikri dengan mempengaruhi pemegang saham. nyatanya Mama bisa lihat sendiri Perusahaan masih baik - baik saja" ucap Fikri santai


"Fikri anakku, Mama minta maaf atas sikap Mama. Mama akui Mama terlalu keras sama kamu selama benerapa tahun terakhir ini. tapi anakku Mama punya alasan kenapa Mama bisa seprti ini, Mama punya alasan kenapa Mana memaksa kamu untuk menikahi Dela. hidup kita bisa seperti sekarang, kamu bisa sekolah dan sekarang menjadi seorang presdir itu semua tidak lepas dari campur tangan Pak Edo anakku" ucap Bu Lina lembut.


"Maafin Mama karena ketidak berdayaan Mama membesarkan kamu seorang diri, Mama menerima bantuan dari Pak Edo walaupun dengan perjanjian kelak kamu menikahi Dela. Maafkan Mama yang sudah merusak kebhagian kamu anakku. Mama tidak menyangka keputusan yang Mama ambil saat itu ternyata menghancurkan hati kamu. seandainya dulu Papa kamu tidak meninggalkan kita, dan seandainya dulu Mama mampu membesarkan kamu tanpa menerima bantuan dari Pak Edo, nasib kamu tidak akan seperti ini anakku" ucap Bu Lina menangis


"Ma" ucap Fikri dan belum sempat menyelesaikan perkataan Fikri terdengar suara Bik Siti asisten rumah tangga dikediaman Bu Lina panik dari sebrang telphon


"Nyonya, nyonya bangun nyonya" Bik siti panik dan mengabaikan telphone yang saat ini masih menyambung dengan Fikri.


"Hallo, hallo.." ucap Fikri panik di telphon karena tidak ada jawaban

__ADS_1


Fikri yang panik berlari dan Dika mengekor ikut berlari


Dijalan pembantu memberi kabar kalau Bu Lina sedang dilarikan ke Rumah sakit. Fikri langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Dika yang duduk dikursi penumpang ketakutan memejamkan matanaya dan berpegangan dengan kuat.


"Bos Nyonya besar kenapa?" Dika mencoba membuka suara


"Mama dibawa ke Rumah sakit, bik Siti bilang Mama tidak sadarkan diri" ucap Fikri dengan mata tetap mentap jalanke depan tanpa mengurangi kecepatan mobilnya.


Sesampai rumah sakit Fikri yang cemas segera berlari menyusuri lorong Rumah sakit menuju ruangan tempat Bu Lina dirawat, sesampainya didepan pintu Fikri yang melihat Mamanya tak sadarkan diri dengan benerapa alat bantu yang terpasang ditubuhnya, infus yang mengalir di tubuh Bu Lina membuar Fikri ketakutan, badannya terasa lemas takut terjadi apa - apa pada wanita yang sudah berjuang membesarkannya.


"Ma" ucap Fikri perlahan mendekat melihat Mamanya yang tak sadarkan diri


Melihat Mamanya tak merespon Fikri beranjak keluar mencari Dokter yang menangani Mama nya


"Dok,sebenarnya apa yang terjadi dengan Mama saya?" tanya Fikri panik


"Pasien mengalami gagal jantung dan saat ini kami sedang melakukan observasi untuk penanganan lebih lanjut" Dokter menjelaskan


"Gagal jantung" gumam Fikri lirih


"Tapi bisa di obati kan Dok?" tanya Fikri lagi


"Kami akan mengupayakan semaxsimal mungkin dan memberikan perawatan yang terbaik untuk pasien" jawab Dokter menyakinkan


"Terimakasih Dok" ucap Fikri dan menyandarkan tubuhnya ditembok setelah Dokter pergi.


"Apa yang sudah aku perbuat? Mama seperti karena salah Fikri" gumam Fikri mengacak - acak rambutnya dan memukul tembok hingga tangannya terluka.


***


Sekarang Rara yang sudah pindah dirumah Adi bersama dengan Bu Mira, dan disini Rara diperlakukan layaknya anak kandung sendiri. El pun terlihat tampak lebih bahagia dengan keluarga yang lengkap, ada Mommy, ada Daddy yang walaupun bukan darah daging nya tapi menyayangi El sepenuh hati, dan ada oma yang mengganggap layaknya cucu kandung sendiri.


Terkadang kebahagian itu datang tidak harus bersatu dengan orang yang kita cintai. hidup itu memang harus realistis, cinta itu anugrah yang hakikatnya membawa kita kepada kebahagian bukan penderitaan.

__ADS_1


Realita hidup memang terkadang tak sesuai dengan harapan kita, tapi kita tidak pernah tau apa yang Tuhan rencanakan untuk kebahagian kita yang akan datang. selalu positif thinking dengan rencana Tuhan. apapun yang kita alami saat ini pasti yang terbaik untuk kita.


Mohon dukungannya dengan Like,Coment dan Vote jika ada ya. dukungan teman - teman sangat berarti bagi Author terimakasih


__ADS_2