Aku Pergi Karena Hasutan Ibumu

Aku Pergi Karena Hasutan Ibumu
BELUM MAU JUJUR


__ADS_3

Sesampainya di Belanda, Fikri segera menuju ramah Rara. Tapi Rara dan El saat itu sedang tidak ada dirumah karena sedang jalan - jalan. Diluar rumah yang sangat dingin karena memang disana sedang musim dingin. tapi itu semua tak menyurutkan sedikitpun niatan Fikri untuk pergi. kali ini dirinya tidak mau kehilangan wanita yang dicintaimya lagi apalagi jika benar sesuai yang dia bayangkan tentanh El. Apapun akan dia lakukan untuk bisa bersama kembali dengan Rara.


Betapa terkejutnya Rara melihat Fikri yang kedinginan diluar rumahmya seakan sudah mau membeku


"Fikri" ucap Rara dah dengan wajahnya yang pucat Fikri tersenyum melihat Rara dan El telah kembali


"Apa yang kamu lakikan disini? Cuaca sangat dingin" ucap Rara


"Apa kamu menperdulikan aku Ra? Fikri senang


"Ini hanya masalah kemanusiaan Fik, tidak usah berpikir berlebihan. Ayo masuk dulu" ucap Rara sambil membuka pintu rumahnya mempersilahkan Fikri masuk


"El kamu istirahat dikamar dl ya" ucap Rara mengantar El ke kamar dan membuatkan teh panas untuk Fikri


Tak butuh lama teh selesai dibuat dah dihidangkan untuk Fikri beserta sedikit kue hasil buatan Rara karena Rara yakin pasti Fikri belum makan.


"Maksih ya Ra" ucap Fikri menyeruput teh nya


"Kamu gak gila kan Fik? berdiri didepan rumah orang dalam cuaca sedingin ini" ucap Rara yang sebenarnya kawatir dengan Fikri


"Ra..kamu bohong kan?" Fikri menatap Rara


"Bohong? soal apa?" Rara belum mengerti


"Kamu belum menikah kan??" Fikri masih menatap Rara dengan tatap sayu


"Apa maksud kamu?" Rara membulatkan matanya


"Ra tolong jawab, Apa El itu?" ucap Fikri dan langsung dipotong Rara


"Sepertinya kamu sudah baikan, sebaiknya kamu segera pulang" usir Rara


"Aku tidak mau pulang, aku mau tau apakah mungkin?? El itu?" ucap Rara di potong lagi oleh Rara


"Apa?? El apa maksud kamu? jangan berani brrfikir yang tidak - tidak. sekarang kamu pulang dan jangan kembali lagi ke sini" ucap Rara emosi


"Oke fine, kalo emang pemikiranku salah, tapi tolong katakan siapa Ayahnya El? karena aku tau kamu bukan wanita seperti itu tidak mungkin kamu punya anak tanpa pernikahan. kecuali??" Fikri tidak melanjutkan omongannya


"Kecuali benar El anakku, karena cuma aku yang melakukannya kan?" tanya Fikri menatap Rara

__ADS_1


"Bukan, El bukan anak kamu, El anakku! sekarang tolong pergi! Rara berteriak


"Mom.." ucap El keluar dari kamar karena mendengar keributan diluar


"Sayang, kenapa malah keluar" tanya Rara menghampiri El


"Uncle kenapa? El yang bingung melihat ke arah Fikri


"Uncle tidak apa - apa sayang, uncle sama Momy hanya ada sedikit masalah pekerjaan" ucap Fikri juga memperhatikan El


El mendekat ke Fikri dan segera digendong sampai El tertidur didekapan Fikri.


Rara hanya diam tidak mungkin menyuruh Fikri pergi karena takut El kecewa terlihat El sangat menyayagi Fikri.


Tanpa disangaka Fikri meneteskan air mata begitu juga dengan Rara melihat Fikri meneteskan air mata membuatnya luluh dan ingin mengatakan semuanya tentang dirinya dan El, tapi Rara masih takut jika itu akan berdampak buruk terhadap El.


Rara tau pasti, seperti apa Mama nya Fikri. Rara tidak ingin mengambil Resiko tentang keselamatan El, tapi Rara juga tidak tega melihat Fikri seperti itu.


"Fik, El udah tidur. baringkan saja dikamarnya" ucap Rara


"Biar aku gendong dulu Ra" ucap Fikri yang seolah ingin melepas rindu dengan putra nya.


Dikamar Rara menjatuhnya tubuh dikamar, tangisnya pecah sekan sudah tak mampu lagi untuk di bendung. Air mata yang sudah bertahun - tahun ditahan untuk tidak menangis.


Semenjak dirinya mengetahui kehamilannya dulu tiga tahun yang lalu, Rara memutuskan untuk tidak lagi menangis.


Hatinya perih melihat Fikri dan El.


"Apa yang sebaiknya aku lakukan?" gumam Rara


Dikamar El, Fikri menidurkan El dan memeluknya. mengamati wajah kecil El. wajah polos, ganteng dan seakan ada magned tersendiri untuk memikat dan ingib terus berada disampingnya.


"Apakah kamu memang Anakku?" batin Fikri


"Seandainya benar kamu anakku, betapa berdosanya aku, membiarkanmu dan Momy mu menanggung penderitaan sendiri." batib Fikri lagi yang terus memandang El, tatapannya tak mau lepas dari bocah kecil ini.


Melihat El sudah tertidur dengan pulas, Fikri beranjak mencari Rara. memanggil - manggil Rara tapi tidak ada sahutan. Fikri memberanikan diri membuka kamar Rara di depan pintu dia melihat Rara yang tertidur dengan Air mata dipipinya yang masih basah.


Fikri mendekati Rara menatap wajahnya, menyingkapkan rambut yang menutupi sebagaian wajahnya.

__ADS_1


"Ra...maafin aku, begitu banyak penderitaan yang aku timbulkan. penderitaan yang kamu alami semua berawal dariku. Aku bahkan sampai tidak mengerti bagaimana caranya menebus semua kesalahan yang aku lakukan? bagaimana cara melepaskanmu dari penderitaan yang aku berikan??" gumam Fikri lirih


Fikri menyelimuti tubuh Rara dan kembali menutup pintu kamar Rara.


Fikri merebahkan tubuhnya diruang tamu menatap langit - langit, membayangkan apa kah benar selama ini ini wanita yang dicintainya itu baik - baik saja? bagaimana dulu Rara hamil sembilan bulan sendiri, setau Fikri wanita hamil Rata - rata pasti lemah tubuhnya, banyak maunya.


"Bagaimana kamu bisa menjalani semuanya sendiri Ra?" tanpa sadar air mata Fikri menetes


Keesokan harinya Rara terbangun dan segera bergegas kekamar El, di ruang tamu dia melihat Fikri yang sedang tidur meringkuk disofa nya. dan saat dikamar dia melihat El yang masih terlelap.


Rara yang tak tega membangunkan Fikri,mengambilkan selimut dan segera kedapur untuk membuat sarapan, selesai masak Rara segera memandikan El, mengganti pakaiannya, menyuapinya baru dirinya mandi berganti pakaian persiapan ke kantor. Fikri yang sudah bangun menunggu Rara diruang tamu


"Ra...kamu mau berangkat kerja?" tanya Fikri


"Iya, aku udah buatin sarapan. setelah sarapan tolong segera pulang. sebentar lagi pengasuh El sampai." ucap Rara yang sambil berbenah menyiapakan keperluannya ke kantor.


Tiba - tiba Fikri meraih tangan Rara dan memeluknya dari belakang


"Ra..aku mohon maafin aku, ijinkan aku membahagiakan kamu dan El" ucap Fikri yang semakin memeluk Rara erat


"Lepaskan Fik, aku harus segera berangkat kerja" ucap Rara lirih


"Berhentilah bekerja Ra, biar aku yang bekerja. kita mulai dari awal lagi" Fikri manja


"Mana bisa seperti itu, aku ada anak yang harus aku hidupi, mana mungkin aku tidak bekerja" tegas Rara


Fikri membalikin tubuh Rara dan kini mereka berhadapan


"Ra...menikahlah denganku" ucap Fikri


"Aku tidak bisa Fikri" Rara senyum dan segera meningglkan Fikri untuk bekerja.


****


"Andai kamu Fik, sesungguhnya aku juga ingin selalu bersamamu" batin Rara


"Kamu kenapa begitu keras kepala Ra??" Batin Fikri


Terimaksih yang sudah membaca, mohon dukungan nya dengan Like, Coment dan Vote jangan lupa kasih rating bintang lima juga ya.

__ADS_1


__ADS_2