Aku Pergi Karena Hasutan Ibumu

Aku Pergi Karena Hasutan Ibumu
KEPERGIAN ADI


__ADS_3

Dret...dret...


Panggilan telphon masuk dihape Rara


"Maaf apa benar ini dengan keluarga bapak Adi" ucap suara dari sebrang telphon


"Iya saya istrinya ada apa ya?" jawab Rara


"Saya ingin mengabarkan saat ini pak Adi sedang dirawat dirumah sakit bening kasih karena mengalami kecelakaan saat sedang meninjau proyek" ucap perawat dari sebrang telphon


Deg....


Untuk sesaat jantung Rara terasa berhenti berdetak.


"Hallo.. halo..." panggil perawat yang tidak direspon Rara


"Iya hallo, bagaimana keadaan suami saya sus?" tanya Rara gemetar


"Pak Adi saat ini dalam keadaan kritis dan harus segera dioperasi tapi kami membutuhkan tanda tangan persetujuan dari keluarganya dulu Bu" ucap perawat


"Sus tolong lakukan apapun yang dibutuhkan saat ini, saya akan segera kesana. tapi posisi saya diJakarta mungkin butuh waktu beberapa jam untuk sampai diKalimantan." ucap Rara panik


"Baik Bu, akan kami lakukan penanganan yang terbaik" ucap perawat memutus sambungan telphon


Rara yang merasa badannya lemas mendengar berita Adi kecelakaan menjatuhkan tubuhnya dilantai, air matanya mulai tumpah tak tertahankan.


"Rara, kamu kenapa?" ucap Bu Mira panik melihat Rara dalam keadaan kacau, segera mendekati Rara


"Adi, Ma, Adi" ucap Rara terbata - bata


"Adi? Adi kenapa Ra?" bu Mira ikut panik


"Adi sekarang dalam keadaan kritis dirumah sakit" ucap Rara terisak tangis


"Kenapa bisa seperti itu Ra" Bu Mira menangis


"Adi mengalami kecelakaan kerja saat meninjau proyek pembangunan Ma" tangis Rara


"Ma, Rara harus segera menyusul Adi kesana Ma, Rara titip Anak - Anak ya Ma" ucap Rara mengambil tasnya dan berlari keluar menuju Bandara


"Mbak saya mau tiket pesawat menuju kalimantan satu untuk pemberangkatan sekarang" ucap Rara


"Maaf Bu, untuk penerbangan ke Kalimantan baru saja lepas lanadas. penerbangan berikutnya sekitar satu jam lagi" ucap petugas dibandara


Keadaan Rara semkin panik, tapi apa boleh buat Rara akhirnya menunggu penerbangan yang berikutnya dengan menunggu satu jam dibandara.


Didalam pesawat Rara bersandar, tatapan matanya kosong, air mata yang terus membanjiri pipinya.


Mengingat semua yang sudah Adi lakukan untuk dirinya dan El.

__ADS_1


"Adi kami harus kuat, kamu harus sehat kembali demi aku dan anak - anak" gumam Rara


Sesampainya diRumah sakit Bening kasih, Rara menuggu di depan ruang operasi


Dret..dret..


Panggilan masuk dari Bu Mira


"Hallo Ma" jawab Rara lemas


"Hallo Ra, Apa kamu sudah sampai sana?"Tanya Bu Mira cemas


"Iya Ma, Maaf Rara lupa ngabari Mama, tadi dari bandara Rara langsung ke rumah sakit Ma.


"Iya tidak apa - apa Ra, bagaimana kamu sudah bertemu Adi? keadaannya gimana Ra? Bu Mira cemas


"Rara belum tau kondisi pastinya Ma, saat ini Dokter sedang melakukan operasi dan Rara masih menunggu di luar Ma" jawab Rara


"Semoga Adi baik - baik saja ya Ra, tolong segera kabari Mama kalau ada perkbangan tentang Adi sekecil apa pun" ucap Bu Mira


"Amin, iya Ma. Adi orang baik. Rara yakin Adi akan baik - baik saja" ucap Rara


"Iya sayang, kamu juga hati - hati disana ya" ucap Bu Mira


"Iya Ma" jawab Rara menutup telphon


Mungkin Rara memang belum mencintai Adi tapi Rara juga tidak akan sanggup jika harus kehilangan Adi.


Tanpa Adi entah apa yang akan terjadi pada dirinya.


Setelah beberapa lama menunggu, lampu operasi dimatikan menunjukan operasi telah selesai


Rara yang merasa cemas dan kawatir mondar mandir di depan ruang operasi menunggu Dokter keluar.


Klek


Terdengar pintu operasi terbuka Rara segera berlari mendekati Dokter yang masih mengenakan pakaian operasi warna hijau yang baru saja keluar dari ruangan yang mengerikan tersebut.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Rara dengan perasaan tak karuan


"Kami sudah berupaya semaksimal mungkin, namun Tuhan betkata lain, kami harap ibu bisa menerima kenyataan ini dan bersabar" ucap Dokter yang melakulan operasi pada Adi


"Apa maksud Dokter?" Rara tercengang tangan nya menutupi mulut


"Dokter suami saya baik - baik saja kan? suami saya selamat kan? Dokter tolong katakan suami saya baik - baik saja" ucap Rara histeris mengguncang - guncang Dokter


"Ibu tenang, ibu yang tenang dulu ya, semua sudah ketetapan Tuhan. kita manusia hanya bisa berupaya tapi Tuhan yang menentukan" ucap Dokter berusaha menghibur Rara


"Bohong, Doktet Bohong, suami saya masih hidup, suami saya baik - baik saja" ucap Rara histeris

__ADS_1


Tubuhnya mulai lemas dadanya terasa sesak. Rara menjatuhkan tubuhnya dilantai


"Tidak mungkin, tidak mungkin, ini bohong pasti bohong. Adi tidak mungkin meninggalkan aku secepat ini" teriak Rara menangis menepuk - nepuk dadanya yang terasa sesak


Jenazah Adi yang tertup kain keluar dari ruang operasi Rara bersiri dan membuk kain putih yang menutupi wajah suaminya


"Adi kamu bercanda kan? kamu hanya pura - pura pergi karena marah sama aku kan? aku minta maaf Adi tolong bangun, bangun Adi, tolong bangun. jangan tinggalkan aku dan anak - anak. kami masih membutuhkan kamu, siapa yang akan menjaga kami kalau kamu pergi Adi?" ucap Rara mengguncang - guncang tubuh Adi agar mau bangun kembali


"Maaf Bu, Jenazah pak Adi harus segera kami bawa keruang Jenazah. harap ibu mengurus administrasi dan mengurus kepulangan Jenazah" ucap seorang perawat


"Tidak mungkin, tidak mungkin, ini pasti bohong, tidak mungkin Adi pergi" Rara terisak tangis dan kembali menjatuhkan tubuhnya ke lantai. jenazah adi dibawa keruang jenazah untuk dimandikan.


Rara mengambil hape nya dan menghubungi Bu Mira


"Hallo Ra" ucap Bu Mira


"Ma, Adi Ma" tangis Rara


"Adi kenapa Ra? Adi baik - baik saja kan?" ucap Bu Mira


"Hiks..hiks..." suara tangis Rara


"Ra, jawab Mama, Adi baik - baik saja kan? jangan buat Mama kawatir" bentak Bu Mira kalut


"Adi mening- Adi meninggal Ma" ucap Rara takut Bu Mira syok


Brak


Suara hape Bu Mira jatuh dan El yang ada didekatnya mengambil.


"Mommy ada apa?" tanya El


"El, tolong jaga oma ya dan kasih hape oma sama Bibik ya" ucap Rara mencoba tenang


"Iya Ma" jawab El


Melihat nyonya besar nya terjatuh dan menangis di lantai Bibik lari dan panik


"Nyonya besar, nyonya kenapa?" bibik panik dan El memberikan hapenya


"Hallo non" ucap Bibi


"Bik, tolonng tenangkan Mama ya, dan persiapkan rumah. tuan adi meninggal sebentar lagi saya akan urus kepulangan jenazah Tuan" ucap Rara masih terisak tangis


"Apa Non? tuan meninggal?" bibik pun tanpa disadari meneteskan air mata mendengar kabar tuannya sudah berpulang


"Iya Bik, tolong tenangkan Mama dan jangan kasih tau anak - anak pelan - pelan ya bik" ucap Rara


Terimakasih atas dukungan teman - teman, jangan lupa Like dan Vote jika ada ya. dukungan kalian sangat berarri bagi Author

__ADS_1


__ADS_2