
Dret...dret...
Panggilan masuk dari Adi, segera diraih hapenya dan menggeser tombol jawab
"Hallo Di"
"Hai..maaf ya aku tadi gak pamitan sama kamu, ini aku sudah di London. aku lihat kamu tidur nyenyak banget jadi gak tega mau bangunin" ucap Adi dari sebrang telphon
"Iya gak papa tadi Mama dah bilang kalau perusahaan kamu yang diLondon sedang ada masalah, kamu fokus saja sama pekerjaaan kamu disana. nanti kalau pulang biar aku yang jemput ya dibandara" ucap Rara
"Aku gak mau ngrepoti kamu Ra, tunggu dirumah saja" jawab Adi
"Tidak apa - apa, aku yang mau jemput kok gak ngrepotin" ucap Rara
"Okay, nanti kalau mau pulang aku kabari kamu"
"Ya sudah sana istirahat berjam - jam dipesawat pasti capek kan"
"Iya ni Ra, capek banget. aku istirahat dulu ya" ucap Adi memutus sambungan telphonnya.
Ditempat lain Fikri yang pikirannya kacau menyibukan diri dikantor, hari - harinya dilalui dengan kerja dan kerja di kantor hingga jarang pulang kerumah dan bahkan sering melewatkan jam makannya. sudah tidak ada senyum dan kebahagian dalam hidupnya.
"Bos, sudah berhari - hari anda seperti ini, anda baru saja sembuh dari sakit kalau seprti ini anda bisa kembali sakit." ucap Dika mengingatkan
"Emm" hanya itu yang keluar dari mulut bosnya
. seolah tak memperhatiakan apa yang dikatakn sekertarisnya.
"Bos bagaimana kalau kita pergi makan siang dulu?" ucap Dika berusaha membujuk bosnya
"Kamu duluan saja, nanti saya nyusul" ucap Fikri tanpa melihat Dika dan tetap fokus pada berkas - berkas dimejanya.
Melihat Bosnya yang tidak bergeming dari tempat duduknya, Dika juga mengurungkan niatnya untuk makan siang.
"Fikri" ucap Bu Lina tiba - tiba masuk keruangan Fikri
Fikri hanya diam melihat kearah Bu Lina tanpa menjawab.
"Mama mau kamu segera menikah dengan Dela. Mama sudah tua, Mama ingin kamu segera menikahi Dela. sampai kapan kamu mau seperti ini terus" ucap Bu Lina
Fikri tersenyum memandang Mamanya
"Fikri selamanya tidak akan menikah Ma. keinginan Mama sudah terkabul kan? Fikri sudah tidak mungkin menikah dengan Rara. sekarang Rara sudah menikah dengan Adi. apa lagi yang Mama mau dari Fikri? kurang kah Mama menghancurkan hidup Fikri?"
__ADS_1
"Mama mau kamu segera menikahi Dela!" ucap Bu Lina
"Semua sudah Fikri lakukan untuk Mama termasuk menelantarkan anak Fikri sendiri. tapi untuk menikahi Dela maaf Fikri tidak akan pernah lakukan"
"Kamu harus tetap menikah dengan Dela!" ucap Bu Lina dengan sura meninggi
"Tidak akan pernah Fikri lakukan. selamanya Fikri tidak akan menikah"
"Baik kalau itu mau kamu, Mama akan rebut anak kamu yang ada pada Rara."
"Apa maksud Mama?"
"Jika kamu tidak mau memberi Mama cucu dari Dela, Mama akan merebut anak kamu dari Rara"
"Anak Fikri? apa Mama tidak malu berkata seperti itu? Mama tidak pernah mau mengakui dia anak Fikri dan sekarang tiba - tiba Mama bilang mau merebutnya dari Rara? apa haknya Mama?" Fikri tidak habis pikir dengan Mamanya
"Kamu yang membuat Mama melakukan semua itu, semua tergantung kamu. kalau kamu tidak menikahi Dela. Mama akan merebut anak itu dengan cara apapun"
"Fikri sungguh tidak menyangka, Mama wanita yang selama ini selalu Fikri hormati ternyata sekeji ini. Fikri menyesal selama ini salah menilai Mama"
"Mama tidak perduli dengan penilaian kamu, kamu putuskan sendiri sekarang! menikahi Dela apa Mama ambil anak Rara" ucap Bu Lina meninggalkan ruangan Fikri
"Argggg... kenapa Mama selalu egois" teriak Fikri menggedor meja didepannya hingga membuat Dika kaget
"Bos, sabar ya" ucap Dika kawatir dengan Bosnya
***
Kali ini hatinya sudah bertekat akan menerima Adi seutuhnya. dan akan belajar mencintai Adi.
"Adi" Rara melambaikan tangan melihat Adi yang sudah berjalan keluar membawa kopernya
Rara mengulurkan tangannya dan membuat Adi sedikit kaget tapi segera membalas uluran tangan Rara dan betapa terkejutnya Adi saat Rara mencium tangannya dan tersenyum manis pada Adi
"Ra, ini.." belum sempat menyelesaikan kata - katanya sudah dipotong sama Rara
"Iya, mulai sekarang aku ingin menjadi istri yang baik buat kamu" ucap Rara senyum
Tanpa mereka sadari ternyata Fikri yang hendak melakukan perjalanan bisnis saat ini juga disana, melihat mereka dari kejauhan.
"Sepertinya Rara sudah bahagia dengan Adi"gumam Fikri segera berlalu tidak ingin terlihat Rara dan Adi
***
__ADS_1
Sampai dirumah Adi sambut El dan mertuanya.
"Daddy" ucap El saat digendongan Adi
"Daddy"Adi sedikit terkejut dan tersenyum merasa ada perasaan lega dan tidak menyangka El akan memanggilnya Daddy
"El sangat senang waktu aku bilang sekarang kamu Daddy nya, sudah lama El ingin mempunyai Daddy" ucap Rara mengelus punggung El yang ada digendongan Adi
"Anak Daddy sudah makan?" ucap Adi melihat El
"Sudah" jawab El manja dan merangkulkan tangannya di leher Adi.
"Pinter anak Daddy, kangen Deddy??" ucap Adi lagi
"Emm" El mengangguk
"Daddy juga kangen"
Adi menggendong El kekamarnya dab terlihat oleh Rara mereka sangat bahagia dan tertawa menuju kamar.
"Lihatlah Ra, betapa bahagianya El bersama Adi." ucap Bu indah menepuk bahu Rara
"Iya, Mama benar. seharusnya sejak lama Rara lakukan ini" ucap Rara
"Tidak apa - apa Ra. semua belum terlambat. jadilah istri yang baik untuk Adi." Bu indah menasehati putrinya
"Iya Ma, mulai sekarang Rara sudah memutuskan akan mencoba membuk hati Rara untuk Adi. Rara sadar Ma, Rara selama ini terlalu egois dan Rara sudah menyia - nyiakan hidup Rara"
Bu indah memeluk putrinya, mengusap punggung Rara lembut.
Sementara Fikri yang saat ini sedang melakukan perjalan bisnis di Kanada pikirannya tidak bisa fokus pada pekerjaan, presentasinya berantakan, dirinya kehilangan kontrak kerjasama yang nominalnya tergolong cukup besar.
Membayangkan Rara dan Adi cukup membuat pikirannya kalut dan tidak fokus pada presentasi yang seharusnya bisa dilakukan dengan mudah.
Fikri teringat akan perkataan Bu Lina yang menyuruhnya memilih menikahi Dela atau El akan direbut Mama nya.
Fikri yang kini tau seperti apa Mamanya menjadi tidak tenang, Fikri takut Rara akan menderita lagi. selama ini Rara sudah cukup menderita karena dirinya.
Dikamar hotel Fikri hampir tidak bisa memejamkan matanya. memikirkan pilihan mana yang harus diambil.
Menikah dengan Dela terlalu berat karena tidak ada cinta diantara keduanya, bahkan ada perasaan benci pada Dela. tapi membiarkan Mama nya mengusik kebahagian Rara juga bukan pilihan.
Rara sudah terlalu banyak menderita karena Mamanya kali ini Fikri tidak ingin melihat Rara menderita lagi.
__ADS_1
"Mungkinkah aku harus menikahi Dela?"
Mohon dukungan dari teman - teman dengan cara Like, coment dan Vote jika ada ya. dukungan kalian sangat berarti bagi Author. terimakasih