
Suasana meja makan terasa hening, semua terdiam. Bu Mira yang menatap Fikri dengan tatapan tajam. Fikri yang terasa sangat canggung berada tengah-tengah mereka.
Dalam hati Fikri bertanya-tanya, apa kah mingkin Bu Mira mengundang nya kesini untuk memperingatkan dirinya agar menjauh dari Rara dan anak-anak nya? atau apa Bu Mira merasa terganggu dengan kedekatanku dengan El yang selama ini orang lain beranggapan El anak Adi?
"Fikri silah dimakan" ucapan Bu Mira membuyarkan lamuan Fikri.
"I-iya tante" jawab Fikri sedikit gugup.
Fikri yang terbiasa berbicara didepan orang-orang penting dan terbiasa memberi arahan untuk anak buahnya baru ini merasa seperti tidak bisa bicara. lidahnya terasa kaku.
Perasaan gugup, takut menguasai dirinya lantara harus berhadapan dengan mertua dari wanita yang dicintainya.
Bahkan ini lebih buruk ketimbang harus berhadapan langsung dengan orang tua Rara.
"Gimana masakan tante? enak tidak?" tanya Bu Mira ketika Fikri mulai memasukan makanan ke mulutnya
"Enak tante, sangat enak. setelah sekian lama kepergian mama. ini pertama kalinya Fikri makan masakan rumahan" Ucap Fikri sedih
"Syukurlah kalau kamu menyukai nya" ucap Bu Mira senyum
Sampai disini Fikri masih belum faham dengan keramahan yang ditunjukkan Bu Mira kepadanya.
"El, Raya minggu kemarain ketaman hiburan sama uncle Fikri gimana? apa kalian senang?"
Deg...
Seakan jantung Fikri mau copet mendengar Bu Mira menanyakan pertanyaan itu pada anak-anak. karena Fikri berpikir mertua Rara tidak mengetahui kalau mereka pergi bersama. Rara juga tidak pernah menceritkan kalau mertuanya mengetahui kedekatan mereka.
"Iya Oma kami senang. uncle Fikri baik. sayang sama Raya dan kak El" jawab Raya dengan wajah polos nya
Mendengar jawaban dari Raya, Fikri semakin cemas Bu Mira akan salah faham. iya dirinya mamang akan memperjuangkan Rara dan anak-anaknya tapi mengatakan yang sebenarnya pada Bu Mira untuk saat ini dirasa kurang tepat. karena kepergian Adi yang tidak lain adalah putra Bu Mira belum terlalu lama.
Akan tidak etis rasanya kalau dirinya terburu-buru menyampaikan keingin nya untuk memperistri Rara.
__ADS_1
"Em..begitu ya" ucap Bu Mira senyum penuh arti.
"Fikri, ayo makan yang banyak. jangan sungkan-sungkan" ucap Bu Mira lagi
"Iya tante" jawab Fikri singkat
Terlihat Fikri yang sangat canggung, begitu pun Rara yang hanya diam belum mengerti maksud mertuanya mengundang laki-laki yang merupakan mantan kekasih dari menantunya.
"Raya kenapa jadi pendiam gini? apa kehadiran Mama membuat kalian merasa tidak nyaman ya?" ucap Mira
"Tidak ma, Mama kenapa bicara seperti itu? Mama orang tua Rara. kenapa harus merasa tidak enak. Raya hanya belum mengerti maksud Mama mengundang Fikri ini kenapa ya ma? kalau mama mau menanyakan masalah kami pergi bersama ketaman hiburan tempo hari. Rara bisa menjelaskan ke Mama nanti" ucap Rara yang masih dipenuhi tanda tanya dalam otaknya.
"Mama hanya ingin bertemu langsung dengan Fikri. apa nak Fikri keberatan dengan undangan tante ini?" Bu Mira melihat ke arah Fikri
"Tidak tante, sama sekali tidak. Fikri senang bisa diundang makan malam bersama tante dan semua disini." jawab Fikri
"Nanti setelah makan malam temui tante diruanh kerja ya" ucap Bu Mira pada Fikri
"Baik tante" tanpa ragu Fikri mengiyakan
***
Bu Mira meneyelesaikan makan nya lebih dulu dan pergi ke ruang kerja lebih dahulu.
Tak lama berselang, Fikri pun menyelesaikan makannya kemudian sesuai dengan permintaa. Bu Mira. Fikri menemui Bu Mira diruang kerja.
Tok..tok..
"Masuk" jawab Bu Mira
"Silahkan duduk" Ucap Bu Mira mempersilahkan Fikri duduk
Sementara Rara dengan jantung berdebar-debar tak mampu meraba apa yang ada didalam pikiran mertuany.
__ADS_1
"El, Raya cepat dihabiskan makan nya. setelah makan kalian masuk kamar, bersiap tidur ya." ucap Rara
"Bik Ratih, setelah makan tolong temani anak-anak tidur ya! ucap Rara pada Bik ratih
"Baik Non" jawab Bik Ratih
Untuk sesaat Bu Mira dan Fikri saling menatap.
"Apa kamu tau tujuan tante mengundang kamu kesini?" Bu Mira membuka suara
"Ti-tidak tante" ucap Fikri dengan jantung berdebar
"Bagaimana perasaan kamu sama Rara?" tanya Bu Mira
Deg...
Lagi-lagi pertanyaan Bu Mira membuat jantung Fikri tak karuan
"Apa sebaiknya aku jujur saja?" batin Fikri
"Tante, maaf sebumnya. bukan maksud Fikri tidak menghargai perasaan tante sebagai ibu almarhum Adi. tapi kalau tante mengajukan pertanyaan seperti itu. Fikri minta maaf sebelumnya tapi tidak bisa Fikri pungkiri dari dulu sampai sekarang perasaan Fikri untul Rara tidak pernah berubah. Fikri selalu mencintai Rara" jawab Fikri
"Kalau kamu bilang kamu selalu mencintai Rara tapi kenapa kamu selalu membiarkan Rara menderita selama ini?" tanya Bu Mira seolah menyidang perbuatan Fikri
"Iya tante, saya akui saya slah. selama ini saya tidak mampu melindungi wanita yang saya cintai. saya tidak mampu memahami perasaan Rara. saya sudah banyak membuat Rara menderita." Mata Fikri berkaca-kaca tak mampu menutupi kesedihan dan penyesalan.
"Apa alasan kamu membiarkan Rara kesakitan selama ini? kamu bilang kamu mencintai Rara tapi sikap kamu tidak menunjukan kamu mencintainya" ucap Bu Mira
"Saat itu Mama Fikri menentang hubungan kami, dan sebagai anak saya juga tidak bisa melawan Mama, saya akui saya salah. tapi keadaan saat itu menyudutkan saya pada pilihan yang sulit. dari kecil Mama berjuang sendiri membesarkan saya tanpa kehadiran papa. papa yang meninggalkan kami saat saya masih kecil. melihat perjuangan Mama membesarkan saya selama ini, membuat saya tidak berani melawan beliau" ucap Firki
"Lalu kamu tega membiarkan Rara kesakitan seorang diri berjuang melahirkan anak kamu dan membesarkan nya seorang diri dinegara orang? apa kamu bisa membayangkan nasib Rara dan El seperti apa kalau anak saya Adi tidak menikahinya? apa kamu tidak memikirkan gimana psikis El jika saat itu tumbuh tanpa Ayah disampingnya? bagaimana teman-teman sekolah akan memandangnya? apa semua itu tidak kamu pikirkan sebelumnya?" ucap Bu Mira memberi Fikri penekanan.
Fikri hanya terdiam, karena apa yang dikatakan Bu Mira sepenuhnya benar. entah apa yang ada dipikirannya saat itu. hingga tega membiarkan Rara menanggung beban penderitaan seorang diri. andai waktu bisa diputar kembali. pasti Fikri tidak akan semudah itu melepaskan Rara. berawal dari hasutan mama nya lah penderitaan Rara wanita yang sangat dicintainya terjadi.
__ADS_1
Bagai nasi yang sudah menjadi bubur, semua yang sudah terjadi dalam hidup tidak bisa diulangi kembali. dan hanya menyisakan penyesalan yang mendalam.
Haiiii....sayanxxx...terimaksih ya sudah setia menunggu update APKHI, jangan lupa tinggalkan jejak dengan Like, Coment dan Syukur-syukur mau Vote.hehehe...ngarep banget ya Author...