Aku Pergi Karena Hasutan Ibumu

Aku Pergi Karena Hasutan Ibumu
MENJALANKAN PERUSAHAAN


__ADS_3

Rara dan Fikri yang berada didepan sekolah El, keduanya menunggu El pulang sekolah dan akan mengajak El ketaman hiburan.


"Hai jagoan" Sapa Firki saat El keluar kelas


"Uncle Fikri disini" tanya El


"Iya, Uncle disini mau ketemu El, El apa kabar kok cemberut gini" Ucap Fikri duduk biar El tidak menengadah ke atas


"El kangen Daddy" ucap El berkaca - kaca dan Rara yang mendengar perkataan El pun seakan tak mampu menahan air matanya


"El, sini Uncle kasih tau. Daddy nya El tidak kamana - mana, tapi Daddy nya El ada di sini. dihati nya El. Daddy selalu hidup dihati El. El mengerti maksud Uncle" ucap Fikri menyentuh dada El


Firki menyadari kesedihan yang El alami. Fikri akui Adi adalah sosok Ayah yang sangat baik bagi El. dan karena Adi juga El tidak pernah kekurangan kasih sayang seorang ayah lantara ayah kandungnya sendiri tidak berhasil melindunginya.


"Em.." El mengangguk


"Pinter, mau uncle ajak jalan - jalan dulu?" tanya Fikri dan El menatap arah Rara


Fikri melihat Rara dan seolah memberi kode dengan matanya untuk mengiyakan


"Iya sayang Mommy ijinkan" ucap Rara memberi ijin


"Tapi Mommy ikut juga ya" ucap El


"Mommy juga" Rara menjuk dirinya mengarahkan jari telunjuknya ke dadanya


"iya Mom" jawab El mengangguk


Kini ketiganya ada ditaman hiburan, El sejenak tampak senang bermain - main disana.


"Fikri terimakasih, sudah membuat El tersenyum kembali" ucap Rara yang masih berjalan dibelakang El


"Em, sudah semestinya Ra. selama ini aku tidak pernah ada dimasa peetumbuhannya tapi aku bersyukur ada Adi yang membuat El tidak pernah kehilangan sosok Ayah dalam hidupnya. Aku sudah banyak dosa pada kamu dan El." ucap Fikri merasa sedih


"Iya, Adi adalah laki - laki yang sangat luar biasa. bertemu dan mengenal Adi adalah Anugrah terbesar dalam hidupku. aku tidak akan pernah mampu melawati semua ini tanpa Adi." ucap Rara


"Maaf ya Ra, kembali membuat kamu sedih" ucap Fikri


"Tidak apa - apa, aku tidak bersedih kok, aku sudah berjanji pada Adi tidak akan sedih dan tidak akan menangis karena kesedihan lagi. aku hanya akan menangis karena bahagia. karena itu lah yang Adi inginkan." Ucap Rara mengingay Adi


"Jujur aku malu Ra, aku malu sama kamu dan Adi. selama ini aku hanya memberi kesedihan padamu. bisa dikatakan mungkin aku ini sumber penderitaan kamu" ucap Fikri merasa tidak berguna


"Sudah lah, masa itu sudah berlalu. sekarang tujuan hidupku hanya membesarkan El dan Raya. memberikan mereka kebahagian untuk mereka." ucap Rara

__ADS_1


"Mommy, Uncle. El mau makan itu" ucap El menunjuk permen kapas


"El mau itu?" tanya Fikri menunjuk permen kapas didepan


"Iya El mau" jawab El mengangguk


"Okay jagoan, ayo kita beli" ucap El menggendong El


"Yeee" teriak El bahagia


"El turun sayang, kasian Unlce Fikri keberatan nanti, kamu kan udah besar" ucap Rara


"Tidak apa - apa kok Ra, tidak berat. uncle seneng malah gendong El" ucap Fikri yang masih menggendong El


***


"Oma" El memanggil Bu Mira dan meleluknya


"Cucu Oma, kok baru pulang?" tanya Bu Mira


"Iya Oma, tadi El habis jalan - jalan dari taman hiburan" ucap El bahagia


"Taman hiburan? sama siapa?" tanya Bu Mira


"Sama Aunty Ratih Ma, tadi kebetulan Rara ketemu Ratih teman SMA Rara dan Adi dulu Ma, terus Rara inisiatif ngajak El ke taman hiburan biar tidak sedih terus. karena Rara perhatikan sepertinya El masih susah menenrima kenyataan Ma" sahut Rara memberi kode ke El, tidak ingin mertuanya berpikir yang tidak - tidak.


"Iya Ra, sering - sering ajak El dan Raya pergi ketempat - tempat yang ramai biar mereka tidak larut dalam kesedihan" ucap Bu Mira


"Mom, El kekamar dulu ya" ucap El melangkahbke kamar


"Iya sayang, segera ganti baju ya" teriak Rara


"Ma, Mama sendiri gimana? kalau Mama butuh apa - apa atau Mama pengen keluar mencari suasana baru. Mama bilang sama Rara ya, biar Rara temani Mama" ucap Rara memegang tangan Bu Mira


"Mama kasian kamu Ra, sekarang kamu harus menghendle perusahaan Adi, yang Mama tau pasti bukan lah hal yang gampang bagi kamu, harus ke kantor, ngurua anak, antar jemput anak. pasti hidup kamu sudah cukup berat. Mama tidak mau menambah beban untuk kamu" ucap Bu Mira


"Ma, tolong jangan bicara seperti itu lagi ya! Rara menjalani takdir ini dengan iklas. karenanya Rara tidak merasa berat Ma. demi Anak - anak Rara akan kuat Ma. dan Rara akan merawat dan menyanyangi Mama sama seperti Rara menyanyangi orang tua Rara." ucap Rara


"Terimakasih ya Ra" Bu Mira memeluk Rara


****


Dikantor

__ADS_1


Tok..tok..


"Masuk" jawab Rara


"Bu Rara, lusa kita kedatangan klien dari New york bernama Mr. Jack. beliau klien yang sudah cukup lama bekerjasama dengan perusahaan kita." ucap Lusi memberitahu


"Mr. Jack ya, okay atur saja schedule saya" jawab Rara melihat Lusi dan kembali melihat dokumen - dukumen yang ada dihadapannya


"Baik Bu saya permisi" ucap Lusi pamit dan kembali menutup Pintu


"Huft.." Rara menghembuskan nafas panjang dan menyandarkan kepalanya di kursi.


Kepala nya terasa penat dengan pekerjaan yang menumpuk dihapananya. sebagai seorang Presdir tentu saja Rara tidak bisa bersantai karena perusahan membutuhkannya. perushaan Adi ini sudah di rintis dari Papanya Adi dan diteruskan ke Adi. tentu saja Rara tidak ingin perusahan yang telah mertua dan suaminya Rintis hancur begitu saja.


"Adi semoga saja, aku bisa meminpin perusahan ini dan memajukan perusahaan ini. aku tidak ingin membuat kamu kecewa" gumam Rara dan kembali melihat pekerjaan didepannya.


Dret...dret..


Panggilan masuk dihape Rara


"Hallo Ma" ucap Rara mengangkat telphon dari Bu Mira


"Ra, kamu bisa pulang dulu? Raya badannya demam" ucap Bu Mira


"Raya demam Ma?" tanya Rara panik


"Iya Ra, badannya panas. ini mama bawa Raya kerumah sakit, kamu langsung kesini saja ya" ucap Bu Mira


"Iya Rara segera kesana Ma" jawab Rara mematikan telphonnya dan segera berlari seraya menyambar tas dimeja nya.


Rara yang begitu panik mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dirumah sakit Rara berlari mencari ruang Raya dirawat.


Kembali memasuki rumah sakit membuat Rara teringat kenangan akan kepergian Adi. ketakutan menyelimuti hatinya, karena dirumah sakit Rara hasus menelan pil kepahitan kehilangan sosok orang yang sangat baik dalam hidupnya.


"Raya kamu tidak apa - apa kan sayang" ucap Rara panik dikamar rawat Raya


"Raya sedang tertidur Ra, barusan diberi obat sama dokter" ucap Bu Mira


Rara menjatuhkan tubuhnha dikursi memandangi Raya.


Tanpa disadari air matanta mengalir dan segera diusapnya teringat akan janjinya pada Adi.

__ADS_1


Mohon dukungan dari teman - teman dengan like, coment dan Vote jika ada ya. terimakasih


__ADS_2