Aku Pergi Karena Hasutan Ibumu

Aku Pergi Karena Hasutan Ibumu
KEPUTUSAN TERBAIK


__ADS_3

El terlihat sangat bahagia dikelilingi orang - orang yang mencintainya. melihat El bermain bersama Pak Dody dan Bu Indah, melihat Mama dan Papanya juga tertawa bersama El membuat Rara meneteskan kembali air matanya tapi kali ini tentu saja air mata kebahagian. Sudah lama rasanya Rara tidak sebahagia ini.


"Ra, Apa selamanya kamu akan membesarkan El sendiri? El juga butuh sosok seorang Ayah sebagai panutan." tanya Adi memandang El yang sedang bermain sama nenek dan kakaknya diruang keluarga.


"Entahlah, aku harus bagaimana menurutmu"


"Ra, ijinkan aku menjadi ayah buat El " ucap Adi memandang wajah Rara berusaha menyakinkan


"Tapi El bukan anak kamu, bagaimana bisa kamu menjadi ayahnya?"


"Rara, mungkin aku bukan ayah biologisnya, tapi aku janji Ra, aku akan menyayangi El seperti Anak kandungku sendiri. selama ini aku selalu mencintai kamu. tapi aku memilih diam karena aku tau kamu mencintai Fikri dan kamu tidak pernah melihatku. tapi sekarang semua sudah tidak sama. sekarang ada El yang harus kamu pikirkan. El butuh seorang Ayah" ucap Adi


"Di, aku tau kamu baik. baik banget malah, tapi ini tidak adil untukmu"


"Ra, aku mencintai kamu dan itu tidak pernah berubah, tidak ada yang berubah Ra. Bagiku kamu tetap Rara yang dulu, Rara yang aku cintai. dan aku juga akan mencintai El." ucap Adi menyakinkan Rara


"Beri aku waktu ya Di, aku akan mikirkannya"


Sejak tawaran Adi malam itu, hampir setiap malam Rara tidak bisa memejamkan matanya


Saat memandang El yang sedang tidur ada rasa perih dalam hatinya, Rara menyadari suatu saat nanti El pasti akan menanyakan perihal ayahnya.


Rara menarik nafas dalam sembari berpikir


"Apakah sudah waktunya aku melupakan Fikri?" batin Rara


"Ra, boleh Mama masuk?" ucap Bu Indah didepan pintu kamar


"Iya Ma" Rara mengangguk mempersilahkan


"Ra, pikirkanlah apa yang dikatakan Adi. apa kamu tega membiarkan El tumbuh tanpa seorang ayah?" ucap Bu Indah mengusap lembut bahu Rara


"Ma, apa menurut Mama ini benar? apa tidak kasian Adi? bukankah tidak adil buat Adi, harus menerima El.padahal El bukan anaknya." ucap Rara menatap putranya yang sedang tertidur


"Akan lebih kasian kalau kamu membiarkannya, Mama saja bisa melihat kalau selama bertahun - tahun Adi itu mencintai dan menunggumu. beri Adi kesempatan Ra. terkadang kita ini harus menjalani kehidupan yang mungkin tidak sesuai keingin kita, tapi justru dari situ kita akan mendapatkan kebhagian yang tidak pernah kita duga" ucap Bu Indah menasehati Rara


Mendengar nasehat dari Bu Indah, Rara mulai membuka hati dan pikirannya

__ADS_1


Dirinya tidak bisa egois lagi, ada El yang akan tumbuh dewasa dan akan membutuhkan sosok seorang ayah.


Rara mengambil hape yang diletakan diatas mejanya dan menghubungi Adi


"Adi bisa kerumah sekarang?" tanya Rara


"Sekarang Ra?" ucap Adi melihat jam didinding rumahnya menunjukan pukul 23.25 wib.


"Kalau gak bisa ya udah gak papa" ucap Rara


"Bisa, bisa. siapa bilang gak bisa? tungguin sebentar lagi sampai" ucap Adi segera mematikan panggilan telphonenya dan segera berlari menybar kunci mobil dimejanya.


Tidak butuh waktu lama Adi sudah memasuki halaman rumah Rara dan Rara yang sudah berdiri diluar menunggunya.


"Ra, kenapa diluar? kan dingin." ucap Adi segera melepas jaketnya dan memakaikannya untuk Rara


Ya, seperti itu lah Adi laki - laki yang selalu perhatian. walaupun perhatian itu tidak pernah bisa menggerakan hati Rara untuk melihatnya dengan cinta. karena Rara hanya melihatnya sebagai sahabat


"Adi, malam ini aku ingin memberi kamu jawaban soal lamaran kamu tempo hari" ucap Rara memandang Adi di taman rumah Rara


"Baiklah Adi aku akan coba, aku akan coba mencintai kamu. walaupun jujur saat ini memang aku belum mencintai kamu karena selama ini aku menganggap kamu sebagai sahabat. tapi kali ini aku akan mencoba membuka hatiku untuk bisa mencintai kamu" ucap Rara


"Rara, kamu mau memberi aku kesempatan untuk menjadi ayah El saja aku sudah bahagia. dah aku akan sabar menunggu kamu benar - benar bisa mencintai aku Ra, aku akan sabar menunggu hari itu tiba. hari dimana kamu benar - benar mencintai aku." ucap Adi bahagia dan memeluk Rara.


****


"Dik, sudah berhari - hari aku disini. aku sudah bosan tolong urus kepulanganku" ucap Fikri memerintah Dika


"Tapi Dokter belum memberi ijin bos, tunggu beberapa hari lagi sampai bos benar - benar pulih" ucap Dika


"Bagaimana dengan urusan kantor?" ucap Fikri


"Kantor aman bos, sebaiknya bos istirahat"


"Tolong bawakan berkas - berkas yang harus saya tanda tangani kesini. saya bosan kalau hanya tiduran saja" ucap Fikri


Klek

__ADS_1


Suara pintu kamar dibuka


"Fik, bagaimana keadaan kamu hari ini? ini alu bawain sup ayam. dimakan ya!" ucap Dela meletakan rantang dimeja sebelah Fikri


"Lain kali tolong biasakan ketuk pintu dulu sebelum masuk" ucap Fikri ketus


"Iya maaf Fik, aku terlalu bersemangat ingin segera melihat keadan kamu hari ini" ucap Dela


"Dan sebaiknya lain kali tidak usah repot - repot bawa makanan. semua sudah ada disini" Fikri yang tampak muak dengan sikap Dela


"Fik, tolong jangan seprti ini, iya aku tau, aku salah dan tolong maafin aku. aku lakuin semua itu karena aku memcintai kamu" ucap Dela


"Del, tolong keluar dulu! aku capek. mau istirahat" ucap Fikri kembali tidur dan menaikan selimutnya menutupi tubuh nya.


"Tidak, aku tidak akan keluar. aku akan menunggumu disini. tidur lah kalau mau tidur, tapi aku tidak akan keluar. karena Tante Lina sudah berpesan untuk tidak meninggalkan kamu" ucap Dela keras kepala


Fikri tidak menjawab dan lebih memilih pura - pura tidur, Dika yang berada ditengah - tengah pertengkaran bosnya ini memilih keluar meninggalkan ruangan tempat Fikri dirawat.


Dirumah Rara, Adi sedang bermain kuda - kudaan bersama El. Pak Dody dan Bu Indah tersenyum melihat kebersamaan El dan Adi.


setelah penderitaan yang selama ini dialami Rara, kini Pak Dody dan Bu Indah berharap kali Ini Rara akan menemukan kebahagiannya bersama Adi.


Karena Pak Dody dan Bu Indah tau, Adi sangat mencintai Rara.


"El sudah dulu mainnya, kasin unlce Adi biar minum dulu" ucap Rara yang membawa teh dari dapur


"Adi, diminum dulu teh nya" tambahnya lagi


"Ma, Pa, diminum teh nya" Rara meletakan teh dimeja


Semua menikmati teh yang dibuat Rara, sekarang keluarga ini tampak lengakap setiap orang tersenyum bahagia.


Rara melihat kebahagian terpancar jelas diraut wajah Pak Dody dan Bu Indah.


"Rasanya sudah lama, aku tidak pernah melihat Mama dan Papa tertawa lepas separti sekarang. mungkin ini lah keputusan terbaik yang pernah aku ambil dalam hidupku" batin Rara


Terimaksih masih setia menanti karya Author, mohon dukungannya ya ,dengan Like, coment dan Vote. dukungan kalian sangat berarti bagi Author

__ADS_1


__ADS_2