
"Hah? Menyukai salah satu dari mereka?Hhhh..Kenapa bayi besarku memiliki selera yang buruk sih." gumam Jonathan.
Hayden terkekeh.
"Mereka berdua itu cantik kan?" tanya Hayden.
"Apanya yang cantik muka datar? Mereka itu aneh tahu." kesal Jonathan.
"Memangnya seleramu seperti apa? Kau kan belum pernah punya pacar,Jo." ejek Hayden.
"Kau mau tahu. Seleraku itu tinggi." bangga Jonathan.
Hayden memutar bola matanya malas.
"Seleraku itu seperti Ariana Grande dan Selena Gomes." bangga Jonathan.
"Terserah dirimu saja." ucap Hayden datar dan kembali fokus mengemudi.
"Lalu siapa?" tanya Jonathan.
"Apanya yang siapa?" tanya Hayden balik tanpa melihat pada Jonathan.
"Ckk. Tentu saja yang Max sukai. Jadi siapa yang disukai Max?" tanya Jonathan kesal.
"Kau pasti tahu siapa orangnya?" ucap Hayden.
Jonathan mendelik.
"Ishh! Kau ini! Makanya aku bertanya karena aku tidak tahu muka datar!" teriak Jonathan..
Hayden mendengus.
"Yang lebih mencari tahu itu kan si Clara. Jadi tentu saja yang disukai pun berarti Clara. Itu mudah Jo. Ckk..Masa kau tidak mengerti." jelas Hayden.
"Ya aku memang tidak tahu. Aku memang berpikir kearah sana tapikan itu pendapatku. Kau yang lebih tahu faktanya."
Jonathan mencebikkan mulutnya.
"Hm.." Hayden hanya berdehem.
"Ishh dasar..ham hem ham hem saja. Sekarang jelaskan padaku bagaimana kronologinya?" tanya Hayden.
"Hhh..Max diam-diam sering memperhatikan Clara. Entah itu di kantin,di lapangan sekolah, intinya di sekolah ia selalu memperhatikan Clara tapi ia tidak pernah menyatakan perasaannya. Tapi beberapa hari sebelum ia kritis dan harus segera dioperasi,entah itu firasat atau apa? Max mulai berani menampakan diri didepan Clara. Ia membantu Clara berlatih badminton dan ia juga berani menyatakan cintanya tapi ia menyembunyikan namanya dengan nama inisial yaitu M. Setelah itu keesokan harinya Max kambuh dan entah firasat atau apa Max lagi-lagi bersikap aneh. Ia menyuruhku untuk membuat semua orang di sekolah tak mengenalinya. Awalnya aku bingung tapi kemudian aku mengerti ternyata itu karena Clara dan Cassie akhirnya mencari dia dan mencari dimana kelasnya dan karena semua orang sudah bekerja sama akhirnya tidak ada yang memberitahukannya pada Clara. Bahkan semua dibuat seakan-akan Max atau M itu tidak pernah ada. Lalu setelah itu kejadian mengerikan terjadi Max kritis dan harus segera dioperasi jika tidak kita akan kehilangan Max. Setelah itu Maxpun pindah sekolah dan harus homeschooling . Lalu tak lama setelah itu tante Aulia menikah dengan om Harry,ommu dan setelah itu kau tahu kan bagaimana kelanjutan ceritanya." jelas Hayden.
Setelah penjelasan dari Hayden tidak ada suara lagi yang terdengar. Hanya keheningan yang mendominasi.
Mobilpun sampai ke tempat yang mereka tuju yaitu rumah sakit.
Hayden keluar terlebih dahulu tapi tidak dengan Jonathan.
Hayden mengernyit bingung.
BRAKK!
Hayden menggebrak pintu luar mobil sehingga membuat Jonathan yang sedang melamun terlonjak kaget.
"Yak! Muka datar apa yang kau lakukan?! Kau mau membuatku mati muda hah?!" teriak Jonathan.
"Keluar!" perintah Hayden
Jonathan melihat kesekeliling.
"Oh,sudah sampai. Kenapa kau ti.."
Jonathan tak jadi melanjutkan ucapannya saat ternyata Hayden sudah berada jauh didepannya.
__ADS_1
"Yak! Hayden! Tunggu aku!" panggil Jonathan dan segera menyusul Hayden.
Sementara itu Clara dan Cassie mengikuti mereka dari belakang.
****
"Baiklah,Bunda pulang dulu. Rio, bunda titip Max ya."
Mario memberi hormat pada Aulia.
"Siap bun. Tenang saja Max tidak akan bisa kemana-kemana." ucap Mario sambil melirik Max dengan senyum miringnya. Membuat Max yang melihatnya mendecih.
"Ya sudah. Max sayang kalau ada apa-apa katakan pada kakakmu ya jangan ditahan." ucap Aulia. Max mengangguk.
Saat Aulia membuka pintu ternyata di luar sudah ada Jonathan dan Hayden yang baru saja akan membuka pintu.
"Eh,Jo,Hayden kalian sudah datang? Tapi kenapa tidak pulang dulu ke rumah?" ucap Aulia saat ia melihat Jonathan dan Hayden masih mengenakan seragam sekolah.
"Sudah rindu sama bayi besar tante."
Jonathan dan Hayden lalu mencium tangan Aulia. Aulia terkekeh mendengar Max yang sering di panggil bayi besar oleh mereka.
"Ya sudah kalian masuk saja,kebetulan Max baru bangun tidur. Tante harus pulang dulu untuk mengurus sesuatu di rumah."
Jonathan dan Hayden pun mengangguk.
"Hati-Hati tan."
Auliapun pergi dan masuklah Jonathan dan Hayden.
"Mana oleh-olehnya?" tanya Mario saat melihat Hayden dan Jonathan masuk.
"Ya ampun Yo. Kita baru datang tapi sambutannya sudah semanis ini." jawab Jonathan kesal.
Hayden mengeluarkan sebuah coklat kacang almond dari dalam tas dan memberikannya pada Max.
Max mendengus kesal lalu memukul lengan Hayden pelan.
"Kenapa?" tanya Hayden bingung.
Max memutar bola matanya malas.
"Terserah." jawab Max pelan. Dari jam sepuluh pagi tadi,Max memang sudah merasa lemas,Ia akan merasa cepat lelah meskipun hanya untuk sekedar berbicara padahal infusnya sudah diganti dengan infus baru oleh suster.
"Jangan ganggu adikku. Sekarang mana coklat untukku?" peringat Mario sambil menyodorkan tangannya pada Hayden. Hayden meliriknya sekilas lalu fokus kembali pada Max.
"Tidak ada."
Mario membuka mulutnya lebar. Ingin sekali ia mengumpat tapi tak jadi setelah Jonathan bersuara.
"Kami tidak sempat mampir ke supermarket atau minimarket Yo tadi ada sedikit masalah. Kalau Hayden dia beli di kantin katanya khusus untuk bayi besar." jelas Jonathan.
Max mendelik kearah Jonathan. Jika ia berada dalam kondisi yang sehat mungkin Max akan menendang dua makhluk ini yang seenaknya mengatai ia bayi besar.
"Kau lemas ya bayi besar?" tanya Hayden.
Max lagi-lagi mendengus telinganya sudah pamas mendengarnya meskipun akhirnya ia hanya bisa mengangguk.
"Sedikit."jawab Max pelan.
"Aku pijat ya."
Max mengangguk lagi. Haydenpun duduk disamping Mario disamping kaki Max disebelah kiri Max. Iapun memijat kaki Max pelan yang memang sering terasa pegal jika Max terlalu lama berbaring. Sedangkan Jonathan beralih ke kanan samping ranjang Max.
"Awas jangan dekat-dekat dengan infus Max. Sedikit saja kau senggol infusnya. Ku usir kau dari sini." ucap Mario.
__ADS_1
Jonathan mendengus.
"Bagaimana bisa harimau memiliki kembaran kelinci? Kau tidak berniat menukar kakakmu Max?" tanya Jonathan.
Max terkekeh pelan mendengarnya sedangkan Mario ingin sekali memukul Jonathan detik itu juga tapi ia sadar terlalu banyak peralatan medis di bagian kanan Max akan berbahaya jika salah satunya tersenggol.
Jonathan tersenyum remeh dengan menaik turunkan alisnya.
"Ahaahhaha amarah yang tak tersalurkan." ejek Mario. Max dan Hayden terkekeh mendengarnya.
"Jangan berbicara seperti itu. Dia itu kakakku Jo." ucap Max pelan.
"Hahhaha."
Sekarang Mario yang tertawa bangga sambil menaik turunkan alisnya .
"Dengarkan bayi besarku bicara." ucap Mario senang tapi tak lama karena Max masih melanjutkan ucapannya.
"Meskipun dia mudah marah dan kadang seperti harimau yang kelaparan atau vampir pemakan darah tapi dia sangat menyayangiku Jo dan aku juga sangat menyayanginya. Dia itu kakak terbaikku." lanjut Max sambil tersenyum.
Mario yang mendengarnya langsung bungkam. Ia ingin marah tapi tak bisa. Sebenarnya adiknya ini membelanya atau mengejeknya sih.Pikirnya.
Mario melirik kearah Hayden dan Jonathan yang terkekeh.
"Ckk. Kenapa ditahan,hah? Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang." ucap Mario kesal dan tanpa aba-aba seketika tawa dua anak manusia itupun menggelegar tak ingat jika mereka saat ini sedang di rumah sakit dan tawa yang paling kencang tentu saja Jonathan.
Max mengerjapkan kedua matanya polos
"Kenapa tertawa? Apanya yang lucu?" tanya Max bingung.
Membuat Hayden dan Jonathan tertawa semakin kencang.
Mario mencubit kedua pipi Max gemas.
"Ini gara-garamu bayi besar." ucap Mario yang terus memainkan pipi Max.
Max memajukan bibirnya lucu tanpa bersuara. Kesal karena kebiasaan kakaknya ini.
"Harimau kelaparan..hahhahahaa." Jonathan terus tertawa.
"Vampir pemakan darah..hahhaha." sekarang giliran Hayden yang tertawa.
Sebenarnya tidak ada yang lucu. Hanya saja melihat Mario yang ternistakan oleh adik kembarnya sendiri,membuat Hayden dan Jonathan bahagia.
Mario mendengus.
"Kubalas kalian berdua nanti." kesal Mario.
"Utu utu takut..hahhahaha." ejek Jonathan dan membuat Jonathan dan Hayden tertawa kembali.
Sementara itu di luar tepatnya didekat jendela Clara dan Cassie terus menguping.
"Sebenarnya Max sakit apa sampai harus dirawat di rumah sakit?" tanya Cassie.
"Dia terlihat baik-baik saja. Masih bisa bercanda dengan dua curut itu." lanjutnya.
Clara mengedikkan bahunya. Ia sendiri tidak tahu. Dari tadi mereka menguping tapi tidak ada satupun yang membahas tentang kondisi Max yang sebenarnya.
PLUK!
Tiba-tiba pundak Clara dan Cassie dipegang oleh seseorang dari belakang yang membuat mereka spontan berteriak.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak mereka berdua.
Max,Mario,Hayden dan Jonathan kaget.
__ADS_1
"Ada apa?"
BERSAMBUNG..