
Tepat pukul satu malam Reynaldy baru pulang ke rumahnya. Reynaldy memarkirkan motor silvernya di halaman rumah lalu menutup pintu gerbang dan menguncinya dengan gembok. Iapun segera berjalan masuk sambil memainkan kunci motornya di jari telunjuknya. Baru saja ia akan membuka pintu rumahnya dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa, pintu sudah terbuka lebar menampilkan sosok paruh baya yang berdiri tegap dengan rahang tegas yang sudah mengeras.
PLAKKKK!
Rey memegang pipinya yang terkena tamparan keras dari ayahnya. Ya orang tadi adalah ayah Reynaldy yang bernama Bowo.
"Masih ingat pulang kamu, hah?!"
Reynaldy bergeming sambil memegang pipi kirinya. Denyutan di pipinya sangat terasa ditambah rasa panas yang sudah menjalar ke seluruh wajahnya, bahkan rasa peningpun turut menyergapnya. Tamparan Bowo memang tak pernah main-main dan ia sudah sering merasakannya sampai beberapa kali.
"Dari mana lagi kamu, hah?! Kamu mau jadi berandalan?! Atau kamu mau jadi pembunuh seperti adikmu, hah?! Jawab ayah! Jawab!"
Reynaldy menatap tak suka pada Bowo. Iya masih terima jika ayahnya menghinanya tapi ia tidak terima jika ayahnya menghina adiknya.
"Roy adik aku Yah. Dia bukan pembunuh!" balas Reynaldy tak terima.
Bowo terkekeh mendengarnya.
"Kamu bodoh atau pura-pura tidak tahu, hah?!" sentak Bowo.
"Dia di penjara atas kasus percobaan pembunuhan. Ada CCTV sebagai buktinya dan juga adikmu sudah mengakuinya. Jadi kau tidak bisa mengelaknya lagi Rey."
Reynaldy menatap tajam Bowo.
"Hanya percobaan pembunuhan Yah! Bukan pembunuhan! Korbannyapun masih hidup." sanggah Reynaldy keukeuh.
"Lagi pula kenapa ayah jadi seperti ini? Ayah berubah. Ayah tidak seperti ayah yang Rey kenal. Sekarang Ayah jadi kasar dan tidak peduli lagi pada kami." ucap Reynaldy sambil menunduk menatap lantai yang dingin.
Bowo tersenyum sinis.
"Kamu harusnya sadar Rey. Ayah seperti ini karena siapa? Semua ini karena kamu dan adikmu! Perusahaan ayah bangkrut karena para investor menarik sahamnya dari perusahaan kita dan itu disebabkan oleh adikmu! Adikmu sudah mencoreng nama baik kita. Nama baik keluarga kita!!"
Rey menunduk sambil mengepalkan tangannya erat.
"Dan kamu! Dan kamu sama saja dengan dia! Yang kamu bisa hanya berbuat ulah di sekolahmu!" teriak Bowo.
"Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa ayah tetap baik padamu, hah?! Jawab Rey! Jawab!" lanjutnya.
"ARGHH!!! Dosa apa ayahmu ini sampai memiliki anak yang tidak berguna seperti kalian!!!"
PRANGG!!
Bowo melempar vas bunga yang ada di ruang tamu kearah tembok sampai semuanya berserakan kemana-mana lalu ia segera pergi ke kamarnya di lantai dua meninggalkan Reynaldy dan semua kekacauan yang ia buat.
"Brengsek. Berengsek!!! Kenapa semua jadi seperti ini?!"
"ARGHHHH!!!" teriak Reynaldy sambil menjambak rambutnya.
Tubuhnya meluruh kelantai lalu bersandar ditembok.
"Aku rindu ayah yang dulu..Aku rindu keluarga kita yang dulu.. Roy..kakak butuh kamu..hikshiks.."
Air mata yang sedari tadi ditahanpun tak lagi terbendung.
****
"Kamu tenang ya. Aku yakin Max pasti segera bangun. Ia anak yang kuat. Max tidak akan pernah menyerah bergitu saja." ucap Abdi menenangkan.
Aulia mengangguk.
Tiba-tiba tangan Abdi menggenggam erat tangan Aulia membuat Aulia tersentak kaget.
"Apa yang kamu lakukan?!"
Abdi melepaskan genggaman tangannya sambil tersenyum tipis pada Aulia.
"Ya sudah jika tidak ada lagi yang harus kita bahas mengenai Max. Aku pamit. Terima kasih karena kamu sudah menjadi dokter yang terbaik bagi Max. Permisi."
Auliapun pergi meninggalkan ruangan Abdi.
"Hhh..Aulia..aku tidak bisa menghapuskan ingatanku tentangmu. Kadang aku berpikir aku ingin seperti Max yang tidak ingat akan masa lalunya..hhh.. Aku selalu mencintaimu.." gumam Abdi sambil menghembuskan nafasnya pelan.
Sementara itu Aulia berjalan ke arah taman dan duduk di bangku taman. Ia melihat kedua tangannya yang tadi digenggam oleh Abdi.
"Kenapa kamu melakukan itu padaku Di..bukankah kau tak mencintaiku lagi.."
"Kau..meninggalkan aku saat aku benar-benar membutuhkanmu. Kau meninggalkan aku hanya demi cita-citamu.."
"Kau tak peduli pada kami...Di.."
Aulia terisak setelah ia mengingat betapa teganya Abdi padanya di masa lalu.
"Aulia.." panggil Harry.
Harry berlari tergesa-gesa menghampiri Aulia, saat ia melihat sang istri sedang menangis. Ia pun mendekap tubuh sang istri dalam dekapannya dan mengusap punggungnya.
__ADS_1
"Hey, tenanglah.. jangan menangis..aku tidak suka melihatmu menangis.." ucap Harry menenangkan.
Aulia semakin terisak di dada bidang Harry.
"Ada apa hemmm..? Katakan padaku? Apakah ini tentang Max? Apa terjadi sesuatu pada Max?" tanya Harry.
Aulia menggelengkan kepalanya lalu mendongak menatap manik lembut sang suami dengan derai air mata yang sudah membasahi wajahnya. Ia tersenyum dan merenggangkan pelukannya.
"Terima kasih..terima kasih sudah mau menerima aku dan juga anak-anakku.." ucap Aulia pelan.
"Hhh..tolong di ralat. Bukan anak-anakmu tapi anak-anak kita. Mengerti. Tolong jangan lupakan itu." peringat Harry.
Aulia tersenyum mengangguk dan kembali memeluk Harry.
"Terima kasih.."
Harry mengangguk.
"Apapun akan kulakukan untukmu. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintai kalian bertiga. Kalian adalah hartaku yang paling berharga." ucap Harry tulus.
"Terima kasih..terima kasih.."
****
"Max..ayo bangun.."
Mario terus menggenggam tangan Max yang kini terpasang infus.
"Jangan tidur terus..ini sudah tiga hari berlalu Max..."
Mario mengusap kening Max dan menyibak poni yang menutupi kening sang adik.
"Kakak janji..kakak tidak akan memarahi Max lagi. Kakak akan menuruti semua keinginanmu. Kakak janji.."
Ia menatap miris tubuh sang adik. Di bagian dada sang adik dipasangi berbagai kabel warna warni. Masker oksigen menutupi hidung dan mulut sang adik. Tangannya dipasangi infus dan oximeter. Ditambah tubuhnya yang sedikit kurus. Sepertinya adiknya sudah kekurangan berat badan sampai beberapa kilogram.
"Adik kakak marah ya? Kalau marah jangan seperti ini. Jangan beri kakak hukuman menyakitkan seperti ini. Max pukul kakak saja ya. Setiap hari juga boleh. Sampai kakak babak belur juga boleh. Asalkan Max bangun. Kakak sayang Max. Kak Rio tidak bisa hidup tanpa Max. Kakak sayang bayi besar kakak. Kakak mencintai adik kembar kakak. Ayo bangun..hikshiks."
"Kak Rio seperti orang gila ya? Berbicara sendiri tak ada yang menyahuti. Tak ada yang peduli. Kalau kak Rio dianggap gila dan di masukkan ke penjara..eh maksud kakak di masukkan ke rumah sakit jiwa bagaimana? Memangnya Max mau punya kembaran gila?"
"Bangun..kakak mohon.."
Mario terus saja berbicara meskipun tak ada jawaban yang ia dapatkan. Tiba-tiba Mario merasakan gerakan pada tangan Max.
"MAXXX!! KAU BANGUN!!" pekik Mario senang.
Tak berapa lama dokter Abdi bersama beberapa perawat memasuki ruang ICCU dan memerintahkan Mario untuk menunggu di luar.
Mario berjalan mondar mandir didepan ruang ICCU sambil menggigit kuku ibu jarinya. Kebiasaan buruk yang sering ia dan Max lakukan jika dalam keadaan sangat panik atau saat bosan.
"RIO?!!" panggil Aulia dan Harry sambil bergegas menghampiri Mario.
"Ada apa? Ada apa dengan Max? JAWAB Bunda RIO!!" panik Aulia.
"Max..Max bun..Max.."
Belum selesai Mario berbicara pintu ruang ICCU terbuka, membuat seluruh atensi mereka beralih pada Abdi.
"Bagaimana keadaan Max Di? Max baik-baik saja kan?" tanya Harry.
Abdi mengangguk lalu membuka masker yang sedang ia pakai.
"Alhamdulillah. Max sudah sadar. Tapi kondisinya masih sangat lemah. Tolong jangan terlalu banyak diajak berbicara dulu. Sekarang kalian semua boleh masuk. Silahkan." jelas Abdi sambil mempersilahkan mereka bertiga masuk.
"Alhamdulillah. Terima kasih Di." ucap syukur Aulia dan Harry. Mereka berduapun segera masuk menemui Max tapi tidak dengan Mario. Ia masih disana. Masih berdiri tanpa gerakan yang berarti membuat Abdi mengernyitkan keningnya bingung.
"Yo? Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan? Adikmu sudah sadar Yo. Max sudah sadar. Kamu tidak mau menemuinya, hmm?" tanya Abdi sambil memegang pundak kiri Mario.
Mario menunduk menatap kedua sepatunya. Entah apa yang menarik disana.
"Yo..?" panggil Abdi lagi.
"Rio takut.."
Abdi semakin mengernyit bingung. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari perkataan Mario.
"Takut? Takut apa?"
Mario yang sedari tadi menundukpun mulai mendongak perlahan menatap manik kembar sang dokter.
"Rio takut..kedatangan Rio membuat Max bertambah sakit..karena..Rio lah yang menyebabkan Max seperti ini.." lirih Mario dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Abdi mengusap kepala Mario pelan.
"Justru jika Rio tidak masuk, Max bisa bertambah sakit karena ia akan mengira jika kakaknya sudah tidak peduli lagi padanya. Memangnya kamu mau Max sakit lagi sampai ia benar-benar ko.."
__ADS_1
Belum selesai Abdi berbicara, Mario sudah memekik kencang tak terima.
"TIDAK!!! Dokter jangan sembarangan berbicara!"
Abdi terkekeh.
"Makanya, cepat kamu masuk." titah Abdi.
Mario segera melesat masuk tanpa kata pada Abdi.
"Hhh..dasar bocah..kenapa tingkah putra kembarmu mirip denganku dulu.." gumam Abdi.
CKLEKK!
Pintu ruang ICCU terbuka. Menampilkan dua perawat cantik yang baru saja keluar dari sana.
"Dokter Abdi masih disini?" tanya Susan, salah satu perawat yang bekerja bersama Abdi.
"Dokter belum makan siang kan? Ayo kita makan siang bersama. Ibu kantin bilang ada menu baru di kantin yang menggugah selera dan menunya tak kalah lezat dengan menu di restaurant terkenal." ujar Sinta yang sangat antusias.
Abdi tersenyum menanggapinya.
"Baiklah. Ayo kita makan siang bersama." jawab Abdi akhirnya yang membuat Sinta memekik senang dan menarik tangan Abdi sedangkan Susan hanya tersenyum dan mengikuti mereka dari belakang.
****
CKLEKK!!
Mario masuk ke dalam ruang ICCU membuat Aulia, Harry dan juga Max menoleh kearahnya. Mario terdiam. Tiba-tiba tubuhnya terasa kaku. Ia diam tak berkutik. Sorot mata sendu adiknya menjadi pemandangan yang sangat ia rindukan sekaligus ia takuti. Sungguh, akhir-akhir ini ia takut jika ia akan menyakiti Max lagi.
"Ka..kak.." panggil Max dengan suara seraknya. Kini Max sudah tak memakai masker oksigen. Kini ia memakai nassal canula yang lebih terasa nyaman.
Mario menggigit bibir dalamnya. Ia tatap lekat sang adik. Max tersenyum sendu menatap sang kakak. Mario langsung menunduk tak berani menatap Max. Max yang melihat kakaknya memutuskan kontak mata dengannya menjadi sangat sedih.
"Kak..Rio..ma..rah..ya? Maafkan.. Max.." ucap Max sedih.
Mario langsung mendongak mendengarnya. Ditatapnya kedua mata sang adik yang sudah berkaca-kaca. Ia lalu bergegas menghampiri sang adik dan memeluknya pelan.
Suara isakan terdengar keluar dari mulut Max.
"Maaf..hikshiks..maafkan Max..Max selalu menyusahkan..Max selalu menjadi beban..Max.." racau Max.
"Shhsstt..jangan menangis. Kakak tidak marah pada Max. Kakak sayang Max.."
Mario mengusap air mata yang membasahi pipi Max.
"La..lalu..hikshiks..ke..kenapa kakak..tak mau menemui Max bahkan menatap Max saja..hikshiks..tidak mau.." ujar Max sesenggukan.
Mario mengusap kepala Max pelan.
"Kak Rio hanya takut menyakitimu lagi. Kak Rio yang membuat Max seperti ini..kakak yang.."
Max menggelengkan kepalanya.
"Bukan! Bukan karena kak Rio tapi karena penyakit Max. Max minta maaf karena lagi-lagi Max menyu.."
Mario menggeleng ribut.
"Tidak! Max tidak menyusahkan! Kakak salah. Kakak yang salah. Kakak hanya kesal pada diri kakak sendiri karena kakak sudah menyia-nyiakanmu dan selalu menyakitimu. Sekarang kakak sudah sadar jika kau sangat berarti bagi kakak. Kau terlalu berharga bagi kakak. Max tidak pernah menyusahkan. Kakak minta maaf. Kakak janji mulai sekarang kakak tidak akan pernah memarahi Max lagi. Kakak akan menuruti semua kemauan Max. Max mau apa? Ayo katakan saja?"
Max tersenyum lalu memegang tangan Mario pelan.
"Max hanya ingin kak Rio bahagia." ucap Max tulus.
Mario mengangguk.
"Kakak akan bahagia. Kakak pasti bahagia jika kau bahagia. Cepat sembuh adik kembar kesayangan kakak. I love you."
Mario memeluk Max pelan takut jika ia akan menggeser kabel-kabel yang menempel di tubuh Max.
"I love you too My twins, big brother."
Aulia dan Harry ikut merasa senang melihatnya. Dari tadi mereka berada disana menyaksikan kedua buah hatinya menyelesaikan permasalahan mereka sendiri.
"Ekhm..ekhmm..ayah bunda tidak diajak nih? Hmm..sepertinya kita dilupakan ya bun?" ucap Harry merajuk yang diangguki oleh Aulia.
Max dan Mario terkekeh mendengarnya.
"Ayo kesini Yah Bun..peluk kita.." ajak Max.
Harry dan Aulia segera berhambur memeluk kedua buah hatinya.
"Teletubbies berpelukannnn.." ujar Max senang yang dijawab gelak tawa dari mereka bertiga.
Sedangkan mereka tak menyadari jika dibalik pintu ada seseorang yang hanya bisa menggigit bibirnya.
__ADS_1
"Kenapa rasanya sesakit ini..."
BERSAMBUNG...