
Clara tiba-tiba berbalik arah membuat Cassie menatapnya bingung lalu mencekal tangan Clara.
"Mau kemana? Bukankah kita akan mencari ruangan Max?" tanya Cassie bingung.
"Tidak jadi." jawab Clara pelan.
"Hah? Ta..tapi.." belum selesai Cassie berbicara, Clara sudah berjalan meninggalkannya.
"Yak! Clara! Tunggu aku!" panggil Cassie sambil mengejar Clara.
JDUG!
"Aww!!" ringis Clara menyentuh dahinya yang bertabrakan dengan seseorang didepannya yang juga terlihat meringis.
"Maaf. Maaf. Aku tidak sengaja. Kau tidak apa-apakan?" tanya Clara khawatir.
Perempuan itu tersenyum miring menatap Clara.
"Jika hanya dengan minta maaf semua masalah selesai, untuk apa ada penjara?" ucapnya masih dengan senyum miringnya.
Clara menunduk, ia tidak berminat untuk berdebat hari ini.
Tiba-tiba Cassie yang tadi mengejarnya datang sambil mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk tepat ke depan wajah perempuan itu.
"Heh!! Kau ini jangan membesar-besarkan masalah! Clara tadi tidak sengaja menabrakmu, dia juga sudah minta maaf. Kenapa harus bawa-bawa penjara segala?! Berlebihan!" Teriak Cassie.
Perempuan tadi tersenyum sinis.
"Hhh..susah memang berbicara dengan perempuan tak tahu diri seperti kalian." balasnya sinis.
Cassie mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menampar perempuan ini jika ia tidak ingat mereka sedang berada di Rumah Sakit sekarang.
"Heh perempuan aneh!! Kau ini siapa, hah?! Kenal juga tidak! Kenapa sikapmu menyebalkan sekali?!"
Clara memegang pundak Cassie.
"Sudahlah Cassie jangan marah. Disini akulah yang salah. Yang penting aku sudah minta maaf." ucap Clara menenangkan.
"Ya tapi bukan berarti dia berhak berbicara seperti tadi Ra. Berlebihan sekali." sanggah Cassie.
Clara menghela nafasnya sejenak.
"Hhh..Sudahlah, aku sedang tidak mood untuk berdebat. Ayo kita pergi." ajak Clara sambil menarik tangan Cassie.
"Ta..tapi Ra.."
Clara tak mengindahkan ucapan Cassie dan tetap menarik tangan Cassie untuk mengikuti langkahnya meninggalkan perempuan tadi. Perempuan tadi menatap tajam punggung Clara dan Cassie yang sudah menjauh.
"Aku akan menyingkirkan siapapun yang menjadi pengganggu termasuk kalian." gumamnya.
Perempuan itupun segera pergi dari sana menuju ruang tunggu yang tak jauh dari sana.
"Omaaa! Aku datang!!" ucap perempuan tadi sambil memeluk perempuan paruh baya yang kini ada di hadapannya. Sikapnya langsung berubah seketika bila berhadapan langsung dengan orang yang ia sayangi.
"Kenapa kesini? Disini kan sudah ada Mariana yang mengantar Oma." ucap sang Nenek sambil mengusap kepala perempuan tadi.
"Memangnya tidak boleh aku menjemput Oma? Dia saja boleh. Aku ini kan cucu Oma juga." ucapnya sambil menunjuk seseorang yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Silvana, sedang apa kau disini?" tanya Mariana yang baru saja datang.
"Menjemput Oma. Kak Mariana darimana?" tanya Silvana. Ya perempuan tadi adalah Silvana, adik sepupu Mariana.
"Ambil obat Oma. Ya sudah ayo kita pulang Oma, Sil." ajak Mariana. Mereka pun segera pergi menuju ke kediaman mereka.
****
Sudah hampir seminggu Max dan Mario belum juga bersekolah karena Max masih harus di rawat di rumah sakit sedangkan Mario, dia kembali ijin tidak masuk sekolah karena tidak mau meninggalkan adik kembarnya. Entahlah, Mario selalu merasa takut jika Max tidak didekatnya, seolah-olah Max akan menghilang jika ia tinggalkan.
"Kak, besok sekolah ya." pinta Max, entah yang keberapa kalinya.
Mario menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Nanti saja jika kau sudah masuk sekolah." jawab Mario enteng sambil membaca manga milik adik kembarnya itu.
Max memutar bola matanya malas.
"Keras kepala.." gumam Max yang masih bisa didengar Mario.
Mario melirik kearah adiknya yang sedang bersandar dengan mata yang terfokus pada televisi yang sedang menayangkan kartun bocah kembar berkepala botak.
"Sepertinya aku mendengar seseorang berbicara tapi tidak berkaca." balas Mario.
Max menatap tajam sang kakak yang sedang menaik-turunkan kedua alisnya, membuat Max seketika kesal dibuatnya. Sedangkan Mario justru tak tahan untuk tidak tertawa. Menurutnya tatapan Max kesannya bukan seram tapi justru lucu. Entahlah, ia kadang bingung kenapa wajah adiknya terlihat menggemaskan seperti balita.
__ADS_1
"Matanya tolong dikondisikan. Jangan sampai kakak kembarmu ini menerkam wajahmu yang menggemaskan." kekeh Mario membuat Max melotot kearah Mario.
"Gila!" dengus Max bergidik ngeri.
"Gila-gila tapi sayang, kan?" goda Mario.
Max yang sudah semakin kesal memukul lengan Mario keras.
"Aww! Ampun- ampun! Sudah-sudah jangan marah kepala batu."
Mata Max semakin membulat lucu.
"Kok aku? Kan Kak Rio yang keras kepala kenapa jadi aku yang disebut kepala batu!" kesal Max tak terima.
"Haruskah kakak ulangi. Ber-ka-ca." ucap Mario dengan penekanan di setiap katanya.
Max menekuk wajahnya.
"Kenapa? Tidak terima ya? Kau harus ingat kita ini sama-sama keras kepala jadi jangan mengataiku keras kepala karena kita itu sama." jelas Mario.
Max memalingkan wajahnya ke arah televisi, ia malas jika harus berdebat dengan kakak kembarnya itu. Buang-buang tenaga menurutnya.
Mario mengacak-acak rambut Max pelan membuat Max mendengus dan menyingkirkan tangan kakaknya yang masih bertengger di kepalanya.
"Ish! Diam! Rambutku nanti berantakan! Ini baru selesai disisir Bunda!" bentak Max kesal.
"Iya iya yang baru selesai disisir Bunda. Uhhhh lucunya, Dedeknya kak Rio." goda Mario.
Mata Max semakin membola dengan tingkah absurd kakaknya. Ia bergidik ngeri dibuatnya. Ia bergeser menjauh, menjaga jarak dari Mario.
Mario terkekeh geli melihatnya. Ia lalu menghampiri Max yang semakin beringsut mundur dan hampir terjatuh dari ranjangnya.
"Hap! Kenaaaa!" girang Mario setelah berhasil menangkap Max dan memeluknya erat.
"Aaaaaaaa!!! Lepas!!! Kakak gila!!! Tolongggg!! Siapapun tolong aku!!!" berontak Max yang justru membuat Mario semakin mengeratkan pelukannya. Mario senang sekali menjahili adiknya.
"Jangan teriak Max. Ini rumah sakit, kasian pasien lain. Jangan mundur-mundur juga nanti jatuh." peringat Mario yang tetap tak melepas pelukannya.
CKLEKK!
Max dan Mario mengalihkan pandangan mereka pada pintu yang baru saja terbuka.
"OH TUHANNN!!! MATAKU TERNODAI!!" pekik Jonathan histeris ketika melihat Mario memeluk Max.
PLETAKK!!
"Jangan berisik. Ini Rumah Sakit." ucap Hayden datar.
Jonathan memajukan bibirnya kesal.
"Jingin birisik. Ini rimih sikit." gerutu Jonathan sambil menirukan gaya bicara Hayden membuat Hayden menatap Jonathan tajam.
"Itu mata atau pisau? Tajamnyaaa.." ucap Jonathan bergidik ngeri.
"Kalian sedang apa disini? Kenapa tidak sekolah?" tanya Max yang diangguki Mario yang masih memeluk Max.
"Ada rapat." jawab Hayden singkat.
"Jadi kita pulang cepat." sahut Jonathan.
"Dan kalian sedang apa? Bermesraan seperti itun, hah?!" selidik Jonathan sambil memicingkan kedua matanya kearah Max dan Mario.
"Jangan berpikiran macam-macam. Bayi besar ini adikku, kalau kau lupa." ucap Mario malas.
Max mendengus kesal saat lagi-lagi Mario memanggil dirinya dengan sebutan "Bayi Besar".
"Ya tapi kan.."
Belum selesai Jonathan berbicara Hayden sudah memotongnya.
"Diam!" peringat Hayden dengan mata tajamnya membuat nyali Jonathan seketika menciut.
"What the hell! Kenapa aku harus memiliki teman-teman absurd seperti mereka sih?!!" jerit Jonathan dalam hati.
"Poor me..hhh.." gumam Jonathan sambil mengusap dadanya sabar.
Sementara itu Hayden sudah meghampiri Max yang sudah terlepas dari pelukan Mario.
"Bagaimana keadaanmu, hmm?" tanya Hayden lembut meskipun aura datar masih terasa.
Max tersenyum.
"Sudah lebih baik. Dokter bilang jika kondisiku terus membaik dua hari lagi aku sudah diperbolehkan pulang." jawab Max senang.
__ADS_1
"Iya tapi harus bedrest. Tidak boleh beraktifitas yang berat-berat dulu apalagi sekolah." sahut Mario.
Max mempoutkan bibirnya kesal dengan apa yang baru saja Mario katakan.
"Merusak suasana saja." batin Max kesal.
Mario yang melihatnya hanya tersenyum jahil pada Max.
****
"Ra ada pelanggan yang datang. Kamu saja yang layani ya. Aku mau ke toilet dulu." ucap Cassie dan segera buru-buru pergi ke toilet.
Clara mendesah malas.
"Ckk. Dasar Cassie. Tidak tahu apa jika aku sedang tidak mood sekarang. Hhhh.."
CKLEKK!
"Selamat datang." Sapa Clara sambil tersenyum saat pelanggan yang tadi dibicarakan Cassie masuk. Tapi sedetik kemudian ia membulatkan matanya.
"Ru..di.."
Pelanggan yang baru saja masuk tadi ternyata adalah Rudi.
"Waaaa Clara. Kau sedang apa disini? Senangnya bisa bertemu denganmu disini!" girang Rudi.
Clara terkekeh mendengarnya.
"Aku bekerja disini, Di. Kamu mau beli apa Di?" tanya Clara ramah.
"Jadi kau sekolah sambil bekerja! Hebat sekali. Semakin kagum aku padamu Ra." ucap Rudi kagum tak mengindahkan pertanyaan Clara tadi.
"Bisa saja kau ini, Di. Aku tidak sehebat itu. Aku hanya membantu Tanteku saja."
Rudi tersenyum.
"Semakin suka aku padamu, Ra." gumam Rudi.
Clara mengerutkan dahinya.
"Hah? Kau tadi bilang apa, Di?"
Rudi menggelengkan kepalanya .
"Ti..tidak. I..itu aku tadi bilang..jadi ini toko tantemu. Iya tadi aku bilang itu. Iya." jawab Rudi gelagapan.
Clara membulatkan mulutnya membentuk huruf "O" tanpa suara lalu mengangguk.
"Iya ini toko Tanteku, Di. Jadi kau kesini mau membeli bunga kan?"
Rudi mengangguk.
"Iya. Aku mau membeli bunga cukup satu ikat saja karena tadi aku sudah membeli parcel buah. Bunga itu hanya sebagai tambahan saja." jelas Rudi.
Clara mengangguk.
"Mau bunga apa?" tanya Clara.
Bukannya menjawab Rudi justru kembali bertanya.
"Kau mau ikut?"
Clara mengernyit bingung.
"Ikut? Ikut kemana?" tanya Clara lagi.
"Ke rumah sakit untuk menjenguk Max. Dia kan sedang di rawat di rumah sakit. Kau mau ikut tidak?" ajak Rudi.
Clara terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Ia ingin sekali menjenguk Max tapi ia tak mau jika ia harus bertemu dengan Mariana seperti kemarin.
TAP!! TAP!! TAP TAP!!
Suara langkah kaki terdengar tergesa-gesa.
"Mau! Clara mau ikut! Kami ikut!" sahut Cassie cepat.
Clara mendelik ke arah Cassie.
"Cassie apa-apaan kau ini?! Aku.." belum selesai Clara berbicara Cassie sudah memotongnya.
"Ikut. Kau harus ikut. Jangan sampai kau menyesal seperti kemarin."
Clara mendesah.
__ADS_1
"Hhh..baiklah aku ikut.." jawab Clara akhirnya.
BERSAMBUNG...