Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
53. Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

“YO!!” teriak Jonathan dan Hayden yang berlari ke arah Mario yang berdiri dengan rambut yang sudah berantakan. Di belakang keduanya Cassie dan juga Rudi mengikuti mereka.


“Yo, bagaimana keadaan Max?! Bagaimana?!” tanya Jonathan panik.


Mario langsung berhambur dalam pelukan Jonathan.


“Max, Jo. Max, Jo.”


Jonathan tak mengerti apa maksud Mario hingga Mario kembali berbicara.


“Ini semua karena Rey, Jo! Ini semua karena Rey! Dia yang mukul Max! Dia yang sudah bikin Max kayak gini!”


Jonathan mengepalkan tangannya hingga memutih. Begitu juga dengan Hayden. Rahang mereka mengeras. Darah mereka mendidih. Rasanya mereka ingin memberikan pelajaran pada Rey sekarang juga.


“Aku akan beri dia pelajaran!” marah Hayden.


Baru saja Hayden akan berbalik arah untuk kembali ke sekolah. Suara pintu ruang ICU yang akan terbuka mengalihkan pandangan mereka semua. Mereka segera menghampiri suster yang sedari tadi keluar masuk ruang ICU.


“Suster! Suster! Bagaimana keadaan Max?!” tanya Clara panik.


“Maaf, teman kalian kehilangan banyak darah. Sedangkan stok darah golongan A sedang habis di sini.”


TAP TAP TAP!


Suara kaki berlarian menghampiri mereka.


“Ada apa suster?! Ada apa dengan anak kami?!” tanya Aulia panik.


Ia baru saja datang bersama dengan Harry setelah mendapat kabar dari Jonathan tadi saat Jonathan dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Mereka langsung meninggalkan semua urusan pekerjaan mereka dan pergi ke Rumah Sakit.


“Maaf, Bu. Anak Anda kehilangan banyak darah dan stok darah golongan A di rumah sakit ini sedang habis.”


Aulia kaget mendengarnya. Golongan darahnya adalah AB begitu juga dengan Mario yang memiliki golongan darah AB. Semua saling menanyakan golongan darah mereka, tapi tak satu pun dari mereka yang memiliki golongan darah A.


“Ada apa ini? Aulia, Mario? Kenapa kalian di sini?” tanya Abdi kaget.


Ia tadi sedang menangani pasien lain sehingga ia tidak tahu jika Max dilarikan ke rumah sakit ini.


“Om! Tolong Max, Om! Max kehilangan banyak darah dan golongan darah A lagi habis, Om! Tidak ada satu pun dari kita yang punya golongan darah A.”


Abdi terkejut mendengar permintaan dari Mario.


“Apa yang terjadi dengan Max?” batinnya bertanya-tanya.


Ia lalu menoleh pada Aulia yang sedari tadi menangis.


“Aulia, Harry. Kenapa kalian tidak mendonorkan darah untuk Max? Pasti salah satu dari kalian ada yang punya golongan darah A, kan?”


Aulia dan Harry menggelengkan kepalanya. Mereka menjelaskan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki golongan darah A. Abdi sangat terkejut mendengarnya.


“Bagaimana mungkin salah satu dari mereka tidak ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Max? Memangnya Max itu anak siapa?” batin Abdi semakin bertanya-tanya.


Namun, sekejap ia mengenyahkan semua pemikiran itu karena yang menjadi prioritas utama saat ini adalah menyelamatkan Max.

__ADS_1


“Biar saya, Sus. Yang mendonorkan darah,” ucap Abdi yang segera diangguki suster itu.


Mereka pun segera masuk ke ruang ICU.


Aulia memejamkan matanya erat dengan air mata yang sudah mengalir.


“Selamatkan putra hamba Ya Allah. Selamatkanlah.”


...**** ...


Rey mengepalkan tangannya erat hingga memutih. Ia lalu berdiri dari duduknya.


“Tidak, Bu! Itu fitnah!” bantah Rey.


Saat ini Rey dan juga teman-temannya sedang ada di kantor kepala sekolah. Mereka dituduh telah melakukan penganiayaan kepada Max dengan Clara sebagai saksi dan juga korban. Serta Hayden, Jonathan, Cassie dan Rudi yang menemani Clara.


“Saya tidak memfitnahnya, Bu. Ini memang kenyataannya. Saya dan Mario yang menjadi saksinya. Saya dianiaya oleh mereka. Saya dibawa mereka ke rooftop sebagai umpan untuk menjebak Max agar Max datang untuk menolong saya. Kalau Ibu tidak percaya, Ibu bisa cek pesan yang ada di handphone Rey, Bu.”


Ibu kepala sekolah itu segera mengambil paksa ponsel milik Rey dan membuka semua pesan yang ada di sana, tapi tidak ada satu pun pesan yang dikirim ke Max bahkan nomor Max pun tidak ada di kontak telepon.


“Maaf, Clara. Tapi tidak ada satu pun pesan seperti itu yang ada di ponsel Rey. Bahkan nomor Max pun tidak ada.”


Clara membelalakkan kedua matanya kaget.


“Tidak mungkin, Bu! Itu tidak mungkin! Saya melihat sendiri Rey mengirimkan pesan pada Max, makanya Max datang menolong saya.”


Rey tersenyum tipis. Tentu saja pesannya tidak ada karena ia sudah menghapus pesan yang ia kirim ke Max. Ia juga menghapus nomor Max dari kontak teleponnya.


Hayden mengeram kesal. Ia sangat tahu bagaimana liciknya seorang Rey. Bahkan kelicikan dan kejahatan Rey melebihi kelicikan seorang Roy, adik dari Rey.


Kepala sekolah beserta guru yang turut hadir di sana mengangguk menyetujui usul dari Hayden. Mereka semua pun segera pergi ke rooftop. Sesampainya di sana tak ada satu pun yang menjadi petunjuk karena rooftop terlihat bersih, tidak menunjukkan sama sekali jika tadi ada perkelahian di sana. Karena Rey dan teman-temannya langsung membereskan semua kekacauan yang ada di sana. Meskipun mereka luka-luka, tapi itu tidak bisa menjadi bukti kalau mereka yang membuat Max tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit.


BUGHH!


“Dasar berengsek!”


Jonathan yang sudah kehabisan kesabaran berhasil meninju wajah Rey hingga jatuh tersungkur.


“Tenang, Jo! Tenang!”


Hayden dan Rudi berusaha menahan tubuh Jonathan.


“Lepaskan aku! Aku harus memberinya pelajaran!” teriak Jonathan.


Sementara itu Clara hanya bisa menangis dalam pelukan Cassie. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada bukti yang bisa menghukum Rey. Semua bukti sudah Rey hilangkan ditambah lagi tidak ada CCTV yang dipasang di rooftop membuat mereka semakin kesulitan mencari buktinya.


“Saya punya buktinya, Bu!”


Semua orang menoleh ke arah suara. Itu adalah Mariana yang datang menghampiri mereka.


“Apa buktinya, Ana?” tanya Kepala sekolah.


Mariana segera mengambil ponsel dari saku celananya. Ia lalu membuka ponselnya dan mencari video di galerinya.

__ADS_1


“Ini, Bu.”


Mariana menyodorkan ponselnya pada Kepala sekolah. Sebelum kejadian Mariana memang sedang ada di rooftop. Ia sedang menangis sendirian saat itu karena memikirkan Max yang menjalin hubungan dengan Clara. Tiba-tiba Rey dan teman-teman Rey datang sambil menyeret Clara. Ia yang kaget segera bersembunyi di balik barang-barang yang menumpuk yang ada di sana, di sanalah ia mulai merekam semua kejadian. Di video itu semua kejadian itu terekam. Video itu memperlihatkan semua kejadian dimulai dari dibawanya Clara secara paksa ke rooftop hingga datangnya Max yang berkelahi melawan Rey dan teman-temannya. Hingga pada akhir video meskipun sedikit terhalang oleh sesuatu, tapi masih terlihat jelas bahwa Rey mengayunkan balok kayu ke arah kepala Clara. Namun, beralih mengenai kepala Max yang berusaha untuk melindungi Clara hingga akhirnya keduanya jatuh terhuyung disusul suara teriakan Mario.


“Semua bukti sudah jelas kalau kalian sudah melakukan tindakan kriminal. Pihak sekolah akan melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib dan pihak berwajiblah yang akan memberikan hukuman untuk kalian."


Rey dan teman-temannya tak terima. Mereka mencoba membela diri. Namun, semua tidak ada yang mendengarkan. Hingga pihak berwajib pun datang dan membawa mereka ke kantor polisi untuk segera diproses.


...**** ...


“Sayang, Maxnya Bunda. Bangun, Nak. Jangan buat Bunda khawatir. Bangun, sayang.”


Sedari tadi Aulia terus memanggil-manggil nama Max, tapi Max tak kunjung bangun. Hanya suara bedside monitor yang terdengar. Ia usap lembut jari jemari Max yang terlihat agak kurus.


“Kamu kurusan, sayang. Nanti kalau kamu bangun. Kamu harus makan yang banyak, ya. Nanti, Bunda suapin Max. Nanti, Bunda buatin apa pun makanan kesukaan Max. Kalau perlu kita pesan online apa pun makanan yang Max suka. Bunda janji, sayang. Asalkan Max mau bangun. Bunda sayang, Max. Bunda tidak mau kehilangan Max. Max bertahan ya, sayang. Jangan menyerah. Kita berjuang sama-sama lagi.”


Pecah sudah tangisan Aulia. Sedari tadi saat ia diperbolehkan untuk masuk ke ruang ICCU setelah Max dipindahkan dari ruang ICU. Ia mencoba menahan air matanya agar tidak turun karena ia tahu Max bisa mendengarnya. Ia tidak mau Max sedih. Ia tidak mau, tapi apa mau dikata, ia tak sekuat itu. Ia seorang Ibu. Ia tidak akan sanggup melihat anaknya terbaring lemah tak berdaya melawan kesakitannya.


“Maaf, sayang. Maafkan, Bunda ... hikshiks.”


Sementara itu di kantin rumah sakit Mario dan Harry sedang makan siang, tapi hanya Harry bukan Mario. Sedari tadi Mario hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Ia di sana hanya karena dipaksa oleh Harry, ia sama sekali tidak berniat untuk makan. Bagaimana bisa ia makan di saat Adik kembarnya sendiri sedang berjuang untuk bisa tetsp hidup? Pikirnya.


“Yo, Ayah tahu kamu tidak mungkin mau makan saat Max masih berada di ICCU, tapi kamu harus makan, Nak. Ayah tidak mau kamu ikutan sakit. Kasihan Max, ia pasti akan merasa bersalah jika ia tahu kamu sakit karena dirinya.”


Mario masih terdiam. Semua ucapan yang dikatakan Harry memang benar, tapi ketakutannya akan kehilangan Max lebih besar daripada ketakutannya melihat Max yang merasa bersalah padanya.


“Permisi, boleh saya duduk di sini?”


Keduanya menoleh ke arah suara yang ternyata adalah dokter Abdi.


“Oh, ya. Silakan, dok.”


Harry mempersilahkan Abdi duduk bersama mereka di kantin.


“Sudah pesan makanan, dok?” tanya Harry saat tak melihat Abdi membawa apa pun.


Abdi menggelengkan kepalanya pelan.


“Saya duduk di sini bukan untuk makan, tapi saya ingin menanyakan sesuatu pada Anda.”


Harry mengernyitkan dahinya bingung. Mario juga ikut menatap Abdi lekat seolah bertanya ada apa?


“Memangnya apa yang mau dokter tanyakan ke saya?” tanya Harry.


Abdi menghembuskan napasnya panjang lalu mengeluarkannya perlahan.


“Ini soal Max.”


Harry dan Mario menatap dalam Abdi.


“Sebenarnya ... Max itu ... anak siapa? Apakah ia bukan anak kandung Anda dan juga Aulia?”


Harry dan Mario membelalakkan kedua matanya kaget.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ....


...


__ADS_2