
"Satu suap lagi ya..?" bujuk Mario.
Max menggelengkan kepalanya.
"Hhh..ya sudah sekarang minum obat ya.."
Max menggangguk. Mario menyodorkan beberapa obat dari tabung obat yang selalu dibawa Max. Ada yang berbentuk pil dan ada yang berbentuk kapsul. Max menerimanya dan segera menelannya dibantu dengan air.
"Sekarang kita pulang ya.." ajak Mario entah yang keberapa kalinya.
Max menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah baik-baik saja kak. Kak Rio tidak perlu khawatir lagi." ucap Max sambil bersandar pada ranjang.
"Tidak mungkin aku tidak khawatir Max.." batin Mario.
"Kak,cepat kembali ke kelas. Ini baru hari pertama kegiatan belajar mengajar tapi kau sudah membolos saja."
TLAKK!
Mario mengetuk dahi Max pelan dengan jari telunjuk dan jempolnya.
"Aww!" ringis Max sambil mengusap-usap dahinya.
"Kakak tidak membolos tapi kakak disini untuk menemani dan menjagamu Max,bukan membolos." kesal Mario.
Max mendengus.
"Tapi aku sudah baik-baik saja kak,jadi kau tidak perlu menemaniku lagi. Ayo sana cepat kembali kekelas." ucap Max dan mengibaskan tangannya seolah-olah mengusir.
"Apanya yang baik-baik saja? Kakak tidak percaya lagi padamu. Kau sering berbohong akhir-akhir ini dengan mengatakan kau baik-baik saja padahal tidak." ucap Mario kesal.
Max terdiam lalu menunduk.
"Iya..aku tahu aku tidak pernah baik-baik saja selama ini.." ucap Max lirih.
Mario mengusap kepala Max pelan.
"Hey sudah ya jangan dipikirkan. Kakak minta maaf. Kakak tidak bermaksud seperti itu. Kakak tahu adik kembar kakak ini kuat dan akan selalu baik-baik saja. Sudah ya jangan sedih lagi." ucap Mario lalu memeluk sang adik sambil mengusap-usap kepalanya dan sesekali mengecup kepalanya.
"Kak Rio benar-benar tidak mau kembali ke kelas ya?" tanya Max dengan kepala yang bersandar di dada sang kakak kembar.
Mario menggeleng.
"Tidak. Lagipula sebentar lagi bel pulang juga akan berbunyi." ucap Mario sambil melirik kearah jam yang terdapat didinding UKS.
"Kak boleh aku tidur? Aku mengantuk sekali,sepertinya efek obatnya mulai bereaksi." gumam Max pelan yang masih dapat didengar Mario.
Mario mengangguk.
"Iya tidurlah..kakak janji tidak akan kemana-mana." ucap Mario sambil terus mengusap kepala Max pelan.
Tak lama hembusan nafas yang teratur disertai dengkuran haluspun terdengar. Adiknya sudah mulai menyelami mimpi ternyata. Mario tersenyum. Ia sangat senang jika melihat Max bisa tidur dengan tenang. Max tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang bersandar di dada Mario. Meskipun Mario tahu pada akhirnya ia akan pegal-pegal jika seperti ini tapi tak masalah selama adiknya bisa merasa nyaman.
"Kumohon bertahanlah.." gumam Mario lirih.
****
Bel pulangpun akhirnya berbunyi,siswa siswi Angkasa Pura pun memekik senang. Mereka segera merapikan peralatan sekolah mereka dan memasukkannya kedalam tas lalu segera berhamburan keluar kelas.
"Cepat Jo." kesal Hayden.
"Ckk.Iya-iya sebentar. Takut ada yang tertinggal. Barang-barang Max dan Mario tidak ada yang tertinggal kan?" tanya Jonathan memastikan.
"Semua lengkap. Ayo cepat." Hayden menarik tas yang digendong oleh Jonathan sehingga Jonathan terhuyung kedepan.
__ADS_1
Mereka masing-masing membawa dua tas. Tas milik mereka sendiri dan tas milik Max dan Mario.
"Yak! Lepaskan muka datar. Jangan tarik-tarik seperti ini! Kau kira aku binatang peliharaanmu,hah?!" teriak Jonathan sambil berusaha melepaskan tangan Hayden dari tasnya.
Hayden berhenti dengan tatapan datarnya lalu melepaskan tangannya dari tas Jonathan.
"Binatang peliharaan ya,hmmm..bagus juga."
Kedua mata Jonathan membola.
"Apa kau bilang?!! Kurang ajar kau muka datar!!" teriak Jonathan marah.
"Kau marah? Kenapa? Bukankah kau sendiri yang mengatakannya?" tanya Hayden dengan tatapan andalannya yaitu tatapan datar.
"Hah?! A..apa?!" teriak Jonathan.
Hayden mengedikan bahunya tak peduli dan berjalan didepannya.
"Hey tunggu!! Hayden!!" panggil Jonathan dan berusaha menyamai langkah kaki Hayden.
"Ya Tuhan, dosa apa hambamu ini sehingga hamba harus memiliki teman seperti dia." gerutu Jonathan.
Tak lama kemudian merekapun sampai didepan ruang UKS.
CKLEKK!
"Sudah siap?" tanya Hayden tanpa basa basi.
Jonathan mendelik.
"Ckk..Dasar muka datar. Tak ada basa basinya sama sekali." batin Jonathan.
"Iya kami sudah siap." jawab Mario yang diangguki Max.
" Kakak gendong ya?" tawar Mario.
Max menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah. Ya sudah. Sekarang ayo kakak bantu turun. Pelan-pelan saja jangan terburu-buru." Mario membantu Max turun dari ranjang. Ia sangat takut Max terjatuh saat ini. Mungkin berlebihan memang, tapi baginya ini tidak berlebihan jika menyangkut adik kembar kesayangannya.
Max memutar bola matanya malas. Kakaknya akan sangat berlebihan jika ia kambuh. Merekapun meninggalkan ruang UKS bersama-sama dengan Mario yang tak pernah melepaskannya tangannya dari lengan Max. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Max. Mereka berjalan pelan,padahal Max sudah menyuruh mereka agar berjalan seperti biasa saja tapi mereka menolak dengan alasan Max tidak boleh lelah kata mereka.
"Sudahlah Max,pelan-pelan saja. Gerbang masih tetap buka . Jadi kita tidak perlu terburu-buru."ucap Jonathan.
Max mendengus. Ia kesal jika seperti ini. Kakaknya dan teman-temannya akan memperlakukan ia seperti seorang kakek-kakek tua renta menurutnya.
****
"Hey Clara tunggu aku! Kau belum jawab pertanyaanku tadi? Yang mana hah? Yang mana?" tanya Cassie penasaran.
"Ya nanti. Nanti akan kuberi tahu. Maka dari itu sekarang kita harus cepat-cepat sebelum terlambat." ucap Clara dengan langkah kaki yang terkesan lebar.
Cassie bingung. Kenapa mereka harus cepat-cepat? Gerbang tidak mungkin akan tertutup kan hanya karena mereka tak langsung keluar dari kelas saat bel pulang berbunyi. Pikirnya.
"Nahhh itu mereka..!" pekik Clara.
Cassie mengernyit bingung. Iapun mengarahkan pandangannya kearah yang Clara lihat. Belum sempat Cassie bertanya ada apa. Clara sudah berjalan mendahuluinya dan menghampiri empat orang yang ada didepan mereka. Bukan menghampiri tepatnya menghadang empat orang itu. Kedua mata Cassie membola. Iapun segera menyusul Clara.
"Ya ampun Clara apa yang kau lakukan?! Kau mau apa,hah?" tanya Cassie bingung.
Empat orang siswa yang Clara hadangpun mengernyit bingung.
"Ya ampunnn! Kau lagi. Kau lagi! Maumu apa sebenarnya,hah?!" kesal Jonathan.
"Ada apa lagi? Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Mario heran.
__ADS_1
Sementara itu kedua mata Hayden membola,ia kaget. Beragam pertanyaan muncul dibenaknya. Bagaimana bisa Clara dan Cassie bersekolah ditempat yang sama dengannya? Dan bagaimana bisa dunia seluas ini harus mempertemukan mereka kembali.
"M..kau M kan?" tanya Clara dengan penuh harap.
"Ya ampunn,dasar perempuan gila! Dari kemarin kau tidak henti-hentinya mengatakan itu. Siapa yang kau maksud dengan M itu. Tidak ada yang bernama M diantara kami. Lagipula apa-apaan itu?! Nama yang aneh. Singkat tapi tidak jelas." kesal Jonathan.
Mario menyenggol lengan Jonathan yang memang berdiri disampingnya.
"Itu inisial Jo. Inisial. Masa kau tidak tahu?" Mario memutar bola matanya malas.
Jonathan mendelik.
"Ya mana aku tahu. Salahkan perempuan ini yang menyebut nama tidak jelas seperti itu."ucap Jonathan mengedikan bahunya.
Sementara itu Max terdiam. Entah kenapa dadanya terasa berdesir melihat perempuan ini. Tapi gerakkan yang tiba-tiba membuat ia terkejut dan menatap sang pelaku yang menarik tangannya tanpa aba-aba.
"Ah..?" bingung Max.
"Kau M kan? Ayo jawab aku M. Kau M kan? Aku tahu kau ini M. Aku masih sangat ingat dengan tatapan teduhmu,aku masih ingat dengan senyum dan tawamu. Aku masih ingat semua gerak gerikmu M. Ayo jawab aku? Kau masih ingat aku kan? Aku Clara M. Clara." ucap Clara bertubi-tubi.
DEG DEG DEG..
Detak jantung Max berpacu cepat. Keringat dinginpun mulai bermunculan. Ia juga merasa seperti ada sengatan listrik kecil saat Clara menyentuh tangannya. Karena Max masih bungkam. Clarapun menoleh pada Hayden yang berdiri disamping Max tanpa melepaskan tautan tangannya dari tangan Max.
"Hayden kau masih ingat kami kan? Aku Clara dan dia Cassie. Kita bersekolah di sekolah yang sama yaitu SMP Adiputra. Kau pasti masih ingat kami kan?" tanya Clara.
Hayden diam dan menunduk sebentar lalu mendongak menatap Clara datar.
"Aku tidak kenal kalian."
Cassie mengepalkan tangannya erat.
"Hayden! Lagi-lagi kau seperti ini! Sudah tiga tahun berlalu tapi sikapmu tidak berubah masih saja menyebalkan." kesal Cassie sambil menunjuk tepat ke wajah Hayden.
Jonathan menepis telunjuk Cassie kasar.
"Yak! Perempuan gila! Kau tidak tahu sopan santun ya?!" marah Jonathan.
"Ck. Jangan ikut campur Jojo. Kau tidak tahu apa-apa!"
Jonathan membuka mulutnya lebar.
"Jojo kau bilang! Namaku Jonathan bukan Jojo!" teriak Jonathan tak terima.
"Terserah aku tidak peduli Jojo." ucap Cassie dengan senyum miringnya.
"Dasar kau.." belum selesai Jonathan berbicara, tiba-tiba terdengar suara ringisan.
"Ssshh.." ringis Max sambil memegang kepalanya.
"M..? Kau kenapa?" Gumam Clara khawatir.
Mario langsung melepas pegangan tangan Clara dari tangan Max.
"Sudah Max jangan dipikirkan,ayo kita pulang. Oke. Jangan dipikirkan." ucap Mario lalu membawa Max dan memapahnya diikuti Hayden dan Jonathan meninggalkan Clara dan Cassie yang ada disana.
"Yak kalian mau kemana? Urusan kita belum selesai!" teriak Cassie.
"Clara bagaimana ini? Apa yang.." Cassie tidak melanjutkan ucapannya saat ia melihat Clara terdiam memandangi telapak tangannya.
"Clara kau kenapa? Ada apa?" tanya Cassie bingung.
"Dingin..tangannya sangat dingin Cassie.." gumam Clara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hah? Maksudmu... ?"
__ADS_1
BERSAMBUNG..