Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
8. Semua Tentang Rasa


__ADS_3

TAP!! TAP!! TAP!!


Suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa menggema di setiap lorong rumah sakit. Wanita itu terus berlari dengan penampilan yang cukup berantakan tak peduli tatapan dari orang-orang sekitar yang merasa terganggu oleh tindakannya apalagi jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Ia lalu berhenti di depan pintu sebuah kamar rawat dengan nafas yang terengah-terengah karena lelah berlari. Ia lalu membuka pintu secara pelan.


CKLEKK!!


Pintu terbuka menampilkan dua sosok remaja berwajah serupa yang tertidur pulas disana. Yang satu terbaring diranjang dengan nassal canulla yang bertengger di hidungnya dan infus ditangan kanannya dan yang satu tidur disamping ranjang dengan posisi duduk di kursi dengan tangan yang tak lepas memegang tangan kiri yang terbaring diranjang.


Pemandangan yang manis tapi terlihat miris. Wanita itupun menangis dalam diam lalu segera mendekat kesana mengusap kaki yang terbaring diranjang yang tertutup dengan selimut. Lalu ia beralih pada remaja yang satunya mengusap pelan punggung itu. Remaja yang terduduk itupun menggeliat saat ia merasakan usapan dipunggungnya.


"Bunda.."


Mario langsung memeluk Aulia erat dan terisak didekapan ibunya. Iya. Wanita yang baru saja datang adalah Aulia,ibu mereka berdua.


Mario sangat senang dengan kedatangan ibunya. Max pernah mengatakan jika obat penenang yang paling ampuh itu adalah ibunya dan Mario sangat setuju dengan itu.


"Bunda..Max bun..Max bun.." isak Mario masih dalam dekapan Aulia.


Aulia mengerti. Sangat mengerti. Pasti saat ini Mario sangat takut sama seperti dirinya ia juga takut. Ia takut Max menyerah dan memilih meninggalkan mereka semua.


"Shusstss tenang ya sayang. Bunda kan sudah bilang. Semuanya pasti baik-baik saja. Max kuat nak. Adik kamu kuat dan kita juga harus kuat." ucap Aulia menenangkan.


Mario mendongak menatap wajah ibunya yang terlihat lelah tapi tak mengurangi sedikitpun kadar kecantikannya.


"Terima kasih bunda." ucap Mario.


"Ya sama-sama sayang." jawab Aulia sambil tersenyum lembut.


"Terima kasih juga sudah datang malam-malam kemari dan meninggalkan pekerjaan bunda disana." ucap Mario.


Aulia menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada pekerjaan atau apapun yang lebih penting dibanding kalian. Kalian adalah prioritas bunda yang tak akan pernah tergantikan."


Mario tersenyum senang. Ia memang tahu,Aulia tidak pernah mementingkan hal lain selain mereka berdua.


"Sekarang Rio tidur ya tapi tidurnya di sofa. Biar bunda yang tidur di samping Max." ucap Aulia.


"Tapi bunda pasti lelah,lebih baik bunda.." belum selesai Mario berbicara Aulia sudah memotongnya.


"Bunda mau tidur disamping adik kamu,tadi kan kamu sudah sekarang giliran bunda ya."


Mario mengangguk patuh lalu segera pergi menuju sofa yang tak jauh dari ranjang Max. Lalu membaringkan tubuhnya disana. Aulia menutupi tubuh Mario dengan selimut sampai kedadanya lalu mengusap lembut kepala Mario dan mengecupnya setelah itu Mariopun mulai merajut mimpi.


Aulia lalu mendekati putra bungsunya. Ia duduk disamping ranjang putra bungsunya. Ia tak pernah tega melihat putra bungsunya seperti ini tapi takdir membuat ia harus menerima jika putra bungsunya memang istimewa. Aulia mengusap jemari sang putra bungsu lembut dan mencium tangannya.


"Max..sayang..cepat sembuh ya nak..jangan sakit terus. Max sayang bunda,ayah dan kakak kan? Bertahan ya nak. Jangan menyerah. Kita berjuang sama-sama. Disini banyak yang sayang Max jadi jangan tinggalkan kami ya nak. Bunda sangat menyangi Max. Ayah dan Kak Rio juga sangat menyayangi Max. Jadi Max harus kuat dan bertahan terus ya nak. Kami ingin melihat kamu sampai dewasa,berumah tangga dan memiliki anak dan cucu. Jadi sekali lagi jangan pernah menyerah. Kami akan selalu ada untuk kamu nak. Untuk Maxnya bunda.hikshiks." Aulia semakin terisak tapi ia berusaha meredam suaranya. Ia tak ingin putra bungsunya terganggu dan terbangun oleh ulahnya.


"Selamat tidur dan mimpi indah ya Maxnya bunda dan jangan lupa untuk bangun besok."


Aulia mengusap kepala Max pelan lalu mengecup puncak kepala Max dan tertidur disamping Max dengan tangan yang terus menggenggam tangan Max erat.


****


Keesokan harinya Mario melihat ponselnya yang penuh notifikasi. Terdapat beberapa telepon tak terjawab serta pesan yang tak kunjung ia buka dan pagi ini ponselnya kembali bergetar entah keberapa kalinya. Begitu juga dengan ponsel sang adik kembar yang pasti mengalami hal yang sama sepertinya. Untung saja mereka memakai mode getar pada ponsel mereka sehingga tak mengganggu siapapun yang ada di ruangan itu. Ponsel Mario kembali bergetar. Mariopun melihat nama sang penelepon disana. Jonathanlah pelakunya. Iapun menggeser layar ponselnya kearah gambar telepon berwarna hijau.


"Hallo.."


Suara pekikanpun terdengar membuat ia terlonjak kaget. Untung saja ia tak sampai menjatuhkan ponselnya.


"Mario!! Kenapa kau baru mengangkat tekeponmu,hah?! Kau kemana saja?! Adikmu juga,kemana dia? Kemana Max?! Sudah berulang kali aku menelepon dan mengirim puluhan pesan tapi tak ada jawaban. Kalian ini kenapa?! Kalian mau membuatku mati muda karena khawatir,hah?!"

__ADS_1


teriak Jonathan marah.


Mario mengusap telinganya yang terasa panas. Suara pekikan Mario itu seperti sengatan listrik baginya. Ia menghela nafas.


"hhh.. Kenapa kau tidak menelepon ke rumah? Padahal jika kau menelepon ke rumahku, Bi Imah pasti akan mengangkat teleponmu."


Jonathan terdiam. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali lalu memukul kepalanya pelan.


"Ah? Kau benar juga. Kenapa aku tidak terpikir kearah sana ya? hahhahaha."


Mario memutar bola matanya malas. Ia sangat kesal pada keponakan ayahnya ini meskipun terselip rasa hangat yang menjalar karena ia jadi semakin yakin bahwa banyak orang yang menyayangi mereka.


"Hhhh..Kenapa ayah memiliki keponakan sepertimu ya? Padahal keluarga ayah semuanya pintar-pintar. Apa karena saat pembagian otak kau tidak datang dan langsung lahir begitu saja ya? Hmmm..sepertinya begitu." ejek Mario.


Kedua mata Jonathan membola. Kenapa sepupunya ini suka sekali menghinanya meskipun ia juga sering melakukan hal yang sama tapi tetap saja ia tak terima.


"Mariooooooo!!" teriak Jonathan marah. Mungkin jika ini di film, dua tanduk merah sudah ada di kepalanya.


"Jangan marah Jo. Aku hanya bercanda." ucap Mario terkekeh.


"Ishh tidak lucu. Sekarang cepat katakan padaku kalian kemana saja? Kenapa tidak ada kabar sama sekali,hah?!" Tanya Mario ketus.


"Kau tahu sekarang Max sedang apa? Dia sedang makan tapi disuapi bunda." ucap Mario tak nyambung.


Jonathan mengernyitkan dahinya bingung.


"Ckk. Kau ini! Aku bertanya apa,kau jawab apa? Tidak nyambung. Lagipula tante Aulia kan sedang diluar kota." kesal Jonathan. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat ia kenal.


"Yak! Kak Rio! Siapa yang menelepon?! Kenapa kau mengatakan yang tidak-tidak, hah?! Bunda kakak nakal bunda." adu Max seperti anak kecil. Disituasi seperti ini Max akan menjadi manja pada ibunya.


"Tidak apa-apa sayang. Kan Max memang bunda suapi. " ucap Aulia sambil terkekeh.


Max memajukan bibirnya lima sentimeter. Bundanya tidak memihaknya sama sekali.


"Utuu..utuutuututu..lucunya bayi besar kak Rio." ucap Mario sambil menarik gemas mulut dan pipi adik kembarnya.


Max mendelik saat Mario mengatai ia bayi besar dan memainkan pipinya. Ia lalu menepis tangan Mario kencang.


"Aww.." ringis Mario saat tangannya ditepis kasar oleh Max.


"Kebiasaan. Horrornya muncul." kesal Max dengan mata menajam. Bukannya seram justru menggemaskan bagi Mario.


"Kok horror Max. Memangnya kak Rio seram?" tanya Mario memelas.


"Iyalah kak Rio kalau jahilnya kambuh itu jadi tidak normal, menyeramkan mirip Valak!"


"Hah,Valak?! Bunda,Max jahat masa anak bunda yang tampan ini disamakan dengan Valak?" adu Mario.


Bunda hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya yang masih seperti anak berusia lima tahun.


"Makanya kamu jangan ganggu adik kamu terus." ucap bunda.


"Ishh. Bunda kok begitu." kesal Mario.


"Rasakan. Satu sama." ucap Max sambil menjulurkan lidahnya kearah Mario.


"Ckk. Dasar anak kecil." Mario mencebikkan mulutnya.


"Rio.." suara Jonathan mulai terdengar kembali di telepon.


"Bun,aku menelepon sebentar ya di luar." ijin Mario.

__ADS_1


Aulia mengangguk.


"Dadah bayi besar,Kak Rio keluar sebentar ya."


Max mengangkat bantalnya tinggi bersiap untuk melemparnya ke arah kakaknya. Sebelum akhirnya ia urungkan saat suara ibunya mengintrupsinya.


"Sudah ya sayang. Ayo habiskan makanannya setelah itu minum obatnya." bujuk Aulia.


Mario terkekeh melihat adiknya mendelik kearahnya. Ia lalu keluar dan menutup pintu.


"Rio..Max kenapa?" suara Jonathan terdengar lirih.


Mario menghembuskan nafasnya kasar.


"Semalam Max kambuh dan dibawa ke rumah sakit. Maaf kami mengabaikan telepon dan pesan darimu dan Hayden." ucap Mario.


"Apa kata dokter dan kenapa Max bisa kambuh? Apa Max kelelahan? atau Max terjatuh atau apa Yo?" Suara Jonathan pelan tapi sarat akan rasa khawatir.


"Bunda mengatakan jika Max mengingat masa lalunya." ucap Mario.


"Apa?! Bagaimana bisa?!" kaget Jonathan.


"Sepertinya ini ada hubungannya dengan perempuan yang kemarin."


Jonathan mengernyit bingung.


"Hah?"


****


"Ra,Clara. Hey jangan diam saja. Sekolah masih sepi dan kau juga diam saja,jadi semakin sepi Ra. Sudahlah jangan dipikirkan terus. Kemarin Itu bukan kesalahanmu. Dia akan baik-baik saja,tenanglah." ucap Cassie menenangkan.


Clara menggelengkan kepalanya sambil terus berjalan di lorong sekolah yang masih sepi karena memang ini masih sangat pagi jadi belum terlalu banyak murid yang datang.


"Tapi ini semua salahku Cassie,seharusnya aku ingat jika Max itu sedang sakit,aku sudah memaksakan kehendakku. Kau tahu tangannya dingin sekali dan juga basah. Wajahnya juga pucat. Aku takut terjadi sesuatu padanya." ucap Clara lirih.


Cassie mengusap punggung Clara pelan berusaha menenangkan. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya menenangkan Clara, sejak kemarin Clara terus menerus menyalahkan dirinya sendiri,padahal Cassie sudah mengatakan jika ini semua bukan salahnya tapi Clara tetap menyalahkan dirinya sendiri jadi hanya ini yang ia bisa lakukan untuk Clara. Saat dalam perjalanan menuju kelas. Mereka mendengar murid kelas sepuluh satu berbicara.


"Yahhhh teman kembar kita tidak masuk." keluh salah seorang siswi berkaca mata.


"Iya katanya Max sakit dan dibawa ke rumah sakit tak lama setelah pulang sekolah kemarin." ucap siswi yang lain.


" Max sakit apa ya?" tanya siswi berkaca mata.


"Tidak tahu. Semoga dia baik-baik saja. Ayo cepat. Kita kan datang pagi-pagi untuk tugas piket. Ayo cepat."


Setelah siswi-siswi itu pergi. Clara dan Cassie terdiam. Cassie menoleh kearah Clara yang menggigit bibirnya.


"Maafkan aku Max..ini salahku.."


Clarapun pergi berlawanan dengan arah kelasnya.


"Yak! Clara kau mau kemana?" Panggil Cassie panik dan segera menyusul Clara.


Clara berlari dan mengunci diri di kamar mandi.


"Ini semua salahmu M. Kenapa kau harus hadir jika untuk pergi. hikshiks.."


"Kenapa.." Clara memukul kepalanya berulang-ulang dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Kenapa M? Kenapa? Kenapa harus ada cinta jika ada yang terluka..? hikshiks."

__ADS_1


"Aku membencimu..


BERSAMBUNG..


__ADS_2