
Lelaki yang memakai plester yang tak lain dan tak bukan kakak kelas mereka itu tersenyum saat Max terlihat bingung.
"Hhh..Please! Jangan drama menjadi manusia." ucap lelaki itu sambil tersenyum sinis kearah Max.
Max mengernyitkan dahinya bingung.
"Tapi..aku benar-benar tidak mengenalmu." ucap Max.
"Cuihhh!"
Lelaki itu meludah kesamping.
"REY-NAL-DY. " ucap lelaki itu dengan penekanan kata.
Max terdiam. Tiba-tiba kilasan-kilasan masa lalunya bermunculan. Ia pun memejamkan kedua matanya erat menghalau rasa pusing yang kembali menyerang.
"Sudah ingat? Max. Max. Max. Musuh lamaku. Sainganku. Manusia yang selalu ikut campur urusan orang lain. Pahlawan kesiangan. Perusak!" sinis Reynaldy.
"Sampai sekarang kau tetap tak berubah ya? Masih sama seperti dulu."
Max hanya diam tak berniat menjawab sama sekali. Ia hanya berniat untuk menjadi pendengar saat ini karena ia memang tak mengenali lelaki ini sama sekali. Lebih tepatnya tidak mengingat Reynaldy sama sekali.
"Kau tahu? Moment ini benar-benar kutunggu. Kau menghilang tanpa jejak. Aku kira kau sudah mati. Ternyata belum ya? Tapi aku senang jadi kita bisa melanjutkan urusan kita yang belum selesai." ucap Reynaldy dengan senyum miringnya lalu mendekat kearah Max dan berbisik di telinga Max.
"Bersiaplah. Pembalasan akan segera di mulai." bisiknya lalu pergi diikuti teman-temannya yang lain.
Max terdiam. Kilasan-kilasan masa lalu kembali bermunculan.
"Max harus bertanggung jawab!"
"Diam kau! Adikmu memang pantas mendapatkan ganjarannya! Bahkan itu tidak sebanding dengan apa yang sudah ia lakukan pada Max!"
"Aku tidak peduli! Tunggu pembalasanku!"
Max mencengkram kepalanya erat disertai ringisan-ringisan yang keluar begitu saja dari mulutnya. Kepalanya benar-benar sakit bahkan lebih parah dari sebelumnya. Sakit yang kemarin saja belum hilang, sekarang justru sakitnya semakin bertambah. Maxpun akhirnya limbung membuat dua orang yang berada disana memekik kaget.
"Max!!" teriak Clara panik dan segera menahan tubuh Max dibantu lelaki yang mereka tolong tadi.
"Sshhhss!" Ringis Max.
"Kita ke UKS! Kau bantu aku ya?!" pinta Clara sambil melirik pada lelaki yang Max tolong tadi.
Lelaki tadi mengangguk sambil mengalungkan tangan Max di lehernya.
"Ja..ngan.." ucap Max terputus-putus.
Clara mengernyitkan dahinya bingung.
"Ta..tapi Max.."
Max menggelengkan kepalanya.
"Ban..hhh..tu.. a..ku..hhh..duduk..di..sana.."
Clara dan lelaki itu segera menuruti keinginan Max untuk membantunya duduk di kursi panjang yang ada disana. Sesampainya disana Max langsung mengambil tabung obat di saku celananya lalu mengambil beberapa butir dan berniat menelannya tapi dicegah oleh Clara.
"Aku belikan air minum dulu!" tahan Clara panik.
"Biar aku saja yang belikan!" ucap lelaki tadi yang juga tak kalah paniknya.
Max menggelengkan kepalanya, lalu segera menelan obat-obat itu tanpa bantuan air sama sekali. Ia sudah tidak kuat, kepalanya sudah sangat sakit ditambah dadanyapun ikut terasa sesak bahkan keringat sebesar biji jagungpun sudah mengalir turun melewati pelipisnya.
Clara meringis saat melihat Max memaksakan diri untuk menelan obatnya. Bahkan kedua tangan Max sudah menutup mulutnya.
"Kau kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi padamu Max? Aku takut.." batin Clara. Ia ingin sekali menangis tapi ia berusaha menahannya. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Max.
__ADS_1
Max memejamkan matanya sejenak sambil berusaha menetralkan nafasnya yang sempat sesak.
"Aku panggilkan Rio ya?" tawar Clara dengan raut wajah yang sarat akan rasa khawatir bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca.
Max menggelengkan kepalanya pelan lalu membuka kedua matanya. Matanya terlihat sayu tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Maaf.."
Clara mengernyitkan dahinya bingung.
"Untuk?"
Max memegang tangan Clara erat.
"Untuk semuanya. Maaf sudah merepotkan kalian berdua." lirih Max sambil menengok kearah lelaki yang tadi ia tolong dan sekarang justru menolongnya.
Clara menggelengkan kepalanya ribut. Bahkan air matanya sudah turun membasahi pipinya.
"Tidak! Kami tidak merasa direpotkan sama sekali Max. Sungguh. Iyakan?" ucap Clara sambil melirik lelaki yang berdiri disampingnya meminta persetujuan.
"Iya. Tadi kau juga kan sudah menolongku. Anggap saja ini sebagai balas budi dariku." ucap lelaki itu.
Max mengangguk lalu tersenyum. Ia lalu mengusap air mata yang membasahi pipi Clara.
"Cengeng." ucap Max pelan.
Clara mendengus.
"Ish! Aku mengkhawatirkanmu, tahu! Jantungku hampir lepas melihatmu seperti ini!" kesal Clara sambil terisak.
Max tersenyum.
"Baru hampir kan? Jadi tidak masalah. Jantungku saja sudah lepas tapi bagiku itu tidak masalah." ucap Max sambil terkekeh.
"Aww!" ringis Max saat lengannya lagi-lagi menjadi santapan ringan tangan Clara.
"Tidak lucu! Menyesal aku sudah mengkhawatirkanmu!" kesal Clara.
"Iya Maaf." ucap Max sambil tersenyum kearah Clara lalu beralih menatap lelaki yang masih setia berdiri.
"Oh ya sekali lagi terima kasih ya. Oh iya kita belum berkenalan. Namaku Max. Namamu siapa?" tanya Max sambil mengulurkan tangan kanannya.
Lelaki itu tersenyum dan menyambut tangan Max.
"Sama-sama. Namaku Rudi. Senang berkenalan denganmu Max dan juga.." lelaki itu menggantungkan kalimatnya saat ia melihat kearah Clara. Clara yang mengertipun langsung tersenyum.
"Clara. Senang berkenalan denganmu juga." ucap Clara cepat.
Rudi tersenyum mengangguk.
"Cantik.." batin Rudi.
****
"Lain kali jangan seenaknya meninggalkanku!" kesal Jonathan.
Saat ini Max sudah kembali ke depan toilet setelah ia merasa tubuhnya sudah membaik. Jonathan yang dari tadi menghubungi ponselnya berkali-kali terus menerus memarahinya. Untungnya Clara dan Rudi sudah pergi meninggalkannya setelah mengantarkan dia kesana, itu juga atas desakan darinya, jika tidak ia yakin Clara dan Rudi akan menjadi sasaran empuk kemarahan Jonathan terutama Clara.
"Hmm.." jawab Max hanya dengan deheman.
Jonathan mendelik.
"Ham hem ham hem. Kau ketularan si muka datar ya?! Jangan kau ikuti dia! Si Hayden itu membawa pengaruh buruk!" kesal Jonathan.
Max menghembuskan nafasnya pelan.
__ADS_1
"Iya Jojo. Silent please! Kau membuat telingaku panas. Lebih baik kita pergi ke kantin secepatnya sebelum mereka memakanmu hidup-hidup." peringat Max.
"Ckk. Bukan hanya aku tapi kau juga. Mereka akan memakan kita hidup-hidup." ralat Jonathan.
Max menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kekiri.
"No no no. Just you, ok. Because I'm so special. hehehe." ucap Max sambil terkekeh.
Jonathan mendengus mendengarnya.
"Memangnya nasi goreng. Spesial!"
Max hanya terkekeh mendengarnya tak berniat membalas ucapan Jonathan. Sebenarnya saat ini tubuhnya masih sangat lemas, tentu saja semua ini terjadi karena ia kambuh sampai beberapa kali.
Max dan Jonathan akhirnya sampai di kantin, disana tepatnya dibangku kantin yang ada di pojok, sudah ada Mario dan Hayden dengan wajah yang sangat menyeramkan menurut Max dan Jonathan. Max dan Jonathan meneguk ludahnya kasar. Bagaimana tidak? Saat kau melihat dua orang manusia menghunusmu dengan senjata tajam. Ah bukan, maksudnya dengan tatapan sangat tajam seakan-akan keduanya bersiap-siap untuk menerkam Max dan Jonathan hidup-hidup.
"Selamatkan kami Ya Allah." batin Max dan Jonathan harap-harap cemas.
Max dan Jonathan lalu menghampiri Mario dan Hayden lalu duduk disana. Sudah ada dua mangkok bakso lengkap dengan mie, bihun, sawi dan kawan-kawannya. Max yang ingat ia harus segera mengisi tenaganya langsung melahapnya tanpa peduli lagi dengan tatapan tajam Mario dan Hayden yang bahkan belum sedikitpun memakan baksonya karena menunggu kedatangan ia dan Jonathan.
"Dasar bayi besar. Tidak tahu kondisi. Tidak tahukah ia, jika aura mencekam sudah menyebar ke segala arah." batin Jonathan mendramatisir keadaan.
"Enak?" tanya Mario datar.
Max lalu mendongak dan menatap Mario. Dilihatnya Mario yang terlihat benar-benar menyeramkan. Max meneguk ludahny kasar lalu tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukan kepalanya lucu.
"Iya kak. Enak sekali. Ayo dimakan. Jangan hanya dilihat, kalian semua tidak akan kenyang jika baksonya hanya dilihat, yang ada baksonya akan malu jika dilihat terus seperti itu oleh lelaki-lelaki tampan seperti kalian. Lagipula aku sudah sangat lapar. Badanku juga sudah lemas, aku tidak mau lambungku kembali berulah." cerocos Max lalu kembali melahap baksonya.
"Hhh.." Mario, Hayden dan Jonathan hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan. Tidak mampu berkata-kata dengan ucapan panjang Max. Apalagi saat Max mengatakan jika ia sudah lemas dan tak mau lambungnya berulah, tentu saja mereka tidak mau terjadi sesuatu pada Max. Meskipun sebenarnya mereka tidak tahu jika Max lemas bukan karena itu.
"Ya sudah makan yang banyak Max." ucap Mario sambil mengusap kepala Max lembut.
Max menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu banyak. Satu mangkok saja sudah cukup. Aku tidak berniat untuk memesan satu mangkok lagi kak, apalagi ada mienya. Aku kan hanya boleh memakan mie satu minggu sekali." ucap Max panjang. Membuat ketiga orang itu menatapnya lucu sambil terkekeh.
****
"Hhh..Kau cantik sekali Ra. Aku jadi ingin mengenalmu lebih dekat."
"Tak peduli dengan uang jajanku yang habis hari ini. Bagiku kejadian tadi adalah suatu keberuntungan bagiku karenanya aku bisa bertemu denganmu."
"Oh bidadari. Jatuh dari surga, tepat dihatiku. Yeaaa.."
"Hhh..Apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama ya?"
Lelaki itu yang tak lain dan tak bukan ialah Rudi. Ia tersenyum senang sambil menyanyikan lirik lagu dari salah satu penyanyi Indonesia. Pipinya sudah bersemu merah. Saat ini ia sedang berbaring di tempat tidur kamarnya dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Sehabis pulang sekolah tadi, ia langsung masuk ke kamar sambil menatap sebuah foto Clara di ponselnya yang ia ambil diam-diam. Tapi tak lama senyumnya memudar saat ia mengingat raut wajah kesakitan Max.
"Dia sakit apa? Obatnya banyak sekali? Padahal dia sangat berani tadi. Tidak terlihat seperti orang sakit dan sepertinya dia dan kak Rey sudah punya masalah sebelumnya." gumam Rudy sebelum pemikirannya harus terhenti sejenak karena suara teriakan dari ibunya dari lantai bawah.
"Rudiiiii! Cepat turunnn!! Sudah waktunya makan siang!!!" teriak Reni, ibu Rudi dari lantai bawah.
"Ya Bu,sebentarrr!!!" sahut Rudi dengan teriakan pula.
****
TAKKKK!
Panah kecil itu menancap pada sebuah foto yang tertempel di dinding.
"Kita lihat Max. Siapa yang lebih kuat sekarang? Aku atau kau.."
Senyum miringpun tercipta di wajah Rey.
BERSAMBUNG...
__ADS_1