
Max menghembuskan napasnya pelan. Fokusnya tak lagi pada pelajaran. Ia mengabaikan guru Matematikanya yang menerangkan beberapa rumus di depan kelas. Pikirannya melayang pada kejadian di kantin tadi. Rasanya kepalanya benar-benar pusing sekarang. Berbagai pikiran negatif memenuhi otaknya. Sungguh, Max benar-benar tak sanggup memikirkan ini semua.
“Max,” panggil Mario pelan sembari memegang pundak sang adik kembar.
Max sedikit tersentak kaget. Ia lalu menoleh pada Mario yang terlihat khawatir padanya.
“Kenapa melamun? Ada yang sakit, hmm? Atau ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Mario pelan. Namun, sarat akan kekhawatiran.
Max tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.
“Max tidak apa-apa, Kak. Hanya pusing memikirkan itu,” jawabnya sambil menunjuk pada papan tulis yang berisi banyak rumus Matematika yang sedang dijelaskan oleh gurunya.
Mario diam. Ia ragu. Ia takut Max berbohong padanya untuk menutupi rasa sakitnya, tapi ia mengenyahkan semua pikiran buruknya dan mencoba untuk mempercayai sang adik. Lagi pula ia juga tahu jika Max tidak menyukai pelajaran Matematika karena sering kali adiknya tidak memahami tentang rumus-rumus Matematika. Meski begitu nilai Matematika Max tidak pernah kurang dari tujuh puluh.
“Jangan terlalu dipikirkan. Biasanya juga kamu tidak begitu peduli, kan?” saran Mario.
Max mengangguk pelan.
“Lupakan saja, oke. Nanti biar Kakak ajari, kalau ada yang tidak kamu mengerti.”
Max mengangguk lagi sambil tersenyum.
“Terima kasih, Kak Rio.”
Mario mengangguk lalu mengusap kepala Max pelan.
“Sama-sana. Relax saja ya. Kak Rio tidak mau kamu collaps hanya karena Matematika.”
Max terkekeh pelan menanggapinya. Mario kembali mengalihkan pandangannya ke arah papan tulis untuk mendengarkan penjelasan dari guru mereka, tapi tidak dengan Max. Ia hanya menatap kosong papan tulis itu.
“Sebegitu bencinya kamu padaku, Ra. Sampai-sampai kamu tidak peduli dengan semua penjelasanku atau memang kamu ingin menghindari orang penyakitan sepertiku,” batin Max sedih.
Sementara itu di kelas Clara. Clara pun juga bersikap seperti Max. Hanya melamun menatap kosong pada papan tulis yang berisi rangkuman pelajaran Bahasa Jepang yang ditulis oleh sekretaris kelasnya karena guru Bahasa Jepang mereka sedang berhalangan hadir. Cassie melirik pada kertas buku Clara yang masih bersih, tak ada tulisan sedikit pun. Cassie menghembuskan napasnya pelan. Ia tahu, Clara pasti masih memikirkan kejadian di kantin tadi. Semuanya memang terlalu tiba-tiba. Jujur Cassie pun tidak bisa untuk memikirkannya. Namun, ia tetap harus mengabaikan pemikiran itu sebentar karena harus memenuhi kewajibannya untuk belajar.
“Ra,” panggil Cassie pelan.
“Hmm,” jawab Clara berdehem tanpa menoleh pada Cassie sedikit pun.
__ADS_1
“Sudah, jangan dipikirkan tentang masalah tadi. Sekarang, waktunya kita belajar. Cepat, kamu tulis yang ada di papan tulis sebelum bukunya dikumpulkan ke sekretaris kita. Kalau tidak, minggu depan saat guru Bahasa Jepang kita datang, kamu pasti akan dihukum,” peringat Cassie.
Clara menghembuskan napasnya pelan. Ia mengangguk lalu mulai mengambil pulpen dari tasnya dan menulis dengan malas tulisan yang ada di papan tulis.
Cassie menghela napasnya lega saat melihat Clara menurutinya. Ia pun kembali menulis di buku tulisnya.
“Aku harus bagaimana, Max? Aku sekarang bingung. Aku merasa buruk. Aku merasa tidak berguna. Bagaimana bisa aku tidak menyadari kalau kamu sakit? Bagaimana bisa aku menuduhmu yang bukan-bukan padahal kamu sangat baik padaku? Meskipun kamu sakit, kamu selalu membantuku. Memberikan yang terbaik untukku. Aku ... jahat. Aku jahat, Max. Apa aku masih pantas untuk mengharapkanmu kembali padaku?” batin Clara sedih.
Tanpa ia sadari air matanya menetes di sudut matanya. Ia segera menghapusnya agar tidak diketahui Cassie. Namun, tanpa ia sadari Cassie sudah melihatnya dan ikut merasakan kesedihan Clara.
...****
...
Bel panjang berbunyi, menandakan pelajaran telah usai dan siswa-siswi bisa segera pulang.
Max bersandar pada tembok di samping kursinya sambil melihat Mario yang sedang membereskan peralatan sekolah milik Max, setelah Mario selesai membereskan peralatan sekolah miliknya sendiri.
Max mengerjapkan kedua matanya pelan saat pandangannya tiba-tiba kabur. Semua terasa berbayang. Kini bukan hanya itu, semua yang Max lihat kini terasa berputar. Max langsung memejamkan kedua matanya erat lalu Max memegang lengan Mario kencang, membuat Mario segera menoleh ke arahnya.
Mario kaget saat melihat Max memejamkan kedua matanya erat sambil mengernyitkan dahinya seperti menahan sakit.
“Pusing, Kak,” adunya lirih.
“Yo, ke rumah sakit, sekarang!” teriak Jonathan tak kalah panik.
Mario segera menggendong Max ala bridal style dan segera beranjak keluar kelas diikuti Hayden dan Jonathan yang membawakan tas mereka berdua.
“Max, Dek. Bertahan ya,” ucap Mario lirih. Namun, tak ada balasan yang keluar dari mulut Max.
Mario melihat ke arah Max. Sontak kedua matanya kaget saat melihat Max jatuh terkulai tak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari hidungnya.
“Maxx!!” teriak Mario histeris dan segera berlari. Disusul Hayden dan Jonathan.
...**** ...
“Wah, ada tukang bersih-bersih yang baru, nih di sekolah,” ledek Mariana.
__ADS_1
Silvana yang merasa diejek menatap nyalang pada Mariana. Jika saja ia tidak ingat jika dirinya saat ini sedang menjalani hukuman dari guru bahasanya. Mungkin ia akan menyiramkan air kotor bekas mengepel lantai di embernya ini pada Mariana. Namun, sayang. Kini ia hanya bisa diam karena ia tidak mau hukumannya bertambah karena ada CCTV di dekat toilet.
“Makanya kamu jangan suka mengerjai orang, terutama mengerjaiku, Kakak sepupumu sendiri. Untung saja kamu hanya disuruh mengepel lantai luar toilet dan lantai dalam toilet, bagaimana kalau kamu di skors oleh sekolah. Tamat riwayatmu, Sil. Om sama Tante pasti malu punya anak sepertimu,” ejek Mariana lagi.
Silvana mengeram kesal dengan tangan yang mengepal hingga memutih.
“Berisik! Jangan menghinaku! Memangnya kau pikir aku akan berhenti menyakitimu? Tidak! Kau salah, Na. Aku akan tetap menyingkirkan pengganggu sepertimu karena Max milikku. Hanya milikku! Kau dengar itu?! Jadi berhenti mendekati Max atau kau akan menyesal! Ingat itu!” ancam Silvana.
Mariana mengeram kesal. Ia mungkin memang sedikit takut dengan ancaman dari Silvana, mengingat ternyata Silvana tidak main-main dengan ucapannya. Menurutnya Silvana memang sudah gila, tapi tekadnya sudah bulat. Ia tidak mau menyerah. Sejak awal ia sudah menyukai Max. Jadi, tidak mungkin ia menyerah begitu saja dan membiarkan Max menjadi milik Silvana. Tidak mungkin.
“Aku tidak takut! Dasar perempuan tidak waras!” sahutnya menantang lalu segera pergi dari sana.
“ARGHH!!! Berengsek kau Mariana! Tunggu saja pembalasan dariku! Kau akan menyesal sudah berani mengusik hidupku!!”
“Berengsek kau, Ana!!” teriak Silvana kemudian menendang ember berisi air kotor bekas ia mengepel hingga memenuhi lantai. Ia lalu hendak berjalan menuju kelasnya. Namun, kakinya terpeleset karena menginjak air bekas ia mengepel.
BRUKK!!
“AWW! Sakit!!” ringisnya sambil memegang pantatnya yang mencium lantai.
“Silvana!!” teriak guru Bahasa yang datang untuk menemuinya.
“Apa yang sudah kamu lakukan, hah?!” tegurnya.
Silvana meneguk ludahnya kasar.
“Sekarang, kamu bereskan semua kekacauan yang kamu buat ini! Jangan sampai ada air yang menggenang lagi! Ibu tidak mau tahu, pokoknya semua harus bersih! Jangan sampai ada orang yang terjatuh karena lantainya licin! Ingat itu!!” perintah guru Bahasa itu.
“Ta ... tapi, kan, Bu. Sekarang sudah waktunya pulang sekolah, masa saya harus me----“
“Tidak ada tapi-tapian! Cepat kerjakan!” perintah guru Bahasa itu setelah memotong ucapan Silvana.
“Iya, baik, Bu.”
Silvana pun menuruti perintah gurunya dan kembali membersihkan lantai yang tergenang air akibat ulahnya.
“Tunggu pembalasanku, Na!” gerutunya dalam hati.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ....
...