Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
47. Bersamamu Aku Bahagia


__ADS_3

Suasana di kamar rawat Max diisi dengan keheningan. Entah karena rasa canggung atau bingung ingin mengatakan apa? Yang jelas dua anak manusia berlainan jenis ini sedang berada di dalam kamar rawat Max, hanya berdua. Ya, hanya berdua, tapi tolong jangan berpikiran macam-macam. Mereka tidak melakukan apa-apa. Max hanya terbaring di ranjang karena kondisinya masih lemas, sehingga belum sanggup untuk sekedar duduk bersandar, sedangkan Clara hanya terduduk diam di samping Max sambil menunduk. Entah apa yang dipikirkan gadis di hadapan Max ini? Max hanya bisa tersenyum melihatnya. Tolong, jangan anggap Max gila karena senyum-senyum sendiri. Ini yang dinamakan cinta. Melihat sang pujaan hati ada di hadapannya saja sudah membuat ia bahagia.


“Kok, diam? Risih ya disenyumi aku terus?” tanya Max memecah keheningan yang ada.


Clara sontak mendongak lalu menggelengkan kepalanya pelan. Ditatapnya Max yang terus tersenyum padanya. Tadinya Clara berpikir Max overdosis obat, sampai membuat Max tersenyum terus seperti ini, tapi saat mendengar Max bicara, sepertinya ia salah mengira.


“Kalau tidak, kenapa diam? Pakai acara menunduk segala, lagi?” tanya Max lebih seperti tuntutan sebenarnya. Meskipun wajah Max yang sendu, tidak menampakkan kesan menuntut.


“Tadi aku mengira kau overdosis makanya senyum sendiri,” sahut Clara pelan.


Max tergelak mendengarnya. Bukan hal yang seperti dia bayangkan. Dia kira dia akan mendengar kata-kata romantis dari Clara atau kata-kata penolakan dari Clara, tapi ternyata hanya itu yang diucapkan Clara. Max terkekeh. Tangannya yang masih lemas bergerak mengusap kepala Clara pelan sambil tersenyum hangat ke arah Clara. Clara terdiam. Lagi-lagi ia terpesona melihat senyum hangat sehangat mentari yang selalu menghiasi wajah Max.


“Lucu. Jangan hilangkan lucunya, ya?”


Clara mengernyitkan dahinya bingung saat ia tidak mengerti dengan ucapan dari Max.


“Apa pun yang terjadi, jangan berubah, ya? Harus tetap tersenyum, tetap bahagia, tetap tertawa dan tetap lucu.”


Max terkekeh pelan mendengar ucapannya sendiri. Sementara Clara hanya mendengarkan tak berniat menyela ucapan Max.


“Kalau kamu menolak, aku terima, kok. Tidak apa-apa. Tidak perlu merasa bersalah. Aku tidak akan memaksa. Cukup menjadi teman dan tidak menjauhiku saja, aku sudah bahagia. Aku akan bahagia selama melihatmu bahagia, Ra. Maaf, ya. Aku sudah membuatmu kecewa. Kamu masih mau, kan berteman denganku hingga nanti aku harus pergi dari dunia ini? Kamu ma---“


GREPP!!


Max mengerjapkan kedua matanya kaget. Ia kaget saat Clara tiba-tiba memeluknya erat. Sangat erat. Bahkan ia kini merasa pundaknya basah. Clara terisak hebat dalam pelukannya. Max yang sedari tadi masih mencerna apa yang terjadi pun akhirnya membalas pelukan Clara lalu mengusap punggung Clara pelan.


“Kenapa, kok nangis? Jangan menangis, aku tidak suka melihatmu menangis. Aku, kan sudah bilang aku ingin melihatmu bahagia bukannya me---“


“Diam!” bentak Clara memotong ucapan Max.


“Dasar bodoh! Jangan melantur! Jangan bicara yang tidak-tidak! Siapa yang bilang kamu akan pergi, hah?! Siapa?!” lanjutnya marah.


“Ta ... pi, kan aku sa---“


“Kubilang diam! Hikshiks. Masa kau tega meninggalkanku lagi? Masa kau tega melihat aku sendirian? Aku mencarimu bertahun-tahun, bodoh! Berbekal cuman inisial bodoh darimu! M cuman M. Nama apa itu?! Dasar orang gila!”


Max menatap Clara datar. Sudah dikatai bodoh berkali-kali ditambah dikatai orang gila juga. Hancur sudah image Max sebagai most wanted di sekolah. Untung sayang. Kalau yang mengatakan itu adalah orang lain, sudah dipastikan tubuh lemasnya akan kuat untuk menendang orang ke luar dari kamar rawatnya. Namun, ini, kan Clara. Jadi ia terima dengan lapang dada.


“Kau harus bertahan! Jangan pergi lagi!”


Max terdiam sejenak, berusaha mencerna apa yang diucapkan Clara. Seketika senyumnya mengembang.


“Maksudmu? Kamu ... sudah tidak marah padaku?”


Clara menggelengkan kepalanya pelan.


“Kamu sudah tidak kecewa padaku?”


Clara tersenyum lalu melepaskan pelukannya.


“Aku tidak marah padamu. Aku tidak kecewa padamu. Mungkin aku sempat kecewa padamu, tapi itu dulu sebelum aku tahu fakta darimu,” ucap Clara lirih.


Max semakin mengembangkan senyumnya. Ia lalu menggenggam tangan Clara pelan.


“Terima kasih. Terima kasih, Ra.”


Clara menganggukkan kepalanya pelan.


“Terus, kenapa kamu sampai masuk rumah sakit lagi? Apa ... karenaku, ya?” tanya Clara pelan.


Max menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak mungkin mengatakan jika ia masuk rumah sakit karena memikirkan Clara, kan? Itu tidak mungkin. Yang ada Clara akan menyalahkan dirinya sendiri dan Max tidak mau itu terjadi.


“Bukan. Ini sudah biasa. Sakitku membuat aku gampang lelah. Jadi, ya seperti ini. Langsung collaps, terus masuk rumah sakit, deh.”


Clara menunduk. Rasanya sakit, mendengar Max mengatakan itu semua dengan entengnya.


“Mau jadi pacarku, tidak?” tanya Max tiba-tiba.


Clara seketika mendongak mendengarnya. Ia melihat sorot mata Max yang sendu, menatap ke arahnya dengan tulus.


“Aku tahu. Aku sakit. Aku pasti tidak bisa membahagiakanmu. Mungkin aku hanya akan bisa membuatmu menangis, tapi aku akan berusaha untuk membahagiakanmu semampuku. Aku ... sayang sama kamu, Ra. Aku cinta sama kamu. Dari dulu sampai sekarang, perasaanku masih sama. Mungkin aku sempat lupa denganmu kemarin, tapi asal kau tahu rasa cintaku tidak hilang meskipun ingatanku hilang.”


Clara terdiam. Rasanya bahagia, tapi menyesakkan. Ungkapan hati Max membuatnya sesak. Oksigen serasa menjauh darinya.


“Aku tahu, aku tidak pantas buat kamu, Ra. Kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku, lebih sehat dariku, tapi jujur aku masih berharap kamu mau jadi pacarku.”

__ADS_1


Clara masih terdiam menahan sesak yang terasa. Ia menatap Max dalam. Sedangkan Max menghembuskan napasnya pelan.


“Maaf, aku egois, Ra. Maaf, ya.”


Max menunduk. Ia menyesal sudah berbicara seperti tadi. Harusnya ia tidak egois dan memaksa Clara seperti ini. Bagaimana mungkin Clara menerima orang yang sakit seperti dia? Pikirnya.


“Aku mau,” jawab Clara pelan.


Max mendongak tak percaya. Ia masih ragu dengan apa yang ia dengar.


“Maksudnya?” tanyanya memastikan.


Clara mendengus mendengarnya.


“Ya ... itu. Aku mau,” jawabnya tiba-tiba menjadi kesal saat ditanya Max seperti itu.


Max mengernyitkan dahinya bingung.


“Mau apa?” tanya Max dengan wajah polosnya.


Clara mengeram kesal.


“Ihh!! Max!! Masa tidak mengerti! Dasar tidak peka! Bikin kesal, deh! Sudahlah, aku pulang!”


Clara baru saja akan bangkit dari duduknya. Namun, tangan Clara dipegang oleh Max. Tidak kencang karena Max masih lemas, tapi cukup membuat Clara mengurungkan niatnya dan kembali duduk di samping Max dengan wajah tertekuk. Max yang melihatnya justru tersenyum jahil pada Clara.


“Perempuan itu begitu, ya? Penuh gengsi. Padahal tinggal bilang saja kalau kamu mau jadi pacarku. Begitu saja kok, repot?”


Clara semakin menekukkan wajahnya. Max terkekeh lalu menarik hidung Clara pelan.


“Jangan marah. Nanti aku tambah cinta. Overdosis cinta nanti aku,” canda Max.


“Garing!” ketus Clara.


“I love you too,” sahut Max.


PLAKK!!


“Aww! Sakit, Ra. Aku lagi lemas begini, masa dipukul, sih?”


“Bercanda. Jangan marah. I love you. Aku cinta kamu banyak-banyak,” goda Max.


Max menggenggam tangan Clara erat bermaksud meminta jawaban.


“Iya sama,” jawab Clara.


“Sama apanya, hmm?” tanya Max sambil tersenyum jahil.


“Ya sama banyak!”


Max terkekeh. Senang sekali rasanya menjahili Clara. Membuat dia benar-benar bahagia. Seolah rasa sakitnya menghilang begitu saja.


“Apanya yang sama banyak? Makannya? Aku tidak, Ra. Aku justru sedang susah makan, nih.”


Clara mendengus. Rasanya benar-benar menjengkelkan. Ingin sekali Clara memukul kepala Max. Namun, ia sadar jika Max saat ini sedang sakit.


“Lagi sakit masih bisa bikin emosi orang! Heran,” kesal Clara.


Max menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Iya, aku tahu aku ganteng. Terima kasih, loh pujiannya.”


Clara melotot tajam.


“Siapa yang bilang begitu?!” marah Clara.


Habis sudah. Emosinya benar-benar dipermainkan. Ayolah, apa Max tidak mengerti bagaimana perasaan seorang perempuan?


“Banyak. Yang bilang aku ganteng itu banyak. Aku, kan most wanted di sekolah,” bangga Max.


Clara memutar bola matanya malas.


“Sudahlah, aku pulang saja!”


Clara berdiri dari duduknya. Max memegang tangan Clara pelan.

__ADS_1


“Jangan marah nanti aku collaps lagi.”


Clara melotot tajam pada Max lalu memukul tangan Max kesal. Tidak kencang, tapi cukup membuat Max meringis.


“Sembarangan kalau ngomong! Jangan aneh-aneh, deh! Aku tidak suka ....” ucap Clara terdengar lirih di akhir kalimat.


Max tersenyum sendu lalu menyuruh Clara duduk dengan gerakan matanya. Clara menurut lalu duduk kembali.


“Makanya jangan jauh-jauh dariku. Sudah, ya jangan marah. Yuk, sini aku cium,” goda Max.


Clara menatap Max horror.


“Berani kamu cium aku, kita putus!” ancam Clara.


Max mengerucutkan bibirnya. Merajuk seperti anak kecil.


“Belum juga satu jam jadian, masa sudah putus saja,” cicit Max.


“Ya, makanya jangan aneh-aneh! Dosa, tahu!” bentak Clara.


Max menganggukkan kepalanya lucu.


“Iya, tahu. Makanya aku suka kamu. Kamu cantik, baik, cerdas, mengerti agama, punya harga diri, lagi. Itu yang bikin aku semakin yakin, kalau kamu itu pilihan yang tepat. Jadi, ingin cepat-cepat halal terus jadi imam kamu. Pokoknya makin cinta, deh.”


Clara berdehem. Pipinya terasa panas. Ah, katakan Clara lemah. Gombalan Max yang tak seberapa itu saja sudah membuat ia panas dingin seperti ini.


“Sudah, jangan gombal terus. Nanti didengar orang, kan malu.”


Max terkekeh pelan lalu tersenyum lebar.


“Terima kasih. Terima kasih banyak. Aku bahagia, Ra. Sangat bahagia,” ucap Max dengan senyum tulusnya.


Clara terdiam. Senyum Max itu indah, cerah. Secerah matahari yang menyinari dunia. Ah, bukan, tapi menyinari seorang Clara.


“I love you, Ra.”


Clara menunduk.


“I love you too,” jawab Clara pelan. Hampir tak terdengar. Namun masih bisa Max dengar.


Max tersenyum lebar mendengarnya. Baru kali ini ia merasa benar-benar berterima kasih pada collapsnya, karena berkat itu, ia bisa merasakan bahagianya saat sang pujaan hati menerima cintanya. Meskipun ia harus menyatakan cinta di ruangan berbau obat ini.


“Tidak apa, kan aku egois sebentar saja? Aku ingin merasakan cinta layaknya manusia pada umumnya dan melupakan sejenak rasa sakit yang aku rasa dan mungkin akan dirasakan Clara juga? Maafkan aku,” batin Max.


Clara mengguncang lengan Max pelan, membuat Max mengerjapkan kedua matanya pelan.


“Jangan melamun. Memangnya kamu kira aku obat nyamuk apa? Dibutuhkan tapi tak dianggap,” ucap Clara kesal.


Sebenarnya bukan kesal. Ia justru khawatir pada Max.


“Jangan menggombal. Cukup aku saja. Itu bagian aku. Bagian kamu ya digombalin. Mengerti?”


Clara memutar bola matanya malas.


“Jangan kegeeran. Aku tidak menggombal. Aku hanya menjelaskan. Ingat itu,” bantah Clara.


“Orang amnesia, disuruh ingat. Susah lah,” sahut Max.


“Tapi pelajaran sekolah, kok ingat?” heran Clara.


“Ya, namanya juga Max. Max itu anak pintar, kan?” sahutnya.


Clara mendengus.


“Terserah, dasar bocil!” dengus Clara.


“Sesama bocil jangan saling menghina. Hidup bocil!” ucap Max semangat sambil mengepalkan tangannya ke atas.


Clara terkekeh. Ia tersenyum lebar.


“Terima kasih ya Allah. M ku kembali. Max ku kembali. Aku sangat bahagia. Jaga dia, sembuhkan dia karena dia lelaki yang aku cinta,” batinnya.”


...BERSAMBUNG ....


...

__ADS_1


__ADS_2