
Aulia mengusap surai lembut putra bungsunya pelan. Ia cium pucuk kepala sang putra. Rambut sang putra wangi buah-buahan karena memang Max suka sekali memakai shampo buah yang biasanya dipakai untuk anak-anak.
“Max, sayang. Jangan tinggalkan, Bunda ya, Nak. Bunda sayang Max,” ucapnya lirih.
Ditatapnya wajah Max yang terlihat pucat meskipun tidak sepucat saat di rumah sakit. Rasanya hatinya sakit, melihat Max yang harus bergelut dengan sakit setiap harinya.
“Eungh,” lenguh Max.
Aulia tersenyum. Ia seperti melihat Max yang masih bayi. Saat bangun kedua matanya akan mengerjap perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Saat kedua mata Max sudah sepenuhnya terbuka. Aulia semakin tersenyum lebar.
“Selamat pagi Max sayang,” sapa Aulia.
Max menoleh ke samping kirinya. Seketika senyumnya melebar saat melihat sang Bunda sudah ada bersamanya.
“Bunda!” seru Max.
Terpancar rasa bahagia di mata Max begitu juga dengan Aulia.
GREPP!
Max memeluk erat Aulia sambil menghirup aroma tubuh Aulia. Aulia membalas pelukan Max. Dekapan hangat dari Aulia langsung terasa. Rasanya sangat menenangkan dan Max sangat menyukainya.
“Kangen, Bunda. Max kangen Bunda,” cicitnya membuat Aulia tersenyum lalu mengecup puncak kepala Max.
Max lalu merenggangkan pelukannya.
“Bunda kapan datang?”
Aulia mengusap wajah Max pelan.
“Tadi subuh, Bunda sama Ayah datangnya,” sahut Aulia.
“Masa, sih? Kan, tadi aku bangun Shalat subuh, Bunda sama Ayah belum datang?”
Aulia terkekeh.
“Kan, Maxnya tidur lagi setelah Shalat, makanya Max tidak tahu kalau Bunda sama Ayah datang.”
Max menganggukkan kepalanya lucu, seperti boneka yang ditaruh di dashboard mobil.
“Ayah, mana, Bun?” tanya Max sambil bergelayut manja di tangan Aulia.
“Ada di bawah. Di ruang makan. Ayah sama Mario lagi masak buat kita sarapan.”
Max mengernyitkan dahinya.
“Kok, Ayah yang masak? Nanti masakannya tidak enak, Bun.”
Aulia terkekeh.
“Kan, Ayah juga bisa masak, sayang.”
Max mengerucutkan bibirnya.
“Iya, tapi tidak seenak buatan Bunda. Apalagi Kak Rio, bisa masak, sih, tapi ... ya kurang enak.”
Aulia terkekeh lalu mencubit pipi Max pelan.
“Ckk! Gibah pagi-pagi ya, Dek.”
Max dan Aulia menoleh ke arah suara dan melihat Mario yang sudah menekuk wajahnya.
“Bukan gibah, cuma bicara fakta,” ledek Max.
Mario mendekat lalu memiting leher Max.
“Aaaa ... ampun! Ampun! Lepas, Kak Rio!” berontak Max.
__ADS_1
“Yo, sudah. Kasihan Adik kamu, nanti napasnya sesak. Sudah sudah lepas,” titah Aulia melerai.
Mario pun segera melepasnya dan melihat wajah sang Adik yang sudah memerah.
“Eh? Kamu tidak apa-apa, kan Max?” tanya Mario khawatir.
Aulia juga menjadi ikut khawatir.
Max menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum hangat pada keduanya.
“Max tidak apa-apa, kok. Jangan khawatir.”
Aulia dan Mario menghembuskan napasnya lega.
“Ya, sudah makanya jangan berantem lagi ya,” tegur Aulia.
Max dan Mario menganggukkan kepalanya.
“Maaf, ya, Max, Bun.”
Aulia menganggukkan kepalanya.
“Oh, ya. Jadi lupa. Rio disuruh Ayah ngajak Bunda sama Max turun ke bawah buat sarapan. Sarapan sudah siap.”
Max dan Aulia menganggukkan kepalanya. Mereka pun beranjak berdiri. Namun, baru saja berdiri Max limbung dan hampir jatuh jika tak segera ditahan oleh Mario dan Aulia.
“Max, kamu kenapa, sayang?!” panik Aulia.
“Ada yang sakit? Pusing?!”
Mario juga ikut panik. Max menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.
“Max tidak apa-apa cuma agak lemas saja,” sahut Max.
Aulia dan Mario menatap Max khawatir.
“Di sini saja ya sarapannya,” bujuk Mario dan Aulia.
Max menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak mau. Ayo, turun.”
Aulia menganggukkan kepalanya pelan. Namun, rasa khawatir tidak lepas begitu saja.
“Kak Rio gendong, ya.”
Max menurut. Lagi pula ia memang lemas. Mario lalu berjongkok di depan Max. Max pun naik dibantu oleh Aulia. Setelah Max sudah siap berada dalam gendongan Mario. Mereka bertiga pun segera turun ke bawah tepatnya ke ruang makan.
“Eh, kok digendong? Kenapa?” tanya Harry khawatir dan segera menghampiri Max yang digendong Mario.
“Max, tidak apa-apa, Yah. Cuma lemas,” jawab Max setelah turun dari gendongan Mario lalu duduk di kursi makan.
Harry menoleh ke arah Aulia yang terlihat sedih. Ia tahu pasti Aulia sangat khawatir pada Max. Tidak biasanya Max seperti ini jika ia sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Namun, ia ingat jika dokter Abdi mengatakan kondisi Max akhir-akhir ini menurun sehingga harus diusahakan agar tidak kelelahan dan juga banyak pikiran. Mungkin salah satunya adalah ini.
“Ya, sudah. Max mau makan apa? Lihat, Ayah sama Kak Rio sudah buat masakan yang enak-enak untuk kita berempat.”
Max tersenyum antusias. Semua masakan yang terhidang sangat menggugah selera.
“Fried chicken, kentang goreng sama ....”
Max menjeda ucapannya lalu menoleh pada Aulia.
“Sayurnya tidak usah ya, Bun?”
Aulia terkekeh.
“Harus, dong. Max tidak boleh makan semua ini kalau tidak pake sayur,” tolak Aulia.
__ADS_1
“Iya, Max. Kalau tidak makan sayur kasih bubur saja, Bun.”
Max mendelik tak terima saat Mario justru menyuruh sang Bunda agar memberikan ia bubur saja.
“Berisik, tidak usah ikut campur.”
Max melotot pada Mario yang justru dibalas tawa oleh Mario. Tatapan Max sama sekali tidak seram menurut Mario.
“Ya, sudah Max mau sayur bayam saja, Bun.”
Aulia tersenyum lalu menuangkan sayur bayam ke dalam mangkuk dan memberikannya pada Max.
Mereka berempat pun mulai sarapan dengan sesekali berbincang, membuat suasana hangat memenuhi suasana makan pagi saat ini.
...****
...
Abdi berkali-kali menghela napasnya dengan kepala berada di atas meja kerjanya sambil memandangi foto seorang wanita.
“Aulia, apa kamu memang benar-benar sudah melupakanku, ya?” gumamnya.
Ia menghela napas lagi entah yang ke berapa kalinya.
“Aku memang bodoh. Sudah meninggalkan wanita secantik dan sebaik kamu. Padahal aku sangat mencintaimu. Aku memang lelaki berengsek. Pantas saja aku sudah dilupakan olehmu, tapi aku bahagia kamu sekarang sudah bahagia dengan suami barumu dan juga anak-anakmu.”
TOK TOK TOK!
“Masuk, tidak dikunci!”
Abdi menegakkan tubuhnya pelan sambil tersenyum ke arah seorang perawat yang baru saja masuk.
“Dokter, ini hasil pemeriksaan pasien rawat jalan.”
Abdi mengambil map berisi hasil pemeriksaan pasien dari tangan perawat tersebut.
“Iya, terima kasih, Sus.”
Suster itu menganggukkan kepalanya dan segera pamit ke luar.
“Max ...” gumamnya.
...****
...
Cassie sedari tadi melirik ke depan di mana Rudi duduk di depannya. Ia lagi-lagi menyeruput es kopinya hingga hampir tandas. Ayolah, ia mulai bosan di sini. Ia sudah makan dan juga minum, tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rudi.
“Ekhm!”
Cassie berdehem berusaha agar Rudi menanggapinya. Rudi menoleh ke arah Cassie.
“Begitu dong. Dari tadi diam saja. Aku, kan jadi bingung. Kamu yang mengajak aku ke sini, tapi kamu juga yang diam. Itu makanan juga cuma di aduk-aduk. Kalau tidak mau buatku saja.”
Rudi menggelengkan kepalanya pelan.
“Memangnya kau belum kenyang?” tanya Rudi sambil menyodorkan sepiring spaghetti pada Cassie.
“Ckk! Aku bercanda, bodoh! Aku sudah kenyang. Kau tidak lihat aku sudah menghabiskan makanan dan minumanku. Aku hanya bercanda, agar kau terpancing dan mau berbicara denganku. Aku, kan bingung jika diam saja seperti ini. Acara live music juga tidak ada. Aku, kan jadi bosan. Lebih baik kita pu---“
“Kau mau jadi pacarku?”
Cassie membulatkan mata dan mulutnya.
“Hah?! Apa?!”
...BERSAMBUNG ....
__ADS_1
...