Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
7. Amnesia


__ADS_3

"Masih sakit?" tanya Mario sambil mengusap kepala Max pelan.


Max menggelengkan kepalanya. Setelah kejadian tadi dimana Clara memanggilnya dengan sebutan M, kepalanya terus terasa sakit. Berbagai kilasan-kilasan yang tak Max ketahui terus bermunculan diingatannya. Saat dalam perjalanan pulang,Mario,Jonathan dan Hayden sudah mengajak Max untuk ke rumah sakit tapi Max tetap menolak,ia tidak mau menyusahkan kakaknya dan kedua temannya itu.


"Hhh..ya sudah tapi jika ada yang sakit,katakan ya jangan ditahan.." ucap Mario.


Max mengangguk.


" Ya sudah kakak mandi dulu ya."


Lagi-lagi Max hanya mengangguk menanggapinya. Setelah Mario masuk ke kamar mandi Max langsung memegang kepalanya erat.


"Ssssshhss.." ringis Max.


"Siapa dia sebenarnya? Kenapa aku seperti pernah mengenalnya?" gumam Max.


"Argh!!" teriak Max saat kepalanya terasa lebih sakit dari yang tadi. Ia menjambak rambutnya kencang berharap sakitnya hilang. Max yang tadi sempat berbaring langsung terduduk. Ia mencengkeram kepalanya erat dengan kedua tangannya. Niatnya untuk tidurpun tertunda.


"Ckkk. Memangnya kau siapa? Aku bahkan tidak mengenalmu."


"M. Kau bisa memanggilku M."


"Tapi aku tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuanmu M. Sekali lagi terima kasih ya."


Kilasan-kilasan masa lalunya terus bermunculan membuat kepalanya serasa ingin pecah. Max menjambak rambutnya lebih kencang.


"Arghhh!!!" teriak Max kencang.


Tubuhnya yang lemaspun limbung dan terjatuh ke lantai. Nafasnya terputus-putus. Udara seakan menjauh darinya.


"hhh..hhh.." nafas Max semakin memberat.


Mario yang sudah mandi dan berganti pakaian di kamar mandipun segera keluar dari kamar mandi.


"Max,sekarang giliranmu mandi,kakak su.." belum selesai Mario berbicara. Kedua matanya membola,melihat adiknya meringkuk dilantai dengan nafas yang memberat dan tangan yang terus menjambak rambutnya sendiri. Mario segera berlari menghampiri Max.


"Max!! Bangun Max!kau kenapa?!" panik Mario.


"Arghh!! Sakitt..!!" teriak Max.


"Bertahanlah Max!" panik Mario lalu memangku kepala Max. Ia lalu mengambil ponselnya yang ada diatas nakas. Ia berkali-kali salah saat menekan tombol ponsel untuk memanggil ambulans.


"Argh! Kenapa salah terus?!"


Panik yang mendominasi membuat ia sulit berkonsentrasi.


"Kumohon.."


Akhirnya teleponpun tersambung.


"Tolong datangkan ambulans segera,adikku butuh bantuan. Cepat!" teriak Mario. Ia sudah tak peduli pada apapun.


Mario lalu menggendong Max dan membawanya turun dari lantai dua tempat kamar mereka berada. Ia sudah tak peduli seberapa panjang anak tangga yang harus ia lewati.


Sesampainya mereka dilantai bawah ambulanspun datang dan segera membawa Max menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit,Max sudah tak sadarkan diri dan dibawa ke ICCU.

__ADS_1


Mario benar-benar khawatir,ia terduduk di lantai dengan penampilan yang berantakan dan rambut yang sudah acak-acakan. Ia sudah berulang kali melihat Max collaps tapi ia tidak pernah terbiasa. Justru semakin membuat ia ketakutan. Ia sangat takut jika Max menyerah. Satu jam telah berlalu tak lama seorang dokter yang sudah sangat ia kenal pun keluar. Mario segera berdiri dan menghampiri dokter Abdi.


"Dokter bagaimana keadaan Max?"


Dokter Abdi tersenyum lembut sambil mengusap kepala Mario. Ia sudah menganggap Mario dan Max seperti anaknya sendiri.


"Keadaannya sudah mulai stabil. Max akan segera dipindahkan keruang rawat. Kamu tidak perlu khawatir,adikmu sangat kuat. Dia tidak akan mudah menyerah."


Mario mengangguk sambil menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya.


"Lalu dimana orang tua kalian?"tanya dokter Abdi saat tak melihat ada yang menemani Mario.


"Ayah bunda sedang di luar kota." ucap Mario.


"Hmm..ya sudah nanti biar saya yang menelepon orangtuamu, sekarang kau temani saja adikmu,jangan sampai saat ia sadarkan diri, ia tak melihat ada seorangpun yang menemaninya."


Mario menganggguk lalu mengikuti brankar Max menuju ke ruang rawat.


Sementara itu Abdi mengambil ponselnya dari saku jasnya.


"Hallo Di ada apa?" tanya seseorang diseberang telepon yang sarat akan rasa khawatir setiap ia menelepon.


"Max collaps. Tapi ia sekarang sudah tidak apa-apa. Kondisinya sudah mulai stabil." ucap Abdi.


"Collaps. Kenapa Max bisa collaps Di? Max kenapa? Kemarin ia masih baik-baik saja Di." panik Aulia,ibu Mario dan Max.


"Kamu tenang ya jangan panik. Semuanya akan baik-baik saja. Max anak yang kuat, hanya saja.." Abdi menggantungkan kalimatnya.


"Hanya saja apa Di? Katakan padaku Di?"


"Sepertinya Max memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya. Bagi pasien yang telah menjalani operasi CABG tentu ini tidak boleh terjadi karena Max tidak akan sanggup merasakan sakitnya apalagi ditambah dengan trauma dikepalanya. Ini sangat beresiko terhadap keselamatan nyawa Max.." jelas Abdi.


"Tolong..Tolong selamatkan Max Di..Selamatkan Max.. Kumohon Di..Kumohon.."


Abdi mengepalkan tangannya erat. Ia selalu merasa bersalah saat ia dihadapkan dengan situasi ini. Ia selalu mengingat perlakuan buruknya pada Aulia dulu yang tega meninggalkan Aulia dan memilih untuk mencapai cita-citanya sebagai seorang dokter.


"Kamu tenang ya. Kamu harus tenang. Semua akan baik-baik saja. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menyelamatkan Max. Kamu harus yakin Max anak yang kuat. Dia bukan anak yang dengan mudahnya menyerah." ucap Abdi menenangkan.


"Terima kasih. Terima kasih Di.." Ucap Aulia masih disertai isakan.


"Ya sudah aku tutup teleponnya. Masih ada pasien yang harus aku tangani. Assalammualaikum."


"Waalaikum salam."


PIPP!!


"Hhhh.." Abdi menghela nafasnya kasar lalu mengusap foto wanita yang ada dalam laci meja kerjanya.


"Kamu tenang saja Aul. Aku akan berusaha yang terbaik untuk Max. Aku sudah menganggap anak-anakmu seperti anak-anakku sendiri apalagi setelah aku tahu jika mereka adalah anak-anakmu." ucap Abdi lirih.


****


"Max..adik kembar kakak.. ayo bangun..hikshiks."


"Jangan buat kakak takut Max..Kakak tidak suka melihatmu seperti ini. Kakak lebih suka Max yang ceria dan nakal. Ayo bangun Max.."

__ADS_1


Tak lama tangan Max bergerak perlahan dalam genggaman Mario disusul dengan kelopak mata yang mulai bergerak-gerak dan tak lama mata itu terbuka menatap langit-langit dan kemudian menutup kembali menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya.


"Hey.." sapa Mario sambil tersenyum dan sesekali mengusap bekas air mata dipipinya.


Kepala Max menoleh kearah Mario.


"Kak..Ri..o." ucap Max lirih dibalik masker oksigen.


"Iya ini kak Rio. Max jangan takut ya. Kak Rio selalu ada disini untuk Max." ucap Mario sambil menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.


Tak lama kemudian dokter Abdi beserta seorang perawat datang. Mario yang mengerti lalu meninggalkan ruang rawat Max dan menunggu didepan.


Mario mengambil ponsel dari saku celananya dan menekan nomor dua panggilan cepat. Saat terdengar telepon diangkat Mario langsung menangis dan terisak kembali.


"Bunda..kapan bunda pulang?..hikshiks.. Rio takut bun..Max collaps lagi. Bunda pulang ya. Bunda harus cepat pulang..hikshiks." Mario terisak hebat.


"Rio sayang. Rio tenang ya nak. Bunda akan pulang hari ini. Kamu jangan takut ya nak. Kita harus yakin jika Max akan baik-baik saja. Percaya pada Allah nak. Adik kamu itu kuat. Jadi Rio juga harus kuat demi Max. Kita harus kuat demi Max. Max sudah bertahan selama ini demi kita. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini ya nak."


Mario mengangguk meskipun ia tahu bundanya tidak bisa melihatnya.


"Ya bunda. Rio akan berusaha kuat demi Max." ucap Mario pelan.


"Bagus. Anak-anak bunda memang hebat. Sekarang kamu temani adik kamu ya. Bunda titip Max ya sayang. Rio juga harus jaga kesehatan dan jangan telat makan ya. Bunda sayang kalian. Assalammualaium." pamit Aulia.


"Ya bunda juga jaga kesehatan dan hati-hati ya. Rio juga sayang bunda. Waalaikum salam."


PIPP!!


Mario memasukkan ponselnya ke saku celananya bersamaan dengan keluarnya dokter Abdi bersama seorang perawat dari kamar rawat Max.


"Yo,kamu masuk ya. Temani Max. Jika ada apa-apa panggil saya."


Mario mengangguk.


"Iya dok. terima kasih." Mariopun segera masuk kedalam kamar rawat Max.


Baru saja kakinya menapaki kamar rawat Max ia sudah mendengar rengekan adiknya.


"Kak Rio..pulang.." rengek Max dengan nassal canulla yang sudah bertengger di hidung mancungnya menggantikan masker oksigen yang sudah dilepas.


"Kok pulang? Max masih harus dirawat disini." ucap Mario.


"Max mau pulang kak. Max tidak suka disini. Disini bau. Seram." rengek Max.


Mario tersenyum miris. Ia tahu betul. Sejak kecil adik kembarnya ini tidak menyukai hal-hal yang berbau rumah sakit dan obat-obatan tapi takdir berkata lain kecelakaan yang Max alami saat ia disekolah dasar mengharuskan Max harus sering datang dan menginap di rumah sakit selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Bahkan mungkin rumah sakit sudah menjadi rumah kedua baginya.


"Max jangan takut. Kan ada kak Rio disini. Kak Rio akan selalu menemani Max. Bunda juga hari ini pulang. Jadi Max tidak usah takut lagi ya." ucap Mario sambil mengusap kepala Max lembut.


"Bunda pulang?" mata Max yang tadi meredup kembali berbinar.


"Iya. Bunda pulang. Sekarang Max tidur ya. Nanti kak Rio bangunkan jika Bunda sudah pulang."


Max mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama dengkuran haluspun sudah terdengar mungkin efek obatnya mulai bereaksi.


"Cepat sembuh ya Max, Kak Rio sayang Max.." ucap Mario pelan dan mencium tangan Max yang terbebas dari infus.

__ADS_1


"Dan jangan pernah tinggalkan kakak.."


BERSAMBUNG..


__ADS_2