Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
13. Tentangku


__ADS_3

Telapak tangan Mario melayang ke udara kearah pipi Clara.


Clara hanya bisa menutup matanya pasrah. Ia tidak mau melawan atau sekedar mengelak,entahlah apa yang dipikirkannya. Hanya saja karena menyalahkan dirinya sendiri itulah ia memilih diam saja. Tapi sudah berapa lama ia memejamkan kedua matanya tapi tak ada yang ia rasakan.


"Max menyukai Clara.."


Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di telinga Mario.


"Hhhh..Pulanglah.." ujar Mario sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


Clara membuka matanya perlahan. Dilihatnya Mario yang berjalan kearah tempat duduk dengan tangan yang masih mengepal erat.


"Pergilah dari sini. Sebelum emosiku meledak-ledak. Simpan saja kata maafmu. Aku tidak butuh karena semua tidak akan bisa mengembalikan keadaan."


Clara terdiam sejenak. Iapun akhirnya mengangguk,meskipun ia sebenarnya tak ingin beranjak dari sana. Ia lalu pamit pulang yang tentu tak digubris oleh Mario.


Sepeninggalnya Clara,Mario mendengus kesal. Ia ingin berteriak tapi tak bisa karena ia sadar sedang berada dimana ia sekarang tapi sungguh ia butuh pelampiasan.


Mario berdiri dari tempat duduknya lalu berbalik arah dan meninju tembok di belakangnya hingga tangannya memar.


"Arghhh!" teriak Mario tertahan.


"Hhh..hhh..hhh."


Mario terengah-engah menahan emosi. Lalu ia berbalik menatap sendu kearah pintu ICCU. Iapun menghampiri kaca jendela lalu menatap seseorang disana. Seseorang yang bisa membuat Mario kehilangan akal sehatnya hanya dalam sekejap. Seseorang yang harus berjuang untuk mempertahankan hidupnya yang tak lain dan tak bukan adalah adik kembarnya sendiri. Adik kembar yang hanya terpaut lima belas menit saja tapi mampu membuat setiap waktunya terasa menakutkan.


"Max.." lirih Mario.


Tak lama pintupun ICCUpun terbuka,menampilkan sosok dokter yang sangat ia kenal.


Mario menghampirinya.


"Dokter,bagaimana keadaan Max?" tanya Mario khawatir.


Abdi tersenyum.


"Adikmu suka sekali membuat semua orang panik ya.." ucap Abdi sambil terkekeh.


"Tapi tenang saja,Max anak yang kuat. Kondisinya sudah stabil kembali. Dia akan dipindahkan ke kamar rawatnya segera." lanjutnya.


Mario menghembuskan nafasnya lega.


"Terimakasih. Terima kasih dok."


Mario lalu segera pergi menyusul Max yang ada di brankar yang sedang di dorong oleh dua orang perawat.


Abdi terdiam.


"Apa karena mereka anakmu,aku jadi sangat menyayangi mereka?" gumam Abdi.


****


Dua hari yang lalu Max sudah diijinkan pulang ke rumahnya karena Max terus menerus merengek meminta pulang.


"Ahhhhh..senangnyaaaaa..aku merindukanmu.."


Max berguling kesana kemari di tempat tidurnya. Ia benar-benar meridukan tempat tidurnya.


Mario menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku adik kembarnya.


"Kakak ke bawah dulu ya,ambil minum." ucap Mario.


"Hemm.."


Max hanya menyahut dengan deheman,ia sepertinya sudah mulai menyelami mimpi.


Mario berjalan ke arah dapur,di sana sudah ada Aulia bersama Inah sang assisten rumah tangga yang sedang berkutat dengan bahan-bahan makanan.


"Bunda sedang apa?" tanya Mario sambil menuangkan air putih hangat kedalam gelas.


Aulia menoleh.


"Bunda sedang membuat sup untuk kalian berdua." jawab Aulia.


"Kenapa untukku juga,yang sakit kan Max bun?" tanya Mario bingung.


"Kemarin Rio yang bilang ingin makan seperti yang dimakan Max?"


Mario mengangguk. Ia ingat dengan ucapannya tempo lalu.


"Buat yang enak ya bun,aku kekamar dulu. Mau menemani bayi besarku." ucap Mario sambil terkekeh.


Aulia menggelengkan kepalanya pelan. Heran,kenapa putra sulung dan keponakannya senang sekali menyebut putra bungsunya dengan sebutan bayi besar.


Tiba-tiba Aulia terdiam. Ia teringat dengan perkataan Abdi tempo lalu mengenai kondisi putra bungsunya.


"Apa bunda harus mengungkap kebenarannya sekarang..?" lirih Aulia.


"Bertahan terus ya nak.."


****


Setelah pulang ke rumah,Max hanya di kamar seharian karena Aulia tidak ingin Max kelelahan dan jadilah Max seharian ini asik berduaan dengan kasur sambil bermain ponsel dan menonton televisi.


Max tetap berada di tempat tidur saat makan siang dengan mata yang terfokus pada layar ponsel. Setelah selesai ia meletakkan piring kotornya diatas nakas kemudian ia mengambil segelas air putih dan meminumnya.

__ADS_1


TOK TOK TOK.. !


"Masuk.." ucap Max setengah berteriak.


CKLEKK!


"Sudah selesai nak makannya?" tanya Inah.


Max mengangguk sambil tersenyum kearah wanita paruh baya itu.


"Sekarang minum obatnya ya."


Lagi-lagi Max mengangguk. Ia melihat assisten rumah tangganya tersebut sedang menggerus obatnya menjadi butiran halus seperti tepung karena Max memang tidak bisa menelan obat tablet apalagi jika ukurannya besar karena obat tersebut akan keluar kembali bersamaan dengan isi perutnya.


"Kapsulnya diminum dulu ya nak?"


Bi Inah menyodorkan beberapa kapsul pada Max.


Max lalu mengambilnya dan meminumnya. Lalu ia mengambil sendok yang sudah terisi obat yang sudah digerus tadi dengan tangan kanan lalu meminumnya bersamaan dengan air putih di tangan kirinya. Max mengernyitkan dahinya saat dirasa pahit mulai terasa.


Inah menyodorkan buah jeruk yang sudah ia kupas pada Max.


Max mengambilnya lalu mengunyahnya.


"Terima kasih bi." ucap Max.


"Iya sama-sama. Cepat sembuh ya nak. Bibi tinggal ke bawah dulu. Panggil bibi jika perlu sesuatu." ucap Inah sambil mengusap kepala Max lembut.


Inahpun keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamarnya tapi tak berselang lama kemudian pintu kamarnya terbuka kembali.


CKLEKK!!


"Assalammualaikum bayi besarku.hehehe" kekeh Jonathan.


"Waalaikum salam." jawab Max sambil memutar bola matanya jengah.


"Utu utu utu,bayi besar kakak Jo marah." ejek Jonathan.


Jonathan baru saja akan mencubit pipi Max tapi tangannya sudah ditepis kasar oleh Mario.


"Jangan kotori pipi suci adikku dengan tangan kotormu. Cuci dulu tanganmu,baru kau bisa me.." belum selesai Mario berbicara. Max sudah memukul lengan Mario.


"Aww..sakit tahu Max. Kakak ini membelamu." ringis Mario sambil mengusap-usap lengannya.


Max menatap tajam Mario,Jonathan dan juga Hayden.


Hayden mendelik.


"Kenapa kau marah juga padaku bayi. Aku kan tidak melakukan apa-apa?" tanya Hayden bingung.


"Dasar kalian otak udang!" kesal Max.


"Ya ampun Max,masa kau samakan kakak dengan mereka, kakak ini kan pintar." ucap Mario tak terima.


"Iya,pintar bersandiwara." jawab Max sarkas.


"Buahhhahahahha kakak yang ternistakan." tawa Jonathan meledak sudah,yang dikuti kekehan Hayden.


"Ishh jahat. Dasar adik durhaka." kesal Mario.


"Dasar kakak durhaka." balas Max.


"Hhh.. iya-iya."


Mario mengalah saja dari pada adiknya marah padanya,pasalnya wajah Max saat ini nampak tak bersahabat.


"Dasar bayi.." gumam Mario yang masih bisa didengar Max.


"Kak Riooo!!!" teriak Max marah.


Mario terlonjak lalu segera berlari ke kamar mandi.


"Kak Rio mandi dulu yaaa!!" teriak Mario dari dalam kamar mandi.


Max tak menyahut. Ia justru menatap tajam Jonathan dan Hayden.


"Apa lihat-lihat?!" marah Max.


Jonathan dan Hayden menggelengkan kepalanya dengan dua jari tangan keatas tanda perdamaian.


"Bayi harimau ternyata bisa juga menjinakkan harimau besar..hehe" batin Jonathan terkekeh


"Bayi bisa marah juga ternyata." batin Hayden dengan kekehannya juga.


****


Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam tapi Hayden dan Jonathan belum berniat untuk pulang padahal mereka sudah dari siang berada di rumah Max dan Mario.


Setelah menunaikan sholat isya berjamaah. Mereka berempat kembali berkumpul di kamar Max dan Mario sambil bermain games.


"Max,sudah ya makan keripiknya. Jangan terlalu banyak. Tidak baik." peringat Mario tapi Max tidak peduli dan tetap memakan keripik kentang yang dibawakan oleh Jonathan tadi siang.


"Sudahlah Yo,biarkan saja. Kau seharusnya senang melihat Max sudah mau makan." ucap Jonathan yang masih fokus bermain games bersama Hayden.


PLETAKKK!!

__ADS_1


"Awwww!!! Apa yang kau lakukan Rio!!! kenapa kau memukulku?!!" teriak Jonathan sambil mengusap belakang kepalanya yang dipukul Mario.


"Rasakan! Itu pantas untukmu. Sudah tahu jika Max itu belum boleh makan makanan ringan seperti itu,tapi kau justru membelikannya sampai sepuluh bungkus!" marah Mario tidak habis pikir dengan sepupunya ini.


"Issh! Maaf. Aku tidak ingat,yang aku ingat hanya karena ini salah satu makanan favorit Max maka aku belikan saja yang banyak." jawab Jonathan.


"Apa sih yang kau ingat Jojo,semuanya tidak ingat?!" kesal Mario.


Sedangkan Max tidak peduli sama sekali,ia tetap asik mengunyah keripiknya dengan pikiran yang sudah berkelana entah kemana.


Hayden yang melihat Max seperti melamun berinisiatif untuk memanggil Max.


"Max..Max..?" panggil Hayden tapi tak ada jawaban.


Max sama sekali tak menyahut.


Mario dan Jonathan yang sedang adu mulutpun sontak menoleh kearah Max yang tidak bergeming sama sekali.


Mario menghampiri Max dan mengusap kepala Max pelan,membuat Max tersadar dari lamunannya.


"Kau kenapa,hem..?" tanya Mario khawatir.


"Memangnya aku kenapa?" tanya Max bingung.


"Hhh.. dasar bayi,bukannya menjawab malah balik tanya." gumam Jonathan.


Max mengedikkan bahunya tak peduli.


"Haus.." ucap Max mengalihkan pembicaraan.


"Biar aku ambilkan minum."


Hayden beranjak dari duduknya menuju dapur.


Suasana menjadi canggung karena dua orang disana sedang dilanda rasa khawatir berlebih pada Max. Max yang melihatnya menghembuskan nafasnya kasar kemudian berpikir sejenak untuk mencairkan suasana.


"Keripiknya tidak enak Jo."


Jonathan yang tadi terdiam, mendelik tak terima.


"Bukan tidak enak! Tapi kau sudah kenyang,Max!"


Max mengedikkan bahunya.


"Tidak enak. Ya tidak enak." ucap Max lagi.


"Kalau tidak enak tidak mungkin kau makan sampai tiga bungkus,Max.." gemas Jonathan sambil menarik kedua pipi Max.


"Aww,sakit Jojo,lepass! Kak Rio tolong Max..!" ringis Max sambil berontak.


Mario mencubit pinggang Jonathan dengan cubitan kecil namun tak ayal membuat Jonathan mengaduh.


"Aww! Gila. Cubitannya!" ringis Jonathan sambil mengusap-usap pinggangnya.


"Dasar titisan semut." dengus Jonathan.


"Jangan macam-macam dengan adikku!" peringat Mario.


"Ishh. Iya iya." ucap Jonathan mencebikkan bibirnya.


Tak lama datang Hayden dengan segelas air putih hangat yang langsung diterima Max dengan senang hati dan meminumnya sampai kandas.


"Ayo pulang Jo." ajak Hayden.


"Oh,siapp!" jawab Jonathan semangat.


"Kalian tidak menginap?" tanya Max.


Jonathan langsung menghampiri Max.


"Ah bayi besarku. Kau tidak rela kak Jo pulang ya? Jika kau memaksa,Kak Jo akan menginap disini. "


"Menjijikan." ucap Hayden lalu menarik kasar kerah baju Jonathan.


"Yak! Hayden! Lepaskan!" berontak Jonathan namun tak digubris Hayden.


"Assalammualaikum..." teriak Hayden dan Jonathan.


"Waalaikum salam.." jawab Max dan Mario.


Sepeninggalnya Jonathan dan Hayden. Max terdiam. Ia memberanikan diri untuk mengungkapkan segala pikirannya yang ia tahan sejak di rumah sakit.


"Kak.." panggil Max pelan.


Mario yang sedang membereskan kamar akibat kekacauan yang dibuat oleh Jonathan dan Haydenpun langsung menoleh ke arah Max


"Ya,ada apa?" tanya Mario.


"Saat aku terjatuh dari kursi roda,Clara ada disanakan?"


DEG DEG..


Mario terdiam.


Sedangkan Max menatap Mario lekat,menuntut sebuah jawaban..

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2