Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
55. Ini Saatnya


__ADS_3

Abdi berdiri dari duduknya lalu mendekat ke arah Aulia. Lalu ia berlutut dan bersujud di kaki Aulia. Aulia dan Harry kaget dengan yang dilakukan oleh Abdi.


“Di, kamu apa-apaan, sih?!”


Aulia merasa tak nyaman apalagi saat ia melihat tatapan dari beberapa pengunjung kantin Rumah Sakit.


Abdi memegang kaki Aulia.


“Maaf ... hikshiks ... maafkan aku, Aulia. Aku jahat. Aku bodoh!”


Abdi menangis. Iya, dia menangis.


“Di, bangun, Di. Malu dilihat orang!”


Abdi sama sekali tak menggubris ucapan Aulia.


“Aku bodoh sudah meninggalkan kamu dan anak-anak kita. Aku bodoh! Aku tahu berjuta kata maaf pun tidak akan pernah bisa mengobati luka hatimu. Luka yang kutorehkan padamu sudah terlalu dalam. Tapi izinkan aku untuk sedikit saja berguna sebagai seorang Ayah. Izinkan aku menebusnya meskipun tak mungkin bisa, tapi kumohon izinkan aku melakukan apa yang aku bisa untukmu dan untuk anak-anak kita. Kumohon, Aulia. Kumohon.”


Air mata Abdi terus turun. Abdi juga tak mau berdiri dan tetap berlutut di kaki Aulia. Aulia terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini. Sedangkan Harry, ia juga hanya diam. Ia merasa tidak bisa ikut campur dengan masalah antara Abdi dan Aulia. Saat ini ia hanya bisa berada di samping Aulia untuk menguatkannya dan menenangkannya. Hanya itu. Semua keputusan apa pun itu, hanya Aulia yang bisa memutuskannya.


“Di, ak---“


“Dokter Abdi!”


Ucapan Aulia terpotong oleh panggilan dari salah seorang suster yang berjalan cepat menghampiri mereka. Suster itu sempat terkejut saat melihat semua kejadian ini. Apalagi ini di tempat umum. Ia menatap ke sekeliling.


“Dok ...ter ....”


Abdi berdiri perlahan lalu menoleh pada suster itu.


“Ada apa, Sus?” tanyanya.


Suster itu mengerjap, berusaha tersadar dari keterkejutannya.


“A ... i ... itu, dok. Ada donor jantung untuk pasien bernama Max.”


Abdi, Aulia dan Harry membulatkan mulut mereka kaget.


“Donor jantung?!”


...****...


Berita membahagiakan itu ternyata bertepatan dengan terbukanya kedua mata Max. Sehingga dokter bisa melakukan tindakan lebih lanjut pada Max.


Max tersenyum tipis dengan nassal canulla yang masih bertengger di hidungnya. Perban di kepalanya memang masih menempel, tapi kondisinya sudah membaik dan mulai stabil. Max senang. Sangat senang. Ia senang saat ia bisa kembali membuka kedua matanya dan melihat orang-orang yang ia cintai ada di sana. Mereka semua selalu menunggu Max. Mereka selalu mendukung Max. Max bahagia. Apalagi saat ia mendengar ucapan sang Ibu yang mengatakan ada donor jantung untuknya.


“Max akan sembuh, Nak. Max pasti sembuh.”


Max tersenyum mendengarnya. Apalagi saat melihat sang Ibu yang tersenyum lebar padanya. Kini keajaiban itu datang menghampirinya. Max tahu transplantasi tidak sepenuhnya menyembuhkan. Ia masih harus berjuang untuk menghadapi segala risiko yang akan terjadi. Ia juga masih harus berurusan dengan obat-obatan. Namun, itu semua tak ia permasalahkan karena memiliki jantung yang sehat sudah menjadi impiannya. Ia ingin hidup selayaknya remaja pada umumnya. Tanpa harus dihantui rasa takut akan penyakitnya lagi.


“Kita berjuang sama-sama lagi ya, sayang. Anak bungsu Bunda kuat. Anak Bunda pasti bisa.”


Kata-kata sederhana dari sang Ibu semakin membuat dia bahagia. Ia akan berusaha. Ia akan berjuang. Bukan hanya untuk hidupnya, tapi untuk keluarganya.


“Terima kasih karena selalu ada untuk Max,” ucap Max lirih.


Aulia mengangguk lalu mengecup kening sang putra lama.


“Bunda sangat menyayangi Max. Bunda sayang Max.”


Max tersenyum hangat.


“Sayang Bunda banyak-banyak.”


...****...


Hari-hari yang ditunggu pun tiba. Setelah melewati serangkaian prosedur yang ada, akhirnya hari ini Max akan menjalani operasi transplantasi jantung. Semua orang sudah datang. Mereka semua berada di sana untuk mendoakan dan memberikan dukungan pada Max.


Aulia, Harry, Mario, Jonathan, Hayden, Clara, Cassie, Rudi bahkan Mariana pun turut hadir di sana untuk memberikan dukungan pada Max. Sementara itu Max sudah berada di ruang operasi.


Abdi menggenggam tangan Max erat. Berusaha menyalurkan kekuatan dan kehangatan untuk Max. Max sempat terdiam menatap lekat manik kembar Abdi. Terlihat seperti berbeda. Seperti ada rasa rindu, bahagia dan juga sedih bercampur aduk di sana. Max tidak tahu kenapa, tapi itu cukup membuatnya bertanya-tanya. Namun, entah kenapa justru rasa nyaman yang kini ia rasakan. Ia seperti menggenggam tangan sang Ayah.


“Ayah,” gumam Max tanpa sadar.


Abdi sedikit terperanjat saat mendengarnya. Namun, tak lama ia tersenyum lembut pada Max.


“Max kuat. Max hebat. Max pasti bisa. Semua yang menyayangimu ada di sini. Semuanya ada di sini.”


Abdi mengecup kening Max perlahan. Max hanya diam memperhatikan.


“Kamu bisa, sayang. Kamu bisa. Ayah akan berusaha sekuat tenaga untukmu, Nak.”


Max tidak tahu apa ia berhalusinasi atau memang ini kenyataan, tapi satu yang ia rasakan ia bahagia. Hanya itu. Max tersenyum membalasnya.


“Bismillah, ya.”

__ADS_1


Max menganggukkan kepalanya pelan. Setelah suntikan terasa di lengannya. Ia pun memejamkan kedua matanya pelan. Rasanya mengantuk. Saat itulah operasi pun dimulai.


Semua yang berada di luar tak henti-hentinya berdoa pada Allah untuk kelancaran operasi Max. Mereka berharap akan ada kabar baik yang datang. Hingga beberapa jam kemudian lampu penanda pun padam memberitahukan bahwa operasi telah selesai. Semua menegang. Berharap cemas. Hingga pintu itu terbuka dan keluarlah sosok yang mereka kenal membuka maskernya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Di, bagaimana hasilnya? Bagaimana operasinya?”


Serentetan pertanyaan keluar dari mulut Aulia mewakili pertanyaan dari yang ada di sana.


Abdi terdiam sejenak lalu menghembuskan napasnya pelan.


“Max ....”


Abdi menjeda ucapannya.


“Max berhasil ... Operasinya berhasil.”


Aulia dan yang lain memekik senang. Air mata kebahagiaan berlomba-lomba turun membasahi pipi mereka. Beribu-ribu ucapan syukur mereka panjatkan atas berita baik ini.


“Alhamdulillah. Alhamdulillah Max kita selamat. Max kita berhasil. Max kita menang,” ucap Aulia senang disela tangisan bahagianya.


Harry mengangguk tak kalah bahagianya dengan Aulia. Ia lalu memeluk sang istri dan juga Mario yang sedari tadi hanya menangis bahagia.


“Max kita berhasil.”


Mario menganggukkan kepalanya ribut.


“Iya. Max kita menang Bun, Yah.”


Semua yang melihatnya terharu. Mereka turut merasakan apa yang keluarga ini rasakan. Mereka juga turut bahagia dan juga bangga pada Max yang tak pernah menyerah untuk terus berjuang.


...****...


Hari ini adalah hari kelulusan Max dan Mario. Mereka sangat bahagia. Mereka lulus dengan nilai terbaiknya dan Max lagi-lagi mendapatkan peringkat pertama, sedangkan Mario di peringkat kedua. Perjuangan mereka selama tiga tahun ini tidak sia-sia. Semuanya membuahkan hasil yang maksimal.


Setelah upacara kelulusan dan juga foto keluarga selesai, kini mereka sedang ada di rumah dengan acara syukuran sederhana yang diadakan di rumah mereka. Tamu undangan yang rata-rata keluarga, saudara, teman dan tetangga mereka sudah datang berkumpul turut menikmati kebahagiaan yang ada.


“Papah!” panggil Max riang saat melihat Abdi datang bersama seorang wanita yang sedang mengandung.


Max berlari dan berhambur ke pelukan Abdi. Abdi membalas pelukan Max. Ia terkekeh melihat tingkah Max. Umur Max sebentar lagi menginjak delapan belas tahun, tapi tingkahnya masih seperti anak balita saja menurut Abdi dan itulah yang justru menambah kebahagiaan mereka.


“Selamat ya anak Papah hebat. Papah bangga sama Max.”


Max tersenyum lebar sambil mengangguk.


“Tante juga bangga sama kamu, sayang. Selamat, ya.”


“Terima kasih Papah, terima kasih Tante.”


Abdi dan juga wanita yang berada di sampingnya yang tak lain dan tak bukan adalah istrinya mengecup pipi Max gemas. Ya, setelah semua fakta mengenai dirinya yang ternyata adalah Ayah kandung Max dan Mario terungkap. Max dan Mario perlahan menerima kehadirannya sebagai seorang Ayah. Max dan Mario sepakat untuk memanggil Abdi dengan sebutan Papah karena sebutan Ayah sudah tersemat hanya untuk Harry seorang. Abdi menerimanya dengan senang hati. Ia sangat bahagia bisa diterima dan dimaafkan oleh Aulia, Max dan Mario. Hingga setahun kemudian Abdi pun menemukan pasangan hidupnya yang kini sedang mengandung tujuh bulan yang bernama, Cahaya.


“Ckk! Bagus, Rio dilupakan.”


Max, Abdi dan Cahaya menoleh pada Mario yang sedang bersedekap dada dengan bibir mengerucut. Max, Abdi dan Cahaya terkekeh.


“Sini, sayang.”


Mario pun turut berhambur ke pelukan Abdi. Ia juga mendapat kecupan dari Abdi dan Cahaya.


“Selamat ya, sayang. Kalian anak-anak Papah yang hebat.”


Max dan Mario tersenyum lebar mendengarnya.


“Lah, sudah datang ternyata.”


Mereka berempat menoleh ke belakang. Yang bersuara adalah Harry yang berjalan ke arah mereka bersama dengan Aulia yang kini juga sedang mengandung lima bulan.


Mereka saling menyapa dan berpelukan. Mereka semua terlihat akur dan bahagia. Sangat bahagia.


“Max, ke sana, yuk.”


Mario menggandeng tangan Max. Max mengangguk sambil tersenyum.


“Bunda, Ayah, Papah, Tante kita ke sana dulu ya. Ketemu teman-teman.”


Aulia, Harry, Abdi dan Cahaya mengangguk mengiyakan.


“Iya, hati-hati. Jangan lari-larian. Yo, titip Adeknya, sayang.”


Mario mengangkat jempolnya tinggi ke arah orang tua mereka sambil menggandeng tangan Max erat agar tidak berlari. Maklum setelah dinyatakan sembuh Max kadang lupa dan terlalu bersemangat jadi Mario akan menggenggam tangan Max saat mereka bersama.


Mereka pun menghampiri teman-teman mereka. Di sana sudah ada Jonathan, Hayden, Clara, Cassie, Rudi dan Mariana. Selain Max dan Clara yang sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Mario juga resmi menjadi kekasih Mariana. Bukan hanya mereka, tapi Cassie dan Jonathan juga telah meresmikan hubungan mereka.


“Nah, tinggal kalian berdua, nih.”


Jonathan melirik Hayden dan Rudi sambil menaik turunkan alisnya. Hayden dan Rudi mendengus kesal.

__ADS_1


“Tidak usah cari ribut! Bisa!” kesal Hayden dan Rudi.


“Oh, tidak bisa. Mencari ribut dengan kalian itu menyenangkan,” sahut Jonathan sambil tersenyum miring.


Oke, sepertinya Hayden dan Rudi sudah terpancing.


“Dasar Jojo! Awas kau, ya!!”


Akhirnya Hayden, Rudi dan Jonathan saling kejar-kejaran. Membuat yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


Max lalu menengok ke sana ke mari membuat Clara mengernyitkan dahinya bingung.


“Kenapa Max?” tanya Clara.


“Aku sedang menunggu Alvin, Benua, James dan Sisil, Ra.”


Clara ikut menengok ke sana ke mari hingga ia menemukan orang-orang yang Max cari.


“Itu mereka!”


Max menoleh ke arah yang ditunjuk Clara. Ia tersenyum saat orang-orang yang ia tunggu akhirnya datang.


“Akhirnya kalian datang juga.”


James, Alvin dan Benua serta Silvana segera menghampiri Max dan Clara.


“Sorry, Max. Kita telat. Nih, gara-gara si Benua. Nama doang Benua, tapi jalan ke rumah kamu saja dia tidak tahu, akhirnya kita kesasar, deh.”


Max terkekeh mendengar penjelasan dari Silvana. Benua mengerucutkan bibirnya kesal.


“Iya, sorry ya, Max.”


Max menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Iya, no problem. Yang penting, kan kalian datang,” sahut Max.


“Kita cari minum dulu ya, Max, Ra. Haus, nih.”


Max dan Clara menganggukkan kepalanya.


“Ya, sudah. Tuh, tempat minumannya di sebelah sana.”


Tunjuk Max pada meja prasmanan di sebelah kiri.


“Oke, thanks, Max. Yuk, baby kita ke sana,” ajak


James pada Silvana.


Silvana menganggukkan kepalanya. Mereka lalu pergi sambil bergandengan tangan. Sementara Alvin dan Benua hanya memutar bola mata mereka saat lagi-lagi James dan Silvana bermesraan di depan mereka.


Ya, James dan Silvana akhirnya menjadi pasangan kekasih. Meskipun Silvana masih menyukai Max, tapi James sudah memikat hatinya. Katanya James adalah tipe lelaki yang disukai olehnya. Romantis dan perhatian. Makanya, Silvana mencoba membuka hati untuk James. Meski kadang-kadang ia masih tak rela saat melihat Max dengan Clara.


“Jam berapa mulainya?” tanya Clara pada Max.


“Lima menit lagi, kok. Kenapa capek ya? Mau aku gendong?”


Max menaik-turunkan kedua alisnya. Clara mendengus lalu tangannya memukul lengan Max pelan.


“Aww! Galak amat sih, Ra. Jadi makin sayang, deh,” goda Max.


Clara mendelik.


“Bodo amat!”


Clara berjalan cepat ke arah Mariana membuat Max yang melihatnya tersenyum lebar. Rasanya benar-benar menyenangkan. Sangat membahagiakan.


“Terima kasih Ya Allah. Terima kasih atas semuanya,” gumam Max.


Max berkali-kali mengucapkan syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Ia senang bisa berada di tengah-tengah mereka.


“Ra, tunggu aku, honey!”


Pada akhirnya kebaikan akan mendatangkan kebahagiaan. Untuk itu mari kita berusaha untuk berbuat kebaikan.


Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sebanyak-banyaknya.


...TAMAT...


*Assalammualaikum...


Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian yg udah bersedia buat baca karyaku ini. Meskipun banyak readers yg hilang, gara-gara aku kelamaan hiatus tp aku bersyukur masih ada yg baca. Buat readers yg dulu pernah baca ceritaku, yuk baca lagi ceritanya, udah tamat, nih. Yuk, baca 😂🥰


Sekali lagi terima kasih banyak... 🥰


Sayang kalian banyak-banyak ... 🥰🥰🥰

__ADS_1


Wassalam* ....


__ADS_2